*Dokter bar bar dan Pak CEO
Nana : Nunggu 10 tahun tapi gak ada kepastian, sedangkan ada orang baru yang sudah pasti bisa memberikan kepastian.
Sagara : Aku bukan sengaja membuat mu menunggu , tapi aku sedang mempersiapkan diri agar ketika hidup bersama mu aku sudah bisa meratukan mu sepenuhnya.
Hai guys,,, aku datang dengan cerita cinta yang ada komedi dan juga actiaonnya . cerita ini sebenarnya seasen dua dari cerita "lelaki itu punyaku" yang aku tulis di aplikasi orange sebelah.
yukk baca aku tunggu saran saran kalian di cerita aku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cinnam0n17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7. Nana Marriage Life
Happy Reading ✨
"aku ada bawa roti bakar di tas di sebelah kaki kamu , kamu belum sarapan kan???" kata Sagara yang menujuk dengan dagunya tas yang ada di sebelah kaki Nana itu.
"aku diet" kata Nana yang masih kesal tentunya dengan Sagara yang masih belum ada kejelasan dengan wanita yang ada di telpon malam itu.
"apa sih yang membuat kamu kesal???" tanya Sagara yang tahu Nana bicara dan wajah kesal Nana.
"ya menurut kamu apa???" kata Nana malah meminta Sagara untuk menebak kekesalan nya karena apa.
"ya aku gak tahu sayang kamu kesal karena apa ??? bukannya kamu kesal karena aku gak pulang dan sekarang aku di sini apa yang membuat kamu masih kesal???" Tanya Sagara yang masih tidak mengerti kenapa Nana kesal padanya.
"kalau gak tahu ya sudah" kata Nana mengambil tas yang Sagara tunjuk tadi dan setelah itu membuka isinya.
ada roti bakar dengan selai kacang ada juga kentang goreng dan nugget lalu ada susu dingin yang sangat cocok dengan cuaca yang mulai terik ini.
Sagara tersenyum melihat Nana yang mulai memakan bekal yang sebagai Sagara minta siapkan oleh bibi di rumahnya tadi karena tahu nana akan tenang jika ada yang dia kunyah.
"kenapa ayah menyetujui untuk di pindah tugaskan ke tempat yang lebih jauh begini bahkan sangat jauh dari kota???" kata Sagara yang memang tidak pernah bertanya pada Nana perihal kepindahan ayah bumi .
"ayah setuju karena ibu juga setuju untuk pindah dan berhenti dari pekerjaan nya untuk mengikuti ayah dan katanya sekalian mencari suasana baru" jawab Nana yang masih sibuk dengan makanannya .
"lagi pula untuk apa sih kita kesana , jauh mas dan juga aku jadi tidak bisa istirahat di hari libur ku " kata Nana mengelap tangannya dan meminum susunya .
"seharusnya kamu senang dong ingin bertemu orang tua kamu" kata Sagara yang masih tidak ingin mengungkapkan tujuannya ingin ke rumah orang tua kekasih nya ini.
"aku senang jika yang ditanya bagaimana pekerjaan ku bukan masalah percintaan ku" kata Nana menaruh lagi Wadah kotak bekalnya yang sudah kosong.
"orang tua wajah kalau khawatir" kata Sagara yang sabarnya lebih luas dari Nana yang kesabaran nya setipis tissue di bagi dua belas.
"ya karena yang si posisi di tanyai itu aku bukan mas jadi mas masih bisa berkata begitu" kata Nana yang sudah di pastikan tidak ingin kalah dalam berdebat.
"kamu lelah kan, tidur lah" kata sagara meminta Nana untuk tidur saja di banding mereka harus melanjutkan perdebatan ini karena Sagara tahu dia pasti tidak akan bisa melawan cerewet nya Nana.
"aku tidak mengantuk" kata Nana yang membuat Sagara malah tertawa.
"lagi pula aku ingin tahu siapa yang menelpon tadi malam sehingga wajah mas bisa berubah berseri seri begitu" kata Nana yang kali ini mengatakan langsung kekesalannya karena apa.
"yang mana???" kata Sagara berkilah pura pura tidak tahu sengaja ingin membuat Nana kesal dahulu.
"oh ingin pura pura tidak tah,,,," perkataan Nana berhenti saat ponselnya berdering yang membuat Nana beralih pada ponselnya masih menatap Sagara dengan kesal.
"ya halo" kata Nana pada si penelpon yang tidak ada namanya itu.
"siapa tadi????" tanya Nana yang merasa kurang jelas ketika orang itu menyebut Namanya .
"ohh pak polisi ada apa ya?? apa ada yang bisa saya bantu??" tanya Nana yang sedikit terkejut saat seorang polisi menghubungi nya padahal biasanya mereka menghubungi Nana lewat telpon rumah sakit.
"ini bukan soal pekerjaan kita ibu dokter ,ini hanya pembicaraan pribadi dan jangan panggil saya pak polisi. panggil saja Rama" kata Rama dari sebrang telpon sana masih dengan senyum di wajahnya.
"saya dengan dokter Nana sedang libur bekerja ya . ohh maaf saya tadi ke rumah sakit bersama pak samsul dan mencari dokter Nana namun dokter sedang libur jadi saya tahu" kata Rama yang tidak ingin Nana salah paham dia tahu perempuan itu libur dari mana .
"iya Rama,,, saya memang sedang libur, ada pembicaraan pribadi apa yang ingin anda katakan" tanya Nana pada polisi itu.
Sagara menyipitkan matanya mendengar nama lelaki yang Nana sebut tadi , matanya sesekali melirik Nana dan sambil beralih pada jalanan di depannya.
"jadi begini dokter Nana , saya kan pernah bilang kalau saya ingin mengajak dokter pergi keluar bersama " kata polisi Rama.
"ohhh pak polisi mau mengajak saya pergi bersama begitu " kata Nana mengencang kan suaranya dan setelah itu berdehem lalu setelah itu sedikit menyamping menghindari Sagara.
"iya Dokter, menurut saya ini waktu yang tepat mumpung dokter juga sedang libur kan dan sore ini saja juga selesai tugas" kata Rama yang membuat Nana mengangguk kecil.
"tapi ya Ram,,, saya sebenarnya sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua saya tapi bagaimana dengan besok atau mungkin lusa akan saya kabari" kata Nana melirik Sagara dari sudut mata nya .
"boleh . saya akan menunggu kabar baiknya dan maaf menganggu perjalan dokter Nana " kata Rama .
"gak masalah ko tidak menganggu sama sekali " kata Nana yang tidak lama setelah itu mematikan sambungan telpon dan menyimpan lagi ponselnya.
"seperti nya aku harus menjaga penampilan" kata Nana yang mengambil cermin kecil di tasnya dan melihat wajah nya .
Sagara tidak bertanya dan hanya menaikkan bahunya acuh melihat tingkah Nana yang mulai bercermin dan merapikan penampilan nya.
"ah potong pendek aja rambutnya biar makin segar kelihatannya" kata Nana yang sudah sejak lama ingin memotong rambut panjang sepinggang itu.
"terus ku cat coklat gelap atau mungkin grey atau mungkin,,,,,"
"sekalian saja kamu gundul rambut kamu itu" kata Sagara yang membuat Nana kesal mencubit perut Sagara.
"apa sih nyambung aja udah kaya kabel WiFi" kata Nana kembali melihat cermin nya .
"kamu pikir kamu ikan yang di kasih es batu segar sehabis potong rambut" kata Sagara lagi.
"ya kenapa. lagi pula aku udah dari lama mau potong rambut cuma terhalang restu aja, rambut pendek itu terlihat segar dan cantik" kata Nana .
"potong lah" kata Sagara yang membuat Nana melepas cerminnya dan melihat ke arah Sagara.
"apa aku boleh memotong rambut ku" tanya Nana yang memang selama ini mempertahankan rambut panjangnya karena Sagara bilang dia cantik dengan rambut panjang dan hitam legamnya ini .
"boleh asalkan habiskan memotongnya" kata Sagara yang membuat Nana menghembuskan napasnya kesal.
"lagipula rambut pendek itu tidak cocok dengan wajah berisi kamu" komentar Sagara.
"maksudnya aku gendut di bagian pipi???" kata Nana meraba pipinya yang di katakan Sagara berisi.
"pipi berisi tidak serta Merta merembet ke postur tubuh gendut" kata Sagara menjelaskan maksud perkataannya.
"sudah lah intinya aku ingin potong rambut nanti" kata Nana final tidak ingin di bantah lagi.
*******