Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ku Kembalikan Putramu, Bu.
Seketika, suara tawa sumbang terdengar sangat jelas. Nadira hanya diam, tatapan dingin, tengah memperhatikan Ardian.
Ia menghela napas.
“Sekarang, tanda tangani surat cerai itu.”
Tawa itu terhenti, tatapan Ardian tajam.
“Aku nggak akan menceraikan kamu, Nadira!”
“Kenapa?” tanyanya lirih. Suaranya nyaris tak terdengar. “Apa karena kamu belum dapat apa yang kamu mau, Mas?”
Ardian diam sejenak. Pandangannya beralih ke Wisnu. “Pulanglah, Wisnu. Aku akan menyelesaikan masalah ini dulu.”
Tatapan Wisnu sekilas menatap ke arah Nadira. Ia mengangguk saat tatapannya kembali menatap Ardian.
Mas katanya?
Punggung Wisnu perlahan menjauh menuju kearah lantai atas, dimana ada kamarnya dan kamar Ardian.
Nadira terkekeh kecil, getir.
“Lihatlah dirimu, Mas. Sangat menjijikan.”
“Dira—”
“Apa.” Nadira memotong dengan cepat. “Kamu mau mengelak apa lagi, Mas? Semua sudah jelas. Aku melihatnya, kamu pikir aku buta?”
Hening sesaat.
Bugh.
Tanpa aba-aba, ia melayangkan pukulannya ke dada Ardian. Pandangannya sedikit mengabur, saat air mata yang masih tertahan di pelupuk matanya.
“Kenapa kamu gak jujur saja Mas. Aku bisa terima, gak harus dengan cara menumbalkan aku sebagai tameng kamu. Aku wanita, aku punya hati dan perasaan. Apalagi ucapan ibu kamu yang selalu nyakitin batinku... Pernahkah Mas membelaku sekali saja?”
Ardian terdiam.
Beberapa saat tak kunjung mendapatkan jawaban, Nadira tersenyum getir.
“Mau berpikir seribu kali pun, gak ada. Justru kamu malah membela ibu kamu yang salah itu!” serunya.
“Kamu benar,” akhirnya. “tapi apa aku salah membela ibuku?” tanya Ardian. “Ibuku yang telah melahirkan ku dan merawat ku.”
Hening menekan ruangan.
“Berarti ibu kamu gak pernah mendidik Mas dengan baik.”
“Kamu—”
“Terserah kamu, Mas.” Potong Nadira cepat. “Susah kalau bicara sama orang yang sudah kehilangan arah. Gak akan masuk ke dalam otak.” ia menghela napas. Tangannya mengepal.
“Sekarang,” lanjut Nadira, suaranya melemah tapi tetap tegas, “aku nggak akan jadi penghalang kamu, Mas. Aku gak peduli lagi Mas. Sekarang tanda tangani surat itu, aku gak mau berlama-lama disini.”
Air mata akhirnya jatuh. Nadira cepat menyekanya, tak ingin terlihat rapuh di depan suaminya.
“Setelah itu, kita ke rumah orang tua kamu.”
“Mau ngapain?” tanya Ardian.
“Mau apa lagi, kalau bukan memulangkan kamu, Mas.”
Nadira berbalik, melangkah menuju pintu.
“Jangan sekarang,” suara Ardian terdengar panik. “Papah lagi sakit. Aku takut kalau dengar ini, penyakit Papah kambuh.”
“Nggak akan, papah pasti mengerti,” jawab Nadira tanpa menoleh.
Langkahnya tak melambat. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu.
“Dira!”
Nadira tak berhenti melangkah, meski suara Ardian yang memanggilnya cukup terdengar jelas, saat ia berada di teras.
...
Sepanjang perjalanan, Nadira tak mengalihkan pandangan dari jalan di depannya.
Ardian melirik ke samping. Wajah Nadira tampak lurus ke depan, tanpa ekspresi. Garis rahangnya tegas. Tak ada celah untuk ditebak.
“Apa kamu nggak mau berpikir matang lagi?” Suaranya keluar lebih pelan dari yang direncanakan.
“Sudah.”
Jawaban itu jatuh singkat. Dingin. Tanpa satu pun gerakan menoleh.
Ardian mengangguk kecil, meski tak yakin untuk apa. Jemarinya mengerat di setir. Kulit kemudi terasa kasar di telapak tangan yang mulai berkeringat.
Beberapa saat kemudian.
Kini mereka tiba di halaman rumah kedua orang tua Ardian.
Begitu mobil berhenti, Nadira langsung turun lebih dulu. Kakinya melangkah menjauh, meninggalkan Ardian tanpa mengajaknya untuk masuk bersama.
Saat didepan pintu.
“Dira, aku mohon…” suara Ardian terdengar di belakangnya.
Nadira tak menoleh.
Suara knop pintu mengalihkan perhatian mereka. Sosok wanita paruh baya muncul di ambang, Bu Wani. Tatapannya langsung jatuh pada Nadira.
“Bu…” sapa Nadira lembut, setenang yang ia bisa.
“Mau apa kamu ke sini?” suara Bu Wani dingin. Namun detik berikutnya, pandangannya beralih ke Ardian. Senyum itu muncul begitu saja. “Nak…”
Nadira tersenyum tipis.
“Bu, aku ingin bicara serius,” ucap Nadira.
“Bicara apa?” tanya Bu Wani, datar.
“Boleh bicara di dalam?”
Bu Wani berbalik tanpa jawaban, melangkah masuk. Nadira menghela napas pelan, lalu menyusul.
Di ruang tamu, Nadira duduk di sofa. Ardian ikut duduk di sampingnya. Sebuah tangan refleks menyentuh lengannya. Ia menoleh sekilas, fokusnya kembali tertuju pada Ibu mertuanya, yang duduk dengan keangkuhan.
“Katakan,” ucap Bu Wani tajam. “Saya tidak punya waktu buat bicara dengan wanita tidak berguna seperti kamu.”
Nadira menarik napas. “Kalau begitu langsung saja, Bu. Lagian saya disini gak akan lama-lama kok.”
“Yasudah, buruan.”
“Dira...”
Nadira buru-buru menepis tangan Ardian yang mencoba ingin meraih tangannya.
“Saya ke sini mau mengembalikan putramu, Bu.”
“Apa?” Bu Wani membelalak. “Jangan gila kamu! Apa pantas kamu memperlakukan putra saya seperti ini?” Suaranya meninggi. “Memangnya kamu siapa? Seharusnya Ardian yang mengembalikan kamu ke orang tua kamu yang tidak berguna!”
Nadira terkekeh. Ia menoleh ke Ardian sekilas, lalu kembali menatap ibu mertuanya.
“Gak berguna? Benarkah?” tanyanya. “Tapi gak berguna siapa disini. Saya atau Mas Ardian, Bu?”
“Apa maksudmu?” Bu Wani menyipitkan mata.
Nadira menoleh ke Ardian. “Mas, kamu nggak mau jelasin sendiri?”
Ardian diam. Kepalanya tertunduk.
Beberapa saat tanpa jawab, Nadira tersenyum.
“Baik,” Ia mengangguk pelan. “Kalau begitu biar aku yang jelaskan.” tatapanya kembali menatap Bu Wani. “Kami sepertinya sudah gak cocok lagi, Bu. Kami memutuskan untuk bercerai.”
Hening.
Detik berikutnya, tawa Bu Wani pecah, tajam dan meremehkan.
“Itu bagus. Kamu tahu diri rupanya.”
Nadira terkekeh kecil. Bukan lucu, tapi getir.
“Iya, Bu. Harus begitu, tapi... Apa Ibu gak mau mendengar fakta?”
“Apa itu?” tanya Bu Wani.
Nadira tersenyum. “Selamat ya Bu, keinginan ibu sudah tercapai. Karena lagi akan punya pengganti saya.”
“Siapa?”
“Yang paling Ibu kenal,”
Kening Bu Wani mengernyit. “Dewi?”
Nadira menggeleng, “Bukan Bu. Tapi Asistennya Mas Ardian.”
Kedua mata Bu Wani membelalak. “Apa? Jangan bercanda kamu?!”
“Enggak kok Bu, saya gak bercanda. Kalau gak percaya tanya saja sama Mas Ardian.”
Bu Wani menoleh cepat ke Ardian. “Nak, itu nggak benar, kan?”
Ardian tetap diam.
“ARDIAN!”
Suara berat itu datang dari arah pintu. Nadira sontak menoleh. Pak Marlan melangkah masuk dengan wajah keras.
Brugh.
Sebuah ponsel diletakkan kasar di atas meja.
“Pah, apa yang Papah lakukan?” Bu Wani bangkit setengah berdiri.
“Memalukan!” bentak Pak Marlan. “Lihat ini.”
Nadira menunduk sekilas. Layar ponsel menampilkan berita. Judul besar, foto Ardian dan sekretaris prianya di ruang kantor. Terlalu jelas untuk dibantah.
“I-ini…” Ardian menelan ludah, lalu menatap Nadira. “Apa kamu yang melakukan ini?”
Nadira menggeleng pelan. “Bukan aku, Mas.”
“Kalau bukan kamu, siapa?”
“Siska,” jawab Nadira tenang. “Bukankah dia yang selama ini memegang semua rahasia kamu?”
“Gak mungkin,” desis Ardian.
Nadira mengalihkan pandangannya pada Bu Wani. Tatapan itu masih sama seperti tadi.
“Bagaimana, Bu?” ucapnya pelan. “Sekarang siapa yang seharusnya disalahkan?”
Wajah Bu Wani berubah pucat. Detik berikutnya, tangisnya pecah. Bahunya bergetar, napasnya tersengal.
“Putraku gak mungkin seperti ini. Pasti ada yang menjebaknya.”
Bu Wani menatapnya tajam.
“Jangan menatap saya begitu, Bu. Saya memang punya bukti, tapi untuk mempublikasikan video syurnya Mas Ardian, itu bukan sifat saya.”
Bu Wani mendengus, ia mengalihkan tatapannya pada Ardian. “Ardian, ini gak benar kan?”
Ardian menunduk.
“Bu…” suaranya terdengar serak. “M—Maaf mengecewakan.”
Kalimat itu seakan merobek sesuatu. Tangis Bu Wani kembali pecah, lebih keras, lebih kacau.
Nadira melangkah setengah langkah mendekat. Nada suaranya melembut, nyaris iba.
“Yang sabar ya, Bu.”
Namun sebelum kalimat itu benar-benar sampai, tangannya ditepis kasar.
“Jangan sentuh saya!” suara Bu Wani bergetar, bercampur amarah dan penolakan.
“Mau bagaimana lagi Bu. Saya sebagai istri awalnya jelas gak percaya kalau...” menatap Ardian sekilas. “Mas Ardian seperti ini.”
Brugh.
Nadira terdiam saat tubuh Ardian terpelanting di lantai.
“Mau ditaruh dimana muka Papah!”
Bentakan pak Marlan cukup keras.
Nadira membuang pandangannya kearah lain.
“Mas... Jangan salahkan Ardian! Salahkan wanita ini yang gak bisa menjaga putra kita!”
“Loh Bu. Ibu belum tahu ya? Kalau Mas Ardian seperti ini sebelum sama saya, Bu.”
“Pembohong! Jelas-jelas Ardian itu terus desak saya buat merestui kamu sebagai menantu saya!”
Nadira terkekeh. “Itu karena Mas Ardian menjadikan saya kambing hitam, biar dia masih terlihat normal. Sayang sekali, padahal Mas Ardian anak kebanggaan Ibu, serta calon pengantin Papah Marlan.”
Ia tersenyum miring.
‘Sudah begini, masih saja menyalahkan ku.’
Nadira berdiri, meraih tasnya. “Jika sudah buta, akan sulit untuk menjelaskan meski mulut sudah berbusa.” Ia menatap Pak Marlan. "Pah, Dira pamit.”
“Iya, Dira. Maafin kami karena sudah buat kamu gak nyaman. Apalagi sikap Ibu mertuamu ini dan Ardian.”
“Gak papa, Pah. Memang sudah takdirnya begitu. Gak ada sesuatu yang bisa bertahan, meski sudah melewati cobaan. Kalau begitu Dira pamit. Assalamualaikum.”
“Waalaikum Salam,” jawab Pak Marlan.
Nadira melangkah pergi, meninggalkan kediaman mertuanya dengan kelegaan yang tak bisa ia ucapkan.