Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Dapur yang Membara
BAB 4: Dapur yang Membara
Alarm berbunyi tepat pukul 02.30 dini hari. Nayla melompat dari tempat tidur bahkan sebelum alarm selesai berbunyi. Rasa lelah dari hari kemarin seolah menguap digantikan oleh adrenalin dan harapan baru. Di luar, dunia masih lelap, namun di rumah Nayla, “pabrik” Basreng Matahari sudah harus beroperasi.
Di dapur, ibunya sudah menunggu, tersenyum. Ayahnya duduk di ruang tengah, sibuk menempelkan stiker baru yang lebih profesional pada kemasan plastik klip yang baru dibeli Nayla sore kemarin. Semangat kerja tim ini membuat hati Nayla hangat.
"Hari ini target kita 100 bungkus, Bu!" seru Nayla sambil menyalakan kompor gas yang apinya langsung menyambar wajan besar.
"Siap, Nay! Ibu bantu iris baksonya," jawab ibunya.
Ritual subuh pun dimulai. Dapur yang sempit itu segera dipenuhi bunyi taktak-taktak irisan bakso dan bau harum daun jeruk serta cabai kering. Nayla fokus pada proses penggorengan. Ia belajar dari kesalahan kemarin; kali ini ia memastikan minyak benar-benar panas pada suhu yang tepat sebelum memasukkan bakso, menghasilkan basreng yang lebih renyah dan tidak berminyak.
Proses produksi memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Menggoreng 100 bungkus basreng membutuhkan kesabaran ekstra. Saat azan Subuh berkumandang, mereka baru setengah jalan. Nayla mulai sedikit panik.
"Wah, Nay, kalau begini terus, kamu telat ke pasar dan stasiun," kata ibunya khawatir.
Nayla berpikir cepat. Efisiensi waktu adalah kunci. "Besok kita butuh wajan satu lagi, Bu. Dan kita harus cari cara agar proses coating bumbu bisa lebih cepat dan merata."
Mereka berdua bekerja ekstra keras. Saat matahari mulai terbit, Nayla sudah siap dengan 100 bungkus basreng di dalam tasnya, dikemas rapi dengan logo baru, dan dibagi menjadi tiga level pedas: Cahaya Pagi, Matahari Terik, dan Matahari Membara.
Kali ini, Nayla tidak perlu mati-matian mencari pelanggan. Kekuatan media sosial bekerja cepat. Saat ia tiba di taman kota, beberapa orang yang kemarin sudah membeli basrengnya sudah menunggu.
"Kak Nayla! Udah datang? Aku mau lima bungkus lagi dong! Ketagihan banget," sapa seorang pembeli setia pertamanya.
"Basreng Matahari ready!" seru Nayla dengan ramah.
Penjualan berjalan jauh lebih lancar. Orang-orang yang penasaran karena video viralnya datang, dan yang sudah mencoba kemarin datang kembali. Uang mengalir masuk lebih cepat. Nayla melayani setiap pembeli dengan senyum, berterima kasih atas dukungan mereka.
Di tengah keramaian, Nayla melihat seorang pria yang terlihat familiar sedang mengamati dari kejauhan. Itu adalah pria tambun pemilik ruko yang mengusirnya kemarin. Pria itu tampak kesal melihat kerumunan pembeli Nayla yang kini memenuhi area trotoar umum, bukan di depan rukonya.
Nayla tersenyum dalam hati. Ia tidak membalas dendam dengan kata-kata, tapi dengan kesuksesan kecilnya.
Saat stoknya hampir habis, Nayla mendapat ide baru. "Mbak, besok saya sudah nggak jualan keliling lagi. Saya mau fokus produksi. Tapi kalau mau, Mbak bisa jadi agen atau reseller saya."
Beberapa pembeli yang tertarik dengan potensi keuntungan langsung menanyakan syaratnya. Nayla menjelaskan sistem bagi hasil yang sederhana dan adil. Dalam sekejap, ia mendapatkan lima reseller pertama yang akan mengambil stok basreng darinya setiap pagi.
Saat Nayla pulang, tasnya sudah kosong, dan dompetnya tebal. Ia telah menjual 100 bungkus basreng dan mendapatkan lima agen. Ia berhasil melipatgandakan modalnya dalam dua hari.
Sesampainya di rumah, ia langsung mencatat semua pemasukan dan pengeluaran. Keuntungannya hari ini sudah cukup untuk membeli wajan baru, stok bakso untuk seminggu, dan bahan kemasan yang lebih baik lagi. Ia bahkan bisa memberikan sedikit uang tambahan untuk ibunya.
Nayla melihat ibunya tersenyum saat menerima uang itu. Ayahnya mengacungkan jempolnya. Di mata mereka, Nayla bukan lagi sekadar anak perempuan biasa, tapi pahlawan yang mulai membawa cahaya ke dalam rumah mereka yang gelap karena utang.
Nayla merebahkan diri di tempat tidurnya malam itu. Ia merasa lelah luar biasa, tapi hatinya penuh.
Ia menuliskan filosofi barunya dalam bisnis: "Jangan takut ditolak, karena di balik setiap penolakan, ada pelajaran berharga tentang bagaimana cara menarik pembeli yang tepat."
Ia tahu perjalanannya masih panjang. Tapi Nayla, sang gadis basreng, kini siap menghadapi tantangan selanjutnya. Takdirnya tidak hanya berubah, ia sendiri yang menuliskannya dengan keringat, cabai, dan semangat yang membara sehangat matahari.