NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerajaan Dukun dan Pasien Luar Desa

​Asap putih pekat beraroma kapur barus bercampur minyak kayu putih dan semprotan racun serangga rasa jeruk melayang-layang rendah di dalam kamar belakang Mamat. Kain hitam yang kini menutupi dinding papan lapuk rumahnya memberikan ilusi seolah-olah ruangan itu berada di dalam gua ghaib tak berdasar. Di bawah kursi kayu ukirnya, pendaran senter LED merah buatan Darto memancar remang-remang, memberikan efek seram sekaligus magis pada wajah Mamat yang juling.

​Mamat membetulkan letak jubah hitam barunya. Di pangkuannya, Keris Bengkok Brajamukti bersandar kaku. Sensasi menjadi "Raja Paranormal" Kalisari benar-benar membuat Mamat lupa diri. Dulu, jangankan dihormati warga, menyapa anak kecil saja ia sering dilempari kerikil. Kini, setiap kali langkah kakinya terdengar, orang-orang membungkuk penuh rasa takut dan hormat.

​TOK! TOK! TOK!

​Darto membuka pintu kamar sedikit, menyembulkan kepalanya dengan cengiran lebar. "Bos Ki Mamat, pasien nomor urut satu dari luar desa sudah siap. Ini orang kaya dari daerah Simpang Lima, bawa mobil pribadi!"

​Mamat membusungkan dadanya, mengatur intonasi suaranya agar makin mirip dukun sakti berumur ratusan tahun. "Suruh dia masuk, Darto. Biarkan dia merasakan aura penyucian Brajamukti."

​Pintu terdorong lebar. Masuklah seorang pria bertubuh tambun berusia empat puluhan dengan kemeja batik mahal dan rantai kalung emas tebal melingkar di lehernya. Nama pria itu adalah Pak Hidayat, seorang kontraktor proyek yang usahanya belakangan ini sering tersendat gara-gara kalah tender. Di belakangnya, seorang asisten pribadinya membawa tas jinjing kulit yang tampak berat.

​Pak Hidayat sempat terbatuk-batuk begitu menghirup racun racikan asap Mamat. "UHUK! Hmph... Aura tempat ini sungguh luar biasa pekat, Ki!" kata Pak Hidayat sambil mengusap matanya yang mendadak berair kencang.

​Mamat memejamkan matanya rapat-rapat, komat-kamit sebentar, lalu membuka mata julingnya secara perlahan. "Langkahmu berat membawa tumpukan uang dan kekecewaan, Pak Hidayat... Kamu datang karena usahamu dihalangi oleh 'pagar ghaib' musuh bisnismu, betul?"

​Pak Hidayat langsung membelalakkan mata, melompat satu langkah mendekat dengan raut takjub. "Masya Allah! Beneran sakti Ki Mamat ini! Belum saya cerita saja sudah menebak tepat sasaran!"

​Mamat tersenyum licik di dalam hati. Padahal, sepuluh menit lalu Darto sudah membisikkan detail identitas Pak Hidayat yang tertulis di formulir pendaftaran depan. Trik analisis dingin sederhana dari obrolan calo terbukti selalu ampuh melumpuhkan logika orang kaya yang sedang putus asa.

​"Musuh bisnismu mengirimkan Jin Tanah Kober untuk menyumbat pintu rezekimu," kata Mamat mendramatisir keadaan. Ia menyambar botol minyak kayu putih, menumpahkannya ke telapak tangan, lalu mengacungkan Keris Bengkok-nya. "Untuk menjebol pagar ghaib itu, kamu butuh Ritual Pembersihan Keris Brajamukti dan sajen khusus berupa minyak jafaron murni serta mahar penyucian."

​Pak Hidayat tanpa ragu melambaikan tangan kepada asistennya. Asisten itu membuka tas jinjing kulit dan mengeluarkan lima ikatan uang kertas seratus ribuan baru yang masih bersegel bank!

​"Ini uang muka lima juta rupiah, Ki Mamat!" kata Pak Hidayat penuh harap. "Kalau minggu depan tender proyek jembatan saya tembus, saya bakal tambah lima puluh juta plus belikan Ki Mamat mobil baru!"

​Mata Mamat mendadak seperti mau melompat keluar dari kelopak matanya! LIMA JUTA RUPIAH CASH! Tangan Mamat gemetar hebat saat menatap tumpukan uang merah yang mengkilap itu. Dalam sekejap, denda pinjaman online, utang warung Bu Siami, hingga biaya makan sate kambing tiga bulan ke depan langsung terlunasi!

​"B-Bagus..." kata Mamat berusaha keras menahan suaranya agar tidak pecah karena kegirangan. Ia menyuruh Pak Hidayat mendekat, lalu mengoleskan minyak kayu putih murni ke dahi kontraktor tambun itu dengan tebasan lambat Keris Bengkok. "Aura rezekimu telah saya buka kembali! Pulanglah, dan pastikan besok pagi kamu menyiramkan air garam di pintu kantor proyekmu!"

​"Matur nuwun sanget, Ki Mamat Sastrogati!" Pak Hidayat membungkuk hormat sampai perut tambunnya terlipat dua, lalu berjalan keluar dengan keyakinan penuh bahwa proyek jutaannya bakal sukses.

​Begitu pintu kamar tertutup, Mamat melompat dari kursi kayu ukirnya, menyambar tumpukan uang lima juta rupiah itu, dan menciuminya satu per satu bagai orang gila. "HAHAHAHA! JANCUK! LIMA JUTA! AKU KAYA RAYA!"

​Keberhasilan Mamat meraup jutaan rupiah dalam sehari tidak hanya membawa kemewahan, tetapi juga mulai memancing masalah baru yang jauh lebih rumit. Di luar pekarangan rumah Mamat, antrean pasien tidak berkurang, melainkan makin menyemut. Namun, di antara puluhan orang lugu yang percaya pada "kesaktian" Mamat, ada satu sosok yang memperhatikan gerak-gerik Darto dan Bowo dengan pandangan penuh curiga.

​Sosok itu adalah Pak Bintoro, seorang pensiunan polisi militer yang tinggal di ujung gang Kalisari. Pak Bintoro adalah pria berbadan tegap dengan kumis melintang dan mata tajam yang tidak mudah dibodohi oleh hal-hal mistis. Ia datang ke rumah Mamat bukan karena percaya, melainkan karena istrinya di rumah terus menerus memaksa ingin berobat ke "Ki Mamat Sastrogati" untuk menyembuhkan penyakit rematiknya.

​Saat Pak Bintoro berdiri di antrean dekat dapur, matanya menangkap sesuatu yang aneh. Ia melihat Bowo keluar dari lorong belakang sambil menyembunyikan sebuah kantong plastik besar di balik bajunya. Dari celah kantong yang robek, Pak Bintoro melihat beberapa bungkus kapur barus merek terkenal, botol racun serangga aerosol, dan beberapa bungkus petasan banting!

​Pak Bintoro menyipitkan matanya. Buat apa dukun sakti beli racun serangga sama petasan banting dalam jumlah grosir? batin Pak Bintoro curiga.

​Sementara itu, di dalam kamar ritual, Mamat sedang menghadapi "pasien" paling rumit yang pernah masuk ke rumahnya.

​Seorang wanita paruh baya berpenampilan serba mewah dengan perhiasan mencolok duduk di hadapan Mamat. Nama wanita itu adalah Ibu Hendro, istri dari seorang pejabat dinas pasar kota.

​"Ki Mamat..." kata Bu Hendro dengan wajah cemas yang dibuat-buat. "Saya datang ke sini bukan mau minta pelaris atau pengasihan."

​Mamat mengerutkan dahi, memainkan batu akik merah besarnya. "Lalu apa yang mengganggu jiwamu, Nyai Hendro?"

​Bu Hendro mendekatkan posisi duduknya, berbisik pelan dengan raut muka jahat. "Suami saya punya simpanan wanita muda di daerah Pelabuhan. Saya mau Ki Mamat kirim Santet Patek lewat Keris Bengkok Brajamukti itu! Buat wanita itu lumpuh atau mukanya hancur kena borok ghaib! Saya bayar sepuluh juta rupiah tunai malam ini!"

​Bu Hendro meletakkan amplop cokelat tebal yang sangat berat di atas tikar pandan.

​Mamat membeku di tempatnya. Senyum kelicikannya menghilang seketika, berganti dengan rasa dingin yang menjalar di punggungnya. Selama ini, permainan dukun gadungannya hanya seputar menipu Pak RT soal ayam hilang, mengintip dan menepuk punggung Mbak Wiwin serta Mbak Rini, atau memberi minyak kayu putih ke dahi emak-emak. Itu semua hanyalah komedi penipuan ringan tanpa niat menyakiti fisik orang.

​Tapi santet? Mengirim penyakit borok sampai lumpuh? Mamat sama sekali tidak punya ilmu seperti itu, dan nuraninya—setipis apa pun itu—masih menolak untuk terlibat dalam tindak kejahatan sadis.

​"Santet..." gumam Mamat pelan.

​"Iya, Ki! Bikin wanita gatal itu menderita!" desak Bu Hendro dengan mata berkilat penuh kebencian.

​Mamat memutar otaknya secepat kilat. Ia tidak boleh mengaku tidak bisa, karena reputasinya sebagai "paranormal paling sakti" akan hancur seketika. Namun ia juga tidak mungkin menerima pesanan santet palsu yang nantinya akan terbukti gagal total dan membuat Bu Hendro mengamuk membawa polisi.

​Mamat menghentakkan Keris Bengkok Brajamukti ke atas meja sajen dengan kencang!

​TAK!

​"Nyai Hendro!" bentak Mamat dengan suara menggelegar, membuat Bu Hendro terperanjat kaget di atas duduknya. "Apakah kamu pikir Keris Bengkok Brajamukti ini adalah alat pemuas dendam kesumat yang kotor?!"

​Bu Hendro melongo. "M-Maksud Ki Mamat bagaimana?"

​Mamat berdiri dari kursinya, membelakangi Bu Hendro dengan jubah hitamnya yang melambai-lambai di tengah kepulan asap kamfer.

​"Pusaka Brajamukti diturunkan dari alam atas hanya untuk menyucikan jiwa, menyembuhkan penyakit, dan mengembalikan rezeki yang tersumbat!" tegas Mamat dengan gaya moralis palsu yang sangat tinggi. "Saya tidak akan pernah mengotori tuah pusaka suci ini untuk merusak nyawa manusia lain! Ambillah kembali uang sepuluh jutamu itu dan bersihkan hatimu dari racun dengki!"

​Bu Hendro melotot, wajahnya memerah padam karena malu dan marah. Tanpa di duga, wanita kaya itu menyambar amplop cokelatnya, bangkit berdiri dengan kasar, lalu menunjuk wajah Mamat dengan jari berhiaskan cincin berlian.

​"Dukun sombong!" maki Bu Hendro nyaring. "Kamu pikir cuma kamu dukun di kota ini?! Saya akan cari dukun lain yang lebih hebat dari kamu! Jangan sesali kalau rumahmu ini saya ratakan dengan tanah!"

​Bu Hendro mendobrak pintu kamar dan keluar dengan langkah menghentak-hentak, meninggalkan Mamat yang menghembuskan napas lega sambil menyapu keringat dingin di dahinya.

​"Jancuk... Hampir saja," bisik Mamat sambil menyandarkan bahunya ke dinding papan. "Hampir masuk penjara gara-gara urusan santet."

​Namun, Mamat tidak menyadari bahwa penolakannya terhadap Bu Hendro justru menjadi awal dari bencana besar. Bu Hendro yang murka berjalan menuju pintu depan, dan di pekarangan rumah, ia berpapasan langsung dengan Pak Bintoro yang sedang berdiri memperhatikan keadaan sekitar.

​"Ibu kenapa marah-marah?" tanya Pak Bintoro mencegat Bu Hendro.

​Bu Hendro yang emosinya meluap-luap langsung berteriak di depan puluhan pasien yang sedang antre. "Dukun palsu! Mamat itu cuma sok suci! Mana ada dukun sakti yang ndak mau nerima pesanan! Saya curiga ini rumah cuma tempat penipuan massal!"

​Warga di pekarangan seketika geger dan kasak-kusuk histeris. Pak Bintoro menyunggingkan senyum tipis. Kecurigaannya tentang kapur barus, racun serangga, dan petasan banting kini makin menguat. Pensiunan polisi militer itu melangkah maju menuju meja pendaftaran tempat Darto dan Bowo duduk.

​"Mas Darto..." panggil Pak Bintoro dengan suara berat dan tenang yang sangat menakutkan. "Bisa saya lihat isi kamar belakang Ki Mamat sekarang juga? Saya mau cek 'peralatan ritual'-nya secara langsung."

​Darto dan Bowo saling berpandangan dengan wajah pucat pasi. Panggung kemewahan "Ki Mamat Sastrogati" yang baru saja mencapai puncaknya, kini berada di ambang kehancuran total akibat ancaman bongkaran dari pensiunan tentara!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!