Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Begitu ia keluar, pintu Dapur Utama terbuka lebar. Beberapa pelayan melangkah masuk membawa tumpukan nota pesanan pertama untuk sarapan dan brunch tamu hotel.
Aira menepuk tangannya dua kali, memecah ketegangan di ruangan.
"Ayo, sekarang kita bekerja!" seru Aira penuh wibawa.
Suaranya bergema tegas, seketika menghapus kesan wanita lemah yang sempat diremehkan para staf dapur.
Dalam sekejap, Aira mengambil alih posisi kendali di area pass.
Ia membaca nota pesanan dengan kecepatan dan ketelitian luar biasa.
"Pesanan meja empat: dua Egg Benedict, satu American Breakfast tanpa sosis sapi! Pesanan kamar 502: Pancake blueberry dengan sirup mapel terpisah! Rizal, pegang pemanggangan daging! Bayu, siapkan saus Hollandaise!" perintah Aira lugas.
Rizal yang sempat memandangnya sebelah mata terkejut melihat kecepatan Aira mengorganisasi dapur.
Tanpa sadar, ia dan staf lainnya bergerak cepat mengikuti instruksi Aira.
Aira tidak hanya berdiri memberi perintah. Saat saus Hollandaise buatan stafnya terasa terlalu asam, Aira turun tangan langsung meracik ulang dengan teknik pencampuran cepat hingga teksturnya sempurna dan mengilap.
Ia memeriksa setiap piring yang akan disajikan dan memastikan kerapian hiasan, kebersihan pinggiran piring, hingga suhu makanan tepat sebelum dibawa keluar oleh pelayan.
Selama lima jam nonstop, suasana dapur membara oleh kesibukan tinggi, namun berjalan sangat teratur di bawah kepemimpinan Aira.
Semua pesanan keluar tepat waktu tanpa ada satu pun komplain dari tamu.
Saat jam menunjuk pukul satu siang, tumpukan pesanan mulai mereda.
"Semuanya, istirahat lima belas menit! Gunakan waktu untuk minum dan meluruskan kaki," ujar Aira seraya menyapu keringat tipis di dahinya.
Para staf dapur bernapas lega. Beberapa koki duduk menyenderkan punggung, di antaranya Rizal yang menatap Aira dengan rasa kagum yang mulai tumbuh di dadanya. Wanita itu terbukti memiliki fisik dan mental baja.
Namun, baru saja Aira hendak meneguk air minumnya, pintu dapur mendadak terdorong keras.
Seorang kapten pelayan berlari masuk dengan wajah pucat dan napas terengah-engah.
"Chef! Ada pesanan darurat dari President Suite! Tamu VVIP baru saja check-in dan meminta hidangan makan siang khusus penderita diabetes!" ujar pelayan itu panik seraya menyodorkan catatan khusus.
"Kadar gula darahnya sedang tinggi, tapi beliau menuntut makanan yang lezat, bernutrisi tinggi, dan tidak boleh terasa hambar seperti makanan rumah sakit! Pelayan pribadi beliau sangat galak!"
Para koki yang sedang istirahat langsung saling pandang dengan cemas.
Memasak untuk penderita diabetes dengan batasan ketat namun tetap harus berstandar bintang lima dalam waktu singkat adalah tantangan yang sangat mengerikan.
"Biar saya yang masak sendiri," tegas Aira tanpa ragu.
Aira mengambil alih catatan tersebut, lalu melangkah cepat menuju lemari pendingin bahan segar.
Jemarinya bergerak lincah memilih bahan: fillet dada ayam organik, jamur shiitake segar, quinoa, asparagus, serta bumbu-bumbu alami seperti bawang putih, jahe, dan daun thyme segar.
Tanpa menggunakan gula, mentega berlebih, atau bahan berkarbohidrat tinggi, Aira mulai menyalakan kompor.
Ia memanggang dada ayam dengan teknik searing menggunakan sedikit minyak zaitun untuk mengunci kelembapan daging agar tetap empuk dan gurih.
Untuk sausnya, Aira meracik kaldu jamur alami yang diinfusi dengan jahe dan perasan lemon segar sebagai penyeimbang rasa alami.
Aira menata Quinoa Risotto tanpa susu di tengah piring, meletakkan dada ayam panggang beraroma herbal di atasnya, lalu menghiasnya dengan tumisan asparagus hijau yang renyah.
Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, sebuah hidangan mahakarya yang sehat, elegan, dan kaya aroma selesai disajikan.
Aira mengelap pinggiran piring dengan kain bersih lalu menepuk bel meja.
"Pesanan VVIP siap diantar!"
Pelayan tersebut menerima piring dengan kagum dan segera berlari menuju lift khusus.
Rizal dan seluruh tim dapur yang menyaksikan dedikasi dan kecepatan Aira hanya bisa terdiam membisu, benar-benar tunduk pada keahlian sang Head Chef baru.
Aira kembali fokus memimpin area dapur setelah menyelesaikan hidangan VVIP tersebut.
Suasana di dapur kini berubah drastis dimana para staf koki menatapnya dengan penuh rasa hormat, bekerja lebih sigap mengikuti setiap instruksinya.
Lima belas menit berlalu, pintu dapur ganda berdering pelan saat Arum melangkah masuk. Wajah Manajer HRD itu tampak serius namun memancarkan binar takjub.
"Aira, bisa bicara sebentar?" panggil Arum sambil melambaikan tangan pelan.
Aira menghentikan sejenak gerakannya yang sedang memeriksa piring sajian. Ia menoleh ke arah timnya.
"Koki Rizal, tolong gantikan posisi kendali pass sebentar, ya," pimpin Aira tegas namun tenang.
"Siap, Chef! Serahkan pada saya," jawab Rizal sigap tanpa ada lagi nada meremehkan.
Aira melepas celemek kulinernya, membenahi seragam putihnya yang rapi, lalu melangkah menghampiri Arum di luar pintu dapur.
"Ada apa, Bu Arum?" tanya Aira heran.
"Tamu VVIP dari President Suite baru saja menghubungi pihak manajemen," ujar Arum seraya menatap Aira lekat-lekat.
"Beliau sangat terkesan dengan hidangan khusus diabetes yang kamu buat, sampai-sampai meminta secara khusus untuk bertemu langsung dengan sang chef."
Aira sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.
"Baik, Bu Arum. Saya siap bertemu dengan beliau." ucap Aira.
Aira merapikan kembali seragam koki putihnya dan menyisir beberapa helai rambut yang keluar dari topi head chef.
Bersama Arum, ia melangkah menuju lift VIP yang meluncur mulus membawa mereka langsung ke lantai paling atas, tempat kamar President Suite berada.
Pintu lift terbuka, memperlihatkan lorong bernuansa emas yang sangat mewah.
Arum melangkah mendekati pintu besar berukir elegan, lalu mengetuknya pelan.
Tok! Tok!
Pintu dibukakan oleh seorang pria paruh baya berbusana amat rapi dimana seorang asisten pribadi berpenampilan formal.
"Selamat siang, ini Head Chef kami yang memasak menu khusus makan siang tadi," tutur Arum sopan.
Asisten itu tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.
"Silakan masuk, Chef. Tuan kami sudah menunggu."
Aira menarik napas panjang, melangkah masuk menelusuri ruang tamu suite yang begitu megah.
Di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota, duduk seorang pria lanjut usia yang memancarkan aura keanggunan dan kekuasaan kuat.
Pria itu adalah Tuan Bramantyo, salah satu investor saham terbesar asal Singapura yang juga merupakan kerabat dekat mendiang ayah Lucas.
Tuan Bramantyo menyandarkan tongkat kayunya, menatap Aira dari atas ke bawah saat Aira membungkuk hormat.
"Selamat siang, Tuan. Saya Chef Aira, Head Chef Dapur Utama Hotel Bintang Purnama. Ada yang bisa saya bantu terkait masakan tadi?" sapa Aira lembut namun penuh percaya diri.
Tuan Bramantyo terkekeh pelan, menepuk tangannya kagum.
"Luar biasa! Saya sudah mengidap diabetes selama belasan tahun dan sering menginap di berbagai hotel bintang lima dunia. Tapi belum pernah ada chef yang sanggup meracik dada ayam panggang dan quinoa dengan rasa sekaya ini tanpa menyenggol kadar gula darah saya!"
Pria tua itu memajukan tubuhnya, menatap Aira lekat-lekat.
"Garamnya pas, aroma herbalnya mengunci rasa gurih alami, dan saus jamur jahenya sangat menyegarkan di tenggorokan. Bagaimana kamu bisa menciptakan racikan ini?"
"Saya mengandalkan infusi rempah segar dan mengunci kelembapan daging dengan teknik pemanggangan cepat, Tuan. Makanan sehat tidak harus terasa seperti obat jika kita memahami karakter setiap bahan makanan." ujar Aira sambil tersenyum tipis.
"Jawaban yang cerdas!" puji Tuan Bramantyo puas. Ia lalu menoleh pada Arum.
"Saya akan merekomendasikan chef baru kalian ini secara pribadi pada Lucas saat saya kembali ke Singapura nanti. Kualitas Hotel Bintang Purnama makin luar biasa!"
Arum membungkukkan tubuhnya dan mengucapkan rasa terima kasih.
"Terima kasih banyak atas apresiasi Anda, Tuan Bramantyo."
Setelah menyelesaikan obrolan hangat tersebut, Aira dan Arum pamit mundur dan kembali turun ke area dapur.
Di sepanjang perjalanan dalam lift, Arum menepuk bahu Aira penuh rasa bangga.
"Kamu baru saja menyelamatkan reputasi hotel dan membuat salah satu tamu terpenting kita sangat puas, Aira. Kerja yang luar biasa!" puji Arum.
"Terima kasih, Bu Arum. Ini semua berkat kerja sama tim dapur juga," balas Aira rendah hati.
Begitu pintu dapur ganda terbuka kembali, jarum jam sudah menunjukkan pukul empat sore, waktu pergantian shift dan jam pulang bagi tim dapur pagi.
Rizal dan koki lainnya yang sedang merapikan meja kerja langsung menatap Aira yang baru kembali.
Aira melangkah ke tengah dapur, lalu tersenyum tipis menatap Rizal.
"Jam pulang sudah tiba. Saya masih berdiri di sini, Koki Rizal."
Seketika seluruh staf dapur tertawa kecil. Rizal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah merona merah, merasa sangat malu atas kesombongannya tadi pagi.
"Saya mengaku kalah, Chef Aira," ujar Rizal tulus seraya membungkukkan badannya penuh hormat.
"Keahlian dan ketahanan Anda di dapur benar-benar membuat saya kagum. Nanti setelah pulang kerja sesuai janji taruhan kita, kami akan memasak ikan kerapu asam manis tanpa saus dan cuka di bawah bimbingan Anda!"
Sorak riuh dan tepuk tangan kompak terdengar mengudara di dalam dapur utama.
Di tengah riuhnya kepulan asap dan kehangatan rekan-rekan barunya, Aira memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas lega.
mestinya Radit dan ibunya jangan dapat penangguhan penahanan yah, enak sekali
waduh... dapat orderan nih menu barunya 🤣🤣
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣