Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: API YANG TIDAK PERNAH PADAM
...#...
...Sore itu Kenzo masih sempat bertengkar dengan kakaknya soal sepotong tempe goreng yang menurut Nadira jatahnya, padahal jelas-jelas Kenzo yang menggorengnya bersama Ibu, berdiri di atas dingklik kayu dengan celemek kebesaran yang talinya harus dililit dua kali di pinggang. Pertengkaran itu baru berhenti waktu Ayah pulang membawa kantong plastik berisi jeruk yang sebagian sudah lembek kena tas kamera, lalu membelah tempe itu jadi dua dengan tangan kosong sambil bilang bahwa hakim yang adil tidak pernah memihak, cuma lapar....
..."Hakim apanya, Yah... kan Kenzo yang goreng," gerutu Kenzo dengan mulut penuh....
..."Justru itu, yang goreng harus kalah, biar besok-besok belajar bagi-bagi." Ayah mengacak rambutnya sampai berantakan, dan Ibu tertawa dari depan kompor, tawa yang terputus karena Ayah, entah untuk keberapa kalinya sore itu, menoleh ke jendela dapur dan diam terlalu lama di sana, menatap ujung gang seperti menunggu seseorang yang tidak ingin ia lihat datang....
...Kenzo memperhatikan itu. Anak tujuh tahun memperhatikan banyak hal yang orang dewasa kira tidak kelihatan: Ayah tidak menyentuh buburnya malam itu, Ibu menuang teh untuk Ayah tiga kali padahal cangkirnya masih penuh, dan mesin ketik di ruang kerja bunyinya lebih cepat dan lebih keras dari biasanya sampai Nadira, yang sedang menyisir boneka kelincinya di depan pintu, berbisik bahwa Ayah pasti lagi nulis sesuatu yang bikin marah orang besar....
..."Orang besar itu siapa?"...
..."Ya orang besar... yang kalau marah, kita harus pindah rumah lagi." Nadira menyisir bulu kelinci itu pelan-pelan, terlalu pelan untuk anak dua belas tahun yang katanya sudah tidak main boneka. "Udah, jangan bilang Ibu aku ngomong gini."...
...Kenzo sedang menggambar rumah di buku tulis bergaris, rumah beratap miring dengan cerobong yang ia beri asap seperti benang kusut, ketika bunyi mesin ketik itu berhenti di tengah kata. Tidak selesai. Seperti orang yang tersedak. Rumah mendadak sunyi sampai ia bisa mendengar jam dinding di ruang tengah dan napasnya sendiri yang ikut tertahan....
..."Ayah?"...
...Tidak ada jawaban, hanya derit kursi dan langkah yang terlalu cepat di lorong, langkah orang yang tidak mau ketahuan berlari. Pintu kamar Ibu terbuka, dan suara Ayah terdengar rendah, serak, dipaksa tenang. "Tari... bangun, sekarang. Jangan dinyalakan lampunya."...
...Kenzo berjalan ke ambang pintu dengan kaus kaki yang tidak sepasang, satu biru satu abu-abu. Dari celah itu ia melihat Ibu duduk di tepi ranjang, sisirnya masih tersangkut di rambut, menatap Ayah seperti menatap kalimat yang sudah lama ia takut akan didengarnya....
..."Mereka sudah tahu?" Suara Ibu tidak gemetar, dan justru itu yang membuat perut Kenzo mengencang tanpa ia tahu kenapa....
..."Si Darto di pelabuhan tadi telepon, katanya ada tiga truk tanpa plat berhenti di ujung gang sebelum lampu jalan dimatikan. Dia janji mau nahan mereka sampai pagi, dia janji, Tari, aku..." Ayah berhenti, menelan sesuatu. Tangan yang biasanya mantap memegang kamera itu sekarang tidak bisa diam, jari-jarinya membuka dan menutup. "Aku percaya sama dia."...
..."Kenzo, sini, Nak. Pakai jaket tebalmu, ya?" Ibu tidak menoleh. Seorang ibu selalu tahu anaknya ada di balik pintu bahkan sebelum melihat....
..."Mau ke mana, Bu? Kan udah malam..."...
..."Main petak umpet," kata Ibu, dan senyum yang menyertainya, senyum yang dipaksa naik di wajah yang sudah pucat, adalah senyum paling jelek yang pernah Kenzo lihat, dan akan jadi yang paling lama ia ingat....
...Di dapur yang gelap Ayah berlutut di depan mereka bertiga. Ia merogoh ke balik rak piring, di antara mangkuk-mangkuk bubur yang dipakai tiap pagi, dan menarik keluar amplop cokelat tebal yang selama ini bersembunyi di sana tanpa pernah mereka curigai. Amplop itu ia selipkan ke dalam jaket Ibu dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk sekadar kertas....
..."Foto dermaga, daftar kapal, sama nama-nama yang tanda tangan, semuanya ada di situ." Ia bicara pada Ibu, tapi matanya terus bergeser ke wajah anak-anaknya, seperti tidak sanggup memilih siapa yang harus dilihat lebih dulu. "Kalau aku nggak sempat, bawa ke Rendra di Kota Tua. Dia tahu harus diapakan. Dan jangan percaya yang berseragam, Tari, siapa pun, termasuk yang pernah makan di meja kita."...
..."Ayah ikut, kan?" Suara Kenzo naik, patah di tengah. "Ayah ikut sama kita, kan, Yah?"...
...Ayah menatapnya lama. Tangannya terulur merapikan rambut belakang Kenzo yang selalu berdiri melawan, kebiasaan lama yang tidak pernah berhasil, dan kali ini ibu jarinya berhenti di pipi anak itu, tertahan agak lama....
..."Ayah nyusul. Cuma mau cek pintu depan udah dikunci apa belum. Kamu jaga Ibu sama Kakak dulu, bisa kan, Jagoan?"...
...Kenzo mengangguk. Tapi ia tahu, dengan kepastian aneh yang hanya dimiliki anak-anak, bahwa mengunci pintu depan tidak pernah selama itu....
...Mereka keluar lewat pintu belakang, melewati kebun kecil tempat Ibu menanam cabai dan melati. Udara malam membawa bau yang tidak seharusnya ada di situ: solar, karet panas, sesuatu yang berkarat. Dari arah jalan terdengar banyak mesin menggerung pelan, lalu pintu-pintu mobil ditutup satu per satu dengan hati-hati, dan kehati-hatian itu yang membuat bulu kuduk Kenzo berdiri....
..."Lari ke arah kali. Pelan-pelan tapi lari. Jangan nengok."...
...Kenzo berlari sampai sandalnya tersangkut akar di ujung pagar bambu. Ia jatuh, lututnya menghantam tanah, dan dari pergelangan kaki kirinya terdengar bunyi kecil seperti ranting dipatahkan. Napasnya putus....
..."Aaah... Bu, sakit... kakiku, aku nggak... nggak bisa..."...
..."Sstt, jangan keras-keras, Sayang, Ibu mohon..."...
...Tangan Ibu gemetar meraba pergelangan yang mulai bengkak itu. Nadira menarik mereka ke balik rumpun semak berduri di tepi kebun, tempat daun kasar menggores pipi dan lengan, tempat mereka meringkuk berdempetan, dan Kenzo bisa merasakan jantung Ibu menabrak punggungnya begitu cepat sampai ia kira itu jantungnya sendiri....
...Dari celah daun ia melihat rumahnya. Lampu ruang tengah menyala, pasti Ayah yang sengaja menyalakannya supaya semua mata menatap ke sana dan bukan ke semak. Di dalam kotak cahaya kuning itu Ayah berdiri sendirian, tegak, kedua tangan terbuka di sisi badan, tidak memegang apa-apa....
...Pintu depan ditendang sampai engselnya lepas. Mereka masuk satu per satu, bot-bot itu menginjak lantai yang tadi siang baru dipel Ibu. Delapan, sepuluh, Kenzo kehilangan hitungan. Semuanya bertopeng kain hitam, dan beberapa memakai seragam yang ia kenal dari parade di alun-alun, seragam yang selama ini ia kira milik orang-orang yang melindungi. Di belakang mereka masuk beberapa lelaki berjaket kulit yang tidak bertopeng, yang berjalan santai, yang melihat-lihat foto di dinding seperti tamu menilai rumah orang....
..."Adriel Wicaksana," kata salah satu yang bertopeng, suaranya datar. "Tukang foto yang hobi motret hal-hal yang bukan urusannya."...
..."Kalian sudah dapat aku. Rumah ini kosong, istri sama anak-anakku sudah kuantar ke luar kota sore tadi, jadi nggak ada gunanya kalian..."...
..."Filmnya di mana?"...
..."Sudah kubakar."...
...Tamparannya begitu keras sampai Nadira buru-buru menutup mulut Kenzo dengan telapak tangan sebelum adiknya sempat bersuara. Di belakang mereka Ibu mulai menangis tanpa suara, hanya napas tersengal dan bahu yang terguncang....
..."Bohong," kata si topeng, hampir lembut. "Mobilmu di garasi, kopermu belum dibongkar, dan di dapur ada tiga mangkuk bubur yang masih hangat. Jangan menghina kami, Pak."...
...Ayah diam sebentar, lalu tertawa, tawa pendek dan kering. Ia mulai bicara tentang dermaga, tentang kapal-kapal yang di lambungnya tertulis beras tapi isinya bukan beras, tentang anak-anak yang naik dan tidak pernah turun di pelabuhan tujuan, tentang seorang jenderal yang tanda tangannya ada di setiap lembar manifest. Kenzo tidak mengerti satu kata pun. Ia hanya mengerti bahwa Ayah bicara dengan nada yang biasa dipakainya waktu membacakan dongeng, tenang dan pelan, dan itu jauh lebih menakutkan daripada kalau Ayah berteriak....
..."Ayah..." Kata itu lolos dari sela jari Nadira, patah dan basah. "Ayah, jangan..."...
...Salah satu lelaki berjaket kulit, yang jarinya memakai cincin batu hijau, mengangkat tangan sedikit saja, isyarat kecil seperti menyuruh pelayan membawakan teh....
...Tembakan itu tidak seperti di film. Pendek, kering, terlalu biasa untuk sesuatu yang menghancurkan segalanya. Ayah jatuh berlutut dengan wajah tetap menghadap semak, menghadap mereka, dan di detik terakhir itu Kenzo bersumpah ia melihat Ayah tersenyum, senyum yang sama seperti waktu membelah tempe tadi sore....
...Lalu sesuatu di dada Kenzo robek....
..."AYAAAAAH!! AYAH! Ayah, bangun... AYAH!! Yah, jangan tidur di situ... AYAAAHHH!!"...
...Teriakan itu keluar menembus telapak tangan Nadira, menembus gigitan bibirnya sendiri, menembus semua yang pernah diajarkan tentang berbisik dan bersembunyi. Suara anak tujuh tahun yang sudah tidak punya apa pun lagi untuk ditahan, melengking, serak, pecah di tengah, mengulang satu kata sampai bukan kata lagi. Ibu memeluknya dengan seluruh tubuh, menekan wajahnya ke bahu yang sudah basah, "Diam, Kenzo, diam, diam, tolong, Nak, tolong..." tapi sudah terlambat. Kepala-kepala bertopeng itu menoleh serempak, senter menyala, dan cahaya putih menyapu daun, ranting, sebelah sandal yang terlepas....
..."Di sana!"...
...Ibu mendorongnya ke cekungan tanah di bawah akar besar yang tadi menjatuhkannya, lalu menarik daun-daun kering menutupi punggungnya dengan jari yang tidak berhenti gemetar. "Lihat Ibu. Lihat Ibu, Kenzo. Apa pun yang kamu dengar, kamu jangan keluar, ya? Janji sama Ibu..."...
..."Bu... jangan pergi... Bu, aku takut... jangan tinggalin aku..."...
..."Ibu sayang kamu. Sayang sekali, Nak." Ciuman di keningnya basah, dingin, dan terlalu cepat. "Nadira, ayo, Sayang, kita lari ke sana. Jauhkan mereka dari adikmu."...
...Dari celah dedaunan, dengan pipi menempel di tanah yang berbau lumut, Kenzo melihat Ibu menggenggam tangan Nadira dan keduanya berlari keluar dari semak ke arah berlawanan, sengaja menginjak ranting keras-keras, sengaja membuat bunyi sebanyak mungkin. Boneka kelinci jatuh dari pelukan kakaknya dan tergeletak di rumput dengan satu telinga terlipat....
...Senter-senter itu mengejar. Langkah bot menjauh, menjauh, lalu ada suara Nadira memanggil namanya sekali, hanya sekali, "Kenz..." dan terpotong oleh sesuatu yang pendek dan kering....
...Lalu satu lagi....
...Lalu hanya jangkrik, yang entah kenapa mulai berbunyi lagi seakan malam itu bukan malam apa-apa....
...Kenzo tidak bergerak. Mulutnya terbuka tapi tidak ada yang keluar kecuali napas tersedak-sedak. Di depan matanya boneka itu masih tergeletak dengan telinga terlipat, dan di belakangnya rumah mereka mulai bersinar oranye, lalu merah, lalu menjilat atap miring yang tadi sore ia gambar, dan cerobong yang tidak pernah mengepul itu akhirnya mengeluarkan asap juga....
..."Perempuan sama anak gadisnya sudah beres," suara dari radio genggam, berderak, jauh. "Amplopnya?"...
..."Di jaket si perempuan. Sudah diambil."...
...Kenzo mengerti amplop itu sudah hilang, dan semua yang Ayah sembunyikan di antara mangkuk bubur itu tidak akan sampai ke Kota Tua, ke Rendra siapa pun itu. Entah kenapa justru pikiran itu, bukan Ayah, bukan Ibu, bukan Nadira, yang membuat tubuh kecilnya mulai bergetar tak terkendali....
..."Anak laki-lakinya belum ketemu."...
..."Cari sampai ketemu. Yang itu... Bapak bilang nggak boleh ada yang tersisa."...
...Langkah bot kembali mendekat, pelan, tidak terburu-buru, langkah orang yang tahu sasarannya tidak akan ke mana-mana. Kenzo menahan napas sampai dadanya serasa mau pecah, matanya terpejam rapat. Bot itu berhenti begitu dekat sampai bau solar dan asap menusuk hidungnya, dan seberkas cahaya putih menembus kelopaknya menjadi merah menyala......
...Sebuah tangan besar membekap mulutnya dari belakang....
...Bukan dari arah senter, tapi dari dalam gelap di balik akar, dari tempat yang seharusnya hanya berisi tanah. Tubuhnya ditarik ke belakang dengan satu sentakan kuat tanpa suara, kepalanya terbenam di dada seseorang yang berbau tembakau, keringat lama, dan tanah basah, sementara cahaya di atas mereka bergerak ke kiri, ke kanan, lalu menjauh diiringi umpatan malas....
..."Jangan melawan..." Suaranya rendah, parau, hampir tanpa napas, tepat di telinga Kenzo. "Sekali lagi kamu bersuara... kita berdua mati. Ngerti?"...
...Kenzo gemetar hebat, air matanya membasahi jari-jari kasar itu. Dengan sisa tenaga ia memutar mata ke atas, ingin tahu siapa yang memeluknya, tapi cahaya api dari rumahnya hanya menyentuh sebagian wajah itu: rahang yang belum dicukur, bekas luka tipis dari alis ke pelipis, dan sepasang mata kelabu yang tidak menatapnya, melainkan menatap rumah yang terbakar itu dengan sesuatu yang tidak bisa dibaca anak mana pun....
..."Aku telat..." bisik lelaki itu, entah pada siapa, suaranya pecah di ujung seperti orang yang sudah lama tidak mengucap kata maaf. "Dua jam... aku cuma telat dua jam..."...
...Ia mengangkat Kenzo ke bahunya dan menahan kepala anak itu agar tidak menoleh, tapi Kenzo melawan dengan sisa tenaganya, memutar leher, dan dari balik bahu lelaki asing itu ia melihat untuk terakhir kalinya halaman belakang rumahnya: rumput tempat boneka kelinci itu tergeletak, dan sebuah sepatu bot hitam melangkah di atasnya tanpa menunduk....
..."Jangan dilihat, Nak... jangan dilihat..." Lelaki itu berlari membungkuk menembus gelap menuju kali, napasnya memburu, dan di sela langkah beratnya ia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuh Kenzo yang lemas tiba-tiba membeku....
..."Ayahmu pernah bilang... kalau ada satu yang selamat, namanya jangan pernah dipakai lagi. Dan kalau suatu hari kamu dengar suara di radio tadi, jangan percaya. Karena suara itu..."...
...Ia berhenti. Dari arah rumah yang membara terdengar seseorang berteriak memanggil sebuah nama, bukan nama Kenzo, bukan nama Ayah, nama yang membuat langkah lelaki asing itu tersendat sepersekian detik, dan tangannya mengencang di tubuh Kenzo sampai terasa sakit....
..."...suara itu bukan orang asing buatku."...
...---...
...*Bersambung ke Bab 2*...