NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Tenda Gus Hafiz

Dinginnya Gunung Lawu, kini lebih dingin dari hati Ustadz Maulana. Pria paruh baya itu menarik kembali resleting tenda Gua Hafiz.

Pelan, hati-hati. Seolah ingin mengunci rahasia yang tak seharusnya dilihat mata lain.

Beliau menoleh pada Ustadzah Sarah.

"Bawa anak-anak wudu sekarang."

Ustadzah Sarah mengangguk cepat, meski sorot matanya jelas menyimpan tanya. Namun Ustadzah Sarah tetap menggiring para santri untuk berwudu ke sendang.

Suasana tenda kembali sepi, tinggal angin, dan embun yang menggantung di udara.

Ustadz Maulana pun kembali ke tenda Gus Hafiz. Beliau memanggil kembali.

"Gus..." suara itu pelan.

Gua Hafiz terbangun, kesadarannya langsung penuh, ketika melihat siapa yang ada di depannya.

Tak hanya Gus Hafiz yang terbangun, Anies pun ikut tersentak. Ia terduduk reflek, wajahnya pucat, jilbabnya berantakan, jantungnya serasa jatuh ke tanah.

"Ustadz... saya bisa jelasin, Saya dan Gus Hafiz...ini... ini ndak seperti yang Ustadz lihat. Saya..." suara Anisa gemetar, hampir menangis.

Gus Hafiz menoleh padanya. Tatapannya tegas tapi melindungi.

Gus Hafiz menggeleng pelan.

"Kamu kembali ke tenda, biar Mas yang jelaskan."

Nada suaranya bukan perintah, tapi cukup membuat Anisa tak berani membantah.

Ustadz Maulana, menyipit.

Ada apa ini, kenapa Gus Hafiz membahasakan dirinya ke Anisa Mas, ndak ustadz ndak Gus? batin Ustadz Maulana, namun ia cukup membatin.

Anisa berdiri dengan kaki lemas. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi, Tatapan mereka bertemu, dan untuk pertama kalinya, Anisa melihat sesuatu di mata Gus Hafiz.

Tenda tertutup kembali di dalam hanya ada Gus Hafiz dan Ustadz Maulana.

Beberapa detik sunyi berlalu, Gus Hafiz duduk tegak, ia merapikan pakaiannya, membetulkan pecinya, lalu menundukkan kepala.

"Saya siap menjelaskan, Ustadz."

Ustadz Maulana menatapnya lama, bukan dengan marah, melainkan tatapan seorang pemimpin, yang sedang menimbang tanggung jawab santri sekaligus tenangan pendidikannya.

"Silahkan."

Gus Hafiz menarik napas panjang,.

"Sebelumnya saya izin menyampaikan satu hal, Ustadz."

Ia mengangkat wajahnya, tegas dan tenang.

"Apa pun yang Ustadz lihat pagi ini, akibat kelalaian saya, sebagai penanggung jawab kegiatan dan pembimbing santri."

Ustadz Maulana mengerutkan kening.

"Lalu Anisa...?"

tanya Ustadz Maulana.

"Tindakannya tidak salah, dia mendatangi orang yang tepat, untuk mencari perlindungan."

Jawab Gus Hafiz cepat.

Ustadz Maulana, mengerutkan keningnya.

"Gus, apa panjenengan sadar apa yang barusan Gus katakan? jelas-jelas tindakan kalian melanggar syariat. Dimana letak kebenarannya...?" Ustadz Maulana tak bisa menerima pola pikir Gus Hafiz. Yang membenarkan tindakan Anisa.

Gus Hafiz ingin sekali mengatakan jika Anisa itu istrinya, tapi lagi-lagi ia teringat pesan Uminya, pernikahannya itu rahasia, ndak boleh orang lain tahu, terlebih pada Ustadz Maulana selaku kepala Madrasah.

“Malam tadi Anisa ketakutan, karena sesuatu di sekitar tenda. Ia datang ke pada saya, untuk meminta perlindungan. Saya izinkan, dia masuk ke tenda saya, dengan batas yang jelas. Saat hujan badai turun, suhu ekstrem. Kondisi fisiknya menurun.”

Gus Hafiz menelan ludah, lalu melanjutkan tanpa menunduk.

"Sebagai pembimbing, sebagai orang yang bertanggung jawab atas dirinya sepenuhnya, saya memilih melindungi keselamatan Anisa, daripada sekedar menjaga kesan."

Ucap Gus Hafiz. Rasanya dia ingin berkata terus terang, ini tanggung jawabku, melindungi dan menjaga istriku. tapi itu sangat tidak mungkin.

Ustadz Maulana terdiam.

"Jika keputusan saya dinilai keliru," lanjut Gus Hafiz lirih namun tegas.

"Maka saya siap menerima konsekuensinya. Jangan libatkan Anisa."

Sunyinya kembali jatuh.

Angin Subuh menyelinap di sela tenda.

Ustadz Maulana menghela napas panjang.

"Harus nya, panjenengan sadar, tindakan yang panjenengan ambil itu bisa membuat orang salah paham."

"Saya sadar, Ustadz." Sahut Gus Hafiz.

"Dan saya tidak akan lari dari tanggung jawab."

Nada itu bukan nada seseorang yang mencari pembelaan. Itu nada seorang pria sejati yang berdiri di depan resikonya sendiri.

Ustadz Maulana menatap Gus Hafiz lekat-lekat.

"Panjenengan itu figur, Gus. Panutan."

Gus Hafiz mengangguk.

"Itu lah sebabnya saya menjelaskan dengan jujur,"

Ustadz Maulana terdiam, lalu berkata lebih tenang.

"Perkara ini, tidak boleh keluar dari lingkaran pengurus, ini demi nama baik Madrasah dan Gus Hafiz."

Gus Hafiz mengangguk.

"Terima kasih Ustadz."

"Dan satu hal." Suara Ustadz Maulana sedikit lebih tegas.

"Jika panjenengan ingin melindungi santri, lakukan dengan cara yang lebih terukur, dunia tidak selalu adil dalam menilai niat."

Gus Hafiz mengangguk paham.

"Saya paham, Ustadz."

Ustadz Maulana mengangguk.

"Sepurane, Gus. Saya akan bicarakan kasus ini kepada Kiai, selaku pimpinan, Kiai harus tahu."

Gus Hafiz kembali mengangguk.

"Nggih, Ustadz, silahkan. Saya sedia dipanggil, jika diperlukan."

Ustadz Maulana melangkah pergi, Gus Hafiz memejamkan matanya sejenak, lalu meraup wajahnya dengan kasar.

Dan sementara di tenda lain, Anisa duduk dengan gelisah memeluk lututnya.

"Ya Allah, lagi-lagi aku melibatkan Gus Hafiz." batinnya, entah kenapa tiba-tiba perasaan tak nyaman, memenuhi ruang dadanya.

Gus Hafiz keluar, dari tenda. Anisa yang melihat, langsung kukut keluar.

"Gus..." suara Anisa pelan, ada getar halus di tenggorokannya.

Gus Hafiz menoleh, dan menghentikan langkahnya.

"Maaf...sudah..." Gus Hafiz tersenyum.

"Ndak perlu minta maaf, ini haya salah paham."

"Tapi... Ustadz Maulana..."

Gus Hafiz mendekat, lalu mengelus kepala Anisa dengan gerakan lembut, menenangkan. Sekap seorang suami yang ingin melindungi istrinya.

"Ndak usah dipikirkan, Mas yang akan jelaskan ke romo." Anisa mengangguk.

"Ya sudah, cepat beresi barang-barangmu, siap subuhan kita langsung lanjut ke puncak untuk lihat sunrise.

Anisa mengangguk kaku, kali ini dia tak menepis tangan Gus Hafiz yang menyentuh kepalanya.

Dan lagi-lagi tindakan Gus Hafiz, tak lepas dari tangkapan sepasang mata, yang menilai tindakan itu tak pantas dilakukan oleh seorang Gus terhadap santrinya.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!