NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga Hitam yang Tak Layu

Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling indah sekaligus paling menggetarkan dalam hidup Aruna. Setiap sore, saat matahari mulai turun ke arah barat, ia berjalan ke tempat pertemuan mereka — dan Orion selalu ada. Kadang ia muncul lebih dulu, berdiri diam menunggunya di bawah pohon besar, seolah tak berani pergi ke mana-mana. Kadang Aruna yang tiba lebih dulu, dan ia akan melihat kabut bergerak pelan sebelum wujud kekasihnya muncul dari balik semak.

Mereka berbicara tentang banyak hal — hal-hal sederhana yang bagi orang lain mungkin biasa saja, namun bagi mereka berdua terasa luar biasa berharga. Orion mendengarkan dengan saksama saat Aruna bercerita tentang kuliahnya, tentang Dinda, tentang hal-hal kecil yang membuatnya tertawa atau sedih. Dan Aruna mendengarkan dengan takjub saat Orion bercerita tentang tempat-tempat yang tak bisa dikunjungi manusia — lembah tempat bintang-bintang turun ke bumi, sungai yang airnya berkilau seperti cahaya bulan, hutan tempat pohon-pohon berbicara dalam bahasa yang tak dipahami dunia.

"Apakah ada bunga di tempatmu?" tanya Aruna suatu sore, saat mereka duduk berhadapan, menjaga jarak kecil namun tetap saling merasakan kehadiran satu sama lain.

Orion tersenyum tipis, tatapannya melunak. "Ada. Tapi tidak seperti bunga di duniamu. Bunga di tempatku tumbuh di tempat yang tak tersentuh matahari, warnanya gelap — ungu tua, merah darah, hitam pekat. Mereka mekar paling indah saat bulan purnama. Tidak memiliki aroma yang kuat, tapi jika kau dekat, kau bisa mencium bau kesepian."

Aruna menunduk, hatinya terasa perih. "Kesepian... itu bau yang tak seharusnya ada pada bunga."

"Di sana, itulah satu-satunya hal yang melimpah," jawabnya pelan. "Namun ada satu jenis bunga yang istimewa. Mekar hanya di perbatasan dua dunia, tempat cahaya dan kegelapan bertemu. Warnanya hitam pekat, namun di bawah cahaya bulan, kelopaknya memancarkan kilauan perak halus. Orang menyebutnya bunga peralihan."

"Apakah bunga itu berarti sesuatu?" tanya Aruna menatapnya.

"Konon, jika ia diberikan kepada seseorang, itu berarti: 'Aku menawarkanmu tempat di duniku, meski duniku bukan tempat yang nyaman untukmu,'" jawab Orion pelan, lalu terdiam seolah ragu apakah boleh melanjutkan.

Aruna menunggu, namun ia tidak berkata apa-apa lagi. Sebaliknya, ia mengulurkan tangan — kali ini lebih tenang, lebih percaya diri — dan dari balik jubahnya, ia mengeluarkan selembar kelopak bunga berwarna hitam pekat yang benar-benar memancarkan kilauan perak samar di bawah cahaya senja.

Dengan sangat hati-hati, seolah memegang benda paling rapuh di dunia, ia meletakkan kelopak itu di telapak tangan Aruna.

"Ini..." suara Orion sedikit bergetar, "salah satu kelopaknya. Bunga itu mekar setiap seratus tahun, dan hanya sebentar. Aku menyimpannya... sejak pertama kali melihatmu."

Aruna menatap kelopak itu lekat-lekat. Bentuknya sempurna, tepinya halus, warnanya hitam pekat namun memancarkan keindahan yang tak bisa dijelaskan. Ia merasakan kehangatan samar menjalar dari kelopak itu ke kulitnya.

"Selama ini kau menyimpannya... untukku?" tanyanya pelan, mata berkaca-kaca.

"Aku tidak tahu apakah aku berani memberikannya padamu," aku Orion jujur. "Aku takut kau akan menganggapnya aneh, atau menyeramkan. Bunga dari kegelapan..."

"Indah," potong Aruna tegas. "Sangat indah, Orion. Terima kasih."

Ia mendekatkan kelopak itu ke dadanya, memeluknya perlahan seolah itu adalah benda paling berharga. "Aku akan menyimpannya di tempat yang paling aman. Tidak akan ada yang menyentuhnya."

Orion menatapnya dengan pandangan yang begitu lembut, seolah ingin mengingat momen ini seumur hidup. "Kelopak itu tidak akan layu selama ikatan kita terjaga. Itu tanda — selama ia tetap segar, aku masih bisa menemukanmu di mana pun kau berada."

"Dan jika ia layu?" tanya Aruna cemas.

Orion terdiam sejenak, lalu menjawab pelan: "Itu berarti ikatan kita terputus. Dan aku takkan bisa mendengar panggilanmu lagi."

Aruna menggenggam kelopak itu erat. "Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkannya."

"Kau tidak mengerti seberapa kuat kekuatan yang berusaha memisahkan kita, Aruna," ucapnya sedih. "Semakin dekat kita, semakin mudah mereka melacakku. Makhluk-makhluk yang mengabdi pada ayahku mulai menyadari keberadaanku di sini. Mereka mencari celah."

"Siapa mereka?" tanya Aruna, perasaan takut mulai merayap.

"Makhluk bayangan yang tidak memiliki wujud tetap," jawab Orion. "Mereka bisa menyamar menjadi apa saja — angin, bayangan, bahkan orang yang kau kenal. Mereka mengawasi, menunggu saat yang tepat untuk menyerang."

"Mereka akan menyakitiku?"

Orion mengangguk pelan. "Mereka ingin membawamu. Kekuatan jiwamu — cahayamu — dapat digunakan untuk membuka jalan antara dua dunia. Jika ayahku berhasil, perang akan pecah."

Aruna menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Ia menatap Orion, lalu tersenyum tegar.

"Kalau begitu, kita tidak akan membiarkan mereka menang," katanya mantap. "Kita akan mencari cara. Bersama-sama."

Orion menatapnya takjub. "Kau tidak lari? Padahal aku membawa bahaya ke pintumu?"

"Kau tidak membawanya, kau sudah ada di sini sejak sebelum kita bertemu," jawab Aruna lembut. "Dan kau bukan bahaya bagiku, Orion. Kau adalah alasan aku merasa aman."

Mata Orion berkilauan, seolah ada cahaya di baliknya. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Aruna dengan punggung jarinya — sentuhan sangat ringan, sangat hati-hati, seolah takut ia akan hancur jika disentuh terlalu kuat.

"Kau membuatku merasa layak dicintai," bisiknya. "Sesuatu yang sudah lama kulupakan rasanya."

"Kau memang layak," jawab Aruna pelan, menyentuh tangan Orion yang ada di pipinya. "Sangat layak."

Mereka berdiri berdua di sana, dalam keheningan yang lembut, membiarkan momen itu berlangsung tanpa kata-kata. Namun ketenangan itu tiba-tiba terpecahkan — angin berubah arah, menjadi dingin dan tajam, dedaunan berputar liar di udara, dan dari kejauhan terdengar suara gemuruh rendah yang bukan guntur.

Wajah Orion berubah tegang. Ia menarik tangannya, melangkah ke depan seolah melindungi Aruna dengan tubuhnya sendiri.

"Mereka sudah datang," suaranya rendah dan waspada.

"Siapa?" tanya Aruna cemas, melihat bayangan-bayangan aneh bergerak di antara pepohonan.

"Pengintai," jawab Orion. "Pergilah, Aruna. Pulanglah lewat jalan raya, jangan kembali lewat sini sampai aku memberitahumu aman."

"Tapi kau..."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri," potongnya tegas namun lembut. "Pergilah, demi aku. Janjilah padaku."

Aruna menatapnya dengan berat hati, lalu mengangguk pelan. "Janji. Tapi besok aku akan datang mencari tahu keadaanmu."

Orion tersenyum samar, namun matanya tetap gelisah. "Hati-hati, cahayaku."

Aruna melangkah mundur, enggan berpisah namun tahu ia tidak boleh tinggal. Saat ia berbalik dan berlari menjauh, ia menoleh sekali — Orion berdiri tegak di tengah kabut yang makin pekat, sosoknya tampak gagah namun sendirian, menghadap bahaya yang tak terlihat oleh mata telanjang.

Sesampainya di rumah, Aruna langsung meletakkan kelopak bunga hitam itu di halaman pertama jurnalnya, di tempat yang paling aman. Ia menyentuhnya pelan — masih segar, masih berkilauan.

Tetaplah segar, batinnya memohon. Tetaplah bersinar, tanda bahwa dia masih baik-baik saja.

Malam itu, Aruna bermimpi tentang Orion — berdiri sendirian di tengah kegelapan yang makin pekat, melawan bayangan-bayangan yang tak berwujud, namun tak pernah mundur. Ia berteriak memanggilnya, namun suaranya tak sampai. Ia terbangun dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi keningnya. Ia langsung meraih jurnalnya — kelopak itu masih di sana, indah dan utuh.

Namun di sudut kelopaknya, ada sedikit warna pudar yang tak ada sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!