Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMAT
Sidang tidak di gedung besar.
Hanya di ruangan kecil lantai dua Kejaksaan, AC-nya berisik, kursinya reot. Tidak ada wartawan karena Hendarto minta sidang tertutup untuk lindungi korban.
Di meja, ada tiga barang bukti: kaset 15/08/2015 - 22.14, foto polaroid yang sudah menguning, dan map cokelat berisi rekening T.S.
Di kursi saksi, ada Tania. Kerudung cokelat pudar, wajah pucat habis kemoterapi kedua, tapi duduk tegak.
Di kursi terdakwa, ada Kajati dan Rudi, diborgol, menunduk.
Di kursi pengunjung, hanya enam orang: Sumi, Bu Tuti, Laras, Dimas di kursi roda, Vania yang perutnya sudah tujuh bulan, dan Kenzo yang tertidur di pangkuan Reza.
Hakim memutar kaset terakhir kali.
Sudah. Lepas setirnya. Biar alam yang selesaikan.
Suara Kajati, jernih, direkam Tania dari mobil belakang.
Hakim menatap Kajati. "Saudara akui suara ini suara saudara?"
Kajati mengangguk. "Saya akui. Saya disuruh."
"Disuruh siapa?"
Kajati menatap Rudi. Rudi menatap Tania. Tania menatap Dimas.
"Saya disuruh Rudi," kata Kajati pelan. "Rudi bilang proyek pelabuhan harus jalan. Pak Hendra nggak mau tanda tangan. Jadi harus dibuat seolah kecelakaan."
Hakim menatap Rudi. "Saudara Rudi Hartono, saudara akui membeli anak dari panti bernama Dani Suryani dan mengganti nama jadi Dimas?"
Rudi tidak menjawab. Pengacaranya berdiri.
Lalu Tania berdiri. Tidak diminta.
"Yang Mulia, saya ibunya Dani. Saya yang titip. Rudi bukan beli. Rudi mencuri. Dan anak saya ini," ia menunjuk Dimas, "sudah tebus semua yang Rudi curi. Dia tebus rumah ibunya Sumi. Dia tebus nama baik Pak Jono. Dia tebus hidup saya."
Ruangan diam.
Hakim mengetuk palu.
"Rudi Hartono terbukti, Kajati terbukti. Berkas dilimpahkan ke pengadilan Tipikor dan Pidana Umum."
Tidak ada sorak. Tidak ada pelukan. Hanya napas lega.
Keluar dari ruangan, Dimas menarik tangan Laras.
"Ras, boleh aku minta satu?"
"Apa?"
"Ganti nama sertifikat."
Laras sudah siapkan. Ia keluarkan map baru dari tas. Di notaris pagi tadi, sebelum sidang, ia sudah tanda tangan.
Sertifikat Rumah Gang Melati No. 14 tidak lagi atas nama Laras saja.
Atas nama: Laras Suryani, Dimas Suryani, Kenzo Suryani.
Laras pakai nama Tania sebagai nama belakang. Bukan nama Rudi.
Dimas membaca itu, menangis lagi. Untuk keempat kalinya dalam tiga bab.
"Kenapa Suryani?" tanyanya.
"Karena yang pikat suamiku bukan Vania," kata Laras pelan, sambil melirik Vania yang tersenyum malu. "Yang pikat suamiku itu kesedihanmu karena nggak tahu siapa ibu kandungmu. Sekarang kamu sudah tahu. Jadi aku kurebut kembali suamiku yang lengkap."
Tania yang berdiri di belakang mereka, mendengar itu, memegang dadanya. Obat kemoterapi membuat napasnya pendek, tapi senyumnya lebar.
"Tania," panggil Bu Tuti, yang sudah bisa jalan tanpa tongkat hari ini, "sini. Foto lagi."
Di halaman Kejaksaan, dengan latar parkiran dan motor ojek, Mira yang memang selalu bawa kamera, memotret.
Sumi, Tuti, Tania — tiga sahabat 1978 yang akhirnya kumpul lagi setelah 48 tahun.
Di tengah mereka, Laras menggendong Kenzo, Dimas di kursi roda memegang rantang kosong, Vania dengan perut besar, dan Reza yang jadi fotografer dadakan.
"Gaya sahabat sejati gimana?" teriak Mira.
Bu Tuti, yang paling tua, mengangkat tangan, membentuk V. Sumi ikut. Tania ikut, meski tangannya gemetar.
Cekrek.
Foto itu dicetak sore itu juga, ukuran 10R, dibingkai kayu murah di tukang bingkai dekat rumah.
Malamnya, di rumah yang lunas yang sudah dicat putih, bingkai lama Sumi dan Tuti, Sahabat Sejati 1978 tidak dibuang. Hanya digeser ke kiri. Di sebelah kanannya, dipaku bingkai baru.
Tulisan di bawahnya, ditulis Laras pakai spidol hitam:
Sumi, Tuti, Tania — Sahabat Sejati, 1978-2026. Yang direbut bisa kembali, kalau ditebus.
Di dapur, Sumi membuat teh. Bu Tuti komplain gula kebanyakan. Vania cuci piring sambil elus perut. Reza ajari Kenzo naik sepeda roda tiga.
Laras duduk di teras, di bawah pohon mangga, di samping Dimas.
Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal.
Isinya: Maafkan aku, Mbak. - Vania.
Laras tersenyum. Ia ketik balik:
Sudah aku maafkan dari Jaga anakmu baik-baik.
Lalu ia buka kontak yang sudah ia blokir sebelas bulan: nomor yang kirim Kurebut suamimu.
Ia buka blokirnya, hanya untuk satu pesan terakhir.
Ia ketik:
Kau pikat suamiku. Kurebut kembali hidupku.
Kirim.
Blokir lagi. Hapus permanen.
Selesai.
Di pangkuan Dimas, kotak besi kecil loker 27 yang kini kosong dipakai Kenzo untuk simpan kelereng dan karet gelang. Kunci bulatnya sudah hilang — mungkin jatuh di got pohon mangga.
Tidak apa-apa. Tidak ada lagi yang perlu dikunci.
Laras menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.
"Mas."
"Iya?"
"Besok kita buka novel baru ya?"
Dimas mengangguk. "Judulnya apa?"
Laras menatap rumah yang lampunya kuning hangat, yang sudah lunas, yang tidak ada lagi surat tagihan di bawah pintu.
TAMAT.