Janitra Widari Pramudya memutuskan kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, ia tinggal di luar negeri selama lima tahun karena melanjutkan kuliah. Orang tuanya telah meninggal dunia sejak enam tahun yang lalu karena kecelakaan.
Janitra akhirnya menerima perjodohan dari Keluarga Syailendra sesuai wasiat mendiang kakeknya. Janitra baru mengetahui ternyata dirinya dijodohkan dengan Kresna Maharaja Syailendra sejak lama. Bagi Janitra, Kresna adalah cinta pertamanya.
Aku mencintainya sederas hujan. Namun, dia memilih untuk membangun tembok setinggi langit~Janitra.
Jangan pernah melangkah jauh menembus batasan yang sudah aku terapkan karena itu percuma saja. Kita menikah bukan karena cinta. Hanya sebatas utang budi keluarga. Aku harap kamu tidak pikun~Kresna.
Simak kisah mereka.💋💋
Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Derajat, Kasta dan Tahta
Ah, Janitra sampai lupa perihal derajat, kasta dan tahta. Da_rah biru atau tidak. Sungguh, ia benar-benar lupa dengan kejadian beberapa tahun silam.
Sebuah luka lama yang pernah tertoreh di hatinya oleh orang yang sama. Luka itu sebenarnya sudah lama mengering dan perlahan terkikis. Akan tetapi, saat ini kembali disiram hingga membuat hatinya perih.
"Nggrantes rasanya," batin Janitra.
Nggrantes yakni menggambarkan perih tak kasat mata di mana menahan rasa sedih di dalam batin tanpa bisa diungkapkan dengan mudah.
Namun, tak dapat dipungkiri bahwa Janitra terlanjur mencintai pria di depannya ini sejak dulu hingga sekarang. Cinta dalam diam yang tak mampu pernah Janitra ucapkan pada Kresna. Dikarenakan dahulu Janitra merasa insecure atas perbedaan kasta itu.
Kresna adalah seorang putra mahkota dari trah permaisuri yang berda_rah biru atau ningrat di Kasepuhan Kota Mawar. Putra mahkota yang dipersiapkan naik tahta menggantikan Rama Barata nantinya di masa depan.
Sedangkan Janitra sendiri memang berasal dari keluarga terpandang dan mampu secara finansial, tetapi bukan berda_rah ningrat.
"Maaf jika aku salah berbicara ke Gusti Kresna Maharaja Syailendra selaku suamiku. Dulu saat saya sekolah di Kasepuhan ini, selalu ingat kata garwa atau istri itu artinya sigaraning nyawa. Walaupun nama hamba tak pernah ada di hati Gusti, sekarang ini saya berstatus istri panjenengan. Jika Gusti salah melangkah atau bersikap yang membuat buruk nama keluarga, apa saya harus diam saja?"
"Tentu tidak," lanjut Janitra.
Janitra menjeda ucapannya sejenak.
"Suami-istri itu satu kesatuan utuh dalam suka maupun duka. Jadi bila saya melakukan kesalahan sebagai istri, pasti akan membuat luka dan malu untuk panjenengan sebagai suamiku. Begitu pun sebaliknya. Jadi bila nasehat saya dianggap merendahkan kasta Gusti, saya minta maaf. Saya sangat sadar karena da_rah kita berbeda. Da_rah Gusti biru, saya tidak. Saya pamit ke kamar. Semoga pekerjaan Gusti hari ini berjalan lancar," ucap Janitra dengan nada suara sedikit bergetar menahan rasa sebah di hatinya sekaligus kristal bening yang perlahan menganak di pelupuk matanya.
Kresna hanya mampu terdiam mendengar segala ucapan Janitra barusan. Ia memandang punggung kokoh istrinya itu yang perlahan masuk ke dalam kamar.
"Apa aku tak salah lihat? Sepertinya tadi dia sedikit menangis," batin Kresna yang mendadak resah dan tercubit.
Sedangkan Janitra setelah masuk ke dalam kamar, tubuh yang awalnya berusaha tetap tegap di depan Kresna, kini luruh ke lantai. Ia tak mampu menahan tangisnya.
"Ternyata mencintaimu begitu sakit. Seharusnya rasa ini tak perlu ada. Hiks..." ucap Janitra di sela isak tangisnya yang pecah seketika menghujam sukmanya.
Janitra tak mampu menahan cinta di hatinya yang berlabuh pada Kresna. Akan tetapi, cinta itu selalu menyiksanya. Berulang kali berusaha dihilangkan oleh Janitra, tetap tak bisa.
Konon kata pepatah, cinta pertama akan selalu melekat di hati baik itu wanita maupun pria. Susah dilupakan.
☘️☘️
Satu jam kemudian.
Tok...tok...tok...
"Gusti Kresna, ini saya-Pak Tikno."
Terdengar suara ketukan pintu di kamar Kresna.
"Masuk," titah Kresna.
Ceklek...
Derit pintu pun terbuka. Pak Tikno berjalan masuk secara perlahan dengan sebelumnya memberi tanda hormat pada Kresna.
"Maaf, Gusti. Saya hanya ingin memastikan apa Gusti Kresna jadi ngantor hari ini?"
"Hem, kenapa?"
"Tadi Mas Panca pamit ke saya berangkat ke kantor lebih dulu karena banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Bila Gusti jadi berangkat ngantor, saya siapkan mobil dan sopirnya."
"Kamu siapkan. Lima menit lagi aku ke depan,"
"Baik, Gusti."
Sepeninggal Pak Tikno, Kresna memastikan tampilannya sebelum pergi bekerja.
Keluarga Syailendra punya beberapa usaha ternama baik di bidang tekstil seperti batik, perkebunan teh dan beberapa gerai restoran yang tergabung dalam Royal Grup.
Kresna saat ini menghandle untuk bisnis batik dan teh. Sedangkan restoran dihandle oleh kedua orang tuanya.
Kresna mengambil ponselnya. Ada rasa getar di hati ingin menghubungi Janitra, tetapi pada akhirnya urung ia lakukan.
"Buat apa aku peduli padanya. Sejak dulu dia tak pernah benar-benar peduli padaku," batin Kresna seraya bermonolog sendiri.
Saat Kresna keluar kamar, ia sempat berhenti sejenak melangkah. Kresna menatap pintu kamar Janitra yang dalam kondisi tertutup.
Banyak pikiran dan kegelisahan Kresna sebenarnya di hatinya. Namun, ia ragu mengetuk pintu kamar Janitra saat sudah berada dekat di depan kamar.
Kresna memilih pergi dari sana dan berusaha membuang rasa bersalahnya atas ucapannya tadi. Ketika langkah kakinya hendak naik mobil, Kresna sempat melihat ke sudut parkiran kendaraan yang ada di Kasepuhan.
"Apa istriku sudah pergi?" tanya Kresna yang tak melihat mobil pribadi Janitra di sana.
Pak Tikno sedikit terkejut mendengar kata 'istriku' keluar dari bibir Kresna. Sebab, yang ia tau Kresna tak pernah memanggil Janitra dengan sebutan istriku. Seringnya hanya nama saja atau 'dia'.
"Sudah, Gusti. Sekitar sepuluh menit yang lalu, Gusti Janitra pamitan ke Satya Medika. Katanya beliau sudah izin ke Gusti Kresna," jawab Pak Tikno.
"Apa kamu beri sopir pribadi buat mengantar dia?"
"Maaf, Gusti. Mboten (tidak)," jawab Pak Tikno.
"Gusti Janitra tadi nyetir mobil piyambakan (sendirian)," sambungnya.
"Kenapa gak kamu suruh abdi dalem lain jadi sopirnya Janitra?" bentak Kresna seraya memejamkan kedua matanya dan kedua telapak tangannya mengepal. Tanda bahwa dirinya sedang marah alias kesal.
"Bukankah yang lalu Gusti Kresna sendiri yang memberi perintah bahwa tidak menyediakan sopir pribadi buat Gusti Janitra. Jadi saya cuma ngikutin perintah Gusti Kresna mawon (saja)," jawab Pak Tikno apa adanya.
"Memangnya aku beri perintah seperti itu?" tanya Kresna yang seakan mendadak amnesia atas perintahnya sendiri kemarin.
Bersambung...
🍁🍁🍁
gak bisa tidur karna belum berendam racikan rempah cinta ala janitra
wahhh KY nya ada yang mau unboxing nihh😅😅😅
kresna butuh di ninabobokan sama janitra😄