Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 004 - Takaran Racun Dapur
Luo Biao tidak mendobrak pintu bilik bambu itu. Pria itu menyarungkan kembali pedang bajanya yang berkarat dengan bunyi klik pelan yang tajam, lalu berdiri bersandar pada pilar penyangga di luar sambil mengawasi jalan setapak.
“Tetua Mo sedang memeriksa kemurnian tungku utama bersama pengawas balai dalam,” kata Luo Biao dari balik daun pintu yang tertahan peti perkakas tambang. Suaranya terdengar malas, namun sarat ancaman yang tidak ditutup-tutupi. “Sebelum kau dibawa ke hadapannya saat tengah hari, bersihkan kotoran tambang dari tubuhmu dan ambil jatah makanan khusus di dapur belakang. Tetua tidak ingin bejana darahnya pingsan kelaparan di tengah jalan atau memuntahkan empedu kosong saat formasi bekerja.”
Gu Yuan menarik napas perlahan untuk meredakan denyut di pelipisnya. Kata-kata Luo Biao terdengar seperti perintah wajar bagi seorang murid luar yang hendak menghadap petinggi sekte. Namun, dari bisikan dua murid senior di bilik sebelah yang ia dengar tadi, maksud di baliknya sangat gamblang: bubur khusus di dapur belakang telah dicampur ramuan penenang berdosis tinggi. Siapa pun yang menelan semangkuk bubur itu akan kehilangan kendali atas otot-otot tubuhnya dalam hitungan sepuluh tarikan napas, pasrah digiring seperti ternak ke meja pembantaian.
“Baik, Senior Luo. Saya segera ke dapur mengambil jatah saya,” jawab Gu Yuan dengan nada datar dan sedikit parau, sengaja mempertahankan kesan bahwa ia masih tersengal-sengal menahan nyeri kaki yang melepuh.
Luo Biao meludah ke tanah, lalu melangkah santai menuju gardu jaga di ujung deretan barak untuk mengawasi dari kejauhan. Baginya, seorang murid luar lapis ketiga Pemurnian Raga dengan kaki yang baru saja melepuh tersiram air mendidih tidak akan sanggup melompat pagar atau berlari menuruni tebing terjal.
Begitu derap sepatu bot Luo Biao menjauh, Gu Yuan menggeser peti kayu penahan pintu perlahan tanpa menimbulkan derit. Ia tidak keluar lewat pintu depan yang menghadap pos jaga. Sebaliknya, ia menyelinap melalui pintu belakang bilik yang langsung berbatasan dengan lereng bukit berbatu cadas.
Angin lembah bertiup membawa aroma belerang basah bercampur bau asap kayu yang pekat. Gu Yuan merunduk rendah, memanfaatkan barisan jemuran kain kasar para kuli tambang dan tumpukan balok kayu bakar untuk menyamarkan pergerakannya. Kakinya yang melepuh terasa perih setiap kali bergesekan dengan kerikil tajam, tetapi ia terus melangkah mantap meniti jalan setapak sempit menuju bagian belakang dapur umum barak luar.
Bangunan dapur itu terbuat dari susunan kayu gelondongan kasar dengan atap jerami hitam yang dipenuhi jelaga. Di samping pintu masuk samping, terdapat cerobong tanah liat yang terus mengepulkan asap kelabu berbau lemak babi tengik dan rebusan kubis asin. Melalui celah dinding kayu yang renggang, terlihat seorang pria bertubuh gempal mengenakan celemek kulit kusam sedang sibuk mengaduk kuali besi besar di atas tungku batu. Di sabuk kulitnya yang berminyak, terselip sebilah golok pemotong daging berukuran lebar dengan mata bilah yang diasah berkilat.
Juru masak itu adalah salah satu antek barak yang bertugas memastikan para murid luar memakan jatah mereka tanpa banyak tanya. Di sudut lantai dekat kakinya, tergeletak guci tanah liat berisi tuak beras murahan yang biasa ia teguk di sela-sela pekerjaannya mengurus tungku.
Gu Yuan menyelinap masuk melewati celah pintu samping yang terbuka separuh, bersembunyi di balik tumpukan balok kayu bakar kering yang menjulang setinggi dada manusia. Di dekat kepalanya, tergantung beberapa ikat tanaman liar kering yang diikat tali rami. Itu adalah daun pahit—tanaman beracun berkadar ringan yang tumbuh subur di celah tebing jurang beracun. Para pekerja tambang sering menumbuk daun ini menjadi serbuk kasar untuk mengusir kutu ranjang dan tikus gudang dari karung-karung bahan makanan.
Jika daun pahit tertelan manusia dalam takaran yang tepat, zat kimianya mampu melumpuhkan kesadaran dan membuat perut kram hebat hingga korban tak sadarkan diri selama beberapa jam. Jika juru masak itu bisa dilumpuhkan tanpa suara, Gu Yuan bisa mengambil kunci gudang obat luar yang tergantung di dinding belakang dapur sebelum lonceng tengah hari berdentang.
Namun, racun daun pahit memiliki satu kelemahan fatal: getah keringnya memiliki aroma langu yang sangat menyengat seperti belerang busuk jika terkena panas mendadak. Takaran yang meleset sedikit saja akan langsung membongkar keberadaannya.
Gu Yuan menyentuhkan telapak tangan kirinya ke permukaan cermin perunggu di balik lipatan jubah. Hawa panas seketika menjalar cepat di kulit telapaknya, dipicu oleh niat membunuh dari juru masak yang sesekali melirik curiga ke arah pintu sambil mengelus gagang goloknya.
Dunia membeku; garis batas ruang retak menjadi pola perunggu abu-abu.
Suara gemeretak api di bawah tungku batu mendadak terhenti. Uap panas yang membubung dari permukaan kuali membeku menjadi gumpalan kabut padat tak bergerak. Seluruh warna kayu dan tanah memudar menjadi kelabu kusam, menarik kesadaran Gu Yuan masuk ke dalam simulasi pertama di bilik dapur tersebut.
...****************...
Di dalam dunia cermin, Gu Yuan meremas satu genggam penuh daun pahit kering hingga menjadi serpihan serbuk halus di telapak tangannya. Memanfaatkan momen saat juru masak itu membalikkan badan untuk mengambil tumpukan mangkuk tanah liat di rak gantung, Gu Yuan melempar serbuk tersebut melayang masuk ke dalam kuali sayur yang sedang mendidih.
Serbuk daun pahit larut dalam hitungan detik. Namun, reaksi panas kuah mendidih seketika melepaskan kabut tebal berwarna kebiruan yang menyebarkan aroma sengak luar biasa ke seluruh ruangan. Bau asam yang menusuk hidung itu membuat uap sayur terasa seperti belerang terbakar.
Juru masak bertubuh gempal itu tersentak kaget. Mangkuk di tangannya terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Hidungnya berkerut mencium keanehan yang mencolok tersebut, lalu matanya langsung mengarah tajam ke kuali yang berasap biru, sebelum akhirnya menatap lurus ke arah tumpukan kayu bakar di sudut ruangan.
“Tikus busuk! Siapa yang menyentuh kualiku?!” raung juru masak itu sambil mencabut golok daging dari pinggangnya.
Gu Yuan di dalam simulasi melompat keluar dari balik kayu bakar mencoba menerjang ke arah pintu keluar, tetapi juru masak itu memiliki tenaga Pemurnian Raga lapis keempat yang sangat kokoh. Ayunan golok lebarnya menyambar mendatar dengan desingan angin yang tajam dan berat.
Bilah baja yang tebal itu memotong udara dan menghantam telak sisi leher Gu Yuan sebelum ia sempat mengangkat tangan untuk menangkis.
Rasa sakit yang membakar seketika meledak di lehernya. Saluran napasnya terputus dalam satu hantaman kasar, disusul rasa dingin yang merayap cepat saat kepalanya membentur lantai batu dapur. Pandangan matanya memudar menjadi kegelapan pekat dalam hitungan dua denyut jantung.
...****************...
Udara kembali berhembus, tetesan keringat dingin jatuh ke tanah tepat di detik yang sama.
Gu Yuan tersentak menahan napas di balik tumpukan balok kayu bakar di dunia nyata. Rasa sakit di lehernya terasa begitu nyata, seolah kulit dan tulang lehernya baru saja dihantam lempengan besi panas yang meremukkan urat nadinya. Ia memegangi kerongkongannya dengan tangan kanan yang gemetar, menahan batuk agar tidak mengeluarkan bunyi sekecil apa pun. Keringat dingin mengalir deras dari dahinya, menetes membasahi kerah jubah abu-abunya yang compang-camping.
Takaran satu genggam penuh adalah kesalahan fatal. Daun pahit yang terlalu banyak akan bereaksi dengan panas kuah sayur, menciptakan asap biru pekat dan aroma sengak yang mustahil diabaikan. Selain itu, kuali sayur bukanlah sasaran yang tepat karena panasnya kuah justru mempercepat penguapan racun ke udara.
Gu Yuan melirik guci tanah liat berisi tuak beras di samping meja dapur. Tuak itu dingin dan berbau ragi tajam. Jika serbuk daun pahit dilarutkan ke dalam cairan dingin beralkohol dengan takaran hanya seujung kuku, warnanya tidak akan berubah dan aroma langunya akan tertutup sepenuhnya oleh bau ragi yang menyengat.
Namun, sebelum rasa nyeri di lehernya benar-benar reda, suara gesekan alas kaki terdengar mendekat dari arah tungku batu.
Juru masak bertubuh gempal itu mendadak menghentikan adukannya di dalam kuali. Ia merasa ada hembusan angin dingin yang tidak wajar menyusup dari celah pintu belakang, membawa sedikit debu kayu bakar ke arah meja kerjanya. Matanya yang sipit menatap curiga ke sudut gelap dapur, lalu langkah kakinya perlahan berputar menghadap tepat ke tumpukan kayu tempat Gu Yuan berjongkok menahan napas.