NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Di Tanah Anarki

Takdir Cinta Di Tanah Anarki

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:60.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Kecerdikan

"Dokter baik-baik saja? Kenapa sudah ke Klinik?" Tanya Jopi saat melihat Dokter Sisil masuk ke Klinik melalui pintu belakang.

"Saya bosan di rumah terus. Lagi pula, saya baik-baik saja." Jawab Dokter Sisil sambil meletakkan tas peralatannya di atas meja.

"Komandan bilang kalau Dokter tidak datang hari ini." Ujar Maria yang turut menghampiri.

"Awalnya memang saya mau beristirahat, tetapi saya bosan." Jawab Dokter Sisil yang membuat mereka bertiga terkekeh.

Dokter Sisil membuka tas peralatannya. Ia lalu mengeluarkan semua isi peralatannya.

"Tolong bantu saya mencuci dan steril peralatan, ya." Pinta Dokter Sisil.

"Ee, tadi malam apa Dokter ke sana-lokasi kerusuhan?" Tanya Jopi yang tampak penasaran.

"Iya, semalam saya ada di sana." Jawab Dokter Sisil.

"Haaa! Dokter kenapa berani sekali ee?" Tanya Maria yang sampai membulatkan mata setelah tau jika semalam Sisil turut berada di lokasi.

"Sudah menjadi tugas saya. Maka dari itu, saya harus ada di sana untuk mengobati korban yang memerlukan pertolongan." Jawab Dokter Sisil.

"Ceritakanlah, Dok... Ada apa disana..." Pinta Maria yang mewakili harapan Jopi.

Tanpa keberatan, Sisil menceritakan apa saja yang terjadi disana. Hingga saat ia dan Riki di bawa oleh kelompok kriminal.

"Ya Tuhan... Dokter tidak mual, kah? Kalau saya, pasti sudah tidak kuat. Membayangkan melihat mayat dan korban berdarah-darah saja, saya mual." Ujar Jopi dengan mimik wajah yang menahan mual. Sementara Dokter Sisil hanya tersenyum melihat reaksi Jopi dan Maria yang tampak shock.

"Lalu, Dokter juga obati anggota kelompok kriminal yang biadab itu?" Tanya Maria.

"Mau bagaimana lagi? Lagi pula, saya tidak bisa melanggar sumpah dokter yang sudah saya ucapkan. Bagaimanapun keadaannya, posisi saya adalah netral dan saya harus mengobati siapa saja yang membutuhkan pertolongan." Jawab Dokter Sisil.

"Tapi, ada bedanya untuk kasus tadi malam." Imbuh Dokter Sisil kemudian.

"Maksudnya, Dok?" Tanya Jopi yang tak mengerti.

"Saya tidak memberikan suntikan bius saat menjahit luka anggota kelompok kriminal." Jawab Dokter Sisil sambil tersenyum. Ia teringat bagaimana wajah kesakitan dari pria yang ia jahit lukanya.

"Serius? Luka sepanjang itu tanpa bius?" Tanya Maria yang di jawab anggukan oleh Dokter Sisil.

"Dokter kehabisan obat bius, kah?" Tanya Jopi.

"Tidak. Saya masih punya stok beberapa suntikan obat bius." Jawab Dokter Sisil.

"Saya sengaja saja, ingin memberi hukuman tanpa dia tau jika dia sedang dihukum. Selain itu juga, saya memakai jarum paling besar yang saya punya untuk menjahit luka itu," Jawab Dokter Sisil yang membuat mereka bertiga akhirnya terkikik.

"Dokter tidak kasih dia obat juga?" Tanya Jopi yang dijawab gelengan oleh Sisil.

"Saya sama sekali tidak memberikan obat, bahkan antibiotik. Saya hanya membersihkan luka dengan cairan infus, kemudian saya jahit lukanya." Jawab Dokter Sisil.

"Saya hanya mengikuti instruksi dari korban untuk menjahit luka, bukan mengobati lukanya." Ujar Dokter Sisil lagi yang membuat tawa Maria dan Jopi pecah.

"Mudah-mudahan dia akan mengalami infeksi, Ya Tuhan." Doa Maria yang kembali membuat mereka bertiga terkekeh.

Hingga sore hari, tiga wanita 'penunggu' Klinik itu tetap standby di Klinik Militer. Dokter Sisil juga membereskan tasnya dan kebali mengisi tas besarnya dengan obat-obatan dan peralatan yang di perlukan.

Hari itu, Klinik nampak sangat lengang. Tak ada sama sekali pasien yang berkunjung hari itu hingga membuat Dokter Sisil, Maria dan Jopi bisa bersantai-santai sambil mengobrol.

...****************...

Suara ketukan pintu, mengalihkan perhatian Dokter Sisil. Ia buru- buru keluar dari kamar setelah mendengar suara salam dari orang yang mengetuk pintu rumahnya malam itu.

"Mas, baru pulang?" Tanya Dokter Sisil saat melihat Komandan Kaivan berdiri di depannya.

"Iya, menyelesaikan jaga dua puluh empat jam." Jawab Komandan Kaivan.

"Kamu sudah makan malam?" Tanya Komandan Kaivan kemudian.

"Sudah. Mas mau makan?" Tanya Sisil.

"Gas di rumah habis, bisa minta tolong hangatkan lauk dan sayur ini? Miko beli tadi sore." Pinta Komandan Kaivan sambil mengangkat bungkusan yang ia bawa.

"Aku hangatkan lauk dan sayurnya. Mas bersih-bersih dulu saja biar lebih nyaman." Ujat Sisil sambil menerima bungkusan dari Komandan Kaivan.

"Terima kasih, Sayang. Mas pulang mandi dulu kalau begitu." Ucap Komandan Kaivan yang kemudian mengusap sayang puncak kepala Sisil.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Komandan Kaivan yang tampak lebih segar, segera kembali ke rumah Sisil. Perutnya sudah terasa sangat lapar karena ia memang belum makan sejak siang tadi.

Sisil mempersilahkan Komandan Kaivan masuk. Mereka duduk di ruang tengah dengan beralaskan tikar. Sisil sudah menyiapkan makan malam Komandan Kaivan disana. Ia pun turut menemani Kekasihnya itu makan malam.

"Gimana kondisi disana, Mas?" Tanya Sisil.

"Alhamdulillah semuanya aman. Pasukan juga sudah kembali, hanya ada beberapa yang akan berjaga ketat secara bergantian selama satu minggu ini." Jawab Komandan Kaivan yang nampak lahap memakan makanannya.

"Mas pasti belum makan dari tadi, kan?" Tanya Sisil.

"Dari siang, atau dari pagi hari?" Tanya Sisil lagi. Sisil cukup sering mendengar dari Miko jika Komandan Kaivan kerap kali melewatkan makannya jika sedang bertugas.

"Sepertinya, Mas cuma sarapan saja hari ini." Jawab Komandan Kaivan.

"Kenapa sering melewatkan makan sih, Mas? Gak kasihan sama tubuh Mas? Jangan dzolim deh, sama badan sendiri." Omel Sisil.

"Maaf, Sayang." Ucap Komandan Kaivan.

"Jangan cuma sekedar minta maaf, lalu di ulangi lagi. Kalau minta maaf itu, harus bertanggung jawab dengan ucapan maafnya juga." Sahut Sisil.

"Iya, Sayang. Mas janji gak akan melewatkan jam makan lagi." Jawab Komandan Kaivan dengan patuh.

"Awas, ya. Aku pantau terus lewat Miko." Ancam Sisil yang di jawab anggukan oleh Komandan Kaivan.

"Mas..."

"Ya, Sayang."

"Memangnya, gak apa-apa kalau mereka tau kita ini berpacaran?" Tanya Sisil dengan ragu-ragu. Komandan Kaivan langsung mendongak dan mengernyitkan dahi setelah mendengar pertanyaan dari Sisil.

"Kamu sudah bercerita ke Maria dan Jopi mengenai hubungan kita?" Komandan Kaivan balik bertanya.

"Aku gak cerita, tapi mereka yang tanya. Katanya dengar kabar itu karena semua anggota membicarakan masalah hubungan kita." Jawab Sisil.

"Wah! Luar biasa anggotaku." Komentar Komandan Kaivan sambil geleng-geleng kepala.

"Kecepatan bergosip mereka bahkan jauh lebih cepat dari sinyal five g." Imbuhnya yang membuat Sisil tertawa.

"Namanya juga hidup di satu lingkup lingkungan, Mas. Gerak sedikit saja, pasti terdengar." Jawab Sisil.

"Kamu gak apa-apa?" Tanya Komandan Kaivan. Pasalnya, Sisil lah yang meminta untuk merahasiakan hubungan mereka beberapa waktu ini.

"Mau gimana lagi, Mas. Aku sih baik-baik saja, semoga hubungan kita ini gak akan menimbulkan masalah." Doa Sisil.

"Mas akan bersihkan mereka yang mencari masalah pada hubungan kita." Sahut Komandan Kaivan yang membuat Sisil melotot.

"Jangan macam-macam ya, Mas. Namanya hubungan itu, pasti ada pro dan kontranya. Selagi gak sampai merusak mental dan fisik, ya kita nikmati saja alurnya." Ujar Sisil.

"Selama kamu tidak terusik, Mas pasti akan bersikap tenang." Jawab Komandan Kaivan yang membuat Sisil tersenyum.

1
Nice1808
hahhaa komandan pilih mana skrg, sisil atau kopi🤭🤣🤣
Rahmawati
hayoloh komandan mau pilih kopi ato dosil😂
Ayunda
cian di cuekin
Anonim
Emang enak di omelin🤣
Minum kopi aja terus ndan🤣
Masita
mampir thor 🙏
tak kuragukan hasil karyamu memang top 👍👍
semangat up dan doubel up thor 🙏🤭
ms. yati74
heran sama author ini....kalo bikin cerita ga pernah gagal selalu nagihin dan ga sabar nunggu update nya.....sehat selalu yaa Thor biar bisa terus berkarya ❤️❤️❤️
Munas Tuti
langsung otw pelaminan ajhaa ...
Munas Tuti
beuuuuh dasar pemberontak
Munas Tuti
tukuh jg Sisil..
Munas Tuti
sweeet banget ciiih 👍👍
Munas Tuti
duh aduuuh...bisa ngegombal jg Ndan 🤭🤭
Nice1808
cepatlah kalian menikah🤣dah cocok nich komandan pulang disambut oleh sisil dah kayak istrinya aja🤣👍👍
Munas Tuti
melelehhh dek hati abang, diobatin jek gituu 😍😍
Munas Tuti
gaaaaskeuuun Ndan...👍👍
Munas Tuti
waoooow komandan keren juga ....tembak lsg pokoknya
Munas Tuti
wuaduuuuuh...seyyyeemm
Munas Tuti
weiiis...pulang istirahat, bobok troos mimpi indah deeeh 😄😄
Munas Tuti
aseeeek makan gratis nii 😍 modus gak yaa ...
ika
up up trus Thor...💪👍😍
yuning tyas
simulasi kalo udah nikah kelak, pulang kerja di siapin makan ma istri ya ndan☺️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!