Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Lonceng kecil berdenting di atas pintu kedai kopi yang letaknya tepat di sebelah Butik Inayah. Nisa melangkah masuk dengan sisa meteran jahit yang masih melingkar di lehernya. Matanya langsung menemukan sosok Arga yang duduk di meja sudut dekat jendela kaca.
Nisa menarik kursi dan duduk berhadapan dengan pria itu. "Ada apa, Mas? Jam istirahatku cuma sebentar. Inayah bisa mengamuk kalau aku terlalu lama meninggalkan ruang cutting."
Arga menatap wajah Nisa lurus-lurus. Kantung mata pria itu terlihat sedikit menghitam. Jemarinya yang bertumpu di atas meja tampak gelisah.
"Nis..." Arga membuka suara, terdengar serak. "Aku cuma mau memastikan satu hal."
Nisa menaikkan sebelah alisnya. "Memastikan apa?"
"Kamu..." Arga menelan ludah, seolah kata-kata itu berduri dan melukai tenggorokannya. "Kamu benar-benar serius ingin cerai dari aku? Nggak ada sedikit pun niat di hati kamu untuk mempertimbangkannya lagi?"
Mendengar pertanyaan itu, Nisa terdiam sejenak. Lalu, perlahan, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa hambar yang menyiratkan betapa konyolnya pertanyaan Arga di telinganya.
"Serius? Tentu saja aku sangat serius, Mas," jawab Nisa tenang, tawanya mereda digantikan oleh tatapan yang teramat mantap. "Aku ingin membebaskan kamu, dan membebaskan diriku sendiri dari pernikahan yang menyakitkan ini. Untuk apa lagi kita bertahan?"
Di bawah meja, kedua tangan Arga mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya benar-benar kacau. Kalimat penegasan Nisa bagaikan palu godam yang menghancurkan sisa-sisa harapan egoisnya. Ia teringat ancaman Adelia semalam. Ia teringat janji tiga hari yang ia buat di bawah tekanan pisau yang menempel di leher kekasihnya.
Dengan gerakan kaku, Arga merogoh tas kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah map plastik berwarna biru tua dan menggesernya perlahan ke hadapan Nisa.
"Apa ini?" Nisa mengerutkan kening. "Bukankah surat kesepakatan cerainya sudah aku tanda tangani? Jangan bilang kamu menghilangkannya."
"Bukan. Ini surat perjanjian cerai yang baru," jelas Arga pelan. Matanya tak lepas dari pergerakan tangan Nisa yang mulai membuka map tersebut. "Aku sengaja merevisinya semalam lewat pengacaraku."
Nisa membaca sekilas lembaran berlogo firma hukum tersebut. Matanya sedikit membelalak saat mencapai poin ketiga dan keempat.
"Kamu... mengubah pembagian hartanya?" gumam Nisa tak percaya. Ia mendongak menatap Arga. "Di surat sebelumnya, kamu bilang nggak akan ada harta gono-gini. Kenapa di sini kamu malah memberikan setengah dari tabungan pernikahan kita, beberapa aset saham, dan rumah yang di Jakarta Selatan untuk aku?"
"Karena aku bersedia membagi harta gono-gini kita dengan adil," jawab Arga cepat. "Tolong, jangan tolak ini, Nisa. Itu memang hakmu."
Nisa menatap angka-angka yang tertera di kertas itu. Jumlah yang sangat besar. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya.
"Terima kasih atas kemurahan hati kamu, Mas," ucap Nisa, meletakkan kembali kertas itu di atas meja. "Setidaknya, dengan uang ini, aku punya cukup dana untuk mulai melunasi sisa utang-utang almarhum Papa pada para pemasoknya."
Arga menggeleng cepat. "Tidak usah."
Nisa mengerutkan kening. "Maksud kamu?"
"Kamu nggak perlu menggunakan uang dari pembagian harta ini untuk utang keluargamu, Nis," ucap Arga. Ia menatap lekat sepasang mata istrinya. "Aku sudah melunasi semuanya."
Nisa membeku. Matanya menatap Arga seolah pria itu sedang berbicara dalam bahasa asing. "Kamu... apa?"
"Aku sudah melunasi semua utang-utang keluargamu," ulang Arga dengan suara yang lebih mantap. "Tadi pagi aku mengutus asistenku untuk membereskan semuanya dengan pihak bank dan supplier. Keluargamu sudah bersih dari utang. Kamu nggak perlu khawatir lagi."
Udara di antara mereka mendadak terasa berat. Nisa menatap pria di hadapannya dengan perasaan yang campur aduk. Tidak ada rasa haru atau kelegaan yang meledak, melainkan sebuah kecurigaan dan pertanyaan besar.
"Kenapa?" tanya Nisa, suaranya nyaris berbisik. Matanya menyipit, mencari-cari jawaban di wajah Arga. "Kenapa kamu mendadak bersikap sebaik ini, Mas? Selama setahun aku menjadi istrimu, kamu bahkan tidak pernah sudi menanyakan kabarku. Lalu sekarang... setelah kita hampir resmi berpisah, kamu rela membagikan hartamu dan melunasi utang miliaran milik Papaku? Kenapa?"
Arga terdiam. Rentetan pertanyaan Nisa membungkamnya. Ia ingin mengatakan 'Karena aku merasa bersalah'. Ia ingin berteriak 'Karena aku tak ingin kamu menderita'.
Namun, Arga menelan semua kata-kata itu. Ia membiarkan keheningan mengambil alih selama hampir satu menit, menahan gejolak di dadanya sendiri.
"Aku cuma mikir..." suara Arga akhirnya memecah kesunyian, mengalun begitu parau dan berat, "...kamu memang pantas mendapatkan semua itu, Nisa."
Keduanya saling menatap dalam diam. Hiruk-pikuk kedai kopi di sekitar mereka seolah menguap tak bersisa. Ada ribuan penyesalan yang tersirat dari sorot mata Arga, namun di dalam tatapan Nisa, hanya tersisa ruang kosong yang telah terkunci rapat.
Tanpa membalas ucapan Arga lagi, Nisa meraih bolpoin dari saku kemejanya. Ia membubuhkan tanda tangan di atas meterai pada draf perjanjian yang baru itu dengan gerakan cepat.
Sret.
Nisa menutup map biru itu dan menggesernya kembali ke arah Arga. Wanita itu lalu berdiri, merapikan letak kerahnya bersiap untuk pergi.
"Aku pamit dulu, Mas. Pekerjaanku masih banyak," ucap Nisa datar. Sebelum melangkah pergi, ia menatap Arga dengan sorot mata yang tegas. "Tolong, urus surat itu ke pengadilan secepatnya. Masukkan gugatannya hari ini juga kalau bisa. Aku nggak mau kamu menunda-nunda lagi."
Tanpa menunggu balasan Arga, Nisa melangkah pergi meninggalkan meja itu, berjalan keluar menembus pintu kedai kopi tanpa menoleh ke belakang.
Arga duduk mematung. Matanya menatap punggung Nisa yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang. Tangannya perlahan bergerak menyentuh map biru yang baru saja ditandatangani istrinya. Di balik kertas itu, nasib pernikahannya telah resmi disegel.
Nisa memintanya untuk tidak menunda lagi. Adelia mengancam akan membunuh dirinya dan bayi mereka jika ia tidak menyerahkannya dalam tiga hari. Semua orang mendesaknya untuk mempercepat perpisahan ini.
Namun, sembari mencengkeram map biru itu erat-erat, mengapa hanya Arga sendiri yang merasa seperti baru saja menandatangani surat kematiannya?
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga