NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CINCIN PERAK SANG PENGKHIANAT

Suara alarm masih meraung ketika Raka menarik Aren menjauh dari ruang observasi.

"Asal kau masih bisa berjalan, ikut aku. Kita harus keluar dari tempat ini sekarang!"

Aren mengangguk, tetapi matanya terus mencari sosok perempuan yang baru saja mengaku bernama Mara Soren. Perempuan dengan bekas luka di dekat alis itu menghilang begitu saja, meninggalkan sebuah pesan yang terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman Alistair.

PEMBUNUH ARMAND RAVENCROFT ADALAH ORANG YANG MENYIMPAN SURAT KEDUA.

Aren merasakan kertas kecil di sakunya seperti bara api.

Siapa yang menyimpan surat kedua?

Mengapa Mara melarangnya mempercayai Adrian?

Dan yang paling penting, mengapa perempuan itu mengatakan bahwa orang yang paling ingin menyelamatkannya mungkin merupakan orang yang paling berbahaya?

"Aren!"

Suara Riven membuatnya tersentak.

"Kau dengar aku?"

Aren menoleh. Riven berdiri di sampingnya dengan wajah tegang, satu tangan masih mencengkeram bahunya seakan-akan takut adiknya akan menghilang lagi jika ia melepaskannya.

"Aku dengar."

"Bagus. Sekarang jangan jauh-jauh dariku."

"Aku bukan anak kecil."

"Kalau begitu, berhentilah membuat kakakmu hampir mati berdiri karena khawatir!"

Riven hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi Leon segera menyela.

"Riven, cukup. Aren baru saja melewati penculikan, tekanan psikologis, dan kemungkinan besar ancaman fisik. Jangan menambah bebannya."

Riven terdiam. Ia memandang wajah Aren, kemudian mengusap rambut adiknya dengan gerakan canggung.

"Maaf," gumamnya.

Aren terkejut.

Dari kelima kakaknya, Riven adalah orang yang paling sulit meminta maaf. Ia lebih sering menyelesaikan masalah dengan kemarahan daripada kata-kata lembut.

Aren menyentuh pergelangan tangan kakaknya.

"Aku baik-baik saja, Kak."

Riven menggeleng.

"Kau tidak harus berpura-pura baik-baik saja di depan kami."

Kalimat sederhana itu hampir membuat pertahanan Aren runtuh.

Sejak melihat pesan di balik foto bayi tadi, ia terus memaksa dirinya untuk tidak memperlihatkan ketakutan. Ia takut jika dirinya terlihat lemah, semua orang akan semakin khawatir. Ia takut jika mengakui bahwa ia meragukan cinta ayah kandungnya, kelima kakaknya akan menganggapnya tidak bersyukur atas perlindungan yang selama ini mereka berikan.

Namun, ketika Riven menatapnya, Aren menyadari bahwa ia tidak harus menyimpan semua pertanyaan sendirian.

"Aku takut," akunya pelan.

Wajah Riven langsung berubah.

Aren menunduk.

"Aku takut kalau semua yang selama ini kuketahui ternyata bohong. Aku takut ayah kandungku benar-benar mencoba membunuhku. Aku takut kalau orang-orang yang kusayangi ternyata menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih buruk."

Riven menarik napas panjang, lalu memeluknya lagi.

"Kalau kau takut, katakan saja. Kalau kau marah, marahlah. Kalau kau ingin menangis, menangislah. Tapi jangan pernah berpikir bahwa kau harus menghadapi semua ini sendirian."

Raka yang berdiri beberapa langkah di depan mereka menoleh.

"Riven benar."

Aren mengangkat wajah.

Raka jarang mengucapkan kata-kata emosional. Ia lebih sering menunjukkan kasih sayang melalui tindakan, keputusan, dan perlindungan yang terkadang terasa berlebihan.

Namun, kali ini ia berjalan mendekat dan meletakkan tangannya di kepala Aren.

"Kau adik kami. Tidak ada rahasia masa lalu yang akan mengubah itu."

Dada Aren terasa sesak.

Ia mengangguk pelan, berusaha menahan air mata.

Kemudian, suara Kian terdengar melalui alat komunikasi Raka.

"Kalian punya waktu kurang dari empat menit sebelum sistem keamanan sektor timur kembali aktif. Aku sudah membuka jalur keluar, tetapi ada satu masalah."

Raka langsung mengangkat alat komunikasinya.

"Apa?"

"Pintu utama menuju stasiun bawah tanah telah dikunci dari pusat kendali. Aku bisa membuka jalur servis, tetapi kalian harus melewati lorong arsip lama."

"Berapa banyak penjaga?"

"Setidaknya enam terdeteksi bergerak menuju posisi kalian. Dan sebelum kalian bertanya, tidak, aku belum bisa memastikan apakah semuanya orang Alistair."

Darren menyela melalui sambungan lain.

"Aku menemukan sesuatu pada jaringan internal. Ada perintah yang dikirim menggunakan kode administrator milik Alistair, tetapi jalur pengirimannya berasal dari terminal berbeda."

Kian segera menanggapi.

"Terminal berbeda?"

"Ya. Seseorang menggunakan akses administrator untuk mengirim perintah agar semua pintu di sekitar ruang observasi dikunci, lalu membuka satu pintu di sektor barat."

Raka mengerutkan kening.

"Alistair sedang memerangkap kita?"

"Atau seseorang sedang membantu kita keluar," jawab Darren. "Masalahnya, kita belum tahu yang mana."

Aren teringat perempuan dengan cincin perak itu.

Mara.

Jika benar perempuan itu masih hidup, mungkin dialah yang membuka jalur tersebut.

Namun, mengapa ia membantu Aren secara diam-diam, lalu menghilang sebelum bisa menjelaskan apa pun?

"Raka," panggil Aren.

Kakak tertuanya menoleh.

"Aku melihat seseorang sebelum kalian masuk."

"Siapa?"

"Perempuan yang mengaku bernama Mara Soren. Dia memakai cincin perak berbentuk serigala."

Raka terdiam.

"Cincin yang sama seperti dalam rekaman?"

Aren mengangguk.

"Dia mengatakan bahwa orang yang membunuh ayahku adalah orang yang menyimpan surat kedua."

Wajah Raka mengeras.

"Kau masih menyimpan sesuatu yang dia berikan?"

Aren ragu sesaat, lalu mengeluarkan kertas kecil dari sakunya.

Raka membacanya dalam diam.

Ketika selesai, ia melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku dalam jaketnya.

"Kita akan membicarakan ini setelah keluar."

"Tapi—"

"Setelah keluar, Aren."

Nada suara Raka tidak keras, tetapi cukup tegas untuk membuat Aren memahami bahwa kakaknya sedang berusaha menjaga konsentrasinya.

Raka kemudian mengulurkan tangan.

"Ayo. Tetap di tengah. Jangan mendahului siapa pun."

Aren menerima tangannya.

Mereka mulai bergerak menuju lorong servis.

Di belakang mereka, sirene terus meraung. Lampu merah berkedip di sepanjang dinding, membuat bayangan mereka tampak seperti sosok-sosok yang bergerak di dalam mimpi buruk.

Aren tidak tahu apakah ia baru saja diselamatkan atau sengaja dilepaskan oleh seseorang yang memiliki rencana lebih besar.

Namun, untuk sementara, ia memilih mempercayai tangan yang menggenggam tangannya.

Tangan kakaknya.

---

Di sisi lain fasilitas, Alistair berdiri di hadapan layar yang menampilkan peta seluruh kompleks bawah tanah.

Salah satu pengawalnya berlutut di hadapannya.

"Maaf, Tuan. Target berhasil meninggalkan ruang observasi."

Alistair tidak langsung menjawab.

Ia menatap titik merah yang bergerak melalui lorong servis. Di dekat titik itu, beberapa kamera mendadak mati satu per satu.

"Siapa yang membuka jalur tersebut?"

"Kami sedang memeriksanya."

"Aku tidak meminta laporan tentang apa yang sedang kalian lakukan. Aku meminta nama."

Pengawal itu menunduk lebih dalam.

"Kami belum mengetahui identitasnya."

Alistair mengangkat tangan. Pengawal itu langsung diam.

"Apakah kalian menemukan perempuan yang masuk ke ruang observasi?"

"Belum, Tuan."

Alistair menyipitkan mata.

"Periksa semua pintu keluar. Jangan tembak Aren. Aku ingin dia tetap hidup."

"Bagaimana dengan yang lain?"

Senyum dingin muncul di wajah Alistair.

"Jika mereka menghalangi, lumpuhkan mereka."

Pengawal itu berdiri dan segera meninggalkan ruangan.

Alistair kemudian membuka sebuah laci tersembunyi di bawah panel kendali. Di dalamnya terdapat kotak logam kecil dengan lambang serigala hitam.

Ia mengeluarkan sebuah benda dari kotak itu.

Cincin perak.

Pada bagian dalam cincin terdapat ukiran yang nyaris tidak terlihat.

M.S.

Alistair memutar cincin itu di antara jari-jarinya.

"Mara," gumamnya. "Kau seharusnya tetap mati."

Pintu di belakangnya terbuka.

Seorang pria berjas hitam memasuki ruangan. Wajahnya tertutup bayangan, tetapi suara yang keluar dari mulutnya terdengar tenang.

"Anda membiarkannya lolos."

Alistair tidak menoleh.

"Aku membiarkan siapa?"

"Anak itu. Aren."

Alistair tertawa kecil.

"Kau terlalu cepat menyimpulkan sesuatu."

"Dia sekarang bersama kelima kakaknya. Mereka akan membawa surat Armand ke luar fasilitas."

"Justru itu yang kuinginkan."

Pria tersebut terdiam.

Alistair meletakkan cincin perak di atas meja.

"Apakah surat kedua sudah ditemukan?"

"Belum."

"Kalau begitu, temukan. Sebelum Adrian memutuskan untuk mengungkapkan semuanya."

Pria itu mengangkat kepala.

"Apakah Adrian masih memiliki surat kedua?"

Alistair menatapnya dengan mata dingin.

"Itulah yang harus kita pastikan."

"Dan jika dia sudah menyerahkannya kepada Aren?"

Alistair tersenyum tanpa kehangatan.

"Kalau begitu, kita harus memastikan bahwa Aren tidak pernah sempat membacanya."

---

Lorong arsip lama ternyata jauh lebih sempit daripada yang terlihat pada peta.

Dindingnya terbuat dari beton tebal dengan pipa-pipa besi membentang di langit-langit. Bau debu dan logam memenuhi udara. Sesekali terdengar suara mesin dari balik dinding, seolah-olah seluruh fasilitas masih beroperasi di bawah kaki mereka.

Kian berbicara melalui alat komunikasi.

"Belok kiri di persimpangan berikutnya. Setelah itu, kalian akan menemukan pintu dengan tanda pemeliharaan."

Raka memimpin di depan. Darren dan Leon menjaga sisi belakang, sementara Riven berjalan tepat di samping Aren.

"Aku bisa berjalan sendiri," bisik Aren ketika menyadari bahwa Riven terus memegang lengannya.

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kau terus memegangku?"

"Karena aku mau."

Aren menatap kakaknya dengan tidak percaya.

"Kau benar-benar menyebalkan."

Riven tersenyum untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki fasilitas.

"Nah, itu baru adikku."

Aren hampir tertawa, tetapi suara langkah kaki dari ujung lorong membuat mereka semua berhenti.

Raka mengangkat tangan, memberi isyarat agar semuanya diam.

Dua orang bersenjata muncul dari persimpangan di depan.

Sebelum mereka sempat mengangkat senjata, lampu di lorong padam. Terdengar bunyi benturan, disusul suara seseorang mengerang.

Beberapa detik kemudian, lampu darurat menyala kembali.

Kedua penjaga itu sudah tergeletak di lantai, tidak bergerak.

Di ujung lorong berdiri seorang perempuan.

Rambutnya sebahu, wajahnya pucat, dan bekas luka di dekat alisnya terlihat jelas di bawah cahaya merah.

Mara Soren.

Riven langsung bergerak melindungi Aren.

"Jangan mendekat!"

Mara berhenti.

"Aku tidak berniat menyakitinya."

"Bagaimana kami bisa tahu?" bentak Riven. "Kau muncul tiba-tiba, membawa cincin yang sama dengan orang yang berada di tempat ayahnya meninggal, lalu menyuruhnya tidak mempercayai keluarganya."

Mara menatap Riven tanpa gentar.

"Aku tidak menyuruhnya membenci keluarganya. Aku menyuruhnya mencari kebenaran."

"Perbedaannya tipis kalau kau menggunakan ketakutan seorang anak untuk mendapatkan kepercayaan."

"Aku tidak pernah meminta Aren mempercayaiku."

Aren melangkah keluar dari belakang Riven.

"Kalau begitu, jelaskan semuanya."

Mara menatapnya.

Ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu yang membuat Aren merasa seolah-olah ia sedang dilihat oleh seseorang yang telah lama mengenalnya.

"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya di sini," jawab Mara.

"Aku sudah muak mendengar kalimat itu."

Aren mengepalkan tangan.

"Semua orang mengatakan bahwa mereka tidak bisa menjelaskan sesuatu. Semua orang menyuruhku menunggu. Sementara itu, aku terus dijadikan alasan untuk melakukan hal-hal yang bahkan tidak kupahami!"

Mara terdiam.

Aren melanjutkan, kali ini dengan suara bergetar.

"Aku ingin tahu apa yang terjadi pada ayahku. Aku ingin tahu kenapa Alistair mengatakan bahwa ayahku mencoba membunuhku. Aku ingin tahu kenapa kau mengatakan bahwa seseorang yang ingin menyelamatkanku bisa menjadi orang paling berbahaya."

Mara menunduk sebentar.

Ketika kembali mengangkat wajah, matanya tampak berkaca-kaca.

"Karena aku pernah melakukan kesalahan yang sama."

Tidak seorang pun berbicara.

Mara melanjutkan.

"Tujuh belas tahun lalu, aku percaya bahwa seseorang bisa melakukan kejahatan demi menyelamatkan orang yang dicintainya. Aku percaya bahwa selama tujuannya benar, cara apa pun bisa dibenarkan."

Ia menarik napas.

"Aku salah."

Gabriel pernah mengatakan bahwa Mara telah meninggal dalam serangan tujuh belas tahun lalu. Namun, kini perempuan itu berdiri di hadapan mereka, hidup dan terluka oleh masa lalu yang belum selesai.

Viktor tidak berada bersama kelompok itu. Ia masih membantu mengatur jalur evakuasi di luar kompleks. Jika Mara benar-benar saudara mereka, berarti mereka harus segera menghubungkannya dengan Gabriel dan Viktor.

Darren melangkah maju.

"Kau mengatakan bahwa kau tahu siapa yang membunuh Armand. Apakah kau melihatnya sendiri?"

Mara mengangguk.

"Aku melihat orang yang menembaknya."

"Siapa?"

Mara memandang Aren.

"Orang itu memakai cincin perak, tetapi cincin bukan bukti yang cukup. Ada beberapa cincin yang dibuat dengan lambang serupa. Alistair sengaja menggunakan lambang tersebut agar orang-orang saling menuduh."

"Kalau begitu, bagaimana kau tahu identitasnya?" tanya Raka.

"Karena aku mendengar percakapannya sebelum tembakan terjadi."

Mara berhenti sejenak, seolah-olah mengingat kembali malam yang telah mengubah hidupnya.

"Armand tidak sedang mencoba membunuh Aren. Dia berusaha membawanya keluar dari fasilitas sebelum Proyek Serigala Hitam berhasil mengaktifkan protokol terakhir."

Aren merasa jantungnya berdegup semakin cepat.

"Jadi, pesan di belakang foto itu bohong?"

"Pesan itu ditulis untuk membuatmu meragukan ayahmu. Aku tidak tahu siapa yang menulisnya, tetapi aku tahu Armand tidak pernah berniat membunuhmu."

Aren mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.

Kelegaan datang begitu cepat hingga ia hampir tidak menyadari bahwa ketakutannya belum sepenuhnya hilang.

"Kalau begitu, siapa yang membunuhnya?"

Mara membuka mulut, tetapi sebelum ia sempat menjawab, alat komunikasi Raka berbunyi.

Suara Kian terdengar tergesa-gesa.

"Raka, kalian harus bergerak sekarang! Aku baru menemukan sesuatu di arsip utama."

"Apa?"

"Catatan pengiriman surat kedua. Surat itu tidak pernah dibawa keluar dari fasilitas. Catatan terakhir menunjukkan bahwa surat tersebut disimpan di ruang kendali pribadi."

Raka langsung menoleh kepada Mara.

"Ruang kendali pribadi Alistair?"

Mara mengangguk pelan.

"Ya."

Kian melanjutkan melalui sambungan.

"Dan ada satu nama dalam catatan aksesnya. Nama orang yang mengambil surat itu tujuh belas tahun lalu."

"Siapa?" tanya Darren.

Keheningan singkat terdengar di sambungan.

Kemudian Kian menjawab dengan suara yang tidak biasa.

"Adrian Valerius."

Aren membeku.

Riven langsung menggeleng.

"Tidak. Itu pasti kesalahan."

"Catatan aksesnya menggunakan sidik jari dan kode administrator milik Adrian," kata Kian. "Aku sudah memeriksa dua kali."

Aren merasakan dunia di sekelilingnya seperti bergeser.

Adrian.

Ayah angkat yang selama ini melindunginya. Pria yang berjanji kepada Armand untuk menjaga Aren. Pria yang menyimpan surat terakhir Armand selama tujuh belas tahun.

Dan kini, namanya muncul dalam catatan pengambilan surat kedua.

Mara menundukkan kepala.

"Itulah sebabnya aku menyuruhmu berhati-hati."

Raka langsung menatapnya.

"Kau tahu Adrian mengambil surat itu?"

"Aku menduga demikian. Tetapi aku tidak tahu apa yang dilakukannya setelah mengambilnya."

"Kenapa kau tidak mengatakan ini sejak awal?"

"Karena aku tidak memiliki bukti yang cukup."

Aren menatap kertas kecil di tangannya.

PEMBUNUH ARMAND RAVENCROFT ADALAH ORANG YANG MENYIMPAN SURAT KEDUA.

Jika Adrian mengambil surat itu, apakah berarti Adrian membunuh Armand?

Tidak.

Aren segera menolak kesimpulan tersebut.

Catatan pengambilan surat tidak membuktikan pembunuhan. Adrian mungkin mengambilnya untuk melindungi seseorang. Mungkin ia menemukan surat itu setelah Armand meninggal. Mungkin ada alasan lain yang belum mereka ketahui.

Namun, untuk pertama kalinya, Aren tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa ayah angkatnya telah menyembunyikan sesuatu yang sangat besar.

"Di mana surat kedua itu sekarang?" tanya Aren.

Mara menatapnya dengan kesedihan yang sulit disembunyikan.

"Aku tidak tahu."

"Kalau begitu, kita cari."

Raka segera memegang bahu Aren.

"Kita akan mencari kebenaran. Tetapi kita tidak akan melakukannya dengan mempertaruhkan keselamatanmu."

Aren menatap kakak tertuanya.

"Aku tidak ingin terus menjadi orang yang hanya menunggu orang lain memutuskan apa yang boleh kuketahui."

Raka terdiam.

Aren melanjutkan, kali ini dengan suara lebih mantap.

"Aku ingin ikut. Aku ingin melihat surat itu sendiri. Kalau ada seseorang yang menyimpan bukti tentang kematian ayahku, aku ingin tahu kenapa."

Raka mengamati wajah adiknya selama beberapa detik.

Kemudian ia mengangguk.

"Baik. Tapi kau tetap di tengah. Dan apa pun yang terjadi, kau tidak akan bergerak sendirian."

Aren mengangguk.

Mara berjalan menuju pintu di ujung lorong.

"Kalau kalian ingin menemukan surat kedua, kita harus kembali ke ruang kendali."

Darren segera memeriksa peta.

"Ruang kendali berada di sisi berlawanan dari jalur keluar."

"Benar," jawab Mara.

Riven mengumpat pelan.

"Jadi, kita harus masuk lebih dalam ke tempat yang penuh penjaga, padahal kita baru saja berhasil keluar dari ruang observasi?"

"Kita tidak akan menemukan surat itu dengan berjalan ke arah yang salah," kata Mara.

Riven menatapnya tajam.

"Kalau kau mengkhianati Aren—"

"Aku tidak akan meminta maaf jika kau mencoba menghentikanku melindunginya," potong Mara. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak orang karena membiarkan Alistair menentukan siapa yang layak diselamatkan."

Riven hendak membalas, tetapi Aren menyentuh lengannya.

"Kak, kita tidak punya waktu."

Riven mengembuskan napas kasar, lalu mengangguk.

Mereka berbalik menuju ruang kendali.

Namun, tak seorang pun menyadari bahwa di balik salah satu kamera yang masih berfungsi, seseorang sedang mengamati perjalanan mereka.

Seseorang yang telah mengetahui bahwa Mara Soren masih hidup.

Seseorang yang mengetahui bahwa surat kedua belum ditemukan.

Dan seseorang yang kini mengirimkan satu pesan kepada Alistair.

MARA TELAH KEMBALI. AREN MENUJU RUANG KENDALI. ADRIAN HARUS DIBAWA KE SINI SEBELUM MEREKA MENEMUKAN SURAT KEDUA.

---

Jauh dari fasilitas bawah tanah, Adrian Valerius berdiri sendirian di ruang kerja mansion.

Di hadapannya terdapat sebuah laci besi yang selama tujuh belas tahun tidak pernah ia buka di depan siapa pun.

Tangannya bergetar ketika memasukkan kode lama.

Laci itu terbuka dengan bunyi klik.

Di dalamnya terdapat sebuah amplop hitam.

Tidak ada lambang keluarga. Tidak ada nama pengirim. Hanya satu tulisan kecil di bagian depan.

UNTUK ORANG YANG HARUS MENANGGUNG KEBENARAN.

Adrian mengeluarkan amplop tersebut.

Ia pernah berjanji kepada Armand bahwa ia akan menjaga Aren.

Ia juga pernah bersumpah bahwa rahasia di dalam amplop hitam itu tidak akan pernah diketahui oleh siapa pun.

Namun, sekarang Aren telah kembali ke tengah pusaran masa lalu mereka.

Dan jika anak itu menemukan surat kedua, seluruh kebohongan yang selama ini melindungi keluarga Valerius akan runtuh.

Ponsel Adrian bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

KAMI TAHU ANDA MASIH MENYIMPAN SURAT ITU. BAWA KE RUANG KENDALI. DATANG SENDIRIAN JIKA ANDA INGIN AREN SELAMAT.

Adrian memejamkan mata.

Ia tahu siapa yang mengirim pesan tersebut.

Alistair.

Pria yang seharusnya sudah mati itu kembali menagih masa lalu.

Adrian menatap amplop hitam di tangannya, kemudian membuka bagian dalam jasnya dan menyelipkannya ke saku tersembunyi.

"Aku minta maaf, Armand," bisiknya.

Ia mengambil kunci mobil dan berjalan keluar dari ruang kerja.

Namun, sebelum mencapai pintu mansion, ia berhenti.

Di atas meja kecil dekat pintu terdapat sebuah foto keluarga Valerius. Adrian berdiri di belakang, sementara kelima putranya mengelilingi Aren yang tersenyum di tengah mereka.

Adrian menyentuh wajah Aren pada foto itu.

"Semoga kau bisa memaafkanku suatu hari nanti."

Ia kemudian meninggalkan mansion tanpa memberi tahu siapa pun.

Sementara itu, di bawah tanah, Aren dan kelima kakaknya semakin dekat dengan ruang kendali pribadi Alistair.

Mereka mengira sedang mencari surat kedua.

Mereka belum tahu bahwa surat itu telah lama berada di tangan Adrian.

Dan mereka juga belum tahu bahwa Adrian kini sedang menuju tempat yang sama.

Tempat di mana seluruh rahasia keluarga Valerius dan Ravencroft akan bertabrakan.

Ketika pintu ruang kendali akhirnya terbuka, sebuah layar besar menyala dengan sendirinya.

Di tengah layar muncul wajah Alistair.

"Selamat datang," katanya tenang. "Aku sudah menunggu kalian."

Kemudian layar berganti.

Bukan gambar Alistair yang muncul, melainkan sebuah rekaman lama Armand Ravencroft, duduk dengan wajah pucat dan luka di pelipisnya.

Armand menatap kamera, seolah-olah sedang berbicara langsung kepada Aren.

"Jika kau melihat rekaman ini, berarti Adrian telah gagal menepati janji terakhirnya kepadaku."

Aren menahan napas.

Armand melanjutkan dengan suara lemah.

"Anakku, ada satu hal yang harus kau ketahui tentang pria yang membesarkanmu."

Rekaman terputus selama satu detik.

Kemudian suara Armand terdengar kembali.

"Adrian bukan orang yang membunuhku."

Aren membeku.

Namun, sebelum kelegaan sempat muncul, Armand melanjutkan kalimatnya.

"Dia adalah orang yang memilih siapa yang harus mati malam itu."

Layar menjadi gelap.

Tidak ada yang berbicara.

Aren perlahan menoleh kepada Raka.

Untuk pertama kalinya, kakak tertuanya tidak memiliki jawaban.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!