Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murka Istana Utama dan Sumpah sang Jenderal Perang
Ancaman Hukuman Mati dan Musuh yang Berbahaya
Hujan gerimis di halaman Istana Leng Guang terasa mendadak membeku. Ujung pedang perak milik Jenderal Song Qian masih mengilat dingin, terpaut hanya seujung kuku dari leher Kasim Li. Hawa membunuh yang terpancar dari tubuh pahlawan muda perang utara itu begitu pekat hingga membuat selusin pengawal istana bersimbah keringat dingin dan tak berani menggerakkan satu jari pun.
"J-Jenderal Song... kau... kau benar-benar sudah gila!" gagap Kasim Li dengan bibir gemetar hebat. Matanya melotot panik, menyadari bahwa sedikit saja ia bernapas terlalu keras, mata pedang itu akan merobek tenggorokannya. "Menentang titah Ibu Suri dan Yang Mulia Raja adalah kejahatan pengkhianatan tingkat tinggi! Kau dan seluruh keluargamu akan dihukum pancung!"
"Kalau begitu, silakan seret aku ke hadapan Yang Mulia," pangkas Song Qian dengan nada suara yang tenang, tajam, dan penuh intrik yang tak tergoyahkan. "Namun, sebelum kau sempat menyentuh sehelai rambut pun dari Putri Gu Qian, aku pastikan kepalamu lebih dulu menggelinding di tanah lumpur ini."
Dengan satu sentakan pergelangan tangan, Song Qian mengibaskan pedangnya. Angin tebasan pedang itu menyabet mahkota kain Kasim Li hingga terbelah dua, membuat rambut sang kasim terurai berantakan.
"Enyah dari sini!" gertak Song Qian nyaring.
Kasim Li menjerit ketakutan. Tanpa memedulikan martabatnya, kasim tua itu berbalik dan lari terbirit-birit menembus hujan bersama para pengawal istana yang kocar-kacir meninggalkan halaman Istana Leng Guang.
Begitu bayangan para kasim menghilang di balik gerbang kayu yang lapuk, keheningan kembali menyelimuti taman pohon Plum. Suara gemercik air hujan yang menimpa dedaunan kembali terdengar merdu.
Song Qian perlahan menyarungkan kembali pedang peraknya. Hawa membunuh di tubuhnya memudar seketika, digantikan oleh raut kehangatan dan rasa cemas saat ia membalikkan badan menghadapi Putri Gu Qian.
Putri Gu Qian berdiri mematung di bawah naungan pohon Plum. Jubah kain hitam tebal milik Song Qian masih menyelimuti bahunya yang mungil. Mata bening sang putri menatap Song Qian dengan pendar gelombang emosi yang amat rumit, ada rasa haru yang luar biasa. Namun, tersirat pula ketakutan mendalam atas keselamatan pemuda itu.
"Jenderal Song..." bisik Putri Gu Qian, suaranya bergetar dalam terpaan angin malam. "Kenapa... kenapa kau melakukan tindakan semenyeramkan ini demi diriku? Kau adalah pahlawan Kerajaan Jing, masa depanmu begitu gemilang. Mengapa kau bertaruh nyawa hanya untuk melindungi seorang putri terbuang yang bahkan tak pernah kau kenal sebelumnya?"
Song Qian melangkah mendekat. Ia menghentikan langkahnya tepat satu tapak di hadapan Putri Gu Qian. Tatapan mata tajam milik sang jenderal melunak, menatap lurus ke dalam manik mata indah milik Gu Qian dengan ketulusan yang melompati batas takdir fana mereka.
"Aku pun tidak tahu cara menjelaskannya dengan kata-kata istana, Tuan Putri," tutur Song Qian pelan namun sarat akan makna mendalam. "Namun, sejak pertama kali mataku menangkap sosokmu di bawah pohon ini... jiwaku bergetar hebat. Rasa sakit dan kerinduan yang bertahun-tahun mengusik mimpiku mendadak menemukan jawabannya."
Song Qian mengangkat tangannya sedikit, hendak mengusap bulir air hujan di sudut kening Gu Qian, namun ia menahannya dengan penuh kesopanan.
"Jabatanku sebagai Jenderal Muda bisa kutinggalkan, dan nyawaku adalah milik Kerajaan Jing di medan perang," lanjut Song Qian dengan ketetapan hati yang menggetarkan jiwa. "Namun pedangku ini... ada untuk melindungimu. Selama dadaku masih berhembus, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun memaksamu menderita di tanah asing."
Dada Putri Gu Qian berdesir hebat. Di tengah dinginnya dunia fana dan kejamnya takdir pengasingan yang ia jalani sejak kecil, kata-kata dari jenderal muda ini bagaikan kobaran api hangat yang melelehkan seluruh kebekuan di hatinya. Tanpa sadar, air mata hangat menetes menyusuri pipi mulus sang putri.
"Namun tindakanmu hari ini akan memicu murka besar di Aula Emas," bisik Gu Qian prihatin. "Ibu Suri Meng dan Menteri Perang tidak akan melepaskanmu..."
"Biarlah mereka bermurka," balas Song Qian menyunggingkan senyuman paling tampan dan percaya diri. "Tunggulah di sini, Tuan Putri. Aku sendiri yang akan menyelesaikan badai ini di hadapan Yang Mulia Raja."
Sementara itu, di Aula Emas Kerajaan Jing...
Suasana pesta kemenangan yang tadinya penuh tawa dan tarian mendadak berubah mencekam bagaikan neraka. Musik kecapi terhenti seketika. Di atas singgasana emas, Raja Jing yang berusia paruh baya duduk dengan raut wajah amat tegang, sementara di sampingnya, Ibu Suri Meng yang bergaun keemasan tampak menggebrak pegangan kursinya dengan murka luar biasa.
Di tengah pelataran aula, Kasim Li bersujud histeris seraya menangis meraung-raung. Sisa-sisa mahkotanya yang terbelah diletakkan di atas lantai batu marmar.
"Ampunkan hamba, Yang Mulia! Ampunkan hamba, Yang Mulia Ibu Suri!" tangis Kasim Li memutarbalikkan fakta. "Jenderal Song Qian telah bertindak semena-mena dan ingin memberontak kepada Yang Mulia! Ia tidak hanya menolak titah kerajaan, tetapi juga menghunus pedangnya dan hampir memenggal leher hamba di Istana Leng Guang! Ia menyatakan bahwa tidak ada seorang pun di Kerajaan Jing ini, bahkan Yang Mulia sekalipun berhak mengatur takdir Putri Gu Qian!"
"Kurang ajar!" jerit Ibu Suri Meng dengan suara melengking tinggi, matanya berkilat murka. "Baru saja menang satu kali di perbatasan utara, bocah itu sudah merasa dirinya menjadi penguasa Kerajaan Jing?! Ini adalah bentuk pemberontakan terang-terangan!"
Di barisan depan para pejabat, seorang pria setengah baya berzirah emas dengan kumis tebal melangkah keluar. Dialah Menteri Perang Zhao Biao, musuh politik terbesar keluarga Song yang telah lama iri atas prestasi militer Song Qian.
Menteri Zhao membungkuk hormat, namun ukiran senyum licik tersirat di sudut bibirnya.
"Yang Mulia Raja, Ibu Suri..." tutur Menteri Zhao dengan nada suara provokatif. "Tindakan Jenderal Song Qian sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Pernikahan politik antara Putri Gu Qian dan Raja Barbarian Utara adalah kunci utama untuk mencegah serbuan seratus ribu pasukan suku utara musim dingin ini. Jika Jenderal Song menentang keputusan ini hanya demi seorang wanita terbuang, artinya ia sengaja memicu perang baru yang akan menghancurkan rakyat kita!"
Menteri Zhao melirik ke arah Raja Jing yang mulai ragu, lalu menambahkan minyak ke dalam kobaran api. "Hamba curiga... kemenangan di utara telah membuat Jenderal Song berniat menumpuk kekuatan militer untuk merebut takdir kerajaan. Jika hari ini ia berani menghunus pedang pada utusan Ibu Suri, bukan tidak mungkin esok lusa ia akan mengarahkan lima puluh ribu pasukannya ke Aula Emas ini!"
Raja Jing memegang pelipisnya yang mendadak pusing. Kekuatan militer Song Qian di perbatasan memang sangat dibutuhkan, namun menoleransi pembangkangan di depan para pejabat akan meruntuhkan wibawa takhtanya.
"Pengawal!" bentak Ibu Suri Meng tak sabar. "Kerahkan Pengawal Zirah Hitam! Tangkap Song Qian atas tuduhan pengkhianatan, dan seret Putri Gu Qian malam ini juga ke perbatasan utara!"
"Siapa yang berani melangkah satu tapak pun?!"
BUM!
Sebuah suara berat, nyaring, dan penuh wibawa pembunuh mendadak bergaung menembus pintu raksasa Aula Emas.
Derap langkah kaki berirama tegap memecah keheningan. Seluruh pejabat dan pengawal kerajaan seketika menoleh. Dari balik pintu utama, Song Qian melangkah masuk seorang diri. Ia telah melepaskan jubah hitamnya, hanya berbalut jubah dalam berwarna kelabu dan celana ketat militer. Meskipun ia datang tanpa membawa sebilah senjata pun di tangannya, pendar aura keberanian dan wibawa alami dari tubuh sang jenderal perang membuat belasan Pengawal Zirah Hitam refleks melangkah mundur dan tak berani menghadangnya.
Song Qian berjalan lurus di sepanjang karpet merah aula, mengabaikan tatapan benci Menteri Zhao dan murka Ibu Suri. Ia berhenti tepat di tengah pelataran, lalu membungkukkan tubuhnya memberi penghormatan standar militer kepada Raja Jing.
"Song Qian menyambut Yang Mulia Raja," ucap Song Qian tenang tanpa ada nada ketakutan sedikit pun.
"Song Qian!" bentak Ibu Suri Meng seraya menunjuknya dengan jari gemetar. "Kau pembangkang tak tahu diri! Berani-beraninya kau melangkah ke aula ini setelah mengancam membunuh utusan kerajaan!"
Song Qian menegakkan badannya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah singgasana.
"Hamba datang ke sini bukan untuk membangkang, Ibu Suri," jawab Song Qian dengan suara yang amat jernih hingga terdengar ke seluruh penjuru aula. "Hamba datang untuk menyelamatkan martabat dan kehormatan Kerajaan Jing yang sedang diinjak-injak oleh keputusan pengecut!"
"Pengecut?!" pekik Menteri Zhao tajam. "Berani sekali kau menyebut keputusan Yang Mulia dan Ibu Suri sebagai tindakan pengecut?!"
Bersambung........
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai!