NovelToon NovelToon
Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Reinkarnasi / Dunia Lain
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.

Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.

Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - HASIL YANG TIDAK CUKUP

Lin kembali membaca catatan pribadinya sebelum berangkat kerja. Di antara pertanyaan tentang halaman latihan, ia menemukan satu baris dari ingatan masa kecil tubuh ini: pemeriksaan bakat oleh utusan sekte, hasil biasa, beberapa minggu latihan yang kemudian ditinggalkan. Ia sudah tahu semua itu sejak berbicara dengan ayahnya di desa. Yang belum ia pahami adalah arti kata biasa dan hubungan pemeriksaan itu dengan keadaan tubuhnya sekarang.

Ia mencoret pertanyaan “Apakah aku pernah diperiksa?” lalu menggantinya dengan “Apa yang sebenarnya diukur saat itu, dan apakah hasilnya menjelaskan kemampuanku sekarang?”

Mo sedang membuka toko ketika Lin datang. Pemuda itu menceritakan bahwa Han menyarankannya bertanya kepada cabang Azure Flame Sect atau alchemy association.

“Jangan minta asosiasi alkemis mengukur bakat kultivasimu,” kata Mo. “Mereka menguji alkemis, bukan calon murid sekte.”

“Kalau begitu saya akan bertanya saja.”

“Bagus. Jangan mengaku tahu lebih banyak daripada yang kau tahu.” Mo menyerahkan kantong kecil untuk membeli arang bagi pemanas air. “Kembali sebelum tengah hari. Hari ini kita perlu menyortir kiriman.”

Lin membeli arang sesuai jumlah, lalu melanjutkan ke gedung asosiasi. Ia pernah melewati gerbangnya sebelumnya, tetapi belum masuk. Bangunannya lebih besar daripada toko Mo, dengan pintu kayu berukir lambang tungku dan tiga rak batu di teras. Orang-orang datang membawa kotak pil, gulungan resep, dan kantong bahan yang disegel.

Di meja penerimaan, seorang petugas sedang mencatat nomor keanggotaan. Lin menunggu sampai antrean berkurang, lalu menjelaskan bahwa ia ingin mengetahui tempat pemeriksaan bakat kultivasi.

“Pemeriksaan bakat?” Petugas menatapnya, lalu menunjuk papan di dinding. “Kami menangani pendaftaran alkemis, pemeriksaan pil, dan sengketa bahan. Kalau yang kau maksud kemampuan menyerap Qi, itu bukan layanan kami.”

“Apakah asosiasi pernah memeriksa calon alkemis sebelum mereka belajar?”

“Tidak dengan cara yang kau tanyakan. Seorang calon alkemis harus sudah memiliki dasar spiritual sense dan pengetahuan bahan. Kami memeriksa hasil kerja, bukan menentukan apakah seseorang akan menjadi kultivator.”

Lin mengeluarkan buku kecilnya, mencatat jawaban itu, lalu bertanya tentang cabang sekte. Petugas menjelaskan jalan menuju gerbang Azure Flame Sect, tetapi tidak tahu kapan mereka mengadakan pemeriksaan terbuka.

“Pengumuman biasanya dipasang di luar gerbang,” katanya. “Kalau kau hanya ingin bertanya, penjaga dapat menjelaskan aturan umum. Jangan mencoba masuk ke halaman dalam.”

“Saya tidak berniat masuk tanpa izin.”

Petugas mengangguk dan kembali pada pekerjaannya. Percakapan itu berlangsung singkat, tetapi cukup untuk membedakan dua lembaga yang selama ini ia kenal hanya dari nama. Asosiasi mengawasi mutu alkimia dan anggotanya; sekte menentukan siapa yang bisa mengikuti jalur murid.

Gerbang cabang Azure Flame Sect berada di jalan yang lebih tinggi. Dindingnya merah tua dan dijaga dua orang berpakaian seragam sederhana. Lin berhenti di luar batas batu, lalu menunggu salah satu penjaga selesai berbicara dengan seorang lelaki yang membawa anak perempuan berumur sekitar sepuluh tahun.

Anak itu memegang selembar kertas bersegel. Ia tampak gelisah, sementara ayahnya berkali-kali merapikan kerah bajunya. Penjaga menerima surat tersebut, membaca beberapa baris, lalu meminta mereka kembali pada hari pemeriksaan yang tercantum di bagian bawah.

“Apakah pemeriksaan bakat dilakukan setiap hari?” tanya Lin setelah mereka pergi.

“Tidak,” jawab penjaga. “Sekte mengumumkan jadwalnya sendiri. Kami tidak menguji orang yang datang tanpa pemberitahuan.”

Lin menyebut bahwa ia pernah mengikuti pemeriksaan saat masih kecil. Ayahnya mengatakan hasilnya biasa, tetapi ia tidak memiliki surat atau catatan tertulis.

“Kalau kau pernah diperiksa, tanyakan rincian kepada keluargamu,” ujar penjaga. “Kami tidak bisa menafsirkan ucapan orang lain tanpa hasil pemeriksaan. Saat penerimaan diumumkan, ikuti syarat yang tertulis. Jangan berharap hasil lama otomatis berubah hanya karena kau datang lagi.”

Nada suaranya tegas, bukan menghina. Lin tahu ia memang tak berhak meminta penjaga mengingat peristiwa yang terjadi bertahun-tahun lalu di desa lain. Ia mengucapkan terima kasih dan mundur dari gerbang.

Sebelum pergi, ia melihat papan pengumuman. Isinya jadwal pengantaran barang, larangan memasuki halaman dalam tanpa izin, dan pemberitahuan bahwa penerimaan murid akan diumumkan kemudian. Tidak ada tanggal pemeriksaan berikutnya. Lin menyalin keterangan umum tanpa menebak kapan kesempatan itu datang.

Dalam perjalanan kembali, ia melintas di depan halaman latihan Han. Beberapa murid sedang berjalan mengitari sumur. Pemuda yang tumitnya lecet kemarin duduk di bangku, sementara seorang senior membalut kakinya. Ia tidak berlatih, tetapi tetap memperhatikan kelompoknya.

Lin berhenti sesaat. Mengetahui batas kemampuan bukan berarti seseorang harus langsung menyerah atau terus memaksa. Ia melanjutkan perjalanan sebelum terlambat kembali ke toko.

Mo menerima arang dan menanyakan apa yang ia temukan. Lin menyampaikan jawaban dari petugas asosiasi dan penjaga sekte, berhati-hati memisahkan apa yang dikatakan keduanya.

“Jadi asosiasi tidak menguji bakat kultivasi,” katanya. “Pemeriksaan sekte hanya dilakukan saat jadwal penerimaan, dan saya perlu menanyakan rincian hasil lama kepada keluarga.”

“Benar.” Mo mencuci tangan di baskom. “Apa kau mengingat hari pemeriksaan itu?”

“Tidak utuh. Aku ingat berdiri di antara anak-anak, lalu diminta mundur setelah hasilnya disebut biasa. Ayah juga bilang aku sempat berlatih beberapa minggu.”

“Berarti kau punya lebih dari satu sumber. Cerita ayahmu dan sisa ingatan tubuhmu.”

“Tapi tidak ada angka, nama alat, atau catatan.”

“Jadi kau tahu hasil yang disampaikan kepadamu, bukan seluruh cara mereka mengukurnya.” Mo mengeringkan tangan. “Jangan menghapus hasil itu. Tapi jangan membuatnya menjawab pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan.”

Lin mencatat kalimat tersebut. Ucapan ayahnya tidak berubah, namun ia memahami batasnya dengan lebih jelas. Hasil biasa membuat sekte tidak menawarkan tempat; itu belum membuktikan bahwa ia sama sekali tidak dapat berkultivasi. Ia juga tidak memiliki alasan untuk menganggap jiwa barunya telah mengubah sesuatu pada tubuh ini.

“Apakah orang dengan hasil biasa tetap bisa belajar?” tanyanya.

“Sebagian bisa. Jalannya lebih lambat, atau membutuhkan sumber daya yang tidak mereka miliki. Sebagian memilih bekerja dan membangun hidup dengan cara lain.” Mo menatapnya sekilas. “Aku tidak bisa menyimpulkan untukmu hanya dari cerita lama.”

“Aku tidak meminta kepastian. Aku ingin tahu langkah berikutnya.”

“Langkah berikutnya adalah bekerja, makan cukup, dan tidak merusak tubuhmu saat mencoba posisi yang baru.”

Lin tersenyum. “Itu terdengar seperti tiga langkah yang bisa saya lakukan.”

“Kalau kau mencari pemeriksaan, tanyakan tanggal penerimaan di gerbang. Sampai ada jadwal, lakukan latihan dasar kalau waktumu cukup. Jangan membayar orang asing yang menjanjikan hasil.”

Mereka kembali bekerja. Lin mengurutkan kiriman arang dan bahan kering, lalu menambahkan informasi tentang sampel daun ke buku toko. Berat salah satu bungkusan tidak berubah setelah kainnya kering, tetapi bentuk daun tetap tidak cocok dengan sampel lama secara meyakinkan. Ia menandainya sebagai “belum dapat dibandingkan”, bukan menyebutnya salah satu jenis.

Menjelang sore, Bai belum datang membawa kabar tugas kedua. Lin tidak menulis dugaan tentang jadwalnya. Ia menyisakan ruang kosong untuk informasi yang akan ia terima langsung.

Mo membayar upah harian satu keping tembaga. Makanan disiapkan di belakang toko; satu keping itu akan digunakan Lin untuk tempat tidur. Sebelum pulang, ia membuka peta dan menambahkan catatan kecil di samping gerbang sekte: “Pemeriksaan tidak setiap hari. Tanyakan jadwal resmi; bawa rincian hasil lama jika bisa.”

Di buku dua kolom, ia menulis ulang hasil masa kecilnya dengan tiga baris: “Yang dikatakan ayah: biasa. Yang masih diingat tubuh: diminta mundur setelah pemeriksaan. Yang belum diketahui: apa yang diukur dan apakah latihan beberapa minggu memberi perubahan.”

Ia berhenti sebelum mengisi bagian terakhir. Tidak semua ruang kosong harus segera dipenuhi.

Hari ini ia belum tahu apakah akan pernah masuk sekte. Ia juga belum tahu apakah tubuhnya dapat merasakan Qi. Namun kini ia paham bahwa masa lalu memberi petunjuk, bukan keputusan akhir. Untuk bergerak maju, ia perlu mencari jadwal resmi, memeriksa kondisi tubuh secara bertahap, dan menerima bahwa beberapa jawaban hanya datang setelah proses yang panjang.

1
Uranenantios
Enaknya sehari up berapa bab ya?
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!