Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 — Perpisahan Santri
Wisuda di Pondok Pesantren Darul Hikmah memang berbeda dari wisuda kampus.
Tidak ada toga hitam atau topi wisuda.
Para santri mengenakan jubah putih, peci, dan selendang. Aula besar Darul Hikmah dipenuhi wali santri yang datang dari berbagai kota. Di depan panggung terbentang spanduk besar bertuliskan:
HAFLAH AKHIRUSSANAH & WISUDA ANGKATAN 2025
Pagi itu, suasana pesantren terasa berbeda.
Lebih ramai.
Lebih haru.
Dan entah kenapa, setiap sudut yang biasanya terasa biasa saja mendadak seperti punya kenangan sendiri.
Di barisan depan, Muthi’ah duduk bersama Dina, Zahra, Salsa, dan Nadira.
Mereka mengenakan jubah putih yang sama.
Tapi ekspresinya berbeda-beda.
Dina sudah menangis sejak pagi.
Bukan menangis cantik seperti di film.
Tapi benar-benar sesenggukan sampai hidungnya merah.
“Muth…” Dina menarik lengan Muthi’ah.
“Apa?”
“Gue nggak mau pisah sama lu.”
Muthi’ah menahan tawa.
“Dina, kita bukan mau pindah planet.”
“Tapi kita nggak bakal sekamar lagi!”
“Kita masih bisa ketemu.”
“Beda!”
Dina semakin cemberut.
“Kita nggak bakal bisa hafalan bareng jam dua pagi sambil makan mi rebus sembunyi-sembunyi lagi.”
Muthi’ah langsung tertawa.
“Itu justru bagus. Biar lu nggak sakit perut lagi.”
“Jahat.”
Zahra yang duduk di sebelah mereka hanya tersenyum sambil mengusap matanya sendiri.
Dia kemudian membuka tas kecil yang dibawanya.
“Aku punya sesuatu.”
Tiga orang langsung menoleh.
Zahra mengeluarkan tiga buku harian kecil dengan sampul yang berbeda.
“Ini buat kalian.”
Salsa langsung mengambil salah satunya.
“Apaan?”
“Buku harian.”
Zahra menyerahkannya satu per satu.
“Kalau nanti kita sudah jauh dan kalian kangen, tulis saja di sini. Nggak perlu langsung cerita ke siapa-siapa. Tulis apa pun yang kalian rasakan.”
Muthi’ah memandangi buku kecil di tangannya.
Sampulnya sederhana.
Tapi entah kenapa, terasa sangat berarti.
“Kalau nanti ketemu lagi, kita tukaran baca,” lanjut Zahra.
Salsa langsung memeluk Zahra.
“Zah, lu memang paling ngerti gue.”
Kemudian dia menoleh ke Muthi’ah.
“Dan gue janji, gue bakal jadi bridesmaid paling berisik pas lu nikah nanti.”
Muthi’ah langsung melempar tisu ke arahnya.
“Apaan sih! Ini acara wisuda!”
Dina ikut tertawa.
“Bener juga. Baru lulus sudah dibahas nikah.”
“Padahal ada yang sudah dilamar,” goda Salsa.
Muthi’ah langsung menatap tajam.
“Diam.”
Mereka tertawa bersama.
Tertawa sambil menahan air mata.
Begitulah perpisahan santri.
Sedih, tapi tetap ada bahan bercandaan.
---
Di barisan putra, Jay duduk bersama Heeseung, Jake, Sunghoon, Sunoo, Jungwon, dan Ni-ki.
Jay sebenarnya sudah menyelesaikan masa belajarnya lebih dulu. Tahun ini dia tidak duduk sebagai peserta wisuda.
Dia justru menjadi salah satu panitia dan ikut membantu rangkaian acara, termasuk memimpin doa.
Jake melirik ke arah barisan putri.
“Jay.”
“Hm?”
“Lihat Muthi’ah.”
Jay mengikuti arah pandangan Jake.
Muthi’ah sedang tertawa bersama Dina dan Salsa.
“Kenapa?”
“Dia nangis nggak?”
Jay memperhatikan beberapa detik.
“Kayaknya enggak.”
Heeseung ikut melihat.
“Matanya merah.”
Jay tersenyum kecil.
“Mungkin habis nangis.”
Sunoo langsung menyenggol lengan Jay.
“Lu hafal banget mukanya.”
Jay menoleh.
“Diam.”
Jake menahan tawa.
“Belum nikah sudah hafal ekspresi.”
Jay menggeleng.
“Acara belum mulai. Jangan bikin masalah.”
---
Setelah rangkaian acara utama selesai, suasana berubah menjadi lebih santai.
Para santri mulai foto bersama.
Sahabat-sahabat Jay bahkan membuat video ucapan untuk Muthi’ah, Dina, Zahra, Salsa, dan santri angkatan mereka.
Mereka pindah ke halaman belakang aula.
Heeseung memegang HP sebagai kamera.
“Oke, siap?”
Jake berdiri di sebelahnya.
“Siap.”
Heeseung mulai bicara.
“Muthi’ah, Dina, Zahra, Salsa, selamat wisuda. Kalian sudah melewati tiga tahun di Darul Hikmah. Dari ujian, hafalan, kegiatan pesantren…”
Jake langsung menyela.
“Dan Dina yang hampir tiap minggu menangis.”
“WOI!” teriak Dina dari jauh.
Semua tertawa.
Heeseung melanjutkan.
“Pokoknya, selamat sudah menyelesaikan perjalanan kalian.”
Kemudian Jake mengambil alih kamera.
“Muthi’ah, jangan lupa kuliah yang benar di Malang.”
Sunoo tiba-tiba muncul dari belakang.
“Dan jangan lupa…”
Dia berhenti sebentar.
“JAGA JAY!”
Semua langsung tertawa.
Jay yang berdiri di belakang mereka menggeleng.
“Kenapa gue yang dijaga?”
Sunoo menunjuk kamera.
“Karena lu yang paling butuh dijaga!”
Ni-ki ikut berteriak.
“Jangan bikin masalah di Malang, Gus!”
Jay mengambil sandal di dekatnya.
“Pergi kalian.”
Semua langsung bubar sambil tertawa.
Video itu akhirnya dikirim ke grup.
Beberapa menit kemudian, saat diputar di kamar tujuh, Muthi’ah, Dina, Zahra, dan Salsa tertawa sampai menangis.
Bahkan Nadira yang ikut melihat video itu hanya bisa tersenyum.
Tidak ada lagi rasa iri seperti dulu.
Yang tersisa hanya rasa lega karena semuanya sudah sampai di titik ini.
---
Menjelang siang, Kiai Hasyim memberikan sambutan.
Aula perlahan kembali tenang.
“Anak-anakku,” ucapnya, “wisuda bukan akhir dari perjalanan kalian. Ini awal dari perjalanan yang lebih panjang.”
Semua santri mendengarkan.
“Kalian mungkin akan keluar dari dinding pesantren ini. Tapi jangan pernah merasa meninggalkan nilai-nilai yang kalian pelajari di sini.”
Kiai Hasyim tersenyum.
“Bawalah ilmu, adab, dan akhlak kalian ke mana pun kalian pergi.”
Tepuk tangan terdengar memenuhi aula.
Setelah itu, Nyai Maryam maju.
Suaranya sempat bergetar.
“Umi mungkin tidak bisa mengingat semua nama santri yang pernah belajar di sini.”
Beberapa santri tertawa kecil.
“Tapi Umi ingat perjuangan kalian.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Termasuk kalian yang pernah melewati masa sulit, difitnah, jatuh, kemudian memilih bangkit dengan adab.”
Tatapan Nyai Maryam sempat jatuh kepada Muthi’ah.
Muthi’ah menundukkan kepala.
Air matanya jatuh.
Bukan karena sedih saja.
Tapi karena dia tahu, tiga tahun terakhir bukan perjalanan yang mudah.
---
Setelah acara selesai, halaman Darul Hikmah berubah menjadi lautan manusia.
Wali santri mengangkut koper.
Ada yang membawa kardus kitab.
Ada yang mencari sandal.
Ada yang sibuk berfoto.
Ada juga yang sudah mulai menangis sebelum benar-benar pergi.
Muthi’ah, Dina, Zahra, dan Salsa mengambil foto terakhir mereka di depan perpustakaan.
Tempat yang dulu hampir setiap hari mereka datangi.
Tempat Muthi’ah menghabiskan banyak waktunya.
Tempat yang pernah menjadi saksi berbagai masalah mereka.
Dan sekarang, tempat itu menjadi latar foto perpisahan.
“Sekali lagi,” kata Dina.
Mereka berpose.
Klik.
Zahra melihat hasil fotonya.
“Bagus.”
Salsa tersenyum.
“Ini jangan sampai hilang.”
Muthi’ah mengangguk.
“Janji.”
Zahra kemudian mengangkat tangan.
“Setahun sekali kita harus ketemu.”
“Setuju,” kata Salsa.
“Setuju,” kata Dina.
Muthi’ah tersenyum.
“Janji.”
---
Tidak lama kemudian, Ayah dan Ibu Muthi’ah datang menghampiri.
Mereka membantu membawa barang-barang Muthi’ah ke mobil.
Di dekat gerbang, Jay juga sedang membantu panitia mengatur barang para santri.
Ketika melihat Ayah Muthi’ah, Jay menghampiri.
“Pak Haji.”
Ayah Muthi’ah tersenyum.
“Jay.”
Mereka berjabat tangan.
“Terima kasih sudah banyak membantu selama ini,” kata Ayah Muthi’ah.
Jay menggeleng.
“Sama-sama, Pak.”
Ayah Muthi’ah kemudian menepuk bahu Jay.
“Muthi’ah sebentar lagi berangkat ke Malang.”
Jay mengangguk.
“Saya tahu, Pak.”
“Kamu juga di Malang.”
“Iya. Saya mengasuh cabang Darul Hikmah di sana.”
Ayah Muthi’ah tersenyum.
“Kalau begitu, jaga adab kalian. Kalian sudah sama-sama dewasa. Jangan sampai jarak dekat membuat kalian lupa dengan kesepakatan yang sudah dibuat.”
Jay mengangguk serius.
“Insyaallah, Pak.”
Tidak jauh dari sana, Muthi’ah melihat mereka.
Ketika mata mereka bertemu, keduanya hanya saling mengangguk.
Tidak ada salaman.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada percakapan panjang.
Hanya satu anggukan kecil.
Tapi cukup untuk menyampaikan banyak hal.
Selamat wisuda.
Semoga kuliahnya lancar.
Sampai bertemu di babak berikutnya.
---
Satu per satu mobil mulai meninggalkan pesantren.
Koper-koper dimasukkan ke bagasi.
Karung kitab diikat.
Bantal dan selimut ditumpuk.
Bahkan beberapa sandal yang hilang sejak dulu akhirnya ditemukan di bawah tempat tidur.
Dina masuk ke mobil keluarganya.
Muthi’ah masuk ke mobil bersama Ayah dan Ibu.
Saat mobil mulai bergerak, Dina membuka jendela.
“MUTH!”
Muthi’ah ikut membuka jendelanya.
“APA?”
“JANGAN LUPA BUKU HARIAN DARI ZAHRA!”
Muthi’ah tertawa.
“IYA!”
“TERUS JANGAN LUPA GUE!”
“LU JUGA!”
Dina melambaikan tangan.
“JANGAN LUPA MI REBUS TENGAH MALAM!”
Muthi’ah tertawa sambil menangis.
“IYA!”
Mobil mereka akhirnya mengambil arah berbeda.
Muthi’ah menyandarkan kepala ke kursi.
Dia melihat Darul Hikmah dari kaca belakang.
Gerbang pesantren perlahan menjauh.
Semakin kecil.
Sampai akhirnya hilang di balik belokan.
Ibu yang duduk di sebelahnya menggenggam tangannya.
“Sedih?”
Muthi’ah mengangguk.
“Sedikit.”
“Kenapa?”
Muthi’ah melihat lagi ke kaca belakang.
“Tiga tahun itu lama, Bu.”
Ibu tersenyum.
“Tapi kamu sudah selesai.”
Muthi’ah menarik napas.
“Iya.”
Dia tersenyum sambil menghapus air mata.
“Sekarang waktunya mulai lagi.”
---
Di gerbang pesantren, Jay masih berdiri bersama Heeseung.
Mobil Muthi’ah sudah tidak terlihat.
Heeseung menepuk bahu Jay.
“Sudah. Ayo masuk.”
Jay masih memandang jalan.
“Dia benar-benar berangkat.”
“Ya memang harus berangkat.”
Jay tersenyum kecil.
“Bagus.”
Heeseung menatapnya.
“Bagus?”
“Iya.”
Jay memasukkan kedua tangannya ke saku.
“Dia harus kuliah. Harus punya kehidupannya sendiri.”
Heeseung tersenyum.
“Empat tahun, Jay.”
Jay mengangguk.
“Empat tahun.”
“Siap menunggu?”
Jay menatap gerbang Darul Hikmah.
“Bukan menunggu.”
Heeseung mengernyit.
“Terus?”
“Bertumbuh.”
Jay tersenyum.
“Dia bertumbuh di Malang. Gue juga harus bertumbuh di sana. Kalau suatu hari kami memang jadi bersama, gue nggak mau dia menikah dengan orang yang masih hidup di bawah bayang-bayang janji orang tua.”
Heeseung terdiam.
Jay melanjutkan.
“Gue mau dia menikah dengan Jay.”
“Bukan putra Kiai?”
“Bukan.”
Heeseung tersenyum.
“Sekarang lu sudah ngerti.”
Jay mengangguk.
“Iya.”
---
Malamnya, sebelum tidur di rumah, Muthi’ah membuka buku harian pemberian Zahra.
Dia menulis satu halaman.
Hari ini aku meninggalkan Darul Hikmah.
Dulu aku datang sebagai santri yang pendiam. Aku takut bicara. Takut salah. Takut mengecewakan orang lain.
Sekarang aku pergi dengan lebih banyak keberanian.
Bukan karena aku sudah tidak takut.
Tapi karena aku belajar bahwa punya suara bukan berarti tidak punya adab.
Muthi’ah berhenti sebentar.
Kemudian menulis kalimat terakhir.
Besok aku berangkat ke Malang.
Babak baru dimulai.
Di tempat lain, Jay juga sedang bersiap kembali ke pesantren cabangnya.
Mereka berada di dua tempat yang berbeda.
Tapi untuk pertama kalinya, keduanya sama-sama tahu bahwa jalan mereka mulai benar-benar menjadi milik mereka sendiri.
Darul Hikmah telah selesai menjadi tempat mereka belajar sebagai santri.
Sekarang Malang akan menjadi tempat mereka belajar menjadi dewasa.
Dan tanpa mereka sadari…
jarak justru akan menjadi penjaga yang mereka butuhkan.