【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7- Luka Kecil Lembaran Merah
Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah jendela kelas X IPA 2 terasa agak menyengat hari itu. Suasana kelas masih sepi, baru ada beberapa murid yang datang. Di meja barisan kedua, aku duduk bersandar sambil meluruskan kedua kakiku yang terasa luar biasa pegal. Efek latihan fisik pencak silat bersama Mas Teguh kemarin sore benar-benar membuat seluruh paha dan betisku serasa mau copot.
"Aduh... sakitnya pas mau jalan ini yang enggak tahan," gumamku pelan sambil memijat pelan betis kananku.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang ringan terdengar dari arah pintu. Nara masuk dengan seragam putih abu-abu yang sangat rapi, membawa tas ransel hitamnya. Seperti biasa, senyum tipis mengukir di wajah cantiknya begitu mata kami beradu pandang.
"Pagi, Satria," sapanya halus sambil berjalan mendekati mejanya di depanku. "Lho, jalanmu kok agak aneh begitu? Kenapa?"
Aku tertawa kecil, mencoba menutupi rasa sakit di kaki demi gengsi. "Pagi, Ra. Enggak apa-apa kok, ini cuma efek latihan silat perdana kemarin sore. Mas Teguh kasih porsi push-up sama squat jump yang lumayan banyak."
Nara menghentikan tangannya yang hendak mengeluarkan buku dari tas. Dia menoleh, menatapku dengan raut wajah yang penuh rasa ingin tahu bercampur khawatir.
"Beneran enggak apa-apa? Jangan dipaksa kalau sakit banget, Satria. Nanti malah cedera," ucapnya pelan, nada suaranya terdengar sangat tulus.
"Aman, Ra! Laki-laki kan memang harus dibentuk keras," balasku mantap sambil menepuk dadaku pelan, walau dalam hati meringis menahan pegal di paha.
Nara menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahku, tapi tawa kecil tetap lolos dari bibirnya. "Dasar sok kuat. Ya udah, nanti pas jam istirahat jangan banyak jalan-jalan dulu. Duduk aja di kelas."
Perhatian kecil dari Nara itu rasanya ampuh membunuh seluruh rasa pegal di sekujur tubuhku. Ada perasaan hangat yang mendadak meletup di dalam dada.
Jam pelajaran Bahasa Indonesia siang itu berlangsung agak santai. Ibu Rahma, guru kami yang berparas ramah, memberikan tugas kelompok untuk membuat makalah puisi dan cerpen. Seperti biasa, aku, Nara, Diko, dan Lina berada dalam satu kelompok yang sama. Kami menggeser meja agar bisa saling berhadapan.
Di meja kelompok yang agak sempit itu, Nara sudah sibuk merapikan lembaran kertas HVS putih. Di tangannya, dia memegang sebuah Staples atau isi staples besi berukuran sedang berwarna biru, siap menyatukan lembaran-lembaran tugas kami yang sudah selesai diketik.
Diko di sebelahku sedang asyik menggambar pola tidak jelas di pojok bukunya, sementara aku mulai merasa bosan karena tugas bagianku sudah selesai sejak sepuluh menit yang lalu. Jiwa usil dan konyolku mulai meronta-ronta melihat Nara yang begitu serius bekerja di depan mata.
"Ra," panggilku pelan sambil memajukan wajahku ke arah meja Nara.
"Kenapa, Satria?" sahut Nara tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas.
"Kamu tahu enggak bedanya kertas HVS ini sama kamu?" tanyaku dengan nada sok puitis.
Nara menghentikan aktivitas menatap kertasnya, lalu mendongak menatapku dengan alis terangkat sebelah. "Apa bedanya?"
"Kalau kertas HVS ini putihnya membosankan, tapi kalau kamu... putihnya bikin kangen setiap hari," ucapku sambil tertawa cengengesan, mencoba melemparkan gombalan receh ala anak SMA.
Diko yang mendengar itu langsung mendengus tertawa geli. "Jadul banget gombalanmu, Sat! Gak mempan buat anak IPA 2!"
Nara memutar kedua bola matanya, berpura-pura kesal walau sudut bibirnya tertahan untuk tidak tersenyum. "Gak lucu, Satria. Jangan ganggu dulu, ini dikit lagi selesai mau dikumpul ke meja Bu Rahma."
Tapi bukannya berhenti, aku justru semakin sengaja menggoda dan mengganggunya. Aku mengambil pulpen gel milik Nara yang tergeletak di meja, lalu menyembunyikannya di belakang punggungku sambil memasang muka tanpa dosa.
"Satria, balikin pulpenku," minta Nara sambil menyodorkan telapak tangannya.
"Pulpen yang mana? Aku enggak ambil kok," balasku sambil menahan tawa, terus berpura-pura tidak tahu.
"Satria, beneran! Jangan canda terus, nanti garisnya gak rapi," Nara mulai menaikkan nada suaranya sedikit. Wajah cantiknya ditekuk, menunjukkan raut gemas bercampur agak kesal.
"Ambil sendiri kalau bisa!" godaku lagi sambil menggoyang-goyangkan badanku ke kiri dan ke kanan, makin memancing emosinya.
Kejadian selanjutnya berlangsung sangat cepat, hanya dalam hitungan detik. Karena merasa sangat gemas dan kesal dengan kelakuanku yang kelewat batas dalam bercanda, Nara yang saat itu sedang memegang staples besi di tangan kanannya, secara refleks dan spontan mengayunkan tangannya melemparkan benda tersebut ke arahku.
Puk!
Benda besi itu melayang di udara dan mendarat tepat di wajahku—lebih tepatnya menyambar area tulang pipi tepat di bawah mata kiriku!
"Aduh!" pekikku tertahan sambil refleks memegangi bawah mataku yang terasa menyengat perih secara mendadak.
Suasana di meja kelompok kami seketika mendadak hening total. Diko yang tadinya tertawa langsung bungkam seketika, matanya membelalak lebar melihat kejadian itu.
"Sat... mukamu..." bisik Diko gagap.
Aku meraba area bawah mata kiriku dengan jemari tangan. Begitu menarik tanganku kembali, ada cairan merah segar yang menempel cukup tebal di ujung jariku. Ujung besi staples tadi ternyata mengenai kulit tipis di bawah mataku hingga berdarah cukup deras.
Nara yang menyaksikan hal itu mendadak membeku di tempatnya. Wajahnya yang tadinya kemerahan karena kesal seketika berubah pucat pasi bagaikan kertas HVS di atas meja. Mata bulatnya terbuka lebar, dipenuhi rasa syok, kaget, dan panik yang luar biasa.
"Satria! Astaga... kamu berdarah!" teriak Nara dengan suara gemetar hebat. Staples yang ada di tangannya langsung dilepas begitu saja ke atas meja.
Nara dengan panik berdiri dari kursinya, tidak peduli lagi dengan tugas Bahasa Indonesia atau pandangan anak-anak lain di dalam kelas. Dia merogoh tas sekolahnya dengan tangan gemetar, mengambil sebungkus tisu bersih dan botol air mineral.
"Maaf, Satria! Maaf banget! Aku beneran enggak sengaja, aku cuma refleks tadi karena gemas sama kamu!" ucap Nara bertubi-tubi dengan nada suara yang campur aduk antara panik, merasa bersalah, dan mau menangis.
Dia bergeser mendekati posisi dudukku, lalu dengan hati-hati dan perlahan menusukkan tisu bersih ke area bawah mataku yang berdarah. Jarak wajah kami mendadak menjadi sangat dekat. Aku bisa melihat dengan sangat jelas betapa paniknya raut wajah Nara, sampai-sampai matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hendak menetes.
Aroma wangi lembut khas bedak bayi dari tubuhnya menepis rasa perih di lukaku. Merasakan sentuhan jemari lentiknya yang gemetar mengusap pipiku, rasa sakit akibat lemparan staples itu mendadak hilang begitu saja dari pikiranku.
"Sakit banget ya, Satria? Aduh, gimana ini... kita ke UKS ya sekarang?" tanya Nara panik, matanya menatap lurus ke dalam mataku dengan rasa bersalah yang teramat sangat.
Aku menatap wajahnya yang panik itu, lalu sebuah senyuman tipis justru terukir di bibirku. Walau bawah mataku terasa agak berdenyut perih, melihat betapa besarnya rasa khawatir dan peduli yang ditunjukkannya saat ini membuat rasa sakit itu terasa sangat sepadan.
"Tenang, Ra... Enggak apa-apa kok, cuma lecet dikit," jawabku pelan dengan nada suara semanis mungkin untuk menenangkannya. "Lagipula ini salahku juga, bercandanya kelewat batas bikin kamu kesal."
"Tepi ini berdarah, Satria! Nanti kalau bekas lukanya enggak hilang gimana?" sahut Nara masih dengan raut panik, terus memegangi tisu di pipiku agar darahnya berhenti mengalir.
"Ya kalau bekas lukanya enggak hilang, berarti luka ini bakal jadi kenang-kenangan dari kamu," balasku terkekeh pelan.
"Bisa-bisanya kamu masih bercanda di saat muka kamu berdarah begitu!" omel Nara, walau kini nada suaranya melemah. Ada hembusan napas lega saat melihat darah di bawah mataku mulai berhenti mengalir.
Diko di sebelah kami cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kami berdua. "Asli ya kalian berdua... yang satu dilempar staples sampai berdarah malah tersenyum, yang satu lagi pelemparnya malah mau menangis."
Hari itu, sebuah luka kecil terukir tepat di bawah mata kiriku. Sebuah bekas luka yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Karena di balik perihnya sabetan besi staples siang itu, aku tahu ada rasa peduli dan kehangatan luar biasa dari Nara yang terungkap tanpa sengaja di depan seluruh isi kelas.