Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Teror
Dua hari telah berlalu sejak malam kelam yang dipenuhi kejar-kejaran di bawah guyuran hujan deras. Suasana di kamar perawatan VIP RSUD Bina Husada terasa begitu tenang, sebuah ketenangan semu yang justru terasa menghimpit bagi Arya.
Luka lecet di pelipis Arya mulai mengering, dan rasa nyeri di rusuknya sudah jauh berkurang. Selama 48 jam terakhir, Arya menghabiskan waktunya berbaring menatap langit-langit kamar yang putih polos.
Di dalam pikirannya, ia berulang kali membayangkan keadaan Dian Pertiwi. Ia berharap jurnalis muda yang berani itu sudah berada di tempat aman, terlindungi oleh pihak berwajib, atau setidaknya bersembunyi di lokasi yang tak terjangkau oleh tangannya Nusantara Utama Group.
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca, membiaskan cahaya hangat ke atas ranjang pasien. Arya mencoba duduk tegak, dan meraih segelas air putih di atas meja nakas.
Cklek.
Pintu kamar perawatan terbuka perlahan. Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat. Arya menoleh, dan berharap melihat Dokter yang mengurusnya atau petugas pembersih ruangan. Namun, yang berdiri di ambang pintu adalah Iptu Farhan.
Polisi senior itu mengenakan jaket kulit hitam yang agak kusam. Wajahnya terlihat sangat lelah, lingkaran hitam samar membingkai matanya, dan ekspresi mukanya begitu kelam, berbeda jauh dari aura ketegasan yang biasa ia pancarkan.
Farhan tidak langsung berbicara. Ia hanya melangkah masuk, menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu memutar kuncinya dari dalam.
Rasa cemas mendadak merayapi dada Arya. Ia merasa... Ada sesuatu yang salah.
"Pak Farhan...?" panggil Arya pelan, seraya meletakkan gelasnya kembali. "Ada apa, Pak? Bagaimana dengan pengamanan ruang arsip lantai tiga? Dan... bagaimana dengan Mbak Dian?"
Farhan melangkah mendekati sisi tempat tidur. Ia tidak langsung duduk. Pandangannya tertuju lurus pada Arya dengan tatapan yang dipenuhi rasa duka dan berat hati.
"Arya..." Farhan menarik napas panjang, suaranya terdengar serak dan berat. "Ada berita buruk yang harus saya sampaikan."
Jantung Arya berdegup kencang secara mendadak. "Berita buruk? Soal apa, Pak?"
Farhan merogoh saku dalam jaketnya, dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat berstempel kepolisian, lalu meletakkannya di atas meja nakas.
"Tadi pagi pukul 06.00 WIB... tim patroli menerima laporan warga mengenai penemuan jasad seorang wanita di bawah Jembatan Sungai Ciliwung, daerah Kaliwadas," kata Farhan dengan nada amat pelan.
Darah Arya rasanya mendadak berhenti mengalir. "Jasad... wanita?"
"Identitasnya sudah dikonfirmasi," lanjut Farhan, matanya menatap tajam pada reaksi Arya. "Dian Pertiwi. Jurnalis yang bersamamu malam itu."
BAM!
Dunia di sekitar Arya seolah runtuh seketika. Suara detak mesin pemantau jantung di sampingnya mendadak berbunyi nyaring, melacak peningkatan drastis denyut nadinya. Arya mengepalkan jemarinya kuat-kuat di atas selimut rumah sakit.
"Nggak... nggak mungkin..." bisik Arya, suaranya bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya. "Mbak Dian... tertangkap?! Tapi malam itu... malam itu saya sudah minta dia lari ke arah jalan utama! Saya yang mengalihkan perhatian para penjahat itu, Pak! Bagimana bisa..."
Farhan mengepalkan tangannya di dalam saku jaket. "Dari hasil olah TKP awal dan pemeriksaan fisik sementara oleh tim forensik lapangan... Dian disimpulkan sebagai korban tabrak lari."
"Tabrak lari?!" potong Arya dengan nada tinggi, bercampur amarah dan ketidakpercayaan. "Bohong! Itu bukan tabrak lari biasa, Pak! Dia tertangkap oleh orang-orangnya Nusantara Utama Group! Mereka membunuhnya dan membuang jasadnya ke bawah jembatan untuk merekayasa seolah-olah itu kecelakaan!"
"Saya tahu, Arya! Saya tahu persis itu!" bentak Farhan pelan namun penuh penekanan. "Tapi secara prosedur kepolisian formal, bukti-bukti di lapangan diarahkan ke sana! Kendaraan yang menghantamnya tidak meninggalkan jejak plat nomor, dan lokasi di bawah jembatan itu adalah area buta tanpa kamera CCTV. Penjahat-penjahat itu bekerja sangat rapi dan tanpa ampun!"
Arya menutup wajahnya dengan kedua belah tangan. Isak tangis yang tertahan pun keluar dari sela-sela jarinya. Penyesalan yang luar biasa dahsyat menghantam dadanya hingga rasa sakit bekas benturan di rusuknya tak lagi terasa.
"Ini semua... salah saya..." cicit Arya seraya menggelengkan kepalanya yang dibalut perban. "Kalau saja... kalau saja saya tidak menghubungi Mbak Dian malam itu... kalau saja saya tidak menyeretnya ke dalam masalah ini... dia masih hidup sekarang..."
"Arya, dengarkan saya—"
"Dia cuma jurnalis muda yang mau menegakkan keadilan untuk Pak Bambang!" jerit Arya terisak, suaranya pecah oleh rasa bersalah yang membakar. "Saya yang mendatangi dia! Saya yang meyakinkan dia kalau Pak Bambang dibunuh! Saya yang memintanya memegang kode itu! Dan sekarang... dia mati karena saya..."
Farhan menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Arya. Polisi tegap itu memegang bahu Arya yang berguncang hebat, dan menahannya agar tetap stabil.
"Tenangkan dirimu, Arya! Ini bukan salahmu!" tegas Farhan. "Orang-orang yang membunuh Dian dan Bambang adalah iblis tanpa nurani! Jika kamu tidak menghubungi Dian pun, cepat atau lambat mereka akan tetap menghabisi Dian karena Dian memegang kunci investigasi itu!"
Namun kata-kata Farhan tak sanggup mengikis rasa takut luar biasa yang mendadak melumpuhkan jiwa Arya.
Arya bukanlah seorang pahlawan bertopeng. Ia bukan detektif bersenjata atau polisi yang dilatih bertarung. Ia hanyalah seorang pemulasara jenazah, seorang pemuda biasa yang bekerja di ruang dingin rumah sakit, dan mengurus tubuh-tubuh kaku yang tak bernyawa.
Selama ini, kemampuan supranatural yang dimilikinya membuat ia merasa memiliki kewajiban moral. Namun kini, realitas kejam dari dunia nyata menghantamnya tanpa belas kasihan.
Orang-orang mati itu tak bisa diselamatkan lagi, tapi orang-orang hidup di sekitarnya hancur satu per satu.
Pikiran bahwa nyawanya sendiri sedang diincar kini menjadi sangat nyata dan mengerikan.
Jika seorang jurnalis vokal seperti Dian bisa dibunuh secara keji dan dibuang begitu saja di bawah jembatan tanpa ada hukum yang mampu menyentuh pelakunya, lalu apa artinya hidup seorang pemulasara biasa seperti dirinya?
Napas Arya menjadi buru-buru, dan dipenuhi serangan panik. Matanya liar menatap sekeliling kamar VIP tempat ia dirawat.
Setiap sudut ruangan terasa seperti tempat persembunyian pembunuh. Setiap decitan pintu atau langkah kaki di koridor luar terasa seperti ancaman kematian yang datang mengepungnya.
"Mereka... mereka tahu siapa saya..." gumam Arya dengan bibir pucat pasi, sementara tubuhnya gemetaran hebat. "Mereka tahu saya yang mengurus jasad Pak Bambang... Mereka tahu saya bersama Dian malam itu... Pak Farhan... mereka bakal datang kemari... Mereka bakal bunuh saya juga!"
"Arya, tenang! Kamu ada di bawah pengamanan!" ujar Farhan mencoba menenangkan.
"Pengamanan apa, Pak?!" cecar Arya dengan mata membelalak ketakutan. "Bahkan polisi saja tidak bisa membuktikan kalau Pak Bambang dan Mbak Dian dibunuh! Kertas manifes rumah sakit diincar, orang-orang berjas itu bebas berkeliaran di RSUD ini! Bagaimana saya bisa merasa aman?!"
Arya mencoba mencabut selang infus dari punggung tangannya dengan kasar!
Sreeek!
Darah segar menetes dari bekas tusukan jarum. Arya berniat turun dari ranjang, tangannya gemetar mencoba meriah pakaian biasanya.
"Arya! Apa yang kamu lakukan?!" Farhan berdiri dan menahan kedua tangan Arya secara paksa.
"Saya harus pergi dari sini, Pak! Saya tidak mau mati! Saya mau keluar dari kota ini!" jerit Arya histeris. Rasa takut akan kematian merenggut seluruh logikanya. Bayangan wajah Dian yang kaku dan basah di bawah jembatan terus membayangi pikirannya.
"Arya, dengarkan saya! Cukup!" bentak Farhan keras seraya menatap lurus mata Arya yang dipenuhi kepanikan. "Kalau kamu keluar dari rumah sakit ini sendirian tanpa perlindungan, kamu justru mempermudah pekerjaan mereka untuk membunuhmu!"
Arya tertegun. Bentakan keras Farhan menghentikan pergerakannya sejenak, meski tubuhnya masih gemetaran hebat.
"Dian Pertiwi sudah mengorbankan nyawanya," kata Farhan dengan suara rendah namun sangat dalam dan dingin. "Pak Bambang Gunawan mengorbankan nyawanya. Apakah kamu mau membiarkan kematian mereka berdua menjadi sia-sia begitu saja dengan lari seperti penakut?"
"Tapi saya bukan siapa-siapa, Pak Farhan!" tangis Arya pecah kembali, ia kemudian terduduk lemas di tepi ranjang, sambil menutup wajahnya. "Saya cuma tukang mandikan mayat! Saya tidak punya senjata, saya tidak punya kekuasaan! Saya cuma orang biasa yang ketakutan!"
Bersambung...