NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 21

BAB 21

Di saat kegelapan mendadak menyergap ruang VIP Arum House di pusat kota, puluhan kilometer di sebelah utara, Bengkel Pencagai justru diterangi oleh pendar merah membara dari dalam tungku tempaan. Hawa panas meluap memoles dinding-dinding batu tua yang kusam dan menebarkan aroma khas arang serta belerang ke seluruh penjuru ruangan.

KLANG! KLANG! KLANG!

Irama dentang palu besi yang dihantamkan Rendra ke atas lempengan kuningan panas bergema secara konstan, membelah kesunyian malam di kawasan industri tua. Keringat membasahi kemeja hitamnya yang tergulung, menetes di atas celemek kulit yang bernoda jelaga. Di sampingnya, Maya berdiri fokus dengan mata tak berkedip, memegangi penjapit baja untuk menjaga posisi lempengan logam agar tetap sejajar dengan pola siluet kain sutranya.

"Tahan di sudut tiga puluh derajat, Maya!" seru Rendra di antara deru blower tungku. Suaranya berat dan sarat akan komando teknis yang tak boleh dibantah. "Sedikit saja lempengan ini melengkung salah, kerangka ini akan menekan kulit tubuh peragawati saat gaunnya dikenakan!"

Maya menahan napas, mengerahkan seluruh tenaga di kedua tangannya untuk menjaga kestabilan peniti penahan. Hawa panas dari logam yang membara menyengat kulit wajahnya, namun tak sedikit pun ia menyurutkan cengkeramannya.

"Sudah tepat di sudutnya, Rendra!" balas Maya nyaring, suaranya mengeras menembus gemuruh api. "Hantam sekarang!"

KLANG!

Satu pukulan presisi dari palu Rendra mengunci lengkungan kuningan tersebut dengan sempurna. Pendar cahaya keemasan terpancar tipis saat permukaan logam panas itu bersentuhan rapat dengan lipatan sutra organza hitam yang telah disiapkan Maya di atas meja tempa.

Nia, yang berdiri di sudut ruangan sambil mengawasi lembar draf hukum dan sampel benang, menghela napas lega.

"Luar biasa..." bisiknya takjub. "Garis tempaan logam itu memeluk lekuk sutra tanpa merusak serat kainnya sedikit pun! Ini benar-benar perpaduan yang tak masuk akal!"

Rendra menyiramkan wadah air pendingin ke atas lempengan yang baru saja ditempa.

SSSHHH!

Kepulan uap putih membumbung tinggi, membawa aroma khas besi dan belerang yang memenuhi udara gudang. Rendra menyapu keringat di dahinya dengan lengan celemek, lalu menatap Maya yang masih berdiri tegak di hadapannya. Rambut Maya sedikit berantakan dan pipinya tercoreng jelaga tipis, namun matanya memancarkan pendar keteguhan yang tak tertandingi.

"Kau tidak meringis sama sekali saat percikan api mengenai lenganmu," ujar Rendra pelan, menatap titik merah kecil di kulit lengan Maya.

Maya melirik lengannya sekilas, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh tekad yang meluluhkan rasa lelah di antara mereka. "Kulitku bisa sembuh dalam beberapa hari, Rendra. Tapi jika rumah modeku hancur besok, tidak ada tempat untuk memulihkannya kembali."

Rendra menatap wanita itu lebih dalam. Kesan kaku di wajahnya perlahan mencair, menyisakan penghormatan murni atas ketangguhan jiwa sang desainer. Ia meraih selembar kain bersih, menyerahkannya pada Maya.

"Bersihkan wajahmu," kata Rendra datar, walau intonasinya melunak tajam. "Kita masih punya dua modul sabuk penopang di bagian pinggang yang harus diselesaikan sebelum fajar."

Namun, belum sempat Maya menyambut kain tersebut, seluruh deru blower tungku dan pijar lampu gantung di dalam gudang mendadak mati total.

CEKLEK!

Kegelapan seketika menyelimuti seluruh isi Bengkel Pencagai. Hanya pendar merah redup dari sisa bara arang di dalam tungku yang masih tersisa, membiaskan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding gudang.

"Ada apa ini?!" seru Nia panik dari kegelapan, bunyi kursi yang terdorong kasar terdengar nyaring. "Listrik padam?!"

"Jangan bergerak, Nia!" pangkas Rendra cepat dan tegas.

Pria itu langsung merentangkan tangannya secara refleks, pasang badan tepat di depan tubuh Maya. Suasana di dalam gudang berubah menjadi sangat hening, begitu pekat hingga suara detak jantung mereka sendiri terdengar nyaring.

Dari luar gudang, di balik pintu besi geser yang terkunci rapat, terdengar derap langkah kaki sepatu boot tebal yang melangkah perlahan di atas tanah kering. Langkah-langkah itu berhenti tepat di depan ambang pintu, disusul oleh suara berdecit halus dari alat pemotong besi yang mulai menyentuh engsel luar.

Anak buah Victor telah tiba untuk mengeksekusi rencana sabotase mereka.

Maya merapatkan tubuhnya di belakang Rendra, jemarinya secara refleks mencengkeram erat bagian belakang celemek kulit yang dikenakan pria itu. Rendra menggenggam tangkai palu besinya tebal-tebal, matanya menyipit tajam menembus kegelapan, bersiap menghadapi ancaman yang mulai merayap masuk.

CRAGGK!

Suara pecahan engsel besi yang terpotong paksa bergema nyaring, membelah keheningan malam. Pintu geser utama terdorong lebar secara mendadak, menembus kabut asap uap pendingin. Tiga sosok pria bertubuh tegap dengan kain penutup wajah hitam melangkah masuk, memegang batang pipa besi dan lampu senter berdaya tinggi yang langsung mengarah lurus ke mata Rendra dan Maya.

"Serahkan seluruh kerangka logam dan gulungan kain itu sekarang kalau kalian masih sayang nyawa!" gertak pria berbadan paling besar di barisan depan, suaranya berat dan sarat ancaman.

Sorotan lampu kilat senter membuat mata Maya menyipit perih, namun Rendra tidak sedikit pun bergeming. Ia merentangkan lengan kirinya, mengunci posisi Maya di belakang punggungnya seraya mengayunkan palu besi berat di tangan kanannya.

"Kau salah tempat kalau ingin bermain gertakan di bengkelku," desis Rendra dingin, suaranya mengandung bahaya yang jauh lebih mengerikan dibanding dentang palu tempa.

Tanpa menunggu hitungan kedua, pria berbadan besar itu menerjang maju seraya mengayunkan pipa besi lurus ke arah kepala Rendra. Namun dengan refleks secepat kilat, Rendra menangkis serangan itu menggunakan tangkai palunya. Dentuman keras besi beradu besi bergema memekakkan telinga, memercikkan bunga api di tengah kegelapan.

"Maya, tiup bara api di tungku sekarang!" teriak Rendra seraya menyiku dada lawannya hingga tersungkur.

Maya tidak membuang waktu. Ia merebut selang hembusan angin manual di sisi tungku, menyuntikkan oksigen murni ke dalam arang membara. Seketika, lidah api keemasan membumbung tinggi dari dalam tungku, menerangi seluruh sudut bengkel dan menyilaukan mata para penyusup!

Menggunakan momen silau itu, Rendra menerjang dua penyusup sisanya dengan gerakan tegas dan presisi seorang penempa besi. Satu pukulan balok kayu mengenai lutut lawan, sementara sapuan kakinya merubuhkan pimpinan penyusup hingga terhempas ke tumpukan besi tua.

"Cepat ambil kerangka logam dan gaun itu! Kita keluar lewat pintu belakang!" perintah Rendra tegas seraya meraih tangan Maya.

Maya mengangguk cepat, menyambar gaun sutra organza yang terbungkus pelindung kedap air, sementara Nia memeluk erat draf berkas dan kotak sampel benang. Di bawah pendar api tungku yang membumbung tinggi, Rendra menendang palang besi pintu belakang bengkel hingga terbuka lebar. Mereka bertiga menerobos kegelapan malam kawasan industri, meninggalkan para penyusup yang masih terhuyung.

Rendra memastikan logistik dan kerangka logam mereka selamat masuk ke dalam kendaraan evakuasi. Maya menatap Rendra dengan napas memburu dan dada berdesir hebat—mereka berhasil lolos dari serangan fisik malam itu. Namun, di saat yang sama, Maya menyadari bahwa bahaya sesungguhnya baru saja dimulai. Perangkap yang dipasang Victor tidak hanya berhenti pada sabotase listrik dan preman pasar, melainkan sebuah konspirasi hukum dan finansial tingkat tinggi yang siap meledak di puncak kompetisi.

Rendra mencengkeram bahu Maya, menatap matanya dengan pendar keteguhan yang tak goyah. "Logistik kita aman malam ini, Maya. Tapi simpan tenagamu... esok hari kita akan berhadapan langsung dengan monster yang sebenarnya di panggung final."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!