"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Obrolan Kecil
Zahira melangkah masuk dan duduk di kursi penumpang depan SUV mewah tersebut. Busa jok kulit yang empuk dan aroma wangi interior mobil yang dingin seketika menyambut tubuhnya yang lelah, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan teriknya jalanan yang baru saja ia lalui.
Elvan mengitari bagian depan mobil, duduk di kursi kemudi, lalu menutup pintu. Ia melajukan kendaraan mewahnya kembali membelah arus jalan raya menuju arah Kafe 55.
Di dalam mobil, suasana hening yang cukup pekat mendadak tercipta. Kecepatan dan kecanggihan mobil Elvan membuat kebisingan jalanan di luar sama sekali tidak terdengar, menyisakan hanya suara hembusan AC yang lembut.
Zahira duduk agak kaku di kursinya, memangku tas kain cokelatnya erat-erat. Ia merasa sangat canggung berada di dalam mobil mewah bersama pria dewasa seperti Evan.
Untuk membendung rasa canggungnya, Zahira mengeluarkan ponselnya dari tas, berpura-pura sibuk memeriksa pesan yang masuk.
Layar ponselnya dipenuhi oleh notifikasi pesan singkat. Dua nama mendominasi: Hanum dan Gisel.
Zahira membuka obrolan dari Gisel terlebih dahulu.
[Gisel: Ra! Kamu di mana?! Hanum baru aja kasih tau aku katanya motor kamu mogok di jalan?!]
[Gisel: Kamu gak apa-apa kan?! Lokasi kamu di mana sekarang? Aku siap-siap jalan pakai mobil nih buat jemput kamu dan bawa motor kamu ke bengkel! Balas Ra!]
Zahira mengulas senyum hangat membaca kepanikan sahabat karibnya itu. Jemari lentiknya dengan cepat mengetik balasan di atas layar.
[Zahira: Gisel, tenang... Aku gak apa-apa kok. Jangan susul aku.]
[Zahira: Tadi pas aku lagi kebingungan di pinggir jalan, kebetulan ketemu sama Om kamu yang lagi lewat. Sekarang aku sudah di dalam mobil mas Elvan, lagi diantarin menuju Kafe 55.]
[Zahira: Motor aku juga sudah ditangani sama anak buah bengkelnya mas Elvan. Kamu tidak usah khawatir ya, Sel. Terima kasih banyak.]
Hanya butuh hitungan detik hingga muncul balasan dari Gisel.
[Gisel: APA?! Ketemu Om Elvan?!]
[Gisel: Ya ampun, alhamdulillah! Kebetulan banget Si Om melintas di sana! Ya sudah kalau kamu sama Om Elvan aku tenang. Dia pasti jagain kamu dan beresin motor kamu sampai tuntas.]
[Gisel: Semangat kerja ya Ra! Kebetulan pagi ini aku Udah ada di kafe, ambil buku aku yang ketinggalan. Maklum aku baru mau nyusun skripsi. hehehe!]
Zahira membalas pesan Gisel dengan stiker senyum, lalu beralih membalas pesan Hanum untuk memberitahukan bahwa posisinya sudah semakin dekat dengan kafe, sehingga Hanum bisa tenang.
Di sampingnya, Elvan tetap fokus memegang kemudi. Sesekali, dari balik kaca mata tipisnya, mata tajam Elvan mencuri pandang ke arah gadis di sebelahnya.
Elvan memperhatikan bagaimana Zahira berinteraksi dengan ponselnya, menangkap raut ketulusan, kesederhanaan, namun juga ketegaran yang amat besar dari sosok gadis muda ini.
Elvan sangat tahu latar belakang keluarga Zahira dari cerita-cerita yang sering dibagikan oleh keponakannya, Gisel. Ia tahu betapa Zahira diperlakukan tidak adil di rumahnya sendiri oleh ibu tiri dan adiknya Bianka.
Namun setiap kali melihat Zahira secara langsung, tidak pernah sekalipun Elvan melihat raut dendam atau keluhan dari wajah gadis itu. Yang ada hanyalah kepribadian yang tenang, santun, dan kerja keras yang luar biasa.
"Gisel khawatir sekali sama kamu?" tanya Evan memecah keheningan di dalam mobil, suaranya tenang dan ramah.
Zahira menoleh pelan, memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. "Iya, mas. Gisel tadi sempat mau nekat jalan buat nyusul dan bantu saya. Dia memang selalu begitu, sangat perhatian."
Elvan tersenyum tipis, matanya tetap menatap lurus ke jalan raya di depan. "Gisel itu sangat menyayangi kamu sebagai sahabatnya, Zahira. Jarang-jarang saya melihat Gisel bisa sereda dan sepeduli itu sama orang lain kalau bukan sama kamu. Itu artinya kamu adalah sosok yang sangat berharga buat dia."
Zahira menunduk malu, merasakan kehangatan menjalar di dadanya.
"Saya yang justru sangat beruntung punya sahabat seperti Gisel, mas. Di saat orang lain mungkin memandang sebelah mata pada saya, Gisel selalu ada di garis depan buat membela dan mendampingi saya."
Evan manggut-manggut pelan. "Orang yang tulus akan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang tulus juga, Zahira. Kamu tidak perlu merasa beruntung secara sepihak. Gisel pun pasti merasa beruntung punya sahabat yang seperti kamu."
Kalimat sederhana dari Elvan itu entah mengapa menghantam salah satu sudut hati Zahira yang paling dalam.
Selama ini, di rumah megah keluarga Damian, apa pun yang dilakukan Zahira selalu dianggap salah, kurang, atau dibanding-bandingkan secara kaku.
"Terima kasih, mas Elvan..." bisik Zahira tulus.
"Dua hari lagi kamu sidang skripsi, kan. Saya tahu dari Gisel?" tanya Evan mengalihkan topik, mengingat informasi yang pernah diceritakan Gisel saat makan malam keluarga minggu lalu.
"Iya, mas. Hari Kamis besok jadwal sidang saya," jawab Zahira dengan mata berbinar pelan, ada sedikit nada antusias campur gugup saat membahas pendidikannya.
"Sudah siap semuanya?"
"InsyaAllah sudah, mas. Draf materi dan presentasi slide sudah selesai, tinggal pemantapan mental dan penguasaan materi saja nanti malam."
"Bagus," puji Elvan mantap. "Fokus saja pada sidang kamu. Jangan biarkan hal-hal kecil atau gangguan di luar sana merusak konsentrasi kamu. Kalau kamu butuh bantuan apa pun terkait persiapan atau apapun, kamu bisa minta bantuan Gisel... atau hubungi saya langsung."
Zahira terpana sejenak mendengar tawaran itu. Perhatian dan kebaikan Elvan terasa sangat menyejukkan di tengah kerasnya alur kehidupan yang harus ia jalani saban hari.
"Iya, mas. Terima kasih banyak atas kebaikan mas Elvan," tutur Zahira lembut.
.
.
Mobil SUV hitam milik Evan perlahan melambat saat memasuki kawasan pelataran parkir Kafe 55. Bangunan kafe bernuansa kayu dan kaca modern itu sudah mulai terlihat hidup, dengan beberapa pelanggan duduk di area outdoor menikmati sarapan dan kopi pagi.
Evan menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk utama kafe.
Zahira dengan cepat melepas sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Elvan dengan rasa hormat yang mendalam.
"Mas Evan, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak sudah menolong dan mengantarkan saya pagi ini. Saya tidak tahu jadi apa kalau tidak ketemu mas Elvan tadi di jalan," ucap Zahira tulus seraya menundukkan kepalanya sedikit.
Evan tersenyum hangat, mengangguk pelan. "Sama-sama, Zahira. Sudah tugas kita sesama manusia untuk saling membantu. Selamat bekerja, dan sukses untuk persiapan sidang skripsi kamu."
"Baik, mas. Saya permisi dulu. Hati-hati di jalan, mas Elvan."
Zahira membuka pintu mobil, melangkah turun ke pelataran kafe dengan senyum yang kini merekah penuh energi baru.
Ia membalikkan badan sejenak, melambaikan tangan pelan saat mobil mewah Elvan mulai bergerak perlahan meninggalkan pelataran Kafe 55.
Meskipun paginya diawali dengan kepanikan, peluh, dan kekecewaan di depan pintu bengkel yang terkunci, Zahira menyadari satu hal: di balik setiap kesulitan yang menguji ketabahannya, semesta selalu punya cara untuk mengirimkan tangan-tangan tulus yang siap menopangnya untuk terus melangkah maju.
Dan dengan keyakinan itu, Zahira mendorong pintu kaca Kafe 55, siap menyambut harinya dengan kepala tegak.