Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Suami yang tak pernah di duga
Pukul sembilan pagi akhirnya tiba. Suasana kediaman Ustaz Malik di kawasan Lembang semakin ramai. Para anggota keluarga yang sejak pagi berkumpul kini mulai menempati tempat duduk masing-masing. Hidangan sudah tersaji di atas meja, minuman hangat telah disiapkan, dan percakapan yang semula riuh perlahan mereda karena semua orang menantikan kedatangan satu orang yang paling penting dalam pertemuan hari itu.
Yakni Mayor TNI Abimanyu Wicaksono.
Pria yang telah empat tahun tidak berkumpul bersama keluarga besarnya karena menjalankan tugas di Lebanon itu akhirnya akan kembali duduk di tengah-tengah mereka. Namun, kali ini kepulangannya bukan sekadar untuk melepas rindu, melainkan juga untuk memenuhi sebuah janji lama yang telah tertunda begitu lama.
Di ruang keluarga, Latifah duduk dengan punggung tegak. Kedua tangannya saling bertaut di atas pangkuan, sementara sesekali ia melirik jam dinding yang tergantung di sudut ruangan.
Jantungnya berdegup semakin kencang.
Sejak tadi, ia berusaha menenangkan diri dengan berzikir dalam hati. Namun, semakin dekat waktu pertemuan itu, semakin sulit pula ia mengendalikan kegelisahannya.
Di sampingnya, Umi Aisyah sesekali mengusap punggung tangannya.
"Tenang, Nak. Jangan terlalu tegang. Insyaallah, semuanya akan berjalan dengan baik," bisik sang ibu.
Latifah menoleh dan berusaha tersenyum.
"Iya, Umi. Ifah sedang berusaha menenangkan diri."
"Bagus. Ingat pesan Abi dan Umi. Kamu tidak perlu memaksakan apa pun. Kenali dia terlebih dahulu."
Latifah mengangguk pelan.
"Iya, Umi."
Namun, jauh di dalam hatinya, ada pertanyaan yang terus berputar.
"Siapa sebenarnya pria yang akan menjadi calon suamiku?"
Ia sudah mengetahui bahwa pria itu seorang duda dengan satu anak. Akan tetapi, identitasnya masih menjadi rahasia. Bahkan, keluarga calon suaminya sengaja tidak menyebutkan nama pria tersebut sampai pertemuan ini berlangsung.
Latifah sempat berpikir bahwa calon suaminya mungkin berasal dari keluarga yang memiliki hubungan jauh dengan keluarga besar ayahnya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa jawaban atas semua pertanyaan itu ternyata begitu dekat dengan kehidupannya sendiri.
Sementara itu, di sisi lain ruangan, Kaning duduk di samping Bu Almira. Bocah perempuan itu sesekali memandang ke arah pintu, kemudian kembali menoleh kepada Latifah dengan senyum yang tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya.
"Nenek," bisiknya penuh semangat.
"Ya, Sayang?"
"Papah sebentar lagi datang, kan?"
Bu Almira tersenyum sambil mengusap kepala cucunya.
"Iya. Papah sedang dalam perjalanan."
Kaning menggoyangkan kedua kakinya dengan tidak sabar.
"Kaning ingin Papah cepat datang."
"Kenapa? Kaning kangen Papah?"
Kaning mengangguk, lalu menjawab dengan polos.
"Kaning kangen Papah. Tapi Kaning juga ingin Papah segera bertemu Bu Latifah."
Bu Almira terkekeh kecil.
"Iya, Sayang. Sebentar lagi."
Kaning kemudian memandang Latifah yang sedang berbincang pelan dengan Umi Aisyah.
Dalam hati, bocah itu kembali memanjatkan doa yang sama seperti beberapa hari terakhir.
"Ya Allah, semoga Papah menikah dengan Bu Latifah. Kaning ingin Bu Latifah menjadi Bunda Kaning."
Ia tidak tahu bahwa doa sederhana yang diucapkannya dengan hati tulus itu sebentar lagi akan menemukan jawabannya. Yaitu Kedatangan Sang Mayor
Di luar rumah, sebuah mobil berwarna gelap akhirnya memasuki pelataran kediaman Ustaz Malik.
Ustaz Malik yang sedang berdiri di dekat pintu utama segera menoleh. Senyum lebar muncul di wajahnya ketika melihat kendaraan tersebut berhenti di halaman.
"Alhamdulillah, akhirnya datang juga," ucapnya lega.
Beberapa anggota keluarga langsung menoleh ke arah pintu. Suasana yang semula dipenuhi percakapan kecil seketika berubah semakin riuh.
"Itu Bima, ya?"
"Iya, sepertinya dia sudah sampai!"
"Masyaallah, akhirnya kita bisa bertemu lagi dengannya."
Kabar itu segera menyebar ke seluruh ruangan.
Bu Almira bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya berseri-seri, memperlihatkan betapa besar kerinduannya kepada putra semata wayangnya.
Kaning pun langsung berdiri.
"Papah datang?!"
"Iya, Sayang. Papahmu sudah datang," jawab Bu Almira.
Kaning hampir saja berlari ke pintu, tetapi neneknya segera menahan tangannya dengan lembut.
"Pelan-pelan, Nak. Nanti Papahmu masuk."
Bocah itu mengangguk cepat, meskipun kedua matanya terus menatap ke arah pintu.
Di dalam mobil, Bima baru saja merapikan bagian depan seragam lorengnya. Ia belum sempat berganti pakaian setelah menyelesaikan tugas kedinasan, sehingga kini ia datang dengan seragam TNI Angkatan Darat yang masih dikenakannya, lengkap dengan name tag bertuliskan Abimanyu Wicaksono.
Rambutnya yang dipotong rapi tampak sedikit berantakan karena perjalanan, tetapi penampilannya tetap tegas dan berwibawa.
Ia turun dari mobil, lalu menutup pintunya dengan hati-hati.
Udara dingin Lembang langsung menyentuh wajahnya.
Bima menarik napas panjang, kemudian menatap rumah besar di hadapannya. Ada perasaan yang sulit dijelaskan di dalam dadanya. Ia sudah beberapa kali menghadiri pertemuan keluarga, tetapi kali ini berbeda.
Hari ini ia akan bertemu dengan perempuan yang dipilihkan keluarganya sebagai calon istri. Seorang perempuan yang bahkan namanya belum ia ketahui.
Bima melangkah menuju pintu utama dengan langkah tegap. Suara sepatunya terdengar mantap di atas lantai teras, mencerminkan kedisiplinan seorang prajurit yang telah terbiasa menjalani tugas dengan penuh tanggung jawab.
Begitu memasuki ruang keluarga, ia langsung disambut oleh pemandangan yang tidak asing, yaitu para kerabat yang telah lama tidak ditemuinya kini berkumpul dengan wajah penuh kebahagiaan.
Namun, di antara begitu banyak wajah yang menyambutnya, ada satu sosok yang langsung menarik perhatiannya.
Seorang perempuan berhijab dengan gamis panjang berwarna lembut sedang berdiri di dekat sofa.
Perempuan itu menatapnya dengan mata membesar.
Wajahnya pucat.Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
Bima mengernyit, Ia mengenal wajah itu...sangat mengenalnya. Bu Latifah?
Langkahnya melambat. Untuk sesaat, ia mengira dirinya salah melihat. Namun, semakin lama ia menatap perempuan itu, semakin jelas pula bahwa sosok yang berdiri di hadapannya memang Latifah, guru yang telah merawat Kaning selama satu tahun di Darussalam.
Perempuan yang baru beberapa saat lalu dipeluk putrinya dengan penuh kerinduan. Dan sekarang, entah mengapa, perempuan itu berada di tengah keluarga yang akan mempertemukannya dengan calon istri.
Bima menatap sekeliling dengan kebingungan.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa Bu Latifah berada di sini?" gumamnya pelan
Dan mengapa semua orang memandang dirinya seolah-olah kedatangannya adalah bagian terpenting dari acara hari ini?
Sebelum ia sempat menemukan jawaban, Ustaz Malik sudah menghampirinya dengan senyum lebar.
"Assalamu'alaikum, Bima!"
Bima segera mengalihkan pandangannya dari Latifah, lalu menyalami sang paman dengan penuh hormat.
"Wa'alaikumsalam, Ustaz Malik."
Ustaz Malik tertawa kecil, kemudian menepuk bahu keponakannya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu tiba juga, Nak. Paman kira kamu akan terlambat karena pekerjaanmu."
"Maafkan Bima, Ustaz. Tadi ada beberapa urusan dinas yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Untungnya perjalanan ke sini cukup lancar."
"Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah datang."
Ustaz Malik memandangi keponakannya dengan tatapan bangga. Ia kemudian menoleh ke arah para anggota keluarga yang sejak tadi menunggu.
"Lihatlah, akhirnya Bima kembali berkumpul dengan kita. Sudah empat tahun kita tidak bertemu langsung dengannya."
Beberapa kerabat mengangguk penuh haru.
"Alhamdulillah, Bima sudah pulang."
"Masyaallah, sekarang sudah menjadi seorang mayor."
Bima tersenyum sopan kepada mereka, lalu menyalami satu per satu anggota keluarga yang menghampirinya.
Namun, di sela-sela itu, tatapannya kembali mencari sosok Latifah.
Perempuan itu masih berdiri di tempat yang sama.
Wajahnya tampak begitu terkejut, seolah-olah baru saja melihat sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Bima mulai merasakan keganjilan yang semakin besar. Ia menoleh kepada Ustaz Malik.
"Ustaz, maaf. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Bima tanyakan."
"Ya, apa itu?"
Bima sempat terdiam. Matanya kembali tertuju kepada Latifah.
"Perempuan itu …."
Ia berhenti sejenak, seolah sedang memastikan bahwa dirinya tidak salah mengenali seseorang.
"Apakah beliau keluarga dari pihak calon istri Bima?"
Ustaz Malik mengikuti arah pandang keponakannya. Begitu melihat Latifah, senyumnya justru semakin lebar.
"Oh, jadi kamu sudah melihatnya?"
Bima mengernyit semakin dalam.
"Melihat siapa, Ustaz?"
Ustaz Malik menepuk bahunya sekali lagi.
"Calon istrimu, Bima."
Dunia seolah telah berhenti berputar.Bima membeku.
Matanya membesar, sementara rahangnya mengeras karena terkejut.
"Apa?"
Suaranya keluar nyaris seperti bisikan.
Ustaz Malik tertawa kecil, mengira keponakannya hanya terkejut karena belum terbiasa dengan suasana pertemuan tersebut.
"Iya, Nak. Sekarang waktunya kamu berkenalan secara resmi."
Bima menelan ludah. Tatapannya kembali tertuju kepada Latifah.
Jangan-jangan ….
Namun, pikirannya menolak menyelesaikan dugaan tersebut.
Tidak mungkin.
Bukankah Latifah adalah guru mengaji Kaning?
Bukankah selama ini ia hanya mengenal perempuan itu sebagai sosok yang telah membantu putrinya tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri?
Bagaimana mungkin perempuan yang berdiri di hadapannya sekarang adalah calon istri yang selama ini dirahasiakan keluarganya?
Bima bahkan belum sempat menyusun kata-kata ketika Ustaz Malik kembali berbicara.
"Ayo, Bima. Kemarilah."
Sang paman kemudian menuntunnya menuju bagian tengah ruang keluarga, tempat Latifah berdiri bersama kedua orang tuanya.
Setiap langkah terasa semakin berat bagi Bima.
Sementara itu, Latifah masih tidak mampu mengalihkan pandangannya dari pria berseragam loreng yang berjalan mendekat.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa seolah-olah seluruh orang di ruangan itu bisa mendengar suara detaknya.
"Tidak mungkin. Ya Allah, apakah aku tidak salah melihat? Pria itu adalah Abimanyu Wicaksono.
Ayahnya Kaning." batinnya
Pria yang pernah ditemuinya di Darussalam.
Pria yang memberinya hadiah dari Lebanon sebagai tanda terima kasih atas segala perhatian yang telah diberikannya kepada sang putri.
Dan kini, pria itu berjalan ke arahnya dengan langkah tegas, didampingi Ustaz Malik.
Latifah meremas jemarinya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan bahwa calon suaminya adalah pria yang sudah dikenalnya, meskipun hanya melalui satu pertemuan singkat.
Terlebih lagi, pria itu adalah ayah dari anak kecil yang sangat disayanginya.
Bersambung...