Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Marahnya Seorang Ayah
Keesokan harinya, rutinitas baru Bellona resmi dimulai. Usai bel sekolah berbunyi dan pengumuman jam pelajaran berakhir, Bellona langsung melangkah mantap bersama Viola menuju kafe gelato tempat mereka bekerja.
Hari kedua terasa sedikit lebih ringan bagi Bellona. Ia mulai terbiasa memegang scoop gelato, merapikan wafel cone, hingga menghafal letak varian rasa di balik konter kaca. Meski begitu, setiap kali harus mengambil piala plastik di rak bagian bawah, Bellona tetap merasa risih dan membetulkan ujung rok lipatnya yang berada di atas lutut.
"Bell, senyum dikit napa," bisik Viola sambil menata stiker di konter kasir. "Muka kamu judes banget pas ngelayanin pembeli, untung dipikirnya konsep service dingin ala-ala anime."
Bellona hanya melirik kaku. "Penting pesanan mereka bener dan cepat, kagak usah banyak cingcong."
Viola terkekeh pelan melihat ketus sahabatnya itu.
Sementara itu, jam menunjukkan pukul enam sore. Di studio musik, Devan tidak bisa fokus menekan kord gitarnya. Pikiran pria itu sepenuhnya melayang pada percakapannya dengan Bellona semalam. Rasa cemas dan penasaran menggerogoti dadanya. Anak SMA yang baru pulih dari luka emosional tiba-tiba pulang malam dan mengaku bekerja—bagaimana bisa Devan duduk diam saja?
"Van! Senar lo salah mulu dari tadi, fokus napa!" tegur Raka dari balik drum kit sambil menepuk stiknya.
Devan menurunkan gitarnya, mengusap wajahnya yang kusam. "Ka, gue kagak bisa konsen. Gue mau jalan sebentar."
"Mau ke mana lo? Latihan belum kelar," sahut Miko heran.
Devan tidak menjawab. Ia menyambar jaket kulit tuanya dan kunci motor, melangkah cepat keluar studio tanpa memedulikan panggilan rekan-rekannya.
Dengan motor tua cemprengnya, Devan menyusuri jalanan kota. Ia tidak tahu Bellona bekerja di mana, tetapi ia memutuskan untuk berputar-putar di area komersial yang tak jauh dari rute sekolah Bellona.
Keberuntungan—atau takdir—membuat Devan menghentikan motornya di depan lampu merah dekat deretan ruko estetik. Mata Devan yang tajam tidak sengaja menangkap dinding kaca besar sebuah kafe gelato bergaya vintage.
Di balik kaca terang itu, berdiri seorang gadis remaja dengan kemeja kerah sailor dan rok lipat hitam pendek di atas lutut. Gadis itu sedang membungkuk mengambil cangkir, lalu menyendokkan gelato berwarna merah muda ke dalam wadah.
Devan membelalakkan matanya lebar-lebar. Rahangnya mengeras seketika.
"Bangsat..." desis Devan kaku.
Rasa panas mendadak membakar dadanya—bukan cuma karena melihat anak gadisnya bekerja keras melayani orang lain, tetapi juga karena melihat seragam rok pendek yang dipakai Bellona di tempat umum seperti itu. Devan meminggirkan motor tuanya ke tepi trotoar dengan geram, mematikan mesin, lalu melangkah lebar menuju pintu masuk kafe.
CRING!
Suara denting bel di atas pintu kafe menyambut kedatangan Devan. Langkah kakinya yang lebar dan tegas langsung mencuri perhatian beberapa pengunjung. Pria itu berdiri di tengah ruangan berpenerangan hangat, menyebarkan aura tegang dengan jaket kulit kusam dan raut wajahnya yang mengeras padam.
Bellona yang sedang menyerahkan wadah gelato kepada seorang pembeli mendadak membeku. Matanya membelalak lebar melihat sosok familiar yang kini berdiri tepat di depan konternya.
"Devan...?" bisik Bellona, suaranya hampir tak terdengar.
"Ikut gue pulang," kata Devan tegas, suaranya berat dan menahan emosi yang siap meledak.
Viola yang berdiri di konter kasir ikut terperanjat. Ia menatap Devan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan cemas, lalu berbisik pelan ke arah Bellona, "Bell... itu siapa? Om kamu ya?"
Bellona tidak menjawab pertanyaan Viola. Rasa malu dan amarah mendadak membakar dadanya. Ia tidak menyangka Devan akan nekat membuntutinya sampai ke tempat kerja.
"Lo ngapain di sini?!" desis Bellona ketus, berusaha menekan suaranya agar tidak menjadi tontonan pengunjung kafe. "Gue lagi kerja! Kagak usah bikin malu!"
"Gue bilang pulang, Bellona," potong Devan tanpa memedulikan tatapan heran Manajer Andre dari balik ruang staf. Matanya tertuju tajam pada rok lipat pendek yang melekat di tubuh Bellona, membuat rahang pria itu makin mengetat keras. "Ini yang lo sebut kerja?! Pake baju bahan kurang begini di depan banyak orang?!"
Muka Bellona mendadak merah padam oleh rasa tersinggung yang luar biasa. "Ini seragam resmi tempat kerja gue, Bego! Lo kagak ada hak buat ngatur-ngatur baju apa yang gue pake!"
"Gue punya hak karena gue kagak sudi ngeliat anak gadis gue berdiri di sini pamer paha cuma demi dapet selembar dua lembar duit!" bentak Devan pelan namun penuh akan emosi.
Kata yang terlempar spontan dari mulut Devan membuat Bellona tersentak. Begitu pula dengan Viola yang langsung membelalakkan matanya lebar-lebar di balik konter kasir.
"Anak... gadis?" gumam Viola syok, menatap Bellona dan Devan bergantian dengan napas tertahan.
Bellona mengepalkan tangannya .
"Lepasin tangan gue!" amuk Bellona seraya menghentakkan tangannya kasar saat Devan mencoba meraih pergelangan tangannya. "Lo bukan bapak gue! Kagak usah sok kegatelan ngatur hidup gue!"
Bellona melempar celemeknya ke atas konter, lalu berlari cepat menuju ruang belakang tanpa memedulikan panggil keras dari Manajer Andre maupun tatapan bingung seluruh isi kafe. Devan menyapu wajahnya yang frustrasi dengan kasar, menghembuskan napas berat sebelum mengekor langkah gadis itu menuju ruang ganti.
Devan mengabaikan tatapan heran Manajer Andre dan Viola. Ia menyibak tirai pembatas ruang belakang lalu melangkah lebar menyusuri koridor kecil menuju ruang ganti karyawan.
BRAK!
Pintu ruang ganti tertutup rapat. Di dalam, Bellona sedang menyambar tas sekolahnya dengan jemari yang gemetar hebat. Air mata emosi sudah menggenang di pelupuk matanya, siap tumpah kapan saja.
"Keluar lo!" bentak Bellona melengking pas Devan melangkah masuk. "Gue bilang keluar, Devan!"
Devan menghentikan langkahnya di dekat pintu, menghembuskan napas panjang untuk meredam emosinya yang sempat membumbung tinggi.
"Gue kagak bakal keluar sebelum lo ganti baju dan ikut gue pulang," kata Devan dengan nada suara yang diusahakan selurus mungkin, walau rahangnya masih mengeras.
"Buat apa?!" teriak Bellona, suaranya pecah di ruangan yang sempit itu. "Lo seneng kan bikin hidup gue makin hancur?! Lo bongkar semuanya di depan Viola! Lo bikin gue kelihatan kayak orang tolol di depan temen gue sendiri!"
"Gue kagak peduli soal temen lo!" potong Devan tegas, menunjuk ke arah rok lipat yang masih dikenakan Bellona. "Tapi gue peduli pas ngeliat lo berdiri di sana pake baju serendah itu! Lo itu anak sekolah, Bellona! Lo kagak perlu nyari duit sendiri cuma buat ngebuktiin kalau lo kagak butuh gue!"
Bellona menyapu air matanya kasar memakai punggung tangan. "Gue emang kagak butuh lo! Duit dari lo tuh haram di mata gue! Gue lebih sudi cape-cape berdiri seharian di sini daripada harus makan dari duit pria brengsek kayak lo!"
Kata-kata tajam itu menghantam Devan tepat di dada, membuat pria itu tertegun sejenak. Namun kali ini Devan tidak meledak marah. Pria itu menyandarkan badannya ke pintu, menatap Bellona dengan pandangan mata yang meredup pasrah dan dipenuhi rasa bersalah yang amat dalam.
"Terserah lo mau bilang duit gue haram atau gue ini pria brengsek..." bisik Devan pelan, suaranya mendadak serak. "Tapi selagi lo masih tinggal di rumah gue... selagi darah gue masih mengalir di badan lo... gue kagak bakal membiarkan lo kerja di tempat yang bikin lo gak dihargai kayak gini."
Devan melepas jaket kulit tuanya, lalu melemparkannya pelan ke atas meja kayu di sebelah Bellona.
"Ganti baju lo. Pakai jaket gue kalau lo merasa rok itu kependekan buat jalan ke luar," kata Devan pelan tanpa menatap Bellona lagi. "Gue tunggu di depan. Kalau lo kagak mau naik motor sama gue, gue bakal jalan kaki di belakang lo sampai rumah."
Devan memutar tubuhnya, membuka pintu ruang ganti, lalu melangkah keluar—meninggalkan Bellona yang mematung sendirian di tengah keheningan ruangan dengan jaket kulit tua yang tergeletak di sampingnya.
Bellona mematung menatap jaket kulit tua yang tergeletak di atas meja. Aroma maskulin khas Devan—campuran asap rokok, minyak gitar, dan wewangian murah—menguar tipis dari bahan kulit yang mulai mengelupas itu. Dadanya berguncang hebat oleh napas yang tersengal.
"Bangsat..." umpat Bellona pelan dengan suara pecah.
Ia mencengkeram tepi meja, menahan kakinya yang gemetar.