NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:480
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Ayah yang Seharusnya Sudah Mati

“Dia masih berada di dalam sini.”

Kalimat gadis kecil itu terus bergema di kepala Gu Chen. Di tangannya, bidak hitam bertuliskan nama Gu Yuan tampak begitu nyata. Permukaannya dingin, tetapi dari bagian dalamnya terasa getaran lemah, seperti detak jantung seseorang yang sedang tertidur.

Gu Chen mengulurkan tangan, tetapi gadis itu segera menarik bidak tersebut menjauh.

“Jangan sentuh.”

“Kenapa?”

“Karena dia belum mengenalimu.”

Gu Chen mengerutkan kening. “Kau baru saja mengatakan bahwa ayahku masih berada di kota ini. Sekarang kau mengatakan dia tidak mengenaliku. Bisa tidak kau berbicara seperti manusia normal?”

Gadis kecil itu memiringkan kepala.

“Apa manusia normal selalu berbicara dengan jujur?”

Gu Chen terdiam.

Lin Yue menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.

“Jangan tertawa,” kata Gu Chen kepadanya. “Aku sedang menghadapi masalah keluarga.”

“Maaf. Aku hanya baru menyadari bahwa bahkan anak kecil bisa mengalahkanmu dalam berdebat.”

“Setelah semua ini selesai, aku akan menuliskan namamu di prasasti penghinaan.”

Gadis kecil itu terkikik, lalu berbalik menuju jalan yang mengarah ke menara tertinggi.

“Ikuti aku kalau kalian ingin bertemu dengannya.”

Gu Chen tidak langsung bergerak.

“Siapa namamu?”

Gadis itu berhenti.

Untuk beberapa saat, ia tampak kebingungan. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah berharap menemukan jawaban di sana.

“Aku tidak tahu.”

“Tidak tahu atau tidak mau memberitahuku?”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Senyumnya menghilang.

“Namaku dihapus ketika kota ini kehilangan sejarahnya.”

Gu Chen bertukar pandang dengan Lin Yue. Mereka telah melihat cukup banyak keanehan untuk mengetahui bahwa perkataan gadis itu mungkin bukan kebohongan.

“Aku akan memanggilmu A-Ning untuk sementara,” kata Gu Chen.

Gadis itu menoleh. “Apa artinya?”

“Tidak ada. Aku hanya tidak suka berbicara dengan orang yang tidak punya nama.”

A-Ning memikirkannya sejenak, kemudian mengangguk.

“Baiklah. Kalau begitu, aku akan memanggilmu Kakak Pembunuh.”

Gu Chen berhenti bernapas selama sesaat.

Lin Yue langsung tertawa.

“Jangan tertawa!” bentak Gu Chen.

“Kau sendiri yang memberikan nama!”

“Aku tidak menyuruhnya memilih nama yang terdengar seperti buronan!”

A-Ning sudah berjalan menjauh ketika mereka masih berdebat. Gadis itu melambaikan tangan, seolah tidak peduli apakah kedua orang dewasa tersebut akan mengikutinya atau tidak.

Akhirnya Gu Chen menghela napas dan menyusul.

Namun, saat melewati patung dirinya sendiri, ia kembali menatap prasasti di bawahnya.

NAMA PENYELAMAT: GU CHEN.

Tulisan itu masih ada.

Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa masa lalunya bukan sekadar kenangan yang hilang. Mungkin seseorang benar-benar telah membentuk ulang seluruh sejarah hidupnya agar ia mempercayai kebohongan tertentu.

Dan jika Gu Yuan memang masih berada di kota ini, ayahnya mungkin mengetahui alasan semua itu.

Gu Chen berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan mendapatkan jawaban, bahkan jika harus menghancurkan seluruh kota untuk menemukannya.

Ia belum tahu bahwa seseorang di menara sedang menunggu janji tersebut.

Jalan menuju menara dipenuhi patung-patung batu. Semuanya menggambarkan manusia dengan wajah yang telah dihapus. Ada prajurit yang mengangkat pedang, perempuan yang menggendong anak, dan orang tua yang berlutut di depan sebuah pintu.

Di setiap alas patung, terdapat tulisan yang berbeda.

PENGKHIANAT.

PEMBERONTAK.

SAKSI YANG TIDAK DIPERLUKAN.

ORANG YANG MENGINGAT.

Gu Chen berhenti di depan patung seorang lelaki tua. Tulisan di alasnya membuat langkahnya terhenti.

GU YUAN — PENJAGA YANG MENOLAK MELUPAKAN.

Ia menyentuh permukaan batu.

Dalam sekejap, sebuah penglihatan muncul.

Seorang lelaki berjubah hitam berdiri di aula yang terbakar. Wajahnya tertutup darah, tetapi Gu Chen mengenali bentuk tubuhnya. Lelaki itu memegang sebuah lonceng hitam dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam pedang.

Di hadapannya berdiri puluhan sosok bertopeng.

Salah satu dari mereka berkata, “Jika kau mengembalikan ingatan penduduk kota, mereka akan mengetahui apa yang kami lakukan.”

Gu Yuan menjawab, “Mereka berhak mengetahui kebenaran.”

“Kebenaran akan menghancurkan dunia.”

“Tidak. Kebohongan kalianlah yang menghancurkannya.”

Sosok bertopeng itu mengangkat tangannya.

“Kalau begitu, kami akan menghapusmu terlebih dahulu.”

Penglihatan itu berakhir.

Gu Chen menarik tangannya dari patung. Napasnya sedikit memburu.

Lin Yue segera menghampiri.

“Apa yang kau lihat?”

“Pertengkaran antara ayahku dan para pemain.”

“Apakah kau melihat siapa yang menyerangnya?”

Gu Chen menggeleng. “Tidak. Tapi ayahku membawa lonceng yang sama.”

Ia menatap patung itu sekali lagi.

“Dan dia tahu bahwa kota ini akan dihancurkan.”

Bai yang sejak tadi berjalan di belakang mereka akhirnya berbicara.

“Gu Yuan tidak sekadar mengetahui kehancuran kota. Ia mencoba mencegahnya.”

Gu Chen menoleh tajam.

“Kau pernah berada di sini?”

Bai tidak menjawab.

“Bai.”

“Aku pernah datang ke Kota Wuming.”

“Kapan?”

“Tiga ribu tahun lalu.”

Lin Yue langsung menghunus belatinya.

Gu Chen hanya memejamkan mata sejenak.

“Tentu saja. Kenapa tidak? Orang yang kita temui ternyata hidup selama tiga ribu tahun, ayahku mungkin belum mati, dan aku mungkin pernah membunuh seseorang yang bahkan tidak kuingat. Ada kabar lain yang ingin kau sampaikan sebelum malam tiba?”

Bai menatapnya tanpa ekspresi.

“Aku bukan manusia biasa.”

“Aku sudah menduganya sejak kau tidak pernah terlihat lelah berjalan.”

“Aku adalah penjaga arsip.”

Gu Chen terdiam.

“Penjaga arsip yang mana?”

Bai menatap menara di kejauhan.

“Arsip Kesepuluh.”

Keheningan turun di antara mereka.

Gu Chen perlahan menyarungkan kembali pisaunya, tetapi matanya tidak pernah lepas dari Bai.

“Jadi, kau menyembunyikan fakta bahwa kau berasal dari tempat yang sedang kita cari.”

“Kalau kuberitahukan sejak awal, kau tidak akan memercayaiku.”

“Aku juga tidak memercayaimu sekarang.”

“Itu tidak masalah.”

Bai berhenti berjalan.

“Yang penting, kau tidak boleh membiarkan orang di menara itu membunyikan lonceng ketiga.”

Gu Chen langsung teringat peringatan yang pernah ia dengar.

“Kenapa?”

“Karena jika lonceng itu berbunyi untuk ketiga kalinya di Kota Wuming, bukan hanya ingatan yang akan kembali. Semua orang yang telah dihapus dari sejarah kota ini akan kembali ke tempat mereka seharusnya berada.”

“Bukankah itu tujuan kita?”

“Tidak semuanya masih manusia.”

Gu Chen tidak menjawab.

Bai melanjutkan dengan suara lebih rendah, “Sebagian telah diubah menjadi sesuatu yang tidak bisa mati. Sebagian lainnya telah kehilangan identitas mereka sepenuhnya. Dan ada beberapa yang bahkan tidak pernah seharusnya memiliki bentuk.”

Lin Yue menatap menara.

“Lalu bagaimana kita menemukan Gu Yuan tanpa membunyikan lonceng itu?”

Bai menunjuk pintu utama menara.

“Kita masuk sebelum orang di dalamnya menyelesaikan persiapan.”

Menara itu memiliki tujuh lantai, tetapi dari luar tampak jauh lebih tinggi. Dindingnya terbuat dari batu hitam yang tidak memantulkan cahaya. Tidak ada jendela, tidak ada penjaga, dan tidak ada pintu samping.

Hanya sebuah pintu besar dengan dua patung manusia tanpa wajah di kedua sisinya.

A-Ning berdiri di depan pintu.

“Kita sudah sampai.”

Gu Chen memandangnya. “Apa yang ada di dalam?”

“Orang yang menggunakan wajah ayahmu.”

“Apakah dia benar-benar ayahku?”

A-Ning mengangguk pelan.

“Wajahnya sama. Suaranya sama. Bahkan dia mengetahui semua hal yang diketahui ayahmu.”

“Kalau begitu, mengapa kau mengatakan dia hanya menggunakan wajahnya?”

“Karena ayahmu tidak pernah tersenyum seperti itu.”

Gu Chen menatap gadis kecil tersebut.

“Seperti apa senyumnya?”

A-Ning terdiam cukup lama.

“Seperti seseorang yang sedang meminta maaf.”

Jawaban itu membuat Gu Chen teringat lelaki berjubah hitam dalam penglihatannya. Sosok yang berdiri di tengah api dan menolak menyerahkan ingatan penduduk kota.

Gu Chen menarik napas panjang, lalu mendorong pintu.

Pintu terbuka tanpa suara.

Di dalamnya terdapat sebuah aula luas dengan tangga spiral yang mengarah ke atas. Di sepanjang dinding tergantung ribuan lembar kertas. Setiap lembar berisi nama seseorang, tanggal kelahiran, serta catatan tentang kehidupan mereka.

Sebagian nama ditulis dengan tinta hitam.

Sebagian lainnya dicoret dengan tinta merah.

Dan di tengah aula terdapat sebuah meja panjang. Di atasnya tergeletak sebuah lonceng hitam yang bentuknya hampir identik dengan milik Gu Chen.

Di belakang meja duduk seorang lelaki berjubah putih.

Rambutnya panjang dan berwarna hitam. Wajahnya tampak lebih tua daripada Gu Chen, tetapi memiliki garis rahang, bentuk mata, dan hidung yang sama.

Lelaki itu mengangkat kepala.

Kemudian tersenyum.

“Chen'er.”

Gu Chen membeku.

Suara itu.

Suara yang pernah memanggilnya ketika ia masih kecil.

Suara yang pernah mengajarinya memegang pisau, menyalakan api, dan membaca tulisan kuno.

Suara ayahnya.

Lelaki itu bangkit dari kursinya.

“Kau akhirnya pulang.”

Gu Chen tidak bergerak. Tangannya perlahan mengepal, sementara berbagai pertanyaan berdesakan di dalam pikirannya.

“Siapa kau?” tanyanya.

Lelaki itu berhenti.

Senyumnya perlahan menghilang.

“Aku ayahmu.”

“Buktikan.”

Lelaki itu menghela napas, lalu menyebutkan sebuah kejadian yang tidak pernah diceritakan Gu Chen kepada siapa pun.

Ketika Gu Chen masih kecil, ia pernah terbangun di tengah malam setelah bermimpi tentang sebuah ruangan putih. Ia menangis selama berjam-jam dan menolak tidur sendirian. Gu Yuan kemudian duduk di samping tempat tidurnya hingga pagi.

Lelaki itu mengingat semuanya.

Bahkan kata-kata yang diucapkan Gu Chen saat itu.

“Ayah, kalau suatu hari aku menjadi orang jahat, apakah Ayah akan membenciku?”

Gu Chen merasakan tenggorokannya tercekat.

Lelaki itu melanjutkan, “Dan aku menjawab bahwa aku akan tetap menjadi ayahmu, apa pun yang terjadi.”

Air mata hampir muncul di sudut mata Gu Chen, tetapi ia segera menahannya.

Kenangan itu terlalu pribadi. Terlalu nyata.

Namun, justru karena itulah ia tidak bisa menerimanya begitu saja.

Sebab jika lelaki itu benar-benar ayahnya, mengapa ia membiarkan Gu Chen tumbuh dalam kebohongan?

Mengapa ia tidak pernah memberitahukan apa pun tentang para pemain?

Dan mengapa catatan kota menyebut Gu Yuan telah dihapus dari sejarah?

Gu Chen mengangkat wajah.

“Kalau kau benar-benar ayahku, jawab satu pertanyaan.”

Lelaki itu mengangguk.

“Siapa yang membunuhmu?”

Senyuman lelaki itu kembali muncul.

“Tidak ada yang membunuhku, Chen'er.”

Ia berjalan mengitari meja, lalu berhenti beberapa langkah dari Gu Chen.

“Aku hanya membunuh diriku sendiri.”

Gu Chen merasakan seluruh tubuhnya menegang.

Bai segera mengangkat tangan.

“Jangan mendekatinya!”

Namun, lelaki berjubah putih itu tidak memedulikan peringatan tersebut.

Ia justru memandang Bai dengan tatapan dingin.

“Penjaga Arsip Kesepuluh. Kau masih hidup rupanya.”

Bai menundukkan kepala, tetapi bukan sebagai tanda hormat. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menahan rasa takut.

“Seharusnya kau sudah tidak memiliki tubuh.”

Lelaki itu tersenyum.

“Seharusnya banyak hal tidak pernah terjadi.”

Kemudian ia kembali menatap Gu Chen.

“Aku tahu kau memiliki banyak pertanyaan. Aku juga tahu bahwa kau ingin mengetahui siapa dirimu sebelum menjadi Gu Chen.”

Ia mengulurkan tangan.

“Kalau kau ingin mengetahui semuanya, datanglah kepadaku.”

Gu Chen tidak bergerak.

“Apa yang akan terjadi jika aku mendekat?”

“Kau akan mengingat kehidupan pertamamu.”

“Dan jika aku menolak?”

Lelaki itu menatapnya dengan kesedihan yang sangat dalam.

“Kalau begitu, kau akan mengulangi semuanya.”

Gu Chen merasakan lonceng hitam di dalam tasnya bergetar. Pada saat bersamaan, lonceng di atas meja mulai mengeluarkan suara lirih.

Dong.

Bai langsung berteriak, “Gu Chen, jangan biarkan dia membunyikannya lagi!”

Namun, sudah terlambat.

Lonceng di atas meja berdentang untuk kedua kalinya.

Dinding aula retak.

Ribuan lembar kertas terlepas dan berputar di udara. Nama-nama yang tertulis di atasnya berubah menjadi cahaya, kemudian mengalir menuju tubuh lelaki berjubah putih.

Wajah lelaki itu perlahan berubah.

Rambutnya memutih.

Kulitnya menjadi pucat.

Dan di mata kirinya muncul simbol lingkaran kosong.

Gu Chen mundur selangkah.

Ia mengenali simbol itu.

Simbol yang sama dengan milik sosok bertopeng yang mengawasi papan raksasa.

Lelaki berjubah putih menatapnya.

“Maafkan aku, Chen'er.”

Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh aula membeku.

“Aku bukan Gu Yuan yang membesarkanmu.”

Ia tersenyum sedih.

“Aku adalah Gu Yuan yang kau bunuh tiga ribu tahun lalu.”

Bersambung ke Bab 16.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!