Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Mas Adit
Fika yang masih merengut kesal mendadak menyambar salah satu bantal kusam dari atas kasur lantai milik Galih. Tanpa rasa canggung, wanita itu langsung meletakkannya di atas lantai kayu yang berdebu lalu merebahkan tubuhnya secara telentang. Tank top ketat yang dikenakannya makin terangkat sedikit, memperlihatkan lekuk perutnya yang mulus.
"Mbak... Mbak Fika! Jangan tidur di lantai begitu, nanti masuk angin!" seru Galih panik, matanya buru-buru dialihkan ke arah langit-langit kamar. "Nggak enak dilihat orang juga, Mbak. Lagipula ini kan kamar cowok."
"Biarin! Habisnya kamu nggak percaya sih sama aku. Daripada aku mati ketakutan sendirian di kamar, mending aku tidur di lantai sini," sahut Fika manja, sengaja memiringkan tubuhnya membelakangi Galih.
Galih menarik napas panjang seraya memegang dahinya yang terasa pening. Sungguh situasi yang sangat menyulitkan baginya sebagai penghuni baru. Namun, ia tidak boleh membiarkan hal ini berlarut-larut hingga memancing fitnah atau salah paham jika suami Fika mendadak pulang dari tempat kerja.
"Gini aja deh, Mbak," usul Galih akhirnya. "Mbak Fika balik aja tidur di kamar Mbak sendiri. Nanti aku temani dari luar. Aku bakal duduk di depan pintu kamar Mbak Fika sampai Mbak Fika benar-benar tertidur lelap. Gimana?"
Fika menoleh, menatap Galih dengan mata berbinar. "Beneran kamu mau nemenin di depan pintu? Nggak bakal kamu tinggalin kan?"
"Iya, beneran. Aku janji," jawab Galih mantap.
Fika akhirnya bangkit berdiri, mengibaskan debu yang menempel di bagian belakang celana pendeknya. Dengan membawa bantalnya kembali, ia melangkah keluar menuju kamarnya yang tepat berada di sebelah kamar Galih. Galih mengikuti dari belakang, lalu menyandarkan punggungnya di samping daun pintu kamar Fika yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit.
Suasana koridor malam itu begitu hening, hanya menyisakan gemericik angin malam yang menembus celah-celah papan kayu. Galih duduk bersila di atas lantai semen dingin depan pintu Fika, menjaga pandangannya tetap lurus ke arah lorong depan.
Tak beberapa lama kemudian, sayup-sayup dari arah luar gang, terdengar langkah kaki ringkih yang tergesa-gesa. Galih menajamkan pandangannya ke ujung lorong yang temaram.
Sosok Indri muncul dari kegelapan. Gadis cantik itu berjalan kaki seorang diri tanpa ditemani pria yang tadi siang merangkulnya. Yang membuat Galih terkejut, bahu Indri tampak berguncang pelan. Wajah cantiknya yang polos dipenuhi air mata yang mengalir deras, merusak riasan tipis di pipinya. Suara isakan tangisnya yang tertahan terdengar begitu pilu di tengah kesunyian malam.
Indri terus berjalan cepat menundukkan kepala. Saat melintas di depan Galih, gadis itu sama sekali tidak menoleh atau menyapa seperti biasanya. Ia tergesa-gesa merogoh kunci, membuka pintu kamarnya di ujung lorong, lalu menghambur masuk dan menutup pintunya dengan dentuman yang cukup keras.
Galih menghela napas pelan. Roda kehidupan di tempat kost campuran ini rupanya berputar begitu liar dan cepat. Ada tawa, ada rahasia, dan ada air mata di balik setiap bilik kamar kayunya. Namun, Galih sadar betul posisinya. Ia adalah seorang pelarian yang baru saja menata hidup, sehingga membentengi diri dari urusan pribadi orang lain adalah pilihan paling bijak. Ia meredam rasa penasarannya dalam-dalam.
Sekitar dua puluh menit berlalu, nada napas teratur dari dalam kamar menandakan bahwa Fika sudah terlelap sepenuhnya. Galih berdiri perlahan, membetulkan engsel pintu Fika agar merapat pelan tanpa menimbulkan suara berdecit yang bisa membangunkan wanita itu.
Setelah tugasnya selesai, perut Galih yang tadi sore hanya diisi porsi sedang di warung Pak Susilo mendadak berbunyi pelan. Rasa lapar melilit pencernaannya lagi. Galih teringat masih memiliki sisa mie instan dan telur hasil pembeliannya. Tanpa membuang waktu, ia bergegas mengambil bahan makanan itu dari kamarnya lalu melangkah menuju dapur umum di bagian belakang.
Namun, begitu melangkahkan kaki melewati belokan lorong menuju area kompor, langkah Galih mendadak terhenti.
Di atas kursi kayu meja makan kecil dapur, duduk sosok lelaki bertubuh jangkung yang tadi sempat membuatnya bergidik. Lelaki berkaos hitam polos itu, yang kata Fika bernama Mas Adit, sedang duduk sendirian dalam remang cahaya lampu dapur. Tangannya memegang segelas air putih yang sudah tinggal separuh.
Galih sempat terpaku di ambang pintu dapur. Niat untuk berbalik arah sempat melintas di kepalanya, tetapi Adit sudah lebih dulu mendongak dan menatap tepat ke arah mata Galih. Akan sangat tidak sopan dan menunjukkan rasa takut jika ia mendadak memutar balik. Mengingat perkataan Fika bahwa Adit sebenarnya orang yang baik meski pendiam, Galih memberanikan diri melangkah masuk.
"Malam, Mas Adit," sapa Galih mencoba seramah mungkin sambil mengumbar senyum tipis.
Adit terdiam sejenak. Sorot matanya yang tajam mengamati Galih dari atas ke bawah sebelum bibirnya perlahan melengkung tipis. "Malam... Galih, kan?" jawabnya dengan suara berat dan dalam, namun tidak bernada mengancam.
"Iya, Mas. Saya Galih, penghuni baru di kamar ujung," jawab Galih lega karena tebakannya benar bahwa pria ini tidak bermaksud jahat.
Galih melanjutkan langkahnya menuju kompor, menyalakan tungku, dan merobek bungkus mie instan. Ia mencoba mengabaikan rasa canggung yang masih tersisa. Adit hanya duduk tenang di mejanya, memandangi panci air yang mulai mendidih di atas kompor.
Namun, tepat saat Galih memasukkan lembaran mie dan memecahkan telur ke dalam air mendidih, sebuah suara berderit yang cukup nyaring terdengar dari arah meja makan.
Kruuukkk...
Suara keroncongan perut yang begitu nyaring bergema di area dapur yang sepi itu. Galih secara refleks menoleh ke arah Adit. Pria jangkung itu seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam, wajahnya yang pucat merona merah karena menahan rasa malu yang amat sangat. Ia memegangi perutnya sendiri seraya meneguk sisa air putih di gelasnya sampai kandas.
Galih memandangi punggung Adit yang kurus. Rasa iba yang mendalam seketika menggantikan rasa canggung di dadanya.
"Mas Adit... belum makan malam ya?" tanya Galih pelan dan sopan.
Adit tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Jujur... aku sudah dua hari ini belum makan nasi atau makanan berat sama sekali, Lih. Uang tabunganku habis total dari kemarin lusa, dan aku belum dapat kiriman atau panggilan kerjaan lagi."
Pernyataan jujur itu meremas hati Galih. Ia tahu betul bagaimana rasanya kelaparan dan tak berdaya tanpa uang sepeser pun di perantauan. Galih melirik panci mienya yang sudah matang dan mengeluarkan aroma gurih yang menggugah selera. Tadi sore, ia sudah makan nasi dan lauk cukup kenyang di warung makan Pak Susilo, sehingga perutnya sebenarnya tidak dalam kondisi kritis.
Tanpa ragu-ragu, Galih mengambil sebuah mangkuk melamin, menuangkan seluruh mie goreng beserta telur rebus yang masih beruap panas itu ke dalamnya. Ia lalu membawa mangkuk itu dan meletakkannya tepat di hadapan Adit beserta sepasang sendok dan garpu.
"Nih, Mas. Dimakan ya. Masih panas kok," ujar Galih tulus.
Adit terperanjat. Matanya membelalak lebar memandangi mangkuk mie di depannya, lalu menatap Galih tak percaya. "Lih... ini kan makananmu? Kamu sendiri gimana?"
"Aku sudah makan kenyang banget tadi sore di tempat kerjaku, Mas," bohong Galih dengan senyuman hangat agar Adit tidak merasa sungkan. "Ini tadi cuma iseng aja mau nyemil. Mas Adit makan aja, daripada perutnya sakit."
Adit menelan ludahnya yang terasa kering. Matanya mendadak berkaca-kaca menahan haru. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyambar garpu dan mulai memakan mie pemberian Galih dengan sangat lahap, seolah-olah makanan itu adalah hidangan paling lezat di dunia.
"Terima kasih banyak ya, Lih... Suatu hari nanti, aku pasti nggak bakal melupakan kebaikanmu malam ini," tutur Adit di sela-sela kunyahannya dengan nada suara yang penuh rasa syukur.
Galih tersenyum lega lalu menarik kursi kayu di seberang Adit dan duduk di sana. "Santai aja, Mas. Kita kan tetangga, sudah sepantasnya saling bantu."