💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Taksi yang di tumpangi Alana tiba-tiba mengerem mendadak, bannya berdecit nyaring membelah kesunyian jalanan pinggiran kota.
Pendar neon putih dari sebuah minimarket 24 jam menjadi satu-satunya penerang di area yang gelap gulita tersebut.
Sebelum taksi benar-benar berhenti, Alana sudah mendorong pintu hingga terbuka.
" Eh, Nona! Argonya!" teriak sang sopir memprotes.
Alana tak menghiraukan teriakan sang sopir di belakangnya. Sepatu ketsnya berderap panik menghantam aspal. Pandangannya menyapu liar ke area sekitar, hingga matanya menangkap dua siluet mungil di sudut taman kecil yang remang-remang.
Keduanya duduk bersebelahan di atas kursi besi yang dingin. Tidak ada tangisan. Tidak ada gerakan gelisah. Dua balita berusia lima tahun itu mematung dengan pandangan kosong menembus kegelapan, seolah jiwa mereka ikut terenggut malam itu.
"Kai... Kael..." Suara Alana pecah, nyaris tak terdengar.
Ia berlari dan langsung menjatuhkan lututnya menghantam paving block, menyejajarkan tubuhnya dengan kedua keponakannya.
Napas Alana tercekat. Udara seolah ditarik paksa dari paru-parunya.
Piyama tidur Kael dan Kai terlihat kotor oleh debu, dan yang membuat perut Alana mual—ada bercak darah pekat yang mulai mengering di dada dan ujung lengan baju Kai. Darah segar di tubuh balita lima tahun.
Bibir Alana bergetar hebat. Jutaan pertanyaan menumpuk di ujung lidahnya: Di mana Raka dan Luna? Siapa yang melakukan ini? Bagaimana kalian bisa selamat?
Namun, menatap mata Kael yang biasanya tenang kini memerah redup, serta wajah Kai yang pucat pias tanpa rona kehidupan, Alana menelan paksa semua pertanyaan itu. Bertanya hanya akan menghancurkan kewarasan dua bocah ini. Ia tidak peduli pada apa pun selain fakta bahwa keponakannya masih bernapas.
Dengan gerakan selembut mungkin, Alana menarik kedua tubuh mungil yang sedingin es itu ke dalam pelukannya, mendekap mereka erat-erat.
"Tante di sini... Tante Al datang, Sayang," isak Alana, menciumi puncak kepala mereka bergantian dengan bibir gemetar.
"Kalian aman sekarang. Semuanya sudah selesai."
Awalnya, tubuh kedua balita itu kaku. Namun perlahan, jemari kecil Kael terangkat, meremas kuat ujung mantel Alana hingga buku jarinya memutih—mencari satu-satunya pijakan di dunianya yang baru saja runtuh.
Sementara itu, Kai akhirnya menyembunyikan wajah mungilnya di ceruk leher Alana. Bocah itu menghirup aroma familier sang Tante, dan bahu kecilnya mulai bergetar hebat oleh isakan yang tak bersuara.
Insting bertahan hidup Alana menyala. Tempat terbuka ini tidak aman. Ia segera mengusap kasar air matanya, menatap tajam ke sekeliling, menembus bayang-bayang pepohonan dengan kewaspadaan penuh.
"Ayo, kita pergi dari sini," bisik Alana tegas.
Ia mengangkat tubuh Kai dengan lengan kirinya, dan menggandeng erat tangan Kael dengan tangan kanannya. Setengah berlari, ia membawa kedua bocah malang itu menjauh dari kegelapan, menuju taksi yang masih menunggu uang kargonya.
___________
Di sisi lain kota, suhu di dalam reruntuhan mansion masih terasa membekukan.
Elvano mematung di ruang keluarga yang hancur lebur. Rahangnya mengeras, matanya menatap lekat saat anak buahnya menutup ritsleting dua kantong jenazah hitam dan mengangkatnya dengan penghormatan mutlak.
Hatinya yang sejak tadi kebas, perlahan digantikan oleh bara dendam yang siap membakar seisi kota.
Derap langkah sepatu bot taktis terdengar tergesa. Jace muncul dari balik pilar yang retak, napasnya memburu.
"Tuan Muda," lapor Jace. Suaranya berat, tak berani menatap langsung mata bosnya.
"Kami sudah menyisir setiap inci bangunan. Ruang bawah tanah, brankas rahasia, ventilasi darurat, hingga seluruh area taman belakang... nihil. Kael dan Kai tidak ada di mana pun."
Sorot mata Elvano menajam bagai pisau bedah.
"Raka bukan pria bodoh. Dia tahu cara melindungi darah dagingnya. Anak-anak itu pasti disembunyikan sebelum musuh mendobrak masuk."
"Ada jejak rak buku rahasia yang diaktifkan secara paksa di kamar utama," timpal Jace cepat. Ia menyodorkan tablet yang menampilkan rekaman night-vision dari tim penyisir.
"Lorong darurat itu mengarah ke luar mansion, menembus hutan di belakang bukit. Raka dan Luna pasti memasukkan si kembar ke sana. Tapi... jejak mereka terputus total begitu menyentuh aspal jalan raya lingkar luar."
Tangan Elvano yang terbalut sisa darah Raka merampas tablet itu. Fakta bahwa kedua anak sahabatnya tidak ikut terbunuh di tempat ini memberi setitik kelegaan. Namun, kepanikan yang lebih mematikan segera menyergap dadanya.
Dua balita. Berusia lima tahun. Berkeliaran di luar sana di tengah malam buta setelah melihat orang tuanya dibantai.
Dan yang lebih buruk: musuh mungkin sudah menyadari target mereka lolos. Saat ini, para pembunuh itu pasti sedang melacak mereka untuk memutus garis keturunan Raka tanpa sisa.
"Kirim tim pelacak bayangan kita. Sekarang," desis Elvano. Matanya menggelap, memancarkan aura seorang penguasa dunia bawah yang tak tersentuh.
"Retas semua kamera lalu lintas dalam radius sepuluh kilometer dari ujung terowongan itu. Lacak setiap kendaraan atau pejalan kaki yang lewat dalam dua jam terakhir!"
"Baik, Tuan Muda."
"Hubungi informan kita di pelabuhan, stasiun, dan bandara. Tutup seluruh akses keluar masuk. Tidak ada satu lalat pun yang boleh meninggalkan kota ini malam ini!"
Jace mengangguk tegas, namun ada keraguan di suaranya. "Tapi, Tuan... bagaimana jika musuh sudah menyebar pasukan mereka di jalanan lebih dulu?"
Mendengar itu, Elvano membanting tablet di tangannya hingga hancur berkeping-keping membentur lantai marmer. Ia melangkah maju, mencengkeram kerah seragam taktis Jace dengan satu tangan.
"Maka pastikan kalian menemukan anak-anak itu mendahului napas para bajingan tersebut," desis Elvano, suaranya pelan namun penuh ancaman maut.
"Gunakan seluruh kekuasaan Adhitama. Balikkan kota ini jika perlu. Siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambut Kael dan Kai, aku sendiri yang akan merobek jantung dari dada mereka."
Jace menelan ludah dengan susah payah dan menunduk dalam. "Akan saya laksanakan, Tuan Muda!"
Elvano melepaskan cengkeramannya. Ia memutar tubuh, menatap ke luar jendela yang bingkainya telah hancur total. Angin malam menerobos masuk, mengibarkan sisa tirai yang robek dan membawa bau anyir yang menolak pergi.
Malam ini, ia telah kehilangan perisai utamanya. Ia bersumpah dengan nyawanya, tidak akan ada lagi yang berani merebut keluarga Raka yang tersisa darinya. Perburuan berdarah baru saja dimulai.
Bersambung...
🤗 Selamat pagi semuanya! terimakasih banyak sudah mampir di karya baru author semoga terhibur ya, jangan lupa kasih author vitamin yang banyak biar semangat up setiap hari! like, comen dan vote karya ini ya! 🥰😇💗