Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FOTO
"Siapa yang memberikan ini padamu, Sinta?"
Suara Bu Retno terdengar serak, nyaris tak terdengar di tengah ruang tamu yang mendadak sunyi. Belasan pasang mata menoleh ke arah dapur. Sendok-sendok berhenti di udara. Bu Hendra mengerutkan dahi, Pak Hendra meletakkan gelasnya perlahan, dan Melia, di sofa, menegakkan punggung dengan wajah sepucat kertas.
Sinta berdiri di ambang pintu dapur dengan tangan masih basah oleh sabun cuci piring. Jantungnya berdentum seperti hendak keluar dari rusuk. Tapi wajahnya, entah bagaimana, tetap tenang. Di titik ini, tujuh tahun belajar menahan akhirnya berguna.
Satu kesalahan kecil, satu kata yang salah, dan semuanya akan hancur. Termasuk Tari.
"Itu ponsel lama saya, Bu," jawab Sinta, cukup keras agar semua tamu mendengar. "Isinya cuma foto-foto resep obat almarhumah ibu saya. Rini pasti salah paham."
"Salah paham apa?!" Rini melotot. "Aku lihat sendiri ada foto surat laboratorium! Ada nama Mas Damar di situ!"
Beberapa tamu saling bertukar pandang. Bu Hendra mencondongkan badan. "Jeng Retno, ada apa ini? Surat laboratorium apa?"
Dan di sanalah Bu Retno, perempuan yang tiga puluh tahun menguasai rumah ini dengan tangan besi, menunjukkan kelemahan pertamanya. Matanya bergerak cepat dari ponsel ke Sinta, ke Pak Hendra, ke Melia, lalu kembali ke layar, dan untuk sepersekian detik, Sinta melihat ketakutan murni di wajah tua itu.
Lalu Bu Retno tertawa. Tawa tinggi, pecah, dan terlalu keras untuk disebut wajar.
"Ya ampun, Jeng. Itu cuma foto hasil cek kesehatan Damar. Biasa, pemeriksaan rutin kantor. Si Sinta ini memang suka usil, mengambil-ambil foto dokumen yang bukan urusannya." Ia mengibaskan tangan. "Rini, jangan bikin gaduh di depan tamu. Malu-maluin."
"Tapi, Bu..."
"Rini."
Satu kata, satu tatapan. Rini langsung menciut. Bu Retno menyelipkan ponsel itu ke dalam kantong kebayanya dengan gerakan halus, lalu tersenyum lebar pada para tamu.
"Silakan dilanjutkan makannya. Maaf ya, urusan dapur."
Suasana kembali cair. Obrolan dilanjutkan, tawa berderai lagi. Tapi Sinta merasakan satu cengkeraman dingin di pergelangan tangannya. Bu Retno sudah berdiri di sampingnya, entah sejak kapan, dengan senyum yang tak pernah sampai ke mata.
"Ikut Ibu ke belakang," bisiknya manis. "Sekarang."
---
Pintu ruang setrika dibanting dari dalam. Ruangan sempit itu berbau pewangi dan uap panas, satu-satunya tempat di rumah utama yang tidak pernah dikunjungi tamu. Bu Retno melepaskan cengkeramannya dan langsung melayangkan tamparan, bukan sekali, tapi tiga kali berturut-turut. Kepala Sinta terombang-ambing, telinganya berdenging.
"Perempuan sundal! Anjing tak tahu diuntung!" Bu Retno mengeluarkan semua makian yang selama ini ia simpan di balik kebaya mahalnya. "Dari mana kamu dapat foto itu? Siapa yang memberimu?! Jawab!"
Sinta memegang pipinya yang terbakar. Ia menunduk sebentar, menarik napas, lalu mengangkat wajahnya. Di bibirnya ada darah. Di matanya tak ada air.
"Saya yang memotretnya sendiri, Bu."
"Bohong!"
"Setahun lalu." Sinta tersenyum miring. "Waktu Ibu menyuruh saya membersihkan kamar Ibu dan lupa mengunci laci lemari. Amplop cokelat itu ada di sana. Saya buka, saya foto, lalu saya kembalikan. Ibu tidak sadar, kan? Ibu baru memindahkannya ke laci Mas Damar setelah itu."
Bu Retno membeku. Rahangnya bergerak, tapi tak ada suara yang keluar.
Itu bohong, tentu saja. Sinta baru tahu soal amplop itu minggu ini. Tapi kebohongan terbaik adalah yang menyentuh titik buta lawan, dan titik buta Bu Retno adalah kenyataan bahwa ia memang pernah menyimpan amplop itu di dua tempat berbeda.
"Setahun," desis Bu Retno. "Setahun kamu tahu, dan kamu diam saja?"
"Diam adalah keahlian keluarga ini, Bu. Saya cuma belajar dari yang terbaik."
*Plak!*
Tamparan keempat. Kali ini Sinta tidak berpaling. Ia tetap menatap lurus, dan pipinya yang memerah justru memperlihatkan jejak jari yang makin jelas.
"Silakan, Bu. Pukul lagi. Tapi ingat, setiap bekas ini adalah bukti."
"Bukti apa?!"
"Bukti bahwa menantu yang Ibu bilang mandul ini dipukuli di rumahnya sendiri, sementara yang sebenarnya bermasalah adalah anak kandung Ibu."
Kalimat itu meledak di ruang kecil itu seperti granat.
Bu Retno melangkah mundur, wajahnya berubah dari merah menjadi kelabu. Tangannya yang tadi terangkat jatuh lemas di sisi tubuh. Ia menatap Sinta seolah baru pertama kali melihat sosok di hadapannya.
"Pelankan suaramu," bisiknya parau.
"Kenapa? Takut didengar Pak Hendra? Takut calon besan tahu bahwa anak Ibu tidak bisa punya keturunan, dan bahwa Ibu menjual Melia sebagai pengganti?"
"Kamu tidak tahu apa-apa!"
"Saya tahu cukup, Bu." Sinta melangkah maju satu langkah, lalu satu lagi, sampai punggung Bu Retno menempel ke tembok. "Saya tahu Ibu mengambil hasil lab itu sendiri, dua tahun lalu, pakai kerudung gelap dan kacamata hitam supaya tidak dikenali. Saya tahu Ibu membiarkan saya minum jamu pahit dan mandi kembang tengah malam, padahal Ibu sudah tahu jawabannya. Saya tahu Ibu sengaja menjadikan saya kambing hitam supaya anak Ibu tetap tampak jantan di depan keluarga."
"Tutup mulutmu..."
"Dan saya juga tahu satu hal lagi." Sinta merendahkan suara menjadi bisikan, begitu pelan hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar. "Saya tahu kenapa Ibu begitu tergesa-gesa menikahkan Mas Damar dengan Melia. Dan saya tahu bayi di perut Melia itu bukan anak Mas Damar."
Wajah Bu Retno kehilangan seluruh warna.
Untuk beberapa detik, ruang setrika itu hanya diisi suara napas mereka berdua dan desis uap dari setrika yang lupa dimatikan. Sinta bisa melihat pembuluh darah di pelipis mertuanya berdenyut, bola matanya bergetar, dan bibirnya bergerak tanpa suara, seperti ikan yang kehabisan air.
"Siapa..." Bu Retno akhirnya bersuara, dan suara itu bukan lagi suara sang nyonya rumah. Suara itu seorang perempuan tua yang ketakutan. "Siapa yang bicara padamu? Melia?"
"Tidak penting."
"Kamu tidak bisa membuktikannya!"
"Mungkin tidak sekarang. Tapi saya tidak buru-buru, Bu." Sinta mundur selangkah, merapikan celemeknya yang kusut, lalu tersenyum tipis. "Saya sudah menunggu tujuh tahun. Beberapa bulan lagi tidak ada bedanya."
"Apa maumu?"
Pertanyaan itu menghantam Sinta lebih keras daripada tamparan apa pun. Karena ia sendiri belum tahu jawabannya. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak mau lagi menjadi perempuan yang menunduk.
"Pertama," ucapnya pelan, "kembalikan ponsel saya."
"Tidak."
"Itu bukan permintaan, Bu."
Bu Retno menggertakkan gigi, merogoh kantong kebayanya, dan melempar ponsel itu ke arah Sinta. Ponsel itu membentur dadanya, jatuh ke lantai, layarnya retak tapi masih menyala. Sinta memungutnya dengan tenang.
"Kedua, berhenti memanggil saya mandul. Di depan siapa pun, kapan pun."
"Kamu pikir kamu bisa mengatur saya?!"
"Saya pikir Ibu tidak mau seluruh keluarga Wiryawan tahu kebenarannya." Sinta menatap lurus. "Dan ketiga, jangan pernah sentuh saya lagi. Satu pukulan lagi, satu hinaan lagi di depan tamu, dan salinan foto ini akan sampai ke tangan yang tidak bisa Ibu jangkau."
"Salinan?" Bu Retno tersentak. "Ada salinannya?"
"Menurut Ibu?"
Mata Bu Retno berkilat. Napasnya terdengar berat dan pendek. Selama sepersekian menit, perempuan itu hanya berdiri di sana, bertarung dengan dirinya sendiri, dengan harga diri yang baru saja ditelanjangi oleh seseorang yang ia anggap tak lebih dari lap kotor.
Lalu, perlahan, ia tersenyum. Senyum yang membuat bulu kuduk Sinta berdiri.
"Pintar," katanya dingin. "Ternyata kamu tidak sebodoh yang kukira. Tapi Sinta, kamu lupa satu hal."
"Apa?"
"Orang yang menyimpan kartu terlalu lama biasanya lupa bahwa lawannya juga punya kartu."
Bu Retno membuka pintu ruang setrika dengan satu tarikan tenang, lalu menoleh ke belakang. Wajahnya sudah kembali ramah, hangat, seperti ibu mertua yang penuh kasih, seolah tak ada apa pun yang terjadi.
"Sinta, cuci muka dulu. Jangan sampai tamu melihat wajahmu begitu. Setelah tamu pulang, kita bicara lagi."
Ia melenggang pergi dengan anggun, meninggalkan Sinta sendirian dengan ponsel retak di tangan dan tubuh yang baru sekarang mulai gemetar hebat. Ia merosot ke lantai, bersandar di dinding, dan menutup mulutnya agar isak yang lolos tidak terdengar.
Ia menang. Tapi kemenangan itu terasa terlalu mudah. Dan perempuan seperti Bu Retno tidak pernah menyerah secepat itu.
---
Menjelang magrib, mobil terakhir tamu pergi meninggalkan halaman. Rumah kembali sunyi. Sinta sedang melipat taplak di dapur ketika bayangan seseorang jatuh di ambang pintu.
Damar. Wajahnya pucat, matanya merah, rambutnya berantakan seperti baru dijambak sendiri.
"Sin," panggilnya lirih. "Ibu... Ibu bilang kamu mengancamnya."
"Aku hanya meminta diperlakukan seperti manusia."
"Tapi kamu bilang ke Ibu soal... soal aku." Suaranya bergetar. "Kamu janji nggak akan bilang siapa-siapa."
"Aku janji tidak menceritakan percakapan kita," jawab Sinta tenang. "Aku tidak pernah janji berhenti membela diri."
Damar membuka mulut, menutupnya lagi. Ia tampak seperti ingin marah, tapi tak tahu pada siapa. Lalu pandangannya turun ke pipi Sinta yang lebam keunguan, dan sesuatu di wajahnya runtuh.
"Ibu yang melakukan itu?"
"Menurutmu?"
"Ya Tuhan, Sin..." Damar mengulurkan tangan hendak menyentuh luka itu, tapi Sinta mundur selangkah. "Aku... aku nggak tahu dia sampai begitu."
"Kamu tahu, Mas. Kamu hanya memilih tidak melihat."
Hening. Lalu Damar menunduk dan berkata sangat pelan, nyaris tak terdengar, "Ada yang harus kamu tahu. Sesuatu yang baru kudengar tadi sore."
Sinta menatapnya waspada. "Apa?"
Damar menelan ludah. Matanya melirik ke belakang, ke lorong kosong, lalu kembali pada Sinta dengan ekspresi yang tak pernah ia lihat sebelumnya: ketakutan murni.
"Aku dengar Ibu menelepon seseorang di kamarnya. Dia bilang, 'Malam ini juga. Bawa Sinta ke tempat Pak Wiryo. Tidak ada lagi yang boleh tahu.'" Suara Damar pecah. "Sin, siapa Pak Wiryo? Dan kenapa Ibu bilang 'tidak ada lagi yang boleh tahu'?"