Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Kebenaran Darah Leluhur dan Takhta Hutan Misti
Langkah sepatu bot Altair menggema pelan menyusuri lorong batu yang dingin, meninggalkan Cassvia yang masih terbelenggu dalam pergolakan batinnya. Sang Kaisar melangkah menuju balkon alami gua yang menjorok keluar, menghadap langsung ke hamparan tak berujung Hutan Misti di bawah cahaya bulan merah.
Angin malam yang membawa aroma darah dan embun berhembus menerpa wajah rupawannya. Sambil menumpukan tangan di pagar batu, Altair merenungkan memori bawaan yang baru saja terbuka di dalam pikirannya.
Dunia ini sangat luas, namun terbagi dengan komposisi kekuasaan yang timpang. Manusia mendominasi setengah dari seluruh benua. Para Orc yang buas dan nomaden menguasai seperempat daratan, sementara sisanya diperebutkan oleh para Dwarf di pegunungan, Beastman di dataran liar, dan ras Elf yang mengisolasi diri di wilayah suci mereka. Ras-ras kuno seperti Naga dan Vampire hanya menjadi anomali mematikan yang bergerak dalam bayang-bayang.
Lalu, di mana letak ras Goblin?
Populasi kaumnya bahkan tidak menyentuh angka dua persen dari total makhluk hidup di dunia ini. Dihina, diburu tanpa ampun, dan didorong hingga ke ambang kepunahan seolah mereka tidak berhak untuk hidup.
"Angin malam di sini sangat tajam, Yang Mulia," sebuah suara parau terdengar dari belakang.
Altair menoleh pelan. Anrus, sang Goblin Scholar tua berkulit ungu, merangkak perlahan menghampirinya, bertumpu berat pada tongkat kayunya.
"Anrus," panggil Altair santai, namun nadanya mengandung wibawa yang absolut. "Dunia luar menganggap kaum kita sebagai hama menjijikkan yang lahir dari lumpur kotor. Tetapi ada sesuatu yang ganjil. Lihatlah wujudku. Jika kita memang monster rendahan, mengapa seorang Kaisar yang menjadi puncak dari ras ini terlahir dengan rupa seperti ini?"
Mendengar pertanyaan itu, Anrus gemetar. Ia menjatuhkan diri, dahinya menyentuh lantai batu dengan pemujaan yang fanatik.
"Itu adalah kebenaran yang dikubur rapat-rapat oleh sejarah dunia, Yang Mulia," suara Anrus bergetar penuh emosi. "Ribuan tahun lalu, ras goblin tidaklah ada. Leluhur sejati kita adalah hasil dari pernikahan yang terlarang—penyatuan antara Ratu Elf yang paling agung dan Raja Manusia yang serakah. Penyatuan darah yang menentang takdir itu memicu kutukan mutlak dari para dewa, mengubah keturunan mereka menjadi makhluk bungkuk yang membusuk... kakek moyang para goblin."
Mata Altair menyipit. Di balik tatapannya yang tenang, otaknya bekerja dengan kecepatan luar biasa.
Pantas saja, batinnya dingin. Wujudku saat ini bukanlah sebuah anomali acak, melainkan hasil dari sistem pemurnian! Evolusi darahku telah menghancurkan kutukan ribuan tahun itu, menarik kembali kemurnian darah Elf dan Manusia ke permukaan.
Altair kini memahami mengapa sistem yang ada di dalam kepalanya menempatkan fokus utama pada reproduksi dan manipulasi genetik. Di dalam pikirannya—sebuah rahasia yang tidak akan pernah ia ucapkan kepada siapa pun—Altair mulai menyusun cetak biru evolusi kasta kaumnya. Hobgoblin, White Goblin, dan Purple Goblin hanyalah pijakan awal. Ia tahu bahwa untuk menghancurkan kerajaan-kerajaan manusia kelak, ia harus membiakkan kasta Goblin Hitam yang mematikan, dan suatu hari nanti, kasta legendaris Goblin Perak.
Dan untuk melahirkan monster-monster elit itu, ia membutuhkan rahim wanita berdarah murni.
"Kita tidak akan selamanya bersembunyi di dalam gua ini, Anrus," ucap Altair, memecah keheningannya.
Mendengar ambisi itu, Anrus menengadah dengan cemas. "Tetapi perjalanan kita untuk bangkit tidak akan mudah, Yang Mulia. Di luar hutan ini, kerajaan manusia telah mengepung kita. Dan di dalam Hutan Misti ini sendiri... kita hanya menumpang di wilayah para Penguasa."
Altair terdiam, membiarkan sang tetua melanjutkan.
"Ada empat bencana yang menguasai penjuru hutan ini," bisik Anrus ngeri. "Warcraft Overlord, beruang raksasa setinggi enam meter yang mengendalikan tanah. Tigre, sang harimau kuno delapan meter penguasa petir. Basilisk raksasa bersisik baja dengan racun korosifnya. Dan Griffin, penguasa badai yang menguasai langit."
"Empat Penguasa Hutan," gumam Altair santai. "Lalu?"
"Mereka berempat pun masih tunduk pada rasa takut yang sama, Yang Mulia," tubuh Anrus bergidik semakin hebat. "Penguasa Puncak. Seekor Naga Merah Kuno di jantung Hutan Misti. Kekuatan apinya bisa meratakan seluruh tempat ini menjadi abu jika ia mengamuk. Tidak ada makhluk waras yang berani melangkah ke pusat hutan."
Altair tersenyum tipis. Matanya menyipit, menatap lurus menembus kabut menuju kegelapan terdalam di pusat Hutan Misti. Ancaman kematian yang digambarkan sang tetua sama sekali tidak menyurutkan ambisinya, melainkan justru memicu adrenalin penaklukan di dalam darahnya.
Penguasa Puncak, batin Altair dingin. Biarkan kadal purba itu menikmati takhtanya untuk saat ini. Suatu hari nanti, seluruh hutan ini—beserta para penguasanya—akan berlutut di bawah kakiku.
Tiba-tiba, renungan ambisius sang Kaisar terpotong oleh sebuah lengkingan jeritan yang sangat nyaring dari kedalaman relung gua.
AARGHH!
Jeritan Lyra terdengar menyayat hati, memantul di dinding-dinding batu.
Seorang Goblin Hijau betina berlari tertatih-tatih ke arah balkon, tangannya berlumuran darah segar dan cairan ketuban. Makhluk itu berlutut di hadapan Altair dengan napas tersengal.
"Y-Yang Mulia! Manusia bangsawan itu... perutnya! Janin kekaisaran memaksa keluar malam ini!"
Mata merah rubi Altair menyala terang dalam kegelapan malam. Siklus inkubasi genetik yang dipersingkat oleh sistem akhirnya mencapai batasnya. Sang Kaisar Goblin berbalik, membiarkan jubahnya berkibar ditiup angin, melangkah lebar menuju bilik kelahiran.
Malam ini, buah dari fondasi pertamanya akan menghirup udara dunia. Anak pertama dari sang Golden Emperor akan segera membuka matanya.