Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Identitas yang Seharusnya Tetap Rahasia
Pagi itu, Rendra Adijaya bangun dengan satu masalah.
Bukan tugas sekolah yang belum selesai. Bukan pula jadwal ujian yang mendadak dimajukan oleh guru yang tampaknya memiliki dendam pribadi terhadap kebahagiaan murid-muridnya.
Masalahnya adalah sebuah notifikasi.
Sebuah notifikasi yang muncul di ponselnya pukul 06.13, tepat ketika ia baru membuka mata dan masih berharap dunia akan memberinya waktu lima menit tambahan untuk tidur.
Unknown: Lo masih pakai nama itu?
Rendra menatap layar.
Satu detik.
Dua detik.
Lima detik.
Kemudian ia duduk tegak.
Nama pengirimnya tidak tersimpan dalam kontak. Tidak ada foto profil yang bisa dikenali. Hanya sebuah akun dengan nama pengguna acak yang mengirimkan pesan tanpa konteks.
Rendra membuka profilnya.
Kosong.
Ia memeriksa waktu pengiriman pesan, lalu membaca kalimat itu sekali lagi.
Lo masih pakai nama itu?
Nama yang mana?
Nama aslinya?
Nama akun game-nya?
Atau nama yang dipakai untuk mendaftar layanan yang bahkan sudah ia lupakan sejak SMP?
Rendra mengusap wajah.
“Pagi-pagi udah ada manusia aneh.”
Ia hendak mengabaikannya ketika sebuah pikiran muncul.
Bagaimana kalau pengirimnya mengetahui identitasnya di dunia game?
Rendra langsung membuka Discord.
Ia memeriksa daftar pesan, melihat notifikasi komunitas, kemudian membuka akun game yang selama ini ia gunakan. Tidak ada perubahan mencurigakan. Tidak ada pesan baru dari teman bermainnya.
Semuanya terlihat normal.
Terlalu normal, malah.
Ia meletakkan ponsel di atas kasur, lalu mengambilnya kembali tiga detik kemudian.
“Gue nggak panik,” gumamnya kepada kamar kosong.
Ponselnya kembali menyala.
Rendra menatapnya.
“Gue cuma melakukan pemeriksaan rutin.”
Tidak ada yang menjawab. Bahkan kamarnya sendiri tampaknya tidak tertarik mendukung kebohongan itu.
Di rumah keluarga Adijaya, suasana pagi berlangsung jauh lebih ramai daripada yang diinginkan Rendra.
Mama sedang menyiapkan sarapan ketika Papa masuk ke ruang makan sambil membawa dua cangkir kopi. Ia meletakkan salah satunya di dekat istrinya, lalu mencuri sepotong roti dari piring.
“Masih panas,” tegur Mama.
Papa meniup roti itu dengan santai. “Makanya aku sedang mendinginkan.”
“Dengan cara memakannya?”
“Metode praktis.”
Mama menggeleng, tetapi tetap tersenyum. Ia mengambil cangkir kopi yang dibawakan suaminya, kemudian menceritakan rencana pekerjaan hari itu. Papa mendengarkan sambil sesekali menanggapi, lalu membalas dengan cerita tentang jadwalnya sendiri.
Percakapan mereka mengalir tanpa perlu saling menebak-nebak.
Rendra turun beberapa menit kemudian dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan wajah yang berusaha mempertahankan sisa martabatnya.
Mama langsung menoleh.
“Lho, tumben turun pagi-pagi. Biasanya Mama harus memanggilmu dua kali.”
“Alarm gue bunyi.”
Papa mengangkat alis. “Terus?”
“Terus gue bangun.”
“Perkembangan yang luar biasa.”
Rendra menarik kursi. “Pa, pagi-pagi jangan mulai.”
Papa tertawa kecil.
Mama meletakkan sepiring sarapan di depannya. “Kamu kenapa? Kelihatannya kurang tidur.”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Mama memperhatikannya sebentar, lalu bertukar pandang dengan Papa.
Rendra menyadari tatapan mereka.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa,” jawab Mama. “Mama cuma merasa ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan.”
“Perasaan Mama terlalu tajam.”
“Namanya juga Mama.”
Papa menyeruput kopi. “Atau mungkin dia sedang memikirkan seseorang.”
Rendra hampir tersedak.
“PA!”
Mama langsung menoleh kepada suaminya. “Jangan ganggu anak kita saat sarapan.”
Papa mengangkat kedua tangan, menyerah sambil tersenyum.
Rendra menunduk dan sibuk mengaduk makanannya, berharap kegiatan tersebut cukup penting untuk membuat kedua orang tuanya berhenti memperhatikannya.
Sayangnya, ia lupa bahwa mereka sudah mengenalnya selama bertahun-tahun.
Dan kedua orang tuanya jelas tidak sebodoh itu.
Di sekolah, Naya sedang berusaha menyelesaikan soal latihan ketika Rendra datang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Bukan ekspresi dingin seperti biasanya.
Bukan pula ekspresi marah.
Lebih tepatnya, ekspresi seseorang yang sedang menyembunyikan masalah dan berharap semua orang cukup sopan untuk tidak menyadarinya.
Naya menatapnya dari atas buku.
“Kenapa muka lo?”
Rendra meletakkan tas.
“Muka gue kenapa?”
“Kayak orang habis ditagih utang.”
“Gue nggak punya utang.”
“Berarti habis kehilangan sesuatu.”
Rendra berhenti mengeluarkan buku.
Naya menyipitkan mata.
“HAH. BENERAN?”
“Nggak!”
“Terus kenapa reaksinya begitu?”
“Reaksi gue normal.”
“Ren, lo bahkan belum duduk dengan benar.”
Rendra menatap kursinya.
Benar. Ia memang masih berdiri dengan satu tangan memegang sandaran kursi.
Ia segera duduk.
Naya menutup bukunya perlahan.
“Gue kasih waktu sepuluh detik. Jelasin sebelum gue bikin kesimpulan sendiri.”
“Lo selalu bikin kesimpulan sendiri.”
“Karena lo selalu memberikan bahan.”
Rendra membuka mulut, kemudian menutupnya kembali.
Ia bisa saja menunjukkan pesan anonim itu. Namun, ia belum tahu siapa pengirimnya atau apa maksudnya. Membicarakan pesan yang belum jelas hanya akan membuat Naya ikut memikirkan sesuatu yang mungkin tidak penting.
Setidaknya, itulah alasan yang ia gunakan untuk membenarkan keputusannya.
“Cuma ada pesan aneh,” katanya akhirnya.
Naya langsung mengangkat kepala.
“Pesan apa?”
Rendra mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan layar.
Naya membaca kalimat tersebut.
“Lo masih pakai nama itu?”
“Iya.”
“Nama apa?”
“Gue juga nggak tahu.”
Naya menoleh kepadanya dengan ekspresi tidak percaya.
“Orang nanya begitu, lo nggak tahu maksudnya, tapi lo udah pasang muka kayak mau menghadapi sidang pengadilan?”
“Gue nggak pasang muka begitu.”
“Lo pasang.”
“Ini muka gue.”
“Turut berduka.”
Rendra menarik kembali ponselnya, sementara Naya menahan tawa.
Namun, setelah selesai menggoda, Naya kembali melihat pesan tersebut dengan lebih serius.
“Lo pernah pakai nama lain?”
“Di game, iya.”
“Selain itu?”
Rendra berpikir sebentar.
“Banyak akun lama yang udah nggak gue pakai.”
“Terus, orang ini bisa aja kenal lo dari sana.”
“Mungkin.”
Naya mengembalikan ponselnya.
“Jangan langsung dibalas. Periksa dulu akunnya, simpan pesannya, terus lihat apakah ada informasi yang benar-benar mengarah ke lo.”
Rendra mengangguk.
“Gue udah melakukan itu.”
“Bagus.”
Naya kembali membuka bukunya.
“Berarti sekarang berhenti memasang muka seperti orang yang baru mengetahui pajak.”
Rendra menatapnya datar.
“Gue nggak pernah memasang muka seperti itu.”
“Sekarang lo memasangnya lagi.”
Rendra akhirnya menyerah.
Ia kembali mengeluarkan buku pelajaran, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya masih terkendali.
Sampai ponselnya bergetar sekali lagi.
Sebuah pesan baru muncul dari akun yang sama.
Unknown: Jangan sampai lo lupa dari mana nama itu berasal.
Rendra membeku.
Kali ini, ia tidak bisa berpura-pura bahwa pesan tersebut hanya salah kirim.
Dan ketika Naya melihat perubahan ekspresinya, senyum di wajahnya perlahan menghilang.
“Ren?”
Rendra tidak langsung menjawab.
Ia membaca pesan itu sekali lagi, kemudian mengunci layar ponselnya.
“Nay,” katanya pelan, “gue rasa ini bukan orang yang sekadar iseng.”
Untuk pertama kalinya sejak pagi, Naya tidak membalas dengan lelucon.
Ia menatap Rendra, lalu layar ponsel yang sudah gelap.
“Kalau begitu, kita cari tahu siapa dia.”
Rendra mengangguk.
Namun, jauh di dalam pikirannya, ada satu pertanyaan yang terus berputar.
Kalau orang itu benar-benar mengetahui sesuatu tentang masa lalunya, mengapa ia baru muncul sekarang?