Aluna Putri adalah mahasiswi yatim piatu yang menghabiskan waktunya bekerja keras, hingga suatu hari ia nyaris tumbang karena kelelahan di depan Kayvan Dipta Madhava, CEO kaku sekaligus om dari sahabatnya, Raline.
Pertemuan canggung itu menjadi awal dari skenario besar yang disusun oleh Baskara Madhava yaitu papa dari Kayvan dengan alasan kesehatan yang menurun, tuan Baskara mendesak Kayvan untuk segera menikahi gadis pilihannya yang tak lain adalah Aluna.
Terdesak masalah finansial yang mengancam pendidikannya, Aluna terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Kayvan.
Meski terpaut usia dua belas tahun, benih cinta mulai tumbuh di sela-sela kesibukan kuliah Aluna dan jadwal padat Kayvan.
Pada akhirnya, Aluna dan Kayvan membuktikan bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu memiliki, melainkan tentang siapa yang sanggup bertahan dan melindungi dalam diam.
Bagaimana Kelanjutannya??
Yukkk Gass Bacaaaa!!!!!
IG: LALA_SYALALA13
YT: NOVELALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batalkan
Kejadian di malam ulang tahun Tuan Baskara Madhava meninggalkan kesan yang mendalam bagi Aluna.
Janji yang ia ucapkan di depan pria tua itu terasa seperti beban sekaligus pelipur lara, ia merasa bersalah karena telah meragukan ketulusan keluarga Madhava, namun di sisi lain bayangan Kayvan yang menatapnya dengan intens malam itu membuatnya sulit tidur.
Keesokan paginya Aluna kembali ke rutinitasnya sebagai mahasiswi, ia duduk di salah satu bangku taman kampus dan mencoba fokus pada buku statistikanya.
Namun pikirannya terus melayang, tiba-tiba sebuah bayangan menutupi sinar matahari yang jatuh ke bukunya.
"Melamun lagi?" suara ceria Raline terdengar.
Aluna mendongak dan tersenyum tipis melihat sahabatnya datang menghampiri.
"Hanya sedang memikirkan tugas Lin." jawab Aluna singkat.
Raline duduk di sampingnya lalu mengeluarkan ponselnya.
"Oh iya Al, kamu tahu nggak? Tadi pagi Om Kayvan tanya-tanya lagi soal kamu, dia kirim pesan singkat banget cuma nanya 'Apa Aluna sudah sampai kampus? Apa dia terlihat pucat hari ini?'." seru Raline.
"Om mu... bertanya begitu?" tnya Aluna sambil tertegun mendengar ucapan Raline tadi.
"Iya! Padahal biasanya dia cuma nanya soal laporan keuangan atau jadwal meeting, tapi sekarang sepertinya jadwal utamanya adalah memantau kesehatanmu lewat aku." Raline terkekeh dan menyenggol bahu Aluna menggoda.
Aluna merasakan semburat merah di pipinya, ia segera menunduk dan pura-pura membaca bukunya kembali.
"Mungkin dia hanya merasa bertanggung jawab karena Opa meminta bantuanku untuk menjaganya." ucap Aluna mencari alasan yang masuk akal.
"Menjaga Om Kayvan? Yang benar saja Al, Om itu singa, mana butuh dijaga tapi yang ada dia yang mau menjagamu." sahut Raline blak-blakan.
Di kantor pusat Madhava Group, Kayvan sedang memimpin rapat divisi pemasaran.
Wajahnya tetap kaku seperti biasa namun matanya sesekali melirik ke arah ponsel yang ia letakkan di samping laptop.
Saat sebuah notifikasi dari Raline muncul, ia segera membacanya dengan cepat.
Raline: [Dia sudah di kampus Om, pakai dress krem yang kemarin dan kelihatannya nggak pucat tapi sepertinya lagi banyak pikiran. Oh, dia juga menanyakan Om tadi.]
Kayvan sedikit mengernyit membaca bagian terakhir, entah rasanya hatinya begitu senang dengan kalimat itu.
'Menanyakanku?' gumamnya dalam hati.
Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadanya yaitu sesuatu yang tidak pernah ia rasakan saat memenangkan kontrak besar sekalipun, ia segera mengetik balasan singkat.
^^^Kayvan: [Pastikan dia makan siang tepat waktu, pakai kartu yang aku berikan kemarin dan jangan biarkan dia makan mie instan lagi.]^^^
"Pak Kayvan? Bagaimana menurut Anda mengenai strategi kampanye kuartal kedua ini?" tanya salah satu direktur pemasaran yang akhirnya memutus fokus Kayvan.
Kayvan meletakkan ponselnya dan kembali ke mode CEO-nya yang dingin.
"Terlalu boros dan tidak efisien. Ulangi riset pasarnya, fokus pada segmentasi yang lebih tajam. Saya ingin laporan baru di meja saya besok pagi."
Rapat berakhir dan Kayvan kembali ke ruang kerjanya, ia berdiri di depan jendela kaca besar menatap ke arah luar.
Di dalam benaknya ia sedang menyusun sebuah rencana, bukan rencana bisnis melainkan rencana untuk memastikan Aluna tetap berada dalam jangkauan perlindungannya tanpa membuat gadis itu merasa dibeli.
Sore harinya Aluna memiliki jadwal mengajar privat untuk Bima, setelah sesi belajar yang melelahkan karena Bima sedang sangat aktif, Aluna berjalan keluar dari kompleks perumahan.
Ia berniat mencari angkot namun sebuah mobil hitam yang sudah sangat ia kenal perlahan berhenti di sampingnya.
Kaca mobil turun dan Kayvan muncul dari balik kemudi.
"Masuk." perintahnya mutlak.
Aluna menghela napas namun kali ini ia tidak membantah sekeras kemarin, ia masuk ke dalam mobil dan menghirup aroma maskulin yang menenangkan.
"Om Kayvan tidak bosan menjemput saya?" tanya Aluna sambil memasang sabuk pengaman.
"Aku ada urusan di dekat sini." jawab Kayvan dengan alasan klasik yang sama.
"Urusan apa yang selalu bertepatan dengan jam pulang kerja atau kuliah saya, Om?" pancing Aluna.
Kayvan terdiam sejenak dengan tangannya memegang kemudi dengan mantap.
"Urusan memastikan janjimu pada papa tidak diingkari, jika kau sakit maka kau tidak bisa menjaga keluargaku bukan?" seru Kayvan.
Aluna menoleh dan menatap profil samping wajah Kayvan yang tegas.
"Om tahu kan kalau janji itu... sedikit emosional? Saya hanya tidak tega melihat Opa sedih." tutur Aluna pelan.
"Aku tahu, tapi bagi papa kata-katamu adalah hukum dan bagiku apa pun yang membuat papa tenang adalah prioritasku." ucap Kayvan datar namun matanya sempat melirik Aluna sekilas.
Mobil melaju membelah kemacetan Jakarta, kali ini Kayvan tidak langsung mengantar Aluna pulang ke kosan.
Ia membelokkan mobil ke arah sebuah restoran keluarga yang cukup tenang.
"Lho Om? Kita mau ke mana? Saya harus pulang karena banyak tugas." protes Aluna.
"Makan malam dulu, aku belum makan sejak siang dan aku tidak suka makan sendirian." perintah Kayvan.
Aluna ingin menolak namun perutnya memang sudah mulai keroncongan.
Akhirnya ia mengikuti Kayvan masuk ke restoran itu, mereka duduk di sudut yang agak tersembunyi.
Kayvan memesankan beberapa menu sehat tanpa bertanya lagi seolah ia sudah tahu apa yang dibutuhkan tubuh Aluna.
"Bagaimana kuliahmu hari ini?" tanya Kayvan membuka percakapan.
"Lancar, statistika mulai masuk ke materi yang rumit tapi saya masih bisa mengatasinya." jawab Aluna sambil memotong sayuran di piringnya.
"Raline bilang kau terlihat banyak pikiran, apa karena masalah kontrakan itu?" tanya Kayvan mencoba menggali dari Aluna langsung.
Aluna menggeleng mendengar pertanyaan dari Om sahabatnya itu.
"Bukan, masalah kontrakan sudah selesai berkat... Om, saya hanya sedang memikirkan bagaimana cara membalas kebaikan keluarga Madhava tanpa harus merasa berutang budi terlalu besar." jawab Aluna.
Kayvan meletakkan garpunya dan menatap Aluna lurus-lurus.
"Sudah kubilang jangan pikirkan soal utang budi, anggap saja ini investasi jangka panjang. Kau teman terbaik keponakanku dan papaku menyukaimu, itu sudah lebih dari cukup." balas Kayvan.
"Tapi bagi saya ini tetap terasa berat om, saya terbiasa melakukan semuanya sendiri." suara Aluna sedikit lirih.
Kayvan meraih gelas air putihnya dan menyesapnya sedikit.
"Kadang, menerima bantuan bukan tanda kelemahan Aluna, itu tanda bahwa kau mengizinkan orang lain peduli padamu, jadi belajarlah untuk sedikit lebih egois." sahut Kayvan memberikan semangat kepada Aluna.
Obrolan itu berlanjut dengan lebih santai, Kayvan mulai menceritakan sedikit tentang masa kecilnya yang kaku di bawah didikan ayahnya yang disiplin namun penuh humor.
Aluna juga bercerita tentang kenangan bersama mendiang orang tuanya, untuk pertama kalinya, jarak usia dua belas tahun di antara mereka tidak terasa seperti jurang yang besar.
Saat mereka selesai makan dan kembali ke mobil dan hujan gerimis mulai turun, Kayvan menjalankan mobil dengan lebih perlahan.
"Aluna." panggil Kayvan saat mereka sudah mendekati area kosan.
"Iya Om?"
"Papa ingin kau datang lagi akhir pekan ini, beliau ingin mengajakmu ke kebun teh milik keluarga di Puncak, udara di sana bagus untuk pemulihanmu." ucap Kayvan.
"Tapi Om, saya ada jadwal tutor di hari Sabtu." ucap Aluna dengan keraguan didalam dirinya.
"Batalkan, aku akan mengganti penghasilanmu hari itu dua kali lipat." sahut Kayvan cepat.
Aluna langsung menoleh dengan tatapan protes dengan seenaknya saja membatalkan.
"Om Kayvan! Sudah saya bilang jangan gunakan uang untuk mengatur hidup saya." seru Aluna tidak suka.
Kayvan menghela napas ia menyadari kesalahannya lagi.
"Maaf, maksudku... papa sangat berharap kau ikut. Raline juga akan ada di sana, ini bukan soal uang, ini soal waktu bersama keluarga."
Melihat gurat penyesalan di wajah Kayvan yang biasanya kaku membuat hati Aluna melunak.
"Baiklah, saya akan coba mengatur ulang jadwal dengan orang tua Bima tapi jangan tawarkan uang lagi sebagai pengganti Om, itu membuat saya merasa seperti pekerja harian Om." ucap Aluna.
"Mengerti." jawab Kayvan singkat.
Sesampainya di depan gerbang kosan Kayvan mematikan mesin mobil, ia menoleh ke arah Aluna.
"Terima kasih sudah mau menemani makan malam hari ini."
"Terima kasih kembali untuk makan malamnya Om, dan... terima kasih karena sudah tidak seformal kemarin." ucap Aluna tulus sebelum turun dari mobil.
Kayvan menatap punggung Aluna yang menghilang di balik gerbang, ia tersenyum sangat tipis dan hampir tidak terlihat, ia kemudian mengambil ponselnya dan menelepon asistennya.
^^^Kayvan: [Bayu batalkan semua janji temu saya untuk hari Sabtu, saya akan pergi ke Puncak bersama papa.]^^^
Bayu: [Tapi Pak, ada pertemuan dengan investor dari Singapura...]
^^^Kayvan: [Atur ulang, dan katakan saya ada urusan keluarga yang sangat mendesak.]^^^
Tegas Kayvan sebelum mematikan teleponnya secara sepihak.
Bagi Kayvan memastikan Aluna merasa nyaman di tengah keluarganya kini jauh lebih mendesak daripada angka-angka di bursa saham.
Tanpa ia sadari, misinya untuk memantau Aluna telah berubah menjadi keinginan tulus untuk selalu ada di samping gadis itu.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
ud gt cwek ny sok ni x... harga dr hrga dr....🙏🏻