NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Berbicara

Ketika Takdir Berbicara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:101.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.

Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.

Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.

Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zheana 21

Khadafy yang baru saja menyuap roti panggangnya mendadak menghentikan kunyahannya. Pria itu meletakkan garpunya berdenting pelan di atas piring, lalu menoleh lurus pada Zheana. Pagi yang semula dipenuhi aroma gurih masakan dan canda tipis, seketika diselimuti atmosfer serius yang tenang.

Zheana meremas ujung celemek di pangkuannya. Jemarinya yang halus bergetar pelan. Ia memberanikan diri menatap mata Khadafy, mencoba menyuarakan segala kecemasan yang berkecamuk dan mengendap di dadanya sejak semalam.

"Mas Khadafy..." panggil Zheana dengan suara lirih namun mantap.

"Ya, Zhea?" sahut Khadafy halus, memberikan perhatian penuhnya pada sang istri.

Zheana menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

"Zhea mau bicara masalah kita, Mas. Soal... keberadaan Zhea di sini dan situasi pernikahan kita."

Khadafy menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi bar, melipat kedua tangannya di atas meja.

"Bicaralah. Aku mendengarkan."

"Zhea tahu... pernikahan ini terjadi sangat mendadak," tutur Zheana perlahan, matanya menatap cangkir teh hangat di depannya.

"Kita berdua tidak pernah menduga akan ada di posisi ini. Mas Khadafy punya kehidupan sendiri, kebiasaan sendiri, dan rasa nyaman yang terganggu karena kehadiran Zhea yang tiba-tiba. Apalagi Mas juga sudah merencanakan banyak hal dengan Mbak Niken..."

Zheana mendongak, menatap Khadafy dengan raut wajah penuh kesadaran diri.

"Kalau Mas Khadafy merasa tidak nyaman, risih, atau belum terbiasa berbagi ruang pribadi dengan Zhea... Zhea mengerti banget, Mas. Biar nanti siang Zhea pesan kasur lipat lewat aplikasi. Zhea bisa tidur di kamar tidur ruang kerja atau di sudut kamar utama, supaya Mas Khadafy tetap bisa tidur nyenyak di kasur Mas sendiri tanpa harus mengalah tidur di sofa seperti semlam."

Khadafy tidak langsung menjawab. Pria itu mengamati raut wajah istrinya yang diliputi rasa sungkan yang begitu dalam. Ada rasa hangat sekaligus iba yang menghantam dadanya, betapa wanita di hadapannya ini selalu mendahulukan kenyamanan orang lain di atas penderitaannya sendiri.

"Zhea," panggil Khadafy pelan.

"Dan... ada satu hal lagi yang bikin Zhea kepikiran dari semalam, Mas," potong Zheana cepat, suaranya mendadak berubah agak parau, menyuarakan ketakutan terbesarnya.

"Apa pernikahan kita akan selesai sampai Mbak Niken kembali? Karena Zhea sadar kalau wanita yang Mas inginkan untuk menjadi istri dan anak-anak dari Mas Khadafy adalah Mbak Niken. Maaf saya menanyakan ini dari awal... Karena memang kita berdua sama-sama tahu..."

Ruang makan itu seketika hening.

"Saya harus segera berangkat, apa kamu mau berangkat ke kantor bareng sama saya?" tanya Khadafy tak menanggapi pertanyaan Zheana.

Zheana membeku. Tenggorokannya mendadak mengering mendengar pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Khadafy. Pertanyaan panjang dan mendalam tentang batas usia pernikahan mereka, tentang bayang-bayang Niken, dan tentang kepastian masa depannya, menguap begitu saja di udara, diabaikan tanpa jawaban oleh pria di hadapannya.

Khadafy menggeser piring sarapannya yang telah bersih, meneguk air putih hangat hingga kandas, lalu berdiri dengan tenang. Pria itu merapikan kerah kemeja biru gelapnya, seolah pembicaraan sarat beban yang baru saja dilontarkan Zheana hanyalah obrolan angin lalu.

"Mas..." bisik Zheana parau, matanya menatap Khadafy dengan binar kekecewaan dan kebingungan yang tak bisa disembunyikan.

"Pertanyaan Zhea yang tadi... Mas Khadafy nggak mau jawab?"

Khadafy menghentikan gerak jemarinya yang sedang membetulkan kancing pergelangan tangan. Ia menatap Zheana dari atas, manik matanya yang tajam dan pekat sama sekali tidak memancarkan emosi yang bisa dibaca.

"Zhea," panggil Khadafy, suaranya terdengar amat tenang namun begitu dalam.

"Pertanyaanmu itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab di meja makan sepuluh menit sebelum aku berangkat kerja."

"Tapi Zhea butuh kepastian, Mas..." potong Zheana, suaranya bergetar.

"Zhea butuh tahu di mana posisi Zhea di.."

"Aku tidak suka mengulang ucapan," potong Khadafy tegas, namun tanpa nada membentak. Ia mengikis jarak, membungkuk sedikit hingga wajahnya sejajar dengan Zheana yang masih terduduk kaku.

"Aku sudah bilang kemarin di mobil, pernikahan ini sah di mata hukum dan agama. Bukan main-main, bukan pura-pura. Jadi berhenti mengumpamakan dirimu sebagai cadangan."

Zheana menyusut napasnya yang tertahan. Aroma maskulin dan kesegaran sabun dari tubuh Khadafy mendadak menyeruak memenuhi inderanya, membuat hatinya kian berdesir hebat sekaligus berantakan.

"Saya harus segera berangkat, apa kamu mau berangkat ke kantor bareng sama saya?" tanya Khadafy, sengaja memotong topik sensitif itu sebelum emosi mereka makin terkuras.

Zheana tersentak. Realita pekerjaan seketika menamparnya. Sebagai staf junior di divisi marketing yang berada jauh di bawah naungan Khadafy, sang CEO di Mumtaz Group—fakta bahwa mereka kini suami-istri sudah cukup gila, apalagi jika sampai ada yang melihat mereka berangkat bersama.

"Berangkat bareng, Mas?" bisik Zheana panik, matanya membelalak lebar.

"Nggak mau, Mas! Nanti kalau ada karyawan lain yang lihat gimana? Di kantor kan nggak ada satu orang pun yang tahu kalau kita menikah!"

Khadafy menegakkan kembali tubuh tegapnya, menatap Zheana dengan sebelah alis terangkat

. "Lalu kenapa kalau ada yang tahu? Kamu mau naik transportasi umum dengan mata yang masih sembab begitu?"

"Mas Khadafy, tolong..." Zheana meremas jemari tangannya, memohon.

"Zhea baru beberapa bulan kerja di sana. Nanti orang-orang kantor berpikiran yang tidak-tidak. Dianggap Zhea pakai cara kotor buat mendekati atasan, atau lebih parah lagi, gosip soal Mbak Niken malah makin menyebar. Zhea mohon, Mas... profesionalitas kita di kantor harus tetap dijaga."

Khadafy mengamati ketakutan yang nyata di mata istrinya. Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya ia menghembuskan napas panjang, mengalah pada kepanikan polos Zheana.

"Baik," cetus Khadafy seraya meraih kunci mobil, jam tangan, dan tas dokumennya dari meja kerja.

"Kamu turun lima menit setelah aku. Mobil kantor dan sopir pribadi sudah aku minta untuk mengantarmu sampai basement gedung kantor. Tapi lewat pintu samping."

"Tapi Mas..."

"Tidak ada bantahan lagi, Zheana," potong Khadafy dengan penekanan yang tak bisa ditawar.

"Atau kamu mau aku yang menggandeng tanganmu masuk melewati pintu utama lobby kantor pagi ini?"

Ancaman itu sukses membuat mulut Zheana terkatup rapat. Pipinya seketika merona merah padam, antara malu dan panik membayangkan kehebohan satu gedung jika hal itu benar-benar terjadi.

"Iyaa, Mas... Zhea nurut," sahut Zheana terbata, buru-buru berdiri dari kursi bar dan bergegas menuju kamar untuk mengambil tas dan merapikan pakaian kerjanya.

Khadafy memperhatikan punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja, menatap pintu yang tertutup rapat seraya mengusap tengkuknya.

Ada kilat ketegangan tipis di matanya membayangkan dinamika baru mereka di kantor nanti, berpura-pura menjadi atasan dan bawahan yang asing, di saat jemari mereka baru saja saling menautkan janji suci beberapa belas jam yang lalu.

1
nely_48
silahkan niken sm adam merencanakan apapun,,, khadafy udh tau semua nya loh
nely_48
sok pak bagus msh nurut az sm s irma
nely_48
pantesan jd gila s niken, alih-alih jadi model d Paris malah hamil d gilir semua laki² ,,, bukan sukses mlah gila yg d dapat, boncos nasib mu niken
nining cahyaningrum
ceritanya enak alurnya jelas
david 123
adakah didunia nyata ibu kadung jahat seperti dg anak kandungx? Semoga tdk ya ....Amin ...miris...bila...ini kisah nyata...ya Thor
Fitria Syafei
syukurin senjata kena sendiri..makan ntuh TEMAN 😏 KK cantik mantaf 😍 kereen 🥰
Sri Angga
buah dr kejahatan mu terhadap zheana,,skg km di bls langsung oleh,,partner mu sndri .
ryuka
naahh kan malah udah hancur dluan kamu niken
Ambu Rinddiany Thea
halaaah sok pura pura niken ke ges benang mah beda cerita lain minta tolong tapi tuluuuy tuluy 🤣🤣🤣
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 kau tidak akan bisa menghancurkan Zheana dan bayinya,Niken.Kamu malah hancur sendiri.Sudah gila hamil kembali.
nely_48: kasian km niken,, jauh² k Paris jd jablay yg ujung-ujungnya hamil,, lah plg k indo malah d jual demi rencana yg blm tentu berhasil,,
emang badan niken lbh cocok jd prlacur jual diri az ath cari uang yg banyak buat gaya hidup glamor
total 1 replies
Oma Gavin
bikin mati mengenaskan saja niken digilir 3 orang terus mati itu hukum setimpal buat psikopat gila seperti niken
sunaryati jarum
Pembicaraan kamu sudah didengar oleh orang orang Angga da Rian Tim keamanan Mumtaz, berkhayal lah akan berhasil Niken,agar delusimu makin parah
nely_48
sok lah adam n niken kalian gali lab Liang kubur untuk diri kalian sendiri
nely_48
org gila s niken lepas,, teh Novi kau dmn ❓ tuh ODGJ niken butuh penenangan
Dokkan Battle
ABI ABI UMI UMI UMI LAUTTTTTT
Ambu Rinddiany Thea
pa bagus jgn lemah lah .anda kan sebagai kepala keluarga jgn sampai d injak2 harga dirimu pa , s irma sm s niken mah udh sma2 terkontaminasi otaknya jd udh susah d kasih paham , mening langsung d bina aja lah pa bagus d biasakan maksudnya 🤭
Oma Gavin
semoga niken kali ini kena batu nya dibikin saja cacat permanen jgn cuma cacat mental pisik nya dibikin lumpuh biar ngga ada lagi yg bisa dibanggakan
sunaryati jarum
Dicerai saja istri yang tidak menghargai dan menghormati anda Pak Bagus.Apalagi terang terangan membenci dan ingin mencelakai Zheana dan anak dalam kandungannya.Jika Niken tertangkap basah suruh dia makan makanan yang telah dicampur zat kimia berbahaya
sunaryati jarum
Segera bawa ke pesykiater sebelum jadi monster,buat salinan riwayat Niken selama di Paris,pada Irma agar matanya terbuka mengenai perilaku Niken selama di Paris.Ambil anak Niken dan supaya dibesarkan Bu Irma.Toh Niken sudah tidak laku jadi model
Muji Lestari
saya benci pak bagus knp masih bela istri dan anak tirinya knp TK cerai saja. .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!