Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 — PERSETUJUAN YANG DISEMBUNYIKAN
Arga Pratama tidak pernah menyangka bahwa satu lembar formulir bisa membuka begitu banyak pertanyaan.
Formulir RCV-17 tergeletak di atas meja kerjanya. Di sampingnya terdapat salinan SEC-22, catatan inventaris yang diberikan Ratih, dan buku catatan lama yang selalu dibawanya sejak penyelidikan ARX-9 dimulai.
Semua dokumen itu memiliki satu kesamaan.
Nama orang yang bertanggung jawab selalu hilang, tidak lengkap, atau digantikan kode administratif.
Arga mengambil pensil dan menarik garis di antara beberapa catatan.
SEC-22 mencatat pemeriksaan kartu akses yang dihentikan.
VIS-09 berkaitan dengan catatan pengunjung dan penerbitan kartu.
TR-09/17-B menunjukkan adanya salinan dokumen yang diterima personel teknis.
RCV-17 mencatat pemindahan arsip berdasarkan instruksi penahanan sementara.
Dan GW-04 muncul pada beberapa catatan yang seharusnya berdiri sendiri.
Jika seluruh dokumen itu asli dan berasal dari rangkaian administrasi yang sama, berarti ada jalur kewenangan yang menghubungkan semuanya.
Namun, Arga belum mengetahui siapa yang mengendalikan jalur tersebut.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Nadia.
“Apakah tim audit sudah menjawab permintaan verifikasi RCV-17?”
“Belum ada keputusan final,” jawab Nadia. “Mereka meminta salinan formulir yang lebih jelas dan informasi tentang asal dokumen.”
“Kalau begitu, kirimkan semua informasi yang kita punya. Jelaskan bahwa formulir itu diterima melalui amplop anonim dan belum diverifikasi.”
“Kamu tidak khawatir mereka akan menolak memeriksanya?”
“Lebih baik mereka mengetahui asal-usulnya daripada kita menyembunyikan sesuatu yang mungkin memengaruhi keabsahan bukti.”
Nadia terdiam sejenak.
“Kamu benar. Aku akan mengirimkan keterangannya.”
Sebelum menutup telepon, Arga menambahkan satu permintaan.
“Tolong cari tahu apakah pernah ada formulir RCV-17 lain dalam arsip proyek. Aku ingin membandingkan formatnya.”
“Baik. Aku akan menghubungi Ratih.”
Arga meletakkan ponsel.
Ia tidak tahu siapa yang mengirimkan formulir tersebut. Pengirim anonim itu mungkin ingin membantu, tetapi bisa juga sedang mengarahkan penyelidikan ke sasaran tertentu.
Karena itu, Arga memutuskan satu hal.
Ia tidak akan membiarkan orang asing menentukan siapa yang harus dicurigainya.
Pagi itu, bengkel Agung Joyo Motor cukup ramai.
Pak Darto sedang menangani mobil pelanggan yang mengalami gangguan sistem pengapian. Seorang pengemudi ojek daring menunggu penggantian busi, sementara dua pelanggan lain berdiri di dekat meja kasir.
Arga menyimpan dokumen penyelidikan ke dalam tas, lalu membantu Pak Darto memeriksa kendaraan yang berada di ruang servis.
“Bagaimana hasil pemeriksaan mobil ini?” tanya Pak Darto.
“Koilnya masih berfungsi, Pak. Masalahnya kemungkinan ada pada sambungan kabel dan sensor posisi.”
“Sudah diperiksa?”
“Sudah. Saya akan mengulang pengukuran sebelum mengganti komponen.”
Pak Darto tersenyum kecil.
“Bagus. Jangan sampai kita mengganti barang yang sebenarnya masih baik.”
Arga tertawa pelan.
Kalimat itu mengingatkannya pada penyelidikan ARX-9. Mereka harus memastikan setiap bagian sebelum menggambar kesimpulan.
Setelah kendaraan pelanggan selesai diperiksa, Pak Darto mengajak Arga duduk sebentar di ruang belakang.
“Arga, aku mendengar dari Nadia bahwa kamu menemukan formulir baru.”
Arga mengangguk.
“Formulir penerimaan arsip. Ada kode GW-04 di bagian persetujuan.”
Pak Darto tampak berpikir.
“Aku tidak mengenali kode itu. Dulu, sebagai teknisi, aku hanya berhubungan dengan dokumen teknis dan catatan pemeriksaan komponen. Urusan pemindahan arsip biasanya ditangani administrasi.”
“Apakah Bapak pernah menandatangani formulir pemindahan dokumen?”
“Pernah, untuk catatan komponen dan laporan inspeksi yang memang menjadi tanggung jawabku. Tetapi aku tidak pernah merasa memiliki kewenangan untuk menutup pemeriksaan keamanan.”
Arga mengamati wajah mentornya.
“Pak, saya ingin memastikan sesuatu. Apakah Bapak pernah menerima instruksi melalui jalur EW-01?”
Pak Darto menggeleng.
“Tidak pernah secara langsung. Aku pernah mendengar kode itu disebut oleh staf administrasi, tetapi aku tidak tahu siapa pemegang kewenangannya.”
“Apakah Bapak pernah melihat dokumen AUTH-03?”
“Tidak. Yang pernah kulihat hanya potongan dokumen pengesahan sementara yang kusimpan. Sampai sekarang aku tidak bisa memastikan apakah dokumen itu berkaitan dengan EW-01 atau hanya bagian dari urusan teknis yang berbeda.”
Arga mengangguk.
Ia menghargai kejujuran Pak Darto, terutama karena lelaki itu tidak berusaha memberikan jawaban yang tidak diketahuinya.
“Kalau nanti audit meminta keterangan Bapak, apakah Bapak bersedia membantu?”
“Tentu. Aku tidak ingin masa lalu terus menghancurkan hidupmu hanya karena orang-orang tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”
Pak Darto menepuk bahu Arga.
“Tapi kamu juga harus menjaga hidupmu yang sekarang. Jangan sampai seluruh waktumu habis untuk mengejar orang-orang yang pernah menyakitimu.”
Arga tersenyum tipis.
“Saya mengerti, Pak.”
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, pikirannya terasa sedikit lebih tenang.
Ia masih memiliki bengkel, orang-orang yang mendukungnya, dan kesempatan untuk membuktikan kemampuan melalui kompetisi.
Ia tidak ingin kehilangan semuanya hanya karena masa lalu.
Menjelang siang, Rendy datang ke bengkel dengan membawa dua kotak makanan.
“Aku membawa makan siang untuk orang-orang yang terlalu sibuk memikirkan dokumen tua,” katanya.
Arga menoleh.
“Kamu tidak punya kegiatan lain?”
“Ada. Mengalahkanmu di babak berikutnya.”
“Kalau begitu, seharusnya kamu berlatih, bukan membawakan makanan.”
Rendy meletakkan kotak makanan di meja.
“Kalau aku datang hanya untuk berlatih, kamu pasti menyuruhku memeriksa mesin pelanggan.”
Dimas yang baru masuk tertawa.
“Dia mulai mengenalmu dengan baik, Ga.”
Mereka makan bersama di ruang belakang bengkel.
Untuk beberapa saat, pembicaraan mereka hanya berkisar pada kompetisi. Rendy membahas strategi timnya, sementara Dimas menceritakan bahwa panitia akan mengadakan simulasi pemeriksaan kendaraan dengan data gangguan yang sengaja dibuat tidak lengkap.
“Kalian akan ikut tantangan itu?” tanya Arga.
“Jelas,” jawab Rendy. “Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menang tanpa bergantung pada keberuntungan.”
Arga mengangkat alis.
“Siapa yang bilang kamu bergantung pada keberuntungan?”
“Tidak ada. Tapi aku ingin memastikan kamu tidak punya alasan untuk meremehkanku.”
Arga tertawa.
“Kalau begitu, buktikan di lintasan.”
Rendy mengulurkan tangan.
“Sepakat.”
Arga menjabatnya.
Persaingan mereka masih ada, tetapi sekarang persaingan itu terasa sehat. Rendy tidak lagi berusaha menjatuhkan Arga dengan hinaan, dan Arga tidak menganggap setiap tantangan sebagai serangan pribadi.
Mereka hanya ingin menjadi lebih baik.
Namun, ketika makanan hampir habis, ponsel Arga berbunyi.
Pesan dari Nadia.
Aku menemukan daftar kode administrasi lama. GW-04 ternyata bukan kode individu. Itu kode unit pengendalian dokumen pengawasan.
Arga segera membaca pesan berikutnya.
Tetapi ada masalah. Unit itu menggunakan kode tersebut untuk mencatat persetujuan administratif, bukan untuk menyetujui hasil pemeriksaan teknis.
Arga meletakkan kotak makanannya.
“Kenapa?” tanya Dimas.
“Nadia menemukan informasi baru tentang GW-04.”
Rendy menggeser kursinya mendekat.
Arga menunjukkan pesan itu kepada mereka.
Rendy mengerutkan kening.
“Kalau GW-04 hanya kode unit, kita masih belum tahu siapa orang yang memberikan persetujuan.”
“Benar,” jawab Arga.
“Berarti kita perlu mencari petugas yang bertanggung jawab pada tanggal tersebut.”
Arga mengangguk.
Itulah langkah berikutnya.
Mereka tidak perlu menebak siapa pemilik kode itu. Mereka perlu mencari catatan penugasan, daftar petugas, dan tanda tangan yang tercatat pada hari pemindahan arsip.
Jika catatan tersebut masih ada, mereka mungkin akhirnya menemukan orang yang menyetujui RCV-17.
Sore harinya, Nadia mengirimkan salinan daftar penugasan yang diperoleh dari pusat dokumentasi.
Dokumen itu belum lengkap, tetapi memuat daftar petugas yang pernah bekerja di unit pengendalian dokumen pengawasan.
Ada enam nama.
Sebagian besar merupakan staf administrasi biasa. Dua orang sudah pensiun. Satu orang tidak lagi bekerja di perusahaan yang menangani arsip ARX-9.
Namun, nama terakhir membuat Arga berhenti membaca.
Mira Kinasih — Koordinator Administrasi Pengawasan.
Di sebelah namanya terdapat catatan bahwa ia bertugas menyetujui perpindahan dokumen terbatas selama periode penutupan proyek.
Arga segera menghubungi Nadia.
“Apakah Mira Kinasih masih bisa dihubungi?”
“Aku sedang memeriksa datanya. Dia sudah tidak bekerja di perusahaan lama, tetapi tercatat pernah menjadi konsultan administrasi untuk sebuah lembaga audit.”
“Apakah ada hubungan langsung antara Mira dan RCV-17?”
“Belum ada bukti yang memastikan bahwa dia menandatangani formulir tersebut. Namun, tanggal penugasannya cocok dengan periode pemindahan arsip.”
Arga memandang formulir yang tergeletak di meja.
“Kalau begitu, kita harus mencari dokumen asli dan tanda tangan pembanding.”
Nadia menyetujui.
Beberapa menit kemudian, ia mengirimkan sebuah foto dari arsip administrasi lama. Foto itu memperlihatkan daftar persetujuan perpindahan dokumen. Sebagian besar nama telah disamarkan karena pembatasan akses.
Di salah satu baris, tertulis:
Penerimaan arsip terbatas — RCV-17.
Di kolom persetujuan, tercantum kode GW-04.
Di kolom pelaksana, terdapat nama Mira Kinasih.
Namun, nama penerima dokumen tetap tidak terlihat.
Arga menatap layar.
“Jadi, Mira menangani proses administrasinya.”
“Ya,” jawab Nadia. “Tapi itu belum membuktikan bahwa dia mengetahui isi dokumen atau sengaja menyembunyikan apa pun.”
“Aku tahu. Kita hanya memiliki bukti bahwa dia tercatat sebagai pelaksana.”
Arga menyimpan foto tersebut bersama dokumen lain.
Satu lagi potongan teka-teki mulai terlihat.
Namun, siapa pun yang memindahkan arsip itu mungkin tidak bekerja sendirian.
Malam itu, Arga menerima telepon dari nomor yang belum pernah disimpannya.
“Apakah ini Arga Pratama?” tanya suara perempuan.
“Ya. Siapa ini?”
“Nama saya Mira Kinasih.”
Arga langsung berdiri.
Di ujung telepon, perempuan itu melanjutkan dengan suara tenang.
“Saya menerima pemberitahuan bahwa Anda sedang meminta verifikasi beberapa dokumen lama yang berkaitan dengan ARX-9.”
“Benar. Saya sedang mencoba memastikan siapa yang menangani pemindahan arsip setelah laporan akhir diterbitkan.”
“Saya tidak bisa menjelaskan seluruhnya melalui telepon. Ada beberapa hal yang perlu saya periksa terlebih dahulu.”
“Apakah Ibu pernah menangani formulir RCV-17?”
Mira terdiam sejenak.
“Saya pernah menangani banyak formulir pemindahan dokumen terbatas. Saya tidak ingin menjawab berdasarkan ingatan yang mungkin keliru.”
Arga menghargai jawaban tersebut.
“Apakah Ibu bersedia memberikan keterangan resmi kepada tim audit?”
“Bersedia, selama permintaannya disampaikan melalui prosedur yang benar.”
“Baik. Saya akan meminta tim audit mengirimkan undangan resmi.”
Sebelum Arga mengakhiri panggilan, Mira berbicara lagi.
“Pak Arga, ada satu hal yang harus Anda pahami. Petugas administrasi tidak selalu mengetahui isi berkas yang mereka pindahkan. Kadang-kadang, kami hanya menerima instruksi untuk memindahkan dokumen dari satu unit ke unit lain.”
“Saya mengerti.”
“Dan kode persetujuan tidak selalu menunjukkan siapa yang memutuskan isi laporan. Kode itu hanya menunjukkan jalur administratif yang digunakan.”
Arga mencatat perkataan tersebut.
“Kalau begitu, saya akan memisahkan kedua hal itu dalam pemeriksaan.”
“Bagus. Karena jika Anda mencampuradukkan kewenangan administratif dan keputusan teknis, Anda mungkin akan menuduh orang yang salah.”
Panggilan berakhir beberapa saat kemudian.
Arga berdiri diam, memikirkan percakapan itu.
Mira tidak membantah bahwa ia pernah menangani pemindahan dokumen. Namun, ia juga tidak mengakui telah menyetujui RCV-17.
Satu-satunya cara untuk mengetahui kebenarannya adalah memeriksa dokumen asli.
Keesokan harinya, tim audit memberikan kabar yang telah mereka tunggu.
Permintaan pemeriksaan SEC-22 dan RCV-17 disetujui secara terbatas. Arga, Nadia, dan Ratih diizinkan melihat salinan arsip yang telah diverifikasi, dengan syarat mereka tidak membawa dokumen keluar dari ruang pemeriksaan.
Mereka tiba di pusat dokumentasi pada pukul sembilan pagi.
Seorang petugas membawa tiga map ke meja khusus.
Map pertama berisi catatan penerbitan kartu akses.
Map kedua berisi laporan penutupan pemeriksaan SEC-22.
Map ketiga berisi formulir pemindahan arsip RCV-17.
Arga memeriksa setiap halaman sesuai urutan yang disepakati.
Catatan penerbitan kartu menunjukkan bahwa satu kartu hitam memang belum tercatat kembali setelah proyek berakhir. Namun, kolom penerimanya tidak lengkap.
SEC-22 memastikan bahwa pemeriksaan dihentikan berdasarkan instruksi administratif, tetapi tidak menyatakan bahwa kartu telah dikembalikan.
RCV-17 mencatat pemindahan dokumen VIS-09/TRF-2 ke penyimpanan terbatas.
Semua catatan itu kini dapat diverifikasi sebagai bagian dari arsip resmi.
Namun, kolom penerima pada RCV-17 masih tidak lengkap.
Arga memeriksa lembar persetujuan.
Kali ini, ia menemukan sesuatu yang tidak terlihat pada salinan anonim.
Di bagian bawah terdapat catatan kecil yang dicetak dengan tinta berbeda.
Persetujuan administratif diberikan berdasarkan instruksi unit pengawasan. Identitas penerima wajib dilengkapi sebelum penutupan inventaris.
Di sampingnya terdapat tanda tangan petugas administrasi.
Nama petugas tersebut tercantum jelas.
Mira Kinasih.
Arga tidak langsung menyimpulkan bahwa Mira bersalah. Justru catatan itu menunjukkan bahwa ia mungkin hanya menjalankan proses administrasi.
Namun, ada masalah lain.
Pada kolom verifikasi penerima, terdapat cap:
BELUM DIVERIFIKASI.
Sementara pada halaman penutupan inventaris yang dibuat tiga hari kemudian, status berkas berubah menjadi:
SELESAI.
Arga menatap kedua halaman itu bergantian.
“Siapa yang mengubah statusnya?” tanyanya kepada petugas audit.
Petugas itu memeriksa nomor registrasi.
“Perubahan status dicatat oleh unit pengendalian dokumen pengawasan. Namun, nama pengguna yang melakukan perubahan hanya tersimpan dalam log sistem lama.”
“Apakah log itu masih ada?”
“Kami sedang mencari salinan cadangannya.”
Nadia menunjuk tanggal perubahan.
“Perubahan status dilakukan tiga hari setelah formulir penerimaan dibuat.”
Ratih mengangguk.
“Artinya, berkas dinyatakan selesai meskipun verifikasi penerimanya belum tercatat.”
Petugas audit segera membuat catatan tambahan.
Arga tidak berkata apa-apa.
Mereka akhirnya menemukan perbedaan yang dapat dibuktikan antara kondisi awal dan status akhir arsip.
Tetapi belum ada bukti tentang siapa yang memerintahkan perubahan itu.
Setelah pemeriksaan selesai, Arga keluar dari ruang dokumentasi dengan membawa salinan resmi yang telah diizinkan oleh tim audit.
Nadia berjalan di sampingnya.
“Kita akhirnya memiliki bukti yang lebih kuat,” katanya.
“Ya. Tapi kita masih belum tahu siapa yang mengubah status berkas.”
“Menurutmu, apakah Mira mengetahui perubahan itu?”
“Kita harus bertanya kepadanya melalui pemeriksaan resmi. Tanda tangannya ada pada proses administrasi, tetapi belum ada bukti bahwa dia yang mengubah status.”
Mereka berhenti di dekat pintu keluar.
Ponsel Arga bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor anonim yang sama.
Sekarang kau sudah melihat dokumen aslinya.
Arga membaca pesan itu dengan hati-hati.
Pesan berikutnya muncul.
Mira bukan orang yang mengubah status inventaris.
Arga mengangkat pandangan.
Pengirim anonim itu melanjutkan.
Cari pengguna sistem yang melakukan perubahan tiga hari setelah penerimaan. Namanya tercatat dalam log cadangan.
Arga segera menunjukkan pesan tersebut kepada Nadia.
“Kita tidak boleh menganggap pesan ini benar,” kata Nadia.
“Aku setuju.”
“Tapi kalau log cadangan memang ada, kita harus mendapatkannya melalui tim audit.”
Arga mengangguk.
Ia menyimpan ponselnya, lalu kembali menatap gedung pusat dokumentasi.
Selama lima tahun, banyak orang mengira kasus ARX-9 telah selesai. Laporan akhir sudah diterbitkan, keputusan sudah dibuat, dan Arga telah dijadikan pihak yang bertanggung jawab.
Namun, arsip resmi kini menunjukkan bahwa bahkan setelah laporan akhir diterbitkan, dokumen penting masih dipindahkan, verifikasi penerima belum diselesaikan, dan status inventaris berubah menjadi selesai tanpa catatan penerimaan yang lengkap.
Arga tidak tahu apakah semua itu merupakan bagian dari rencana besar atau sekadar rangkaian kelalaian yang kemudian dimanfaatkan seseorang.
Ia belum memiliki jawaban.
Tetapi kini ia tahu persis apa yang harus dicari.
Log cadangan.
Pengguna yang mengubah status inventaris.
Dan hubungan antara perubahan administratif itu dengan laporan keselamatan awal ARX-9.
Sebelum meninggalkan gedung, Arga membuka buku catatannya dan menulis satu kalimat terakhir untuk hari itu.
BUKTI TELAH DIVERIFIKASI. PELAKU BELUM DIKETAHUI. LANGKAH BERIKUTNYA: TEMUKAN LOG CADANGAN.
Ia menutup buku tersebut.
Di kejauhan, suara kendaraan dari arena kompetisi terdengar samar.
Besok, ia harus kembali bertanding.
Dan selama ia masih memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuan serta mencari kebenaran, ia tidak akan berhenti.
Namun, Arga belum mengetahui bahwa log cadangan yang sedang mereka cari menyimpan satu catatan tambahan.
Sebuah catatan akses yang dibuat pada malam yang sama ketika ia dituduh merusak ARX-9.
Catatan itu tidak mencantumkan nama Adrian Voss.
Tidak mencantumkan nama Marcus Hale.
Dan tidak menggunakan kode EW-01.
Di kolom pengguna, hanya ada satu identitas yang selama ini tidak pernah muncul dalam laporan akhir.
AR-01.
Bersambung.