Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
maya sering berinteraksi dengan reza
Keributan hebat di lantai dasar malam itu berhasil diredam oleh pasukan pengawal pribadi Reza.
Setelah penyerangan itu gagal total, sistem keamanan di gedung apartemen makin diperketat dua kali lipat.
Maya tidak lagi diizinkan mengintip keluar jendela tanpa pengawalan, tapi seiring berjalannya waktu, suasana tegang di dalam mansion perlahan bergeser menjadi sesuatu yang tak pernah Maya bayangkan sebelumnya.
Hari-hari berlalu. Maya yang awalnya selalu mengurung diri di dalam kamar tamu, perlahan mulai terbiasa melangkah ke ruang tengah.
Mau tidak mau, berada di bawah satu atap membuat interaksi di antara Maya dan Reza makin sering terjadi.
Pagi itu, sinar matahari menembus dinding kaca besar mansion.
Maya berdiri di dapur bersih, sedang menyeduh teh hangat untuk dirinya sendiri. Langkah kaki ringan mengejutkannya.
Begitu Maya berbalik, ia melihat Reza melangkah masuk ke dapur dengan pakaian yang sangat santai—hanya kaos polos warna abu-abu dan celana kain hitam.
Tanpa jas mahal, tanpa pistol di pinggang, dan tanpa ekspresi dingin yang biasa menakutkan orang-orang.
Maya refleks menundukkan kepala, agak canggung. "P-pagi, Tuan Reza."
Reza menghentikan langkahnya di dekat konter bar dapur. Pria itu menatap teko teh yang mengeluarkan uap tipis.
"Masih panggil Tuan?" tanya Reza dengan suara berat khas orang baru bangun tidur.
Maya meremas jemarinya kikuk. "Lalu... saya harus panggil apa? Tuan kan bos di sini."
Reza menghela napas pelan, lalu meraih cangkir kosong di rak.
"Panggil Reza saja kalau cuma ada kita berdua. Suara kamu kaku sekali kalau panggil Tuan terus."
Maya membelalakkan mata pelan, agak kaget. "Tapi... apa tidak apa-apa?"
"Apa saya kelihatan bercanda?" balas Reza santai, menyodorkan cangkirnya ke arah Maya. "Tuangkan tehnya sekalian. Jangan cuma dipandangi."
Dengan tangan sedikit gemetar, Maya menyeduh teh untuk Reza. Momen-momen sederhana seperti inilah yang mulai membuka mata Maya.
Di luar, semua orang mengenal Reza sebagai bos mafia berdarah dingin yang ditakuti musuh-musuhnya dan disegani bawahannya.
Namun di dalam mansion ini, saat hanya ada mereka berdua, Reza hanyalah seorang pria biasa yang punya kebiasaan dan sisi tersembunyi yang jarang dilihat orang lain.
Maya mulai memperhatikan hal-hal kecil. Reza ternyata sosok yang sangat rapi dan menyukai ketenangan.
Pria itu sering menghabiskan waktu berjam-jam duduk di sudut balkon sambil membaca buku-buku tua tebal saat malam hari.
Pria yang biasanya memegang senjata itu ternyata bisa duduk hening berjam-jam hanya menikmati secangkir kopi hitam hangat.
Suatu malam, sekitar pukul satu dini hari, Maya yang terbangun karena haus berjalan menuju dapur.
Saat melewati ruang tengah yang remang-remang, ia melihat Reza duduk tersandar di sofa. Matanya terpejam, tapi keningnya berkerut dalam, seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
Maya menghentikan langkahnya, merasa cemas. "Reza?" panggilnya pelan.
Reza tidak bergerak, hanya napasnya yang terdengar memburu.
Maya memberanikan diri mendekat. Saat jarak mereka dekat, ia kaget melihat wajah Reza pucat pasi dan berkeringat dingin. Tangan kanan pria itu mencengkeram erat bagian bahu kirinya.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Maya panik, lupa akan rasa takutnya selama ini.
Reza membuka matanya perlahan. Tatapan matanya yang biasa tajam kini terlihat lelah dan rapuh.
"Cuma... bekas luka lama. Kalau cuaca makin dingin, rasanya seperti ditusuk jarum."
"Luka lama?" Maya melihat ke arah bahu Reza. "Luka tembak?"
Reza mengangguk pelan, terkekeh kaku tanpa tenaga.
"Luka saat saya masih umur dua puluh tahun. Pengingat kalau di dunia saya, kesalahan sekecil apa pun bisa dibayar pakai nyawa."
Melihat sisi rentan pria berkuasa itu membuat hati nurani Maya tergerak.
Tanpa berpikir panjang, Maya berlari ke dapur, mengambil air hangat di dalam wadah dan kain bersih, lalu kembali ke sofa.
"Biar aku bantu kompres ya," kata Maya lembut.
Reza menatap Maya lekat-lekat saat gadis itu duduk di karpet samping sofa dan dengan telaten menempelkan kain hangat ke bahu kirinya. Usapan lembut kain itu perlahan meredakan ketegangan di otot-otot tubuh Reza.
"Kenapa kamu peduli?" suara Reza terdengar sangat pelan di tengah keheningan malam.
"Bukannya saya ini orang jahat yang menyekap kamu di sini?"
Maya menghentikan gerakannya sejenak, lalu mendongak menatap mata hitam Reza.
"Kamu memang menakutkan, Reza. Dan aku masih takut sama dunia kamu. Tapi... setelah beberapa hari di sini, aku tahu kamu bukan orang jahat yang asal melukai orang. Kamu cuma... kesepian di tempat yang sangat tinggi ini."
Reza tertegun mendengar kata-kata polos namun jujur dari mulut Maya. Matanya yang dingin perlahan melunak.
Belum pernah ada seorang pun dalam hidupnya—termasuk Sora—yang memandangnya sebagai manusia biasa yang butuh kepedulian, bukan sekadar simbol kekuasaan atau uang.
Reza mengangkat tangan kanannya, lalu jemarinya yang hangat perlahan menyentuh helai rambut Maya yang terurai di pipinya.
"Kamu beda dari wanita lain yang pernah saya temui, Maya," bisik Reza dengan suara rendah yang membuat dada Maya bergemuruh aneh.
Maya membeku di tempat, merasakan sentuhan lembut jari Reza yang mengusap pipinya.
Jantungnya berdebar kencang, sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai menyusup halus ke dalam hatinya.
Namun tepat ketika suasana di antara mereka menjadi begitu hangat dan intim, pintu rahasia di balik rak buku ruang kerja Reza mendadak terbuka secara otomatis.
Seorang anak buah kepercayaan Reza melangkah keluar dengan terburu-buru, membawa sebuah map hitam bertuliskan lambang khusus.
"Tuan Besar, maaf mengganggu," potong pengawal itu dengan napas tersengal.
"Kami menemukan bukti baru. Orang yang mendanai serangan ke apartemen ini malam itu... ternyata berasal dari dalam lingkaran keluarga Nyonya Sora sendiri."
Bersambung.....