Menikahi pewaris gila (spin off MBPB) Ini adalah spin off dari novel sebelumnya (Mengandung benih pria beristri) silakan baca novel itu dulu untuk mengerti alurnya. Menceritakan kisah Sagara davitra Fernandez, buah hati dari Citra dan David dan seorang gadis bernama Azalea kirana, disini akan banyak diceritakan bagaimana cerita setelah ending pernikahan David dan citra di novel sebelumnya, Sagara yang di cap sebagai “pewaris gila” harus di hadapkan dengan intrik dan konspirasi yang kejam demi kekuasaan di dalam keluarganya sendiri setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang ia anggap pengkhianat dan meninggalkan nya sendirian saat kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Flora menatap Aleah dengan wajah yang tiba-tiba berubah, senyum hangat yang tadi menghiasi wajahnya lenyap seketika. Dan Aleah yang tidak memahami perubahan itu justru mengangguk.
“Iya, bibi.”
Gluk!
Tanpa sadar Flora menelan kasar ludahnya. “Dari mana kau tahu nama Citra?”
Aleah mengerutkan kening. “Dari ibu saya.”
Jawaban lugas dan terkesan meyakinkan itu justru membuat Flora kembali membeku.
Ibunya? Apakah dia kerabat Citra yang lain? Ataukah sahabatnya?
“Ibumu?”
“Iya.”
Aleah kemudian memperhatikan wajah Flora yang tampak semakin pucat.
“Ada apa,bibi?” Tanyanya, mulai merasa tak enak, karena merasa mempertanyakan hal tak seharusnya. Reaksi flora tersebut mengingatkan dia dengan reaksi yang diberikan Rika. Sama persis, seolah- olah nama Citra adalah hal yang tak boleh disebut sembarangan.
Flora tidak langsung menjawab, matanya justru beralih ke arah lain. Ke seseorang yang berdiri beberapa meter dari mereka dan perlahan melangkah mendekat.
Itu Zergan.
Laki-laki itu sejak tadi memang tidak memperhatikan percakapan mereka. Namun begitu nama Citra di sebut, atensinya seketika tertarik kesana.
Tatapan Zergan langsung tertuju kepada Aleah.
“Flora.” Panggilnya pada sang istri, suaranya terdengar rendah.
Flora menoleh.
“Zergan…”
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Aleah melihat keduanya secara bergantian, lantas mulutnya kembali terbuka dengan polosnya ia berkata. “Saya hanya bertanya soal nyonya Citra.”
Zergan terdiam.
Hal itu membuat Aleah semakin bingung, ada apa dengan mereka ini? Seperti sedang di rumah hantu dan di kagetkan dengan hantu yang paling seram saja.
“Kebetulan saya bertanya pada bibi Flora, karena dia adalah bibi Sagara.”
Flora buru-buru tersenyum, meski jelas senyumnya di paksakan.
“Ya, aku memang mengenal Citra.”
“Kalau begitu… “ Aleah mendekat sedikit. “Bibi tahu dia sekarang dimana?”
Pertanyaan itu membuat Zergan dan Flora kembali saling pandang.
Dan Aleah mulai merasakan ada hal yang aneh, sepertinya Nama Citra bukan nama yang bisa disebut sembarangan di rumah ini.
Zergan kemudian mendekat, menatap lebih serius. “Kenapa kau mencari nya?”
Aleah sedikit tersentak, tapi tak membuat ia gentar untuk menatap balik laki-laki itu. “Karena saya datang ke kota ini untuk mencari nya.”
“Untuk apa?”
Kali ini Aleah di buat bungkam, ia terdiam sejenak. Dia sendiri tidak yakin apakah harus menceritakan semuanya atau tidak, tentang keadaan ibu dan adiknya, tentang alamat yang di berikan ibunya padanya, tentang alasan Aminah mengirimnya ke kediaman Fernandez, dan tentang bagaimana ia akhirnya harus menjadi istri Sagara.
Terlalu banyak hal yang bahkan ia sendiri belum mengerti. Namun ada satu hal yang ia yakini, ibunya tidak mungkin memberikan alamat nyonya Citra tanpa alasan yang besar.
Satu-satunya harapan mereka, ibunya menyerahkan itu semua dan dia tidak boleh menyia- nyiakannya.
“Saya membawa pesan dari ibu saya.” Akhirnya alasan itulah yang keluar dari mulut nya.
Flora langsung menegang di susul Zergan yang juga semakin dibekuk rasa penasaran. “Pesan?”
Aleah mengangguk.
“Ibu saya yang menyuruh saya datang kesini.”
Zergan yang tergesa ingin tahu lebih lanjut semakin mendekatkan dirinya. “Siapa nama ibumu?” Interogasi nya.
“Aminah.”
Satu kata yang terucap itu membuat mereka sungguh sangat terkejut. Kali ini bukan hanya Flora saja yang membeku, Zergan juga terlihat seperti baru saja mendengar sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Lantas Aleah menangkap perubahan itu, matanya memindai, menatap Zergan dan Flora secara bergantian.
Zergan tidak menjawab, sementara Flora justru menatap Zerrgan dengan mata yang tampak penuh pertanyaan.
“Aminah….” Ulang flora lirih.
Aleah mengangguk. “Iya.”
“Dan ibumu mengenal Citra?” Kali ini pertanyaan itu di tekankan oleh Zergan.
Aleah kontan menggeleng pelan. “Saya tidak tahu.”
“Tidak tahu?”
Aleah menarik napas panjang sejenak, kenapa rasanya dia seperti tersangka dengan kasus berat yang sedang diinterogasi di ruangan isolasi, rasanya begitu pengap dan tak tahu harus memahami insiden yang mana lebih dulu.
“Saya hanya di beri alamat ini.”
Flora menatapnya semakin dalam, tak lama kemudian Aleah berbalik mengambil tas kecilnya yang ia sembunyikan di bawah kursi. Untung nya ia masih sempat menyelamatkan barang berharga nya itu.
Beberapa saat kemudian Aleah kembali lagi, lalu mengeluarkan sesuatu di dalam tas kecilnya.
Sebuah kertas yang sudah agak kusut.
“Sebelum saya pergi, ibu saya memberikan ini.”
Aleah lantas memberikan surat itu kepada Flora, bukan apa-apa, ia hanya ingin meluruskan apa yang dikatakan nya itu bukan sebuah kebohongan. Dan ingin menjelaskan bahwa tujuannya kesini untuk memenuhi mandat sang ibu, bukan menjadi pengantin dadakan tuan muda mereka yang di sebut pewaris gila oleh orang-orang.
Di sisi lain, Flora ragu- ragu menerimanya. Dan begitu ia membuka nya dengan jantung berdegup, kemudian membaca isinya, wajahnya langsung berubah pucat.
Zergan yang melihat itu, lantas menengok hendak membacanya juga, dan hanya beberapa detik namun cukup membuat tatapan laki-laki itu mengeras.
“Ada apa? kenapa?” Tanya Aleah, semakin bingung dengan reaksi dua orang tersebut.
Flora buru-buru melipat kembali kertas tersebut,
“Tidak ada.” Lugasnya, menatap lurus ke depan seperti tidak terjadi apa-apa .”
Ia kemudian menatap lurus kepada suaminya.”Zergan, bisakah tinggalkan kita berdua dulu? Aku ingin berbicara empat mata dengan nya.”
Zergan mengerutkan kening, wajah nya menunjukkan ketidakrelaan. “Tapi—“
Kali ini Flora menunjukkan raut yang sangat memohon membuat Zergan tak bisa berkata apa-apa lagi selain menuruti nya.
Aleah mengerutkan kening. “bibi?”
Flora tersenyum. “Sepertinya aku salah mengenal sesuatu.”
Jawaban itu justru membuat Aleah semakin curiga.
“Bibi, aku benar-benar tidak bermaksud untuk mencoba ikut campur dalam urusan keluarga kalian. Jika permintaan ku itu—”
“Aku tahu,” sela Flora, memotong ucapan Aleah, padahal Aleah ingin mengatakan kalau ia tidak akan bertanya lagi soal hal ini, jika itu memberatkan mereka.
“Aku juga tidak bermaksud mencari masalah.” Lanjut Aleah, ia bukan tipe orang yang akan diam saja jika omongan nya di potong. Bukan bermaksud tidak sopan, justru itu bentuk menghargai dirinya sendiri dan adab yang memang seharusnya dilakukan.
“Aku tahu, Aleah.” Sambung Flora lagi, kali ini matanya mengisyaratkan permohonan agar Aleah tidak lagi membicarakan hal ini sebelum ada yang mendengar mereka, namun melihat reaksi itu justru membuat Aleah semakin dikungkung penasaran.
“Tapi saya harus menemukan nyonya Citra.”
Suara Aleah kali ini lebih tegas,” karena ibu saya menyuruh saya untuk mencari nya.”
Flora terdiam, kali ini wajahnya menunjukkan kepedulian, kepelikan dan sendu yang mendalam seolah ingin membantu Aleah namun di sisi lain ia seolah terikat oleh sesuatu.
“Dan saya rasa bibi adal satu-satunya orang di rumah ini yang mungkin bisa membantu saya.”
Flora menggigit bibirnya,ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tentang citra dan David, tentang masa lalu yang belum selesai dan satu lagi tentang siapa Aminah ibunya gadis itu, yang flora duga Aleah pun tidak tahu akan hal itu.
Tetapi dia juga tahu, terlalu banyak bicara bisa membahayakan banyak orang. Apalagi sekarang Aleah telah menjadi bagian dari keluarga Fernandez.
Flora akhirnya mengusap kepala Aleah dengan lembut. “Untuk sementara jangan tanyakan soal Citra kepada siapa pun, ya?”
Aleah mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Karena tidak semua orang dirumah ini senang mendengar namanya.”
Aleah langsung terdiam. Kalimat itu justru menjawab lebih banyak daripada yang Flora sadari. Dan kini bukan lagi soal mandat ibunya yang harus ia jalani namun satu pertanyaan yang mulai berdengung dikepalanya.
Kenapa nama Citra begitu dibenci di dalam keluarganya sendiri?
…….