Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21.
"Anggap saja aku nggak ada... Biarin aku pergi. Biar aku hidup sendiri tanpa merepotkan kalian semua!"
Tanpa membuang waktu, Bella memutar tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga yang kumal, bersiap melangkah keluar dari rumah itu. Namun, baru dua langkah pandangannya mendadak gelap total. Kakinya melemas seketika, membuat tubuh mungilnya terhuyung ke depan dan hampir menghantam lantai marmer yang keras.
"Bella!" teriak Nathan histeris.
Belum sempat tubuh itu menyentuh lantai, sepasang lengan kokoh dengan sigap menyambar pinggang Bella, menahan jatuhnya gadis itu. Christian bergerak secepat kilat, menarik tubuh Bella merapat ke dadanya.
"Om...?" gumam Bella sangat lemah, matanya terpejam rapat dengan napas yang memburu panas.
Christian tidak membuang waktu. Sebagai seorang dokter berkaliber tinggi, insting medisnya langsung mengambil alih. Dengan tangan kirinya, Christian meraba kening dan leher Bella. Suhu tubuh gadis itu teramat panas, berbalut keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
"Badannya panas tinggi. Dia mengalami demam tinggi akibat kelelahan ekstrem," tegas Christian kepada orang-orang di ruangan itu, suaranya berubah panik terkendali. Ia lantas menoleh tajam ke arah keponakannya. "Nathan! Cepat siapkan kendaraan di depan sekarang juga!"
"Ba-baik, Om!" jawab Nathan, langsung berlari pontang-panting menuju luar rumah dengan rahang mengeras rapat untuk menutupi rasa sesak yang menghantam dadanya.
Bima dan Dinda yang melihat kejadian itu langsung bergegas mendekat dengan wajah cemas. Dinda bahkan menutup mulutnya karena terkejut melihat betapa rapuhnya kondisi Bella.
"Tuan Bima, Nyonya," ucap Christian dengan nada tegas namun sopan, menatap kedua pemilik rumah di tengah situasi darurat tersebut. "Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah mengganggu waktu istirahat kalian di malam yang sudah larut ini. Dan saya juga berterima kasih sedalam-dalamnya karena keluarga Anda telah menyelamatkan Arabella."
Bima menghela napas panjang, meredam sisa emosinya melihat kondisi Bella yang terkulai lemas di pelukan Christian. "Sudahlah, Tuan Christian. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Arabella."
Clarisa yang berdiri di dekat mamanya tampak ragu dan cemas. Gadis itu maju selangkah. "Om Christian, biarin Bella istirahat di kamar saya dulu... Biar saya temenin—"
Christian memotong dengan lembut namun tegas, menatap Clarisa meyakinkan. "Terima kasih atas kepedulianmu, Clarisa. Tapi biarkan saya yang membawanya. Sebagai anggota keluarganya dan seorang dokter, saya tahu persis penanganan medis apa yang dia butuhkan saat ini."
Clarisa terdiam, menatap wajah Bella yang begitu pucat sebelum akhirnya mengangguk pelan, luluh oleh penjelasan rasional Christian.
Christian lantas mengangkat tubuh Bella dalam gendongannya, membawanya keluar dari mansion Bimantara menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Nathan, untuk segera mendapatkan perawatan intensif yang dibutuhkannya.
*
Langkah kaki Christian bergegas menembus pintu utama mansion Bimantara dengan menggendong tubuh Bella yang terkulai lemas. Di belakangnya, Nathan membuntuti dengan langkah kaku, kedua tangannya mengepal begitu erat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau yang mengemudi, Nathan. Biar aku yang memangku kepalanya agar jalannya tidak terlalu terguncang," instruksi Christian dengan nada dingin penuh wibawa saat mereka tiba di samping mobil SUV hitam yang terparkir di halaman.
"Baik, Om," jawab Nathan singkat, berusaha menjaga suaranya agar terdengar sedingin mungkin dan sama sekali tidak bergetar. Ia segera membukakan pintu belakang untuk pamannya.
Begitu Bella dibaringkan dengan posisi senyaman mungkin di atas jok kulit mobil, Nathan langsung memutar badan dan mengambil alih kursi pengemudi. Dalam hitungan detik, mesin mobil menyala dan kendaraan mewah itu langsung melesat membelah jalanan ibu kota yang sudah sunyi senyap di pukul dua pagi.
Di dalam kabin yang temaram, suasana terasa begitu menyesakkan. Nathan duduk kaku di kursi pengemudi. Rahangnya mengetat keras, sementara matanya berkali-kali melirik tajam ke arah cermin spion tengah—memastikan wajah pucat Bella yang terbaring di belakang terlihat jelas. Meski di dalam hatinya rasa khawatir dan takut setengah mati bergolak hebat, ego dan gengsinya membuatnya memasang topeng sedingin es, menolak menunjukkan kelemahan apa pun.
"Om..." cicit Nathan akhirnya, memecah keheningan dengan suara yang ditekan sedemikian rupa agar terdengar datar. "Kondisinya... separah itu? Kenapa bisa langsung demam setinggi itu?"
Christian tidak langsung menjawab. Mata tajam pria itu fokus menatap jalanan di depan sambil terus memastikan Bella tetap bernapas dengan stabil, sementara rahangnya mengeras kaku.
"Dia mengalami syok psikologis parah, kelelahan fisik ekstrem, ditambah lagi dengan paparan udara malam saat dia nekat keluar rumah hanya mengenakan pakaian tipis," jawab Christian dingin tanpa melirik keponakannya. "Imun tubuhnya runtuh seketika. Jika kita terlambat sepersekian menit saja tadi, dia bisa mengalami kejang demam."
Mendengar penjelasan itu, tangan Nathan yang mencengkeram kemudi bergetar hebat. Rasa bersalah yang teramat pekat menghantam dadanya, namun ia buru-buru menelan ludah susah payah dan membuang muka ke arah jendela luar, menolak membiarkan air matanya terlihat.
"Bukannya dari awal sudah kubilang dia itu ceroboh," ucap Nathan dingin, sengaja melontarkan kalimat ketus untuk menutupi rasa sakit dan ketakutannya sendiri. "Selalu saja bikin masalah dan nyusahin orang lain."
"Cukup, Nathan," cerca Christian tajam, menyayat pertahanan keponakannya tanpa ampun. "Simpan omong kosong dan sikap dingin palsumu itu. Emosi bodohmu hampir merenggut nyawa adikmu sendiri. Jika malam ini dia kenapa-napa, saya pastikan kamu adalah orang pertama yang tidak akan saya maafkan."
Nathan terdiam kaku. Tidak ada lagi sanggahan yang keluar dari bibirnya. Ia memilih menggigit bagian dalam pipinya hingga terasa perih, menyembunyikan rasa hancur di balik ekspresi datarnya.
*
Tak lama kemudian, SUV hitam tersebut memasuki area pelataran IGD sebuah rumah sakit swasta bonafide tempat Christian biasa berpraktik. Sebelum mobil berhenti sempurna, Christian sudah lebih dulu menekan tombol interkom di ponselnya untuk menghubungi rekannya di rumah sakit.
"Dokter Kevin, siapkan ruang IGD sekarang juga. Saya membawa pasien usia delapan belas tahun dengan kondisi demam tinggi, dan syok berat. Saya butuh penanganan cepat," perintah Christian dengan suara tegas dan terukur.
“Baik, dokter Christian. Tim medis dan brankar sudah bersiap di depan pintu IGD,” jawab suara di seberang telepon.
Begitu mobil berhenti di depan lobi rumah sakit, pintu langsung dibukakan oleh perawat. Christian bergerak sigap mengangkat tubuh Bella keluar dari mobil dan memindahkannya ke atas brankar dorong yang telah disiapkan.
"Dorong ke ruang tindakan utama!" instruksi dr. Kevin, rekan sejawat Christian, yang langsung menyambut mereka bersama dua orang perawat berpengalaman.
Christian dan Nathan berjalan cepat mengiringi brankar yang didorong menuju ruang penanganan khusus. Sesampainya di dalam ruangan yang steril, dr. Kevin langsung memasang selang oksigen ke hidung Bella dan menempelkan elektroda monitor jantung ke dada gadis itu.
"Suhu tubuhnya mencapai 39,8 derajat Celsius," ucap dr. Kevin sambil memeriksa hasil termometer digital dengan kerutan di keningnya. "Tekanan darahnya juga drastis menurun. Kita harus segera memasang infus cairan elektrolit dan memberikan obat penurun panas intravena untuk mencegah kerusakan organ akibat suhu panas yang terlalu tinggi."
"Lakukan yang terbaik, dokter Kevin," ujar Christian dengan nada otoritatif namun tersirat kecemasan mendalam di balik manik matanya. "Cek juga kadar elektrolit dan darah lengkapnya. Pastikan tidak ada infeksi sekunder."
"Baik, Christian. Biar timku yang tangani," balas dr. Kevin mengangguk mantap.
Perawat dengan cekatan mulai mencari vena di tangan Bella yang tampak begitu pucat dan kurus. Saat jarum suntik kecil menusuk kulit mulus adiknya, Nathan yang berdiri kaku di sudut ranjang langsung memalingkan wajah. Ia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, menggertakkan gigi rapat-rapat untuk menahan diri agar tidak terlihat rapuh di hadapan pamannya.
"Om..." panggil Nathan dengan suara serak yang ditekan, matanya masih menatap lurus ke dinding putih rumah sakit. "Dia... bakal baik-baik saja, kan?"
Christian berdiri bersidekap di sisi lain ranjang, menatap lekat-lekat wajah Bella yang terpejam damai namun masih tampak kesakitan dalam tidurnya. Mendengar pertanyaan itu, Christian melirik keponakannya sekilas dengan tatapan penuh selidik.
"Selama dia ada di bawah pengawasan medis saya, dia akan selamat," jawab Christian mutlak, lalu mengalihkan tatapan tajamnya sepenuhnya kepada Nathan. "Tapi begitu dia sadar, tugas kita berdua bukan lagi sekadar menyembuhkan fisiknya, melainkan memperbaiki kehancuran mental yang sudah kalian perbuat di rumah."
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang