Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Bisikan dari Balik Angin Malam
Hutan belantara di kaki Pegunungan Cadas Hitam malam itu terasa begitu menyesakkan. Suara desir angin yang menghantam dahan-dahan pinus berdengung di telinga, berpadu dengan derap langkah kaki yang diseret di atas tumpukan daun-daun kering.
Di bawah naungan akar-akar pohon raksasa yang melintang di tepi jurang, Feng memapah tubuh Bao yang terluka parah di bagian paha, sementara di samping mereka, Zhao Lianhua berjalan terhuyung-huyung dengan pandangan kosong.
Langkah kakinya tertatih-tatih, seolah setiap jengkal tanah yang dipijaknya adalah beban yang teramat berat untuk diangkat.
Mereka telah berlari sejauh tiga km dari lokasi penyergapan maut di celah cadas. Kini, di dalam sebuah ceruk gua kecil yang tersembunyi di balik tirai air terjun musiman, mereka mengistirahatkan diri dari kejaran Pasukan Serigala Hitam.
Suasana di dalam gua teramat sunyi. Tidak ada percakapan. Yang terdengar hanya rintihan kecil dari Bao yang menahan rasa sakit saat Feng dengan hati-hati merobek secarik kain untuk membalut luka panah beracun di paha temannya.
Di sudut gua, Lianhua duduk bersimpuh memeluk kedua lututnya. Wajah cantiknya sangat pucat pasi, nyaris transparan di bawah temaram cahaya bulan yang menyusup dari celah batu.
Bibirnya yang kering bergetar hebat. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih berlumuran darah Kapten Yu dan Tuan Zhao.
Bisikan-bisikan gelap itu kembali bergemuruh di dalam kepalanya, makin nyaring dan mematikan.
'Kau pembawa sial, Lianhua... Ayah Zhao tewas karenamu... Kapten Yu gugur untuk melindungimu... Semua orang yang mendekatimu akan berakhir di ujung pedang musuh. Kau sudah kalah. Lebih baik kau menyerah...'
Lianhua memejamkan matanya rapat-rapat, dan mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangannya. Air matanya sudah kering, menyisakan rongga dada yang terasa kosong, dingin, dan mati rasa. Ia merasa dirinya benar-benar hancur, tidak berguna, dan tidak pantas lagi memegang pedang perak pemberian ayah angkatnya.
Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, saat Feng sedang fokus membersihkan luka Bao menggunakan sisa air kendi, suara gemuruh air terjun di luar tiba-tiba berubah.
Bukan lagi suara deburan air biasa. Suara itu berangsur-angsur melembut, beresonansi dengan desiran angin malam yang menyusup masuk ke dalam rongga gua, dan membentuk sebuah melodi lembut yang sangat dikenal oleh Lianhua sejak ia kecil.
Sssss... Hooamm...
Lianhua mengangkat perlahan kepalanya yang berat. Ia menatap kosong ke arah dinding gua yang basah.
Dan kemudian, di antara desau angin dan gemericik air, sebuah suara berat yang penuh kehangatan, suara yang telah membimbingnya berlatih pedang di tepi telaga lotus, suara yang memeluknya di malam-malam dingin, mendadak berbisik lembut langsung di dalam relung hatinya.
“A-Hua... anakku...”
Lianhua terperanjat kecil. Napasnya tertahan di tenggorokan.
“Apakah pedang di pinggangmu itu kehilangan ketajamannya hanya karena malam sedang gelap? Apakah seorang ksatria sejati menyerah hanya karena jalannya tertutup duri?”
"Ayah...?" bisik Lianhua sangat lirih, bibirnya bergetar hebat. Ia menoleh ke sekeliling sudut gua, karena mengira bayangan Tuan Zhao berdiri di dekatnya. Namun tidak ada siapa-siapa di sana, selain Feng yang sedang merawat Bao.
Suara itu nyata... bukan di telinganya, melainkan bergemuruh dari dalam kedalaman jiwanya sendiri, dan memanggil setiap serpihan keberanian yang pernah ditanamkan sang ayah kepadanya.
“Bangunlah, Lianhua. Air mata seorang pemimpin tidak untuk diratapi di atas abu, melainkan untuk menempa baja di dalam dadanya. Musuhmu tidak ingin kau meratap, mereka ingin kau mati dalam penyesalan. Jangan biarkan pengorbanan kami sia-sia di tempat yang gelap ini.”
Suara Tuan Zhao mendadak berpadu dengan suara Kapten Yu, suara Paman Chen, dan suara ribuan rakyat jelata yang menggantungkan harapan di pundaknya.
“Hiduplah... Lianhua... Dan tegakkan keadilan.”
Kalimat itu menghantam kesadaran Lianhua bagaikan sambaran petir di siang bolong.
Seluruh tubuh Lianhua menegang. Saraf-saraf di sekujur tubuhnya seolah dialiri oleh aliran tenaga dalam yang hangat, menyapu bersih rasa dingin, keraguan, dan keputusasaan yang sempat melumpuhkannya.
Ia menatap kedua tangannya yang berlumuran darah. Darah itu bukan lagi simbol kematian atau kutukan... melainkan sebuah sumpah yang belum ditunaikan.
Lianhua menarik napas dalam-dalam, menghirup udara malam yang segar, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya dan membakar kembali bara api di dalam jiwanya.
Perlahan-lahan, Lianhua menegakkan punggungnya. Bahunya yang tadi merosot kini kembali terangkat tegap.
Sorot matanya yang jernih, redup, dan mati rasa dalam sekejap tersapu bersih, berganti dengan kilatan cahaya yang sangat jernih, tajam, dingin, dan mematika, sorot mata Sang Putri Pilihan Rakyat yang bangkit kembali dari dasar jurang kegelapan!
Feng yang sedang membalut luka Bao, mendadak merasakan perubahan drastis di dalam ruangan gua tersebut. Udara di sekitar mereka terasa bergetar oleh tekanan energi dalam yang halus namun luar biasa kuat.
Pemuda itu menoleh dengan kaget.
Lianhua bangkit berdiri dengan anggun. Jubah birunya berkibar pelan tertiup angin malam. Ia tidak lagi tampak seperti gadis belia yang putus asa, ia berdiri sebagai seorang jenderal perang yang baru saja menajamkan kembali pedangnya.
Lianhua melangkah mendekati Feng dan Bao yang menatapnya dengan penuh rasa takjub.
"Lianhua...?" bisik Feng ragu-ragu, melihat perubahan kilau di mata sang putri.
Lianhua berlutut di samping Bao, dan memeriksa kondisi luka tembus panah di paha temannya. Dengan gerakan tangan yang sangat cekatan, Lianhua merobek ujung kainnya sendiri, merapel sedikit energi dalam untuk menotok titik meridian di sekitar paha Bao agar racunnya tidak menyebar ke jantung, lalu membalutnya dengan kencang.
"Bao, bertahanlah," ucap Lianhua dengan suara yang kembali jernih, tegas, dan berwibawa. "Kita tidak akan mati di tempat terkutuk ini."
Bao mengangguk lemah, air mata haru pun menetes di pipinya melihat Lianhua telah kembali. "Ya... Putri..."
Lianhua berdiri tegak, lalu meraba gagang pedang perak di pinggangnya. Ia lalu menarik bilah pedang itu sedikit dari sarungnya. Kilatan es terpancar dari besi tempaan tersebut, dan memantulkan bayangan tekad baja yang tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh kaisar mana pun di dunia ini.
"Maafkan aku, Feng... Bao," ucap Lianhua seraya menatap kedua rekannya dengan tatapan penuh kasih persaudaraan. "Aku sempat tersesat dalam kegelapan. Aku sempat lupa siapa diriku dan untuk apa kita berjuang."
Feng tersenyum lebar, air mata kelegaan menetes dari sudut matanya. Ia bangkit berdiri dan menepuk dadanya sendiri. "Selamat datang kembali, Putri. Kami tidak pernah meragukanmu."
Lianhua mengangguk mantap. Ia memalingkan wajahnya menatap ke arah ufuk timur di luar gua, ke arah Kota Garnisun tempat Panglima Lu dan Pasukan Merah ditawan.
"Kapten Yu telah gugur, dan Panglima Lu sedang menunggu kita di dalam jeruji besi istana," suara Lianhua berubah menjadi dingin bagai es, namun dipenuhi daya tekan kepemimpinan yang luar biasa.
Lianhua memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dengan bunyi sclink yang tegas.
"Mulai detik ini, kita tidak lagi berlari. Kita tidak lagi bersembunyi," sumpah Lianhua di bawah temaram cahaya bulan. "Tetapi ingat, untuk membebaskan saudara-saudara kita, tubuh kita harus kuat dan sehat lebih dulu. Kita pulihkan tenaga di sini, susun siasat yang lebih tajam, bergerak lebih senyap dari bayangan, dan runtuhkan benteng Kota Garnisun!"
Bersambung...