NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil, Kara tak ada henti-hentinya meracau sambil terus-terusan mengutuk Erlangga. Padahal, pria yang di makinya itu sekarang sedang duduk tepat di sebelah kanannya.

"Kenapa sih gue harus nikah sama Erlangga? Gue tuh maunya nikah sama orang kaya!" racau Kara dengan suara yang serak.

Erlangga menunduk, mengamati wajah wanita yang kini bersandar di sisi tubuhnya. Ia lalu merentangkan tangan kirinya, dan langsung merangkul bahu Kara agar wanita itu bisa tidur di dada bidangnya.

Aroma alkohol yang pekat langsung menguar dari tubuh Kara setiap kali Erlangga menarik nafas.

"Apa setelah nikah nanti gue harus bunuh dia ya? Tapi... Tapi gue nggak mau jadi janda," racau Kara lagi. Nada suaranya berubah drastis, kini ia mulai menangis tersedu-sedu sambil membenamkan wajahnya di dada Erlangga, meninggalkan noda basah di jas pria itu.

Mendengar kalimat polos itu, mata Erlangga langsung terbelalak lebar.

"Beraninya lo ada pikiran mau bunuh gue," batinnya.

Sementara itu, di kursi depan, dua orang ajudan Erlangga mati-matian menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa agar tidak meledak di depan Erlangga.

Detik berikutnya, Kara langsung menegakkan tubuhnya. Matanya membelalak panik, lalu ia segera membekap mulutnya kuat-kuat dengan kedua tangan. Ia menatap ke arah Erlangga dengan tatapan memohon.

"Gue... gue pengen muntah!"

Ckiiitt!

Ajudan Erlangga langsung menginjak rem secara mendadak, dan menghentikan mobil itu di tepi jalan. Beruntung hari sudah menunjukkan pukul satu malam, sehingga tidak banyak kendaraan lain yang berlalu-lalang.

Tanpa membuang waktu, Kara langsung mendorong pintu mobil dengan gerakan kasar, lalu ia turun dengan langkah yang tergesa-gesa. Begitu kedua kakinya menginjak aspal, ia langsung berjongkok dan memuntahkan semua isi perutnya.

Erlangga yang melihat kondisi itu langsung ikut turun dari mobil. Dengan langkah yang cepat, ia menghampiri Kara. Tanpa ada rasa jijik sedikitpun, pria berjas rapi itu ikut berjongkok di sampingnya, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk memijat tengkuk leher wanita itu secara perlahan.

Begitu rasa mualnya mereda, Kara dengan sisa tenaganya langsung menarik ujung jas hitam yang dikenakan Erlangga. Tanpa ada rasa berdosa sedikitpun, ia menyeka ujung bibirnya yang kotor menggunakan kain jas mewah tersebut.

Tangan Erlangga yang sedang memijat tengkuk leher wanita itu langsung terhenti seketika. Ia melongo pasrah, menatap ujung jasnya yang kini ternoda dengan tatapan tidak percaya.

Seolah tidak terjadi apa-apa, Kara langsung berdiri dengan tubuh yang limbung. Ia berjalan sempoyongan kembali masuk ke dalam mobil.

"Gue pusing, pengen tidur," gumamnya pelan, sebelum akhirnya ia menjatuhkan diri dan merebahkan tubuhnya di sepanjang kursi belakang.

Melihat tingkah ajaib calon istrinya itu, Erlangga langsung memejamkan matanya sejenak sambil memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa pening.

Lalu ia melangkah masuk menyusul Kara ke dalam mobil. Perlahan ia mengangkat kepala Kara dan meletakkannya di atas pahanya sebagai bantalan. Setelah memastikan wanita itu nyaman, Erlangga mendongak dan menatap lurus ke arah ajudannya.

"Putar balik ke apartemen," perintahnya.

Rencananya tadi Erlangga akan memulangkan Kara ke rumah orang tuanya. Namun, melihat kondisi wanita itu yang kacau dan sedang mabuk berat, ia terpaksa mengurungkan niatnya demi menghindari keributan besar.

Sang ajudan yang duduk di kursi kemudi buru-buru menganggukkan kepalanya. "Siap, Tuan," jawabnya.

Tak butuh waktu lama, hanya dalam waktu lima belas menit, akhirnya mobil Erlangga berhenti tepat di depan sebuah apartemen mewah.

Erlangga langsung membuka pintu mobil. Dengan gerakan yang hati-hati, ia menyelipkan lengannya di bawah tubuh Kara, lalu mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya.

Sebelum melangkah masuk ke dalam gedung, ia menolehkan kepalanya sedikit ke arah ajudannya yang sedang berdiri di samping pintu mobil yang terbuka.

"Kalian bisa kembali ke rumah sekarang," ucap Erlangga sambil membetulkan posisi gendongannya agar kepala Kara tidak terkulai lemas.

"Baik, Tuan. Selamat malam," ucap kedua ajudan itu serentak, sambil membungkuk hormat.

Erlangga hanya mengangguk samar, lalu berbalik melangkah tegap melewati lobi utama menuju area lift. Jari kelingkingnya bergerak menekan tombol menuju lantai dua belas, dimana tempat unitnya berada.

Setelah sampai di depan unitnya, Erlangga langsung menekan kata sandi dengan satu tangan yang tersisa.

Ceklek!

Pintu itu terbuka.

Namun, saat ia melewati ruang tengah langkahnya tiba-tiba terhenti. Ternyata Reygan, adiknya itu masih terjaga di depan televisi dengan dikelilingi oleh berbagai bungkus camilan yang berserakan.

Melihat sang kakak pulang sambil menggendong seorang wanita, Reygan langsung melompat dan berdiri dari sofa dengan mata yang memicing penuh selidik.

"Siapa yang Abang bawa itu?" tanyanya sambil melangkah mendekat.

Erlangga tak bergeming, ia meneruskan langkahnya menuju kamar utama, sementara Reygan terus mengekor di belakangnya.

"Abang nyulik cewek di mana? Kok bisa sampai pingsan gitu?" tanya Reygan lagi.

"Jangan banyak tanya, Reygan. Cepat masuk kamar dan tidur," potong Erlangga sambil memberikan tatapan tajam.

Setelah itu, ia langsung menutup pintu kamar dengan sikunya, dan meninggalkan Reygan yang masih bersungut-sungut di luar.

Erlangga menghela nafas lega, lalu perlahan menurunkan tubuh Kara ke atas ranjang king size miliknya. Namun, saat Erlangga hendak menegakkan kembali punggungnya, sepasang lengan Kara yang melingkar di lehernya mendadak menolak untuk dilepaskan.

Erlangga terpaksa mendekatkan wajahnya ke wajah Kara, dan hanya berjarak beberapa sentimeter saja.

Tiba-tiba, kelopak mata Kara terbuka. Ia menatap Erlangga dengan pandangan sayu.

"Apa lo gigolo yang tadi? Tapi... kenapa muka lo beda?" bisik Kara sambil mengerutkan keningnya.

Erlangga memutar bola matanya malas. Kedua tangannya bergerak memegang pergelangan tangan Kara, berusaha untuk melepas kuncian itu dari lehernya.

"Gue bukan gigolo, Kara! Lepasin tangan lo sekarang, atau..."

Cup!

Kalimat Erlangga terhenti saat Kara tiba-tiba memajukan wajahnya dan mengecup bibirnya sekilas. Sentuhan hangat dan mendadak itu membuatnya langsung mematung di tempat.

Belum sempat Erlangga mencerna apa yang baru saja terjadi, Kara menatapnya lagi dengan senyum konyol yang terkembang di bibirnya. "Kenapa lo ganteng banget, sih?"

Erlangga baru saja hendak membuka suara untuk memprotes, namun sedetik kemudian, Kara menarik leher Erlangga dengan paksa ke bawah. Dengan gerakan cepat wanita itu langsung menggigit leher Erlangga.

"Aw! Sialan!" Erlangga refleks meringis kesakitan.

Begitu Kara melepaskan gigitannya, wanita itu langsung tertawa puas. "Gue pengen makan lo... muka lo itu mirip cimol! Bulat, putih, menggemaskan!"

"Lepasin tangan lo, Kara! Ini sakit!" bentak Erlangga, wajahnya sudah memerah menahan kesal.

"Nggak mau! Gue nggak mau lepasin Cimol gue! Kenapa lo maksa banget sih?!" pekik Kara dengan wajah yang cemberut.

Tiba-tiba, Kara mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong keras dada Erlangga. Karena tidak siap, Erlangga langsung terjungkal dan terlentang di atas kasur.

Belum sempat Erlangga bangkit untuk membalas, Kara dengan gerakan gesit langsung merangkak naik dan duduk di atas perut Erlangga. Ia mengunci tubuh pria itu, lalu menunduk dan langsung mencium Erlangga secara brutal.

"Kenapa lo jadi gila gini?! Singkirkan tubuh lo ini, sialan!" teriak Erlangga panik, tangannya berusaha mendorong pinggul Kara, sementara wajahnya bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menghindari serangan brutal wanita itu.

Namun, Kara sudah menutup telinganya rapat-rapat dari kewarasan. Yang Kara tahu saat ini adalah, Erlangga itu cimol raksasa, bukan manusia, dan ia harus menghabiskannya malam ini juga.

Dengan mata yang berbinar penuh obsesi, Kara berbisik pelan di telinga Erlangga.

"Sayang kalau tidak di habiskan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!