Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permaisuri Tanpa Mahkota
Aroma dupa melati yang biasanya memancarkan kehangatan eksotis kini terasa begitu menyengat dan membakar tenggorokan di dalam ruang tamu kehormatan Pavilion Barat. Ruangan seluas puluhan langkah itu dihiasi pilar-pilar kayu jati berukir emas, karpet tebal bergambar naga kerajaan, serta perabotan mewah dari porselen impor yang menegaskan status penghuninya. Namun, keindahan bernilai ribuan keping emas itu sama sekali tak mampu meredam atmosfer mencekam yang menggelayut berat di udara.
Lady Genevieve—selir tertua dari Faksi Vance yang selama bertahun-tahun memegang kendali penuh dewan istana interior—duduk di atas kursi ukir jati berlapis sutra merah marun. Gaun malamnya yang berwarna ungu tua berhias sulaman benang perak menjuntai anggun, tetapi raut wajahnya yang elok bagai pualam kini mengeras bagaikan batu karang.
Di hadapannya, tiga orang selir junior dari Faksi Vance bersimpuh gemetar di atas lantai pualam yang dingin. Kepala mereka tertunduk dalam-dalam, tak satu pun dari mereka berani mengangkat pandangan atau sekadar mengedipkan mata di bawah intimidasi aura sang pemilik kediaman.
"Bisa-bisanya kalian membiarkan gadis Montclair itu merebut Pavilion Selatan tanpa perlawanan!" desis Genevieve. Suaranya tidak keras, tetapi artikulasinya begitu halus, tajam, dan memotong bagaikan sembilu yang diusapkan ke kulit. Tangannya yang dihiasi rantai cincin permata meremas kipas kayu cendana di pangkuannya hingga terdengar bunyi derak retakan yang memilukan.
"M-maafkan hamba, Lady Genevieve..." ujar salah satu selir dengan suara bergetar ketakutan, bibirnya memucat. "Keputusan pengalihan otoritas dan berkas administrasi itu keluar langsung dari mulut Yang Mulia Raja di Ruang Kehakiman. Kami... kami tidak memiliki celah hukum maupun dukungan dewan untuk memprotesnya saat itu."
PRANG!
Genevieve melempar kipas kayu cendana di tangannya ke atas lantai pualam tepat di depan lutut sang selir junior, membuat benda bernilai tinggi itu hancur berkeping-keping. Tiga wanita di hadapannya melompat kaget, menangis tanpa suara dalam ketakutan yang mencekam.
"Raja! Kalian selalu bersembunyi di balik nama Yang Mulia!" bentak Genevieve seraya bangkit berdiri. Pergerakannya begitu anggun namun sarat akan ancaman yang pekat. "Apakah mata kalian sudah buta dan otak kalian sudah tumpul? Apakah kalian tidak menyadari apa yang sedang terjadi di depan hidung kalian sendiri? Gadis manja yang dulu hanya tahu cara menangis dan mengurung diri di pojokan itu sekarang secara perlahan sedang mengikis seluruh pengaruh kita satu per satu!"
Genevieve melangkah perlahan mengitari ruangan, gaun mewahnya menyapu lantai dengan nada berdesir yang dingin. Selama lima tahun terakhir, meskipun kursi Ratu Kerajaan tetap kosong tanpa penghuni resmi, seluruh penghuni Istana Interior meratifikasi Genevieve sebagai 'Permaisuri Tanpa Mahkota'.
Segala urusan alokasi anggaran bulanan, pengangkatan dan pemecatan pejabat wanita, hingga pengaturan jadwal giliran malam para selir bersama Raja Julian berada sepenuhnya di bawah ibu jarinya. Faksi Vance berkuasa tanpa tanding.
Namun, hanya dalam hitungan minggu sejak Aurelia kembali dari krisis kemalangan dan menjatuhkan Evelyn dalam satu serangan hukum yang presisi, pilar-pilar kekuasaan Genevieve mulai goyah. Direbutnya Pavilion Selatan bukan sekadar kehilangan sebidang bangunan, melainkan runtuhnya kendali logistik Faksi Vance atas separuh wilayah Istana Interior.
Aurelia bukan lagi sekadar selir muda yang bisa diabaikan atau disingkirkan dengan gertakan biasa. Gadis Montclair itu telah menjelma menjadi ancaman nyata yang sangat mematikan bagi eksistensi Faksi Vance dan keselamatan rencana besar ayahnya, Ketua Dewan Vance.
Langkah kaki terburu-buru pecah di koridor luar. Seorang pelayan senior kepercayaan Genevieve masuk dengan tergesa-gesa, berlutut menyentuhkan dahinya ke lantai.
"Ampuni hamba, Lady Genevieve! Hamba membawa kabar terbaru yang baru saja dikonfirmasi dari Istana Utama," ujar pelayan itu dengan nada panik yang tak sanggup ditutupi.
Genevieve menghentikan langkahnya, menatap pelayan itu dengan mata memicing tajam. "Kabar apa? Katakan dengan jelas!"
"Komandan Pengawal Kerajaan baru saja menerima perintah tertulis bersegel lilin emas dari Yang Mulia Raja Julian. Beliau diperintahkan untuk mengutak-atik dan mengubah susunan tempat duduk kehormatan pada perjamuan Perayaan Musim Panas mendatang."
Jantung Genevieve seakan berhenti berdetak sejenak. "Ubah susunan? Posisi mana yang diubah?"
Pelayan itu menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab dengan suara berbisik, "Tempat duduk di sebelah kanan meja utama Raja... yang merupakan tempat paling terhormat bagi pendamping utama... telah resmi dialokasikan untuk Lady Aurelia dari Montclair."
KLIANG!
Cangkir keramik porselen Tiongkok berisikan teh hangat di atas meja kayu di samping Genevieve tersapu tangannya hingga melayang dan hancur berkeping-keping menghantam dinding pilar. Cairan kecokelatan merembes mengotori ukiran emas yang megah. Wajah anggun Genevieve yang biasanya selalu memancarkan ketenangan tiada tara kini berubah menjadi amat kelam oleh amarah yang membakar.
"Sebelah kanan Raja?" bisik Genevieve dengan suara yang sangat dingin dan dipenuhi kebiasan mendalam. "Satu-satunya tempat duduk yang menjadi hak eksklusifku selama lima tahun berturut-turut? Raja memberikan tempat itu kepada gadis kemarin sore?"
Tiga selir junior semakin merapatkan tubuh mereka ke lantai, tak berani bernapas terlalu keras. Mereka tahu betul bahwa ketika Genevieve berada dalam puncak kemarahannya, nyawa seorang pelayan atau selir kelas bawah tak ada artinya sama sekali.
Genevieve memejamkan matanya rapat-rapat. Dada indahnya menyempit, naik turun mengontrol napasnya yang memburu. Ia membiarkan keheningan menguasai ruangan selama beberapa menit panjang, meresapi rasa hina dan keterancaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ketika ia akhirnya membuka matanya kembali, amarah yang meledak-ledak tadi telah menguap, berganti dengan aura dingin dan kejam dari seorang penguasa bayangan yang siap bertempur hingga titik darah terakhir.
Ia menatap tiga selir di lantai dengan tatapan rendah. "Bangkitlah kalian bertiga. Hapus air mata kalian yang menjijikkan itu."
Dengan gemetar, ketiga selir itu berdiri dan menunduk dalam-dalam.
"Gadis Montclair itu bertindak terlalu jauh karena merasa didukung oleh belas kasihan sementara dari Yang Mulia," gumam Genevieve, senyuman maut yang amat berbisa perlahan mengembang di bibirnya yang bergincu merah menyala. "Dia berpikir bahwa berhasil menguasai dua pavilion berarti dia sudah bisa menyentuh ujung mahkotaku."
Genevieve melangkah mendekati meja riasnya, menatap bayangan dirinya di dalam cermin gading yang indah. "Jika dia ingin bermain perangkap dan intrik di dalam Istana Interior, maka aku akan memberinya pelajaran yang tak akan pernah dia lupakan... tentang bagaimana rasanya hancur berkeping-keping oleh kebaikan yang semu."
Ia membalikkan badan, menatap pelayan seniornya dengan pandangan penuh niat membunuh yang terselubung. "Siapkan hadiah paling langka dari perbendaharaan rahasia kita. Besok pagi, kirimkan itu ke Pavilion Timur atas namaku. Mari kita lihat seberapa cerdas gadis itu ketika menerima uluran tangan berbisa dari pemilik asli istana ini."
~ To Be Continue