Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Yang Mulai Diabaikan
Beberapa bulan telah berlalu sejak insiden lamaran memalukan keluarga Reno di kediaman keluarga Sultan.
Sejak hari itu, Reno beserta keluarganya tidak pernah lagi muncul di hadapan Zea, bahkan kabarnya mereka telah meninggalkan kota dan kembali ke kampung halaman untuk menghindari rasa malu.
Sementara itu, kehidupan Zea sebagai gubernur terus berjalan. Enam bulan menjabat, perempuan berusia dua puluh sembilan tahun itu mulai menunjukkan hasil nyata dari berbagai kebijakan yang diterapkannya.
Masyarakat perlahan mulai merasakan perubahan tersebut. Jalan-jalan yang sebelumnya rusak mulai diperbaiki, beberapa fasilitas pendidikan mendapatkan perhatian, dan laporan warga yang dahulu hanya berakhir menjadi tumpukan berkas kini mulai ditindaklanjuti.
Tapi eberhasilan Zea tentu tidak membuat semua orang senang. Beberapa pejabat yang selama ini menikmati keuntungan dari permainan anggaran mulai merasa terancam, terlebih karena gubernur muda itu tidak segan memeriksa pekerjaan mereka secara langsung.
Pagi itu, Zea kembali melakukan kunjungan lapangan ke salah satu perkampungan yang berada cukup jauh dari pusat pemerintahan. Ia ingin melihat sendiri kondisi rumah warga yang masih memprihatinkan, terutama rumah-rumah dengan atap bocor dan dinding yang mulai rapuh.
“Kapten Es Batu, menurutmu kenapa jalan di sini belum juga diaspal?” tanya Zea sambil berjalan menyusuri jalan tanah yang sedikit berlumpur.
Sagara yang berjalan di sampingnya melirik permukaan jalan. “Kemungkinan karena belum masuk prioritas pembangunan, Bu.”
“Kalau begitu, nanti kita cek datanya. Jangan sampai warga di sini terus menunggu hanya karena lokasinya jauh dari pusat kota.”
“Baik, Bu.”
Zea mengangguk puas, lalu melanjutkan langkahnya. Penampilannya hari itu cukup sederhana dengan hijab berwarna krem, kemeja longgar, dan celana panjang yang memudahkan pergerakannya, sedangkan Sagara tetap mengenakan pakaian lapangan dengan wajah dingin seperti biasa.
Keduanya berjalan melewati beberapa rumah sederhana. Sebagian warga sedang bekerja di kebun, sementara anak-anak kecil terlihat bermain di halaman rumah tanpa menyadari bahwa gubernur mereka sedang melintas.
“Bu, hati-hati. Jalannya licin,” ujar Sagara ketika melihat Zea hampir menginjak bagian tanah yang basah.
Zea menoleh. “Tenang saja, Kapten. Saya tidak selemah itu.”
“Saya hanya mengingatkan.”
“Iya, iya. Cerewet sekali.”
Sagara tidak menjawab. Ia sudah terbiasa dengan komentar-komentar spontan perempuan itu, meskipun terkadang kesabarannya benar-benar diuji.
Setelah melewati beberapa rumah, mereka tiba di sebuah jalan kecil yang cukup sepi. Di sisi kanan terdapat kebun yang dipenuhi pepohonan, sedangkan di sisi kiri hanya terlihat beberapa rumah dengan jarak yang berjauhan.
Langkah Sagara perlahan melambat. Pandangannya menyapu keadaan sekitar, memastikan tidak ada warga yang berada cukup dekat untuk melihat mereka.
Kesempatan itu seolah terbuka begitu saja.
Sejak awal, Sagara memang memiliki misi rahasia yang diberikan oleh seseorang dari pihak lawan politik Zea. Ia diperintahkan untuk mencelakai gubernur muda tersebut, tetapi selama beberapa bulan terakhir, berbagai kesempatan selalu gagal dimanfaatkan karena tingkah Zea yang sulit diprediksi.
Kali ini, keadaan tampak berbeda. Jalanan sepi, tidak ada rombongan pengawal lain, dan Zea sedang berjalan beberapa langkah di depannya tanpa menyadari perubahan sikap sang kapten.
Tangan Sagara perlahan mengepal. Ia menatap punggung Zea, mencoba menguatkan keputusan yang sejak awal telah ditanamkan dalam pikirannya.
Tepat ketika ia hendak bergerak, bayangan beberapa kejadian melintas di benaknya. Ia teringat bagaimana Zea tetap membela warga kecil dalam rapat, bagaimana perempuan itu rela menyamar demi mengetahui harga kebutuhan pokok, dan bagaimana ia pernah menangis di jembatan tetapi masih berusaha tersenyum keesokan harinya.
Sagara terdiam. Kenapa aku justru merasa tidak tega?
Ia mengalihkan pandangan, lalu mengembuskan napas perlahan. Untuk pertama kalinya, perintah yang selama ini ia anggap sebagai tugas biasa terasa begitu berat untuk dilaksanakan.
“Kapten! Kamu melamun?” suara Zea tiba-tiba terdengar.
Sagara segera kembali memasang ekspresi datar. “Tidak, Bu.”
“Kalau tidak melamun, kenapa jalannya lambat sekali? Ayo, kita masih harus melihat rumah warga yang di ujung sana.”
“Baik.”
Sagara kembali berjalan di belakangnya. Tanpa disadari, ia baru saja mengurungkan niat yang selama ini menjadi tujuan tersembunyinya.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah rumah sederhana dengan atap seng yang tampak sudah berkarat.
Beberapa bagian atap bahkan terlihat miring, sementara ember-ember kecil diletakkan di dalam rumah untuk menampung air hujan yang menetes.
Seorang ibu paruh baya menyambut kedatangan mereka dengan wajah terkejut. “Astaga, Bu Gubernur! Kenapa tidak memberi kabar dulu kalau mau datang?”
Zea tersenyum ramah. “Tidak apa-apa, Bu. Saya justru ingin melihat keadaan rumah warga secara langsung tanpa harus membuat Ibu repot menyiapkan apa-apa.”
Wanita itu tampak malu ketika melihat kondisi rumahnya. “Maaf, Bu, rumah kami memang seperti ini. Kalau hujan deras, airnya masuk dari atap. Sudah beberapa kali ditambal, tetapi tetap bocor.”
Zea menatap bagian atap yang rusak dengan wajah prihatin. “Ibu sudah pernah mengajukan bantuan perbaikan rumah?”
“Sudah, Bu. Tapi sampai sekarang belum ada kabar.”
Zea langsung menoleh kepada Sagara. “Kapten, catat alamat rumah ini. Nanti kita minta bagian terkait memeriksa kelayakan bantuan perbaikannya.”
“Baik, Bu.”
Setelah berbincang beberapa saat, Zea melihat sebuah tangga kayu bersandar di samping rumah. Ia kemudian menatap bagian atap yang bocor, seolah mendapatkan ide baru.
“Bu, kalau boleh, saya mau membantu memperbaiki bagian yang bocor dulu. Setidaknya kita bisa melihat bagian mana yang perlu ditangani.”
Ibu itu langsung terkejut. “Jangan, Bu! Nanti tangan Ibu kotor.”
“Tidak apa-apa, Bu. Nanti bisa dicuci ulang, kok.”
Sagara yang mendengar ucapan itu langsung mengerutkan kening. Ia sudah bisa menebak bahwa dirinya akan kembali terseret ke dalam salah satu ide spontan gubernur tersebut.
“Kapten, ayo bantu saya ambil tangganya,” perintah Zea.
Sagara menatap tangga kayu yang tampak sudah cukup tua. “Kenapa saya harus ikut?”
Zea menoleh seolah pertanyaan itu sangat aneh. “Karena kamu pengawalku.”
“Saya pengawal, bukan tukang bangunan.”
“Kapten pasukan khusus masa takut naik tangga?”
Sagara menatap tangga tersebut beberapa saat. Kemudian, ia mengalihkan pandangan kepada Zea yang sudah bersiap menaiki anak tangga pertama.
“Turun.”
Zea berhenti. “Kenapa?”
“Saya yang naik.”
“Kenapa?”
“Karena kalau Anda jatuh, saya yang disalahkan.”
Zea langsung berkacak pinggang. “Lho, siapa juga yang mau jatuh? Saya ini gubernur, Kapten. Masa naik tangga saja tidak bisa?”
“Justru karena Anda gubernur, saya tidak ingin mengambil risiko.”
“Alasan saja. Katanya pasukan khusus, masa kalah sama tangga?”
Sagara memejamkan mata sebentar, berusaha menahan kesabarannya. Ia kemudian mengambil tangga tersebut dan meletakkannya dengan posisi lebih kokoh sebelum mulai menaikinya.
Zea tersenyum puas. “Nah, begitu dong. Ternyata Kapten bisa juga disuruh kerja.”
“Saya sedang menjalankan tugas pengamanan.”
“Iya, iya. Tugas pengamanan sambil memperbaiki atap.”
Sagara tidak menanggapi. Ia mulai memeriksa bagian atap yang rusak, sementara Zea berdiri di bawah sambil memberikan arahan dengan gaya seorang mandor bangunan.
“Sebelah kiri, Kapten! Yang itu masih bocor!”
“Saya melihatnya.”
“Kalau begitu, tutup bagian itu juga.”
“Bu, saya tahu apa yang harus dilakukan.”
“Wah, galak sekali. Pantas saja tidak punya teman.”
Sagara menoleh ke bawah dengan tatapan datar. “Saya punya teman.”
“Siapa?”
“Tidak perlu Anda ketahui.”
Zea tertawa kecil. “Rahasia sekali hidupmu, Kapten Es Batu.”
Sementara itu, ibu pemilik rumah hanya bisa tersenyum melihat tingkah keduanya. Ia tidak menyangka seorang gubernur dan pengawal pribadinya bersedia membantu memperbaiki atap rumah sederhana miliknya.
Beberapa warga yang mengetahui kedatangan Zea mulai berdatangan. Mereka terkejut melihat gubernur mereka berdiri di bawah tangga sambil memegangi beberapa peralatan, sedangkan sang kapten yang terkenal dingin justru sibuk memperbaiki atap.
“Bu Gubernur, tidak perlu repot-repot begini,” ujar seorang warga.
Zea menoleh sambil tersenyum. “Tidak repot, Pak. Kalau rumah warga masih bocor, masa saya hanya datang melihat lalu pulang begitu saja? Itumah pencitraan namanya.”
Sagara yang mendengar ucapan itu terdiam sejenak. Ia kembali teringat alasan Zea menjadi gubernur, yakni untuk memenuhi impian neneknya agar ia menjadi pemimpin yang baik hati.
Perempuan itu memang sering bertindak semaunya, berbicara tanpa berpikir panjang, dan membuatnya hampir kehilangan kesabaran setiap hari. Namun, di balik semua tingkah bar-barnya, Zea benar-benar peduli terhadap orang-orang yang dipimpinnya.
Tanpa disadari, Sagara mulai merasa bahwa melindungi Zea bukan lagi sekadar kewajiban yang diberikan oleh Kakek Sultan. Ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan berubah, sesuatu yang membuatnya tidak lagi sanggup memandang perempuan itu hanya sebagai target dari sebuah misi.
“Kapten! Jangan melamun di atas sana! Nanti kesurupan setan atap!” seru Zea tiba-tiba.
Sagara tersadar. “Saya tidak melamun, Bu.”
“Kalau begitu, cepat sedikit. Nanti kita keburu lapar.”
“Baru juga beberapa menit.”
“Ya, memang. Tapi perut saya tidak mengenal waktu.”
Sagara menghela napas panjang. “Baik, Bu Gubernur.”
Zea tersenyum lebar. “Nah, begitu. Kapten memang pengawal terbaik!”
Sagara kembali menunduk memperbaiki atap, menyembunyikan perubahan kecil di wajahnya. Ia tidak tahu sejak kapan dirinya mulai menikmati keberadaan perempuan yang begitu merepotkan itu.
pimter sekali mereka bikin si kanebo kereing mati kutu
mau bilang apa lagi coba hadeh