NovelToon NovelToon
Makam Keramat Panjang

Makam Keramat Panjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.

Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.

Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 — BISIKAN KEBUN BAMBU DAN SISIK LEHER

Cahaya matahari pagi menyusup tipis melalui celah kisi-kisi jendela kamar tidur.

Aku berdiri kaku di depan cermin tua, melepaskan balutan perban kain di leher dan bahu kananku.

Di dalam pantulan cermin tua itu, pemandangan mengerikan pada tubuhku terlihat makin nyata.

Sisik hitam tebal yang membungkus lengan kananku kini telah merambat merayap naik menembus leher kanan.

Sisik hitam gaib itu tebal dan keras bagaikan kulit bangkai ular, memancarkan pendar kebiruan redup.

Garis-garis hitam kebiruan menyerupai akar pohon tua telah melingkari leher hingga ke bawah rahangku.

“Mas... sisik hitam di lehermu makin menjalar naik mendekati dagu,” rintih Ningsih berbisik gemetar.

Istriku melangkah mendekat sambil membawa gulungan kain perban putih dan minyak urut.

“Aku harus membalut leherku rapat-rapat memakai kain perban dan kemeja leher tinggi ini, Ningsih,” jawabku pelan.

“Apakah sisik hitam ini terasa makin dingin menyiksa ragamu saat bernapas, Mas?” tanya Ningsih cemas.

“Rasa nyerinya seperti tusukan ratusan es batu, tapi aku sanggup menahannya demi kalian,” jawabku serak.

Ningsih membantuku melilitkan kain perban putih di leher kanan, lalu merapikan kerah kemeja tinggiku.

“Tolong berhati-hatilah saat melayani pembeli di toko grosir hari ini, Mas,” pesan Ningsih terisak.

“Orang-orang desa mulai berbisik curiga melihat penampilan fisikmu yang makin aneh,” sambungnya cemas.

“Iya, Ningsih, aku pasti akan menutup rapat seluruh bagian leher dan tanganku,” janji serakku.

Aku mengancingkan kerah kemeja leher tinggiku rapat-rapat, lalu melangkah ke toko grosir di samping.

Begitu selot besi pintu toko kutarik keluar, aroma bau pandan basah mendadak berembus sangat pekat.

Aroma gaib itu menyeruak dari sela-sela karung beras, minyak goreng, dan toples gula pasir.

Sreeek!

Suara pintu pagar bambu depan halaman toko digeser kasar oleh rombongan pembeli pertama.

Pak Leksa bersama puluhan pedagang dari desa tetangga melangkah masuk mendekati meja kasir kayu.

“Selamat pagi, Pak Leksa,” sapaku santun berusaha tersenum ramah dari balik meja.

“Pagi sekali Bapak sudah datang membawa mobil bak terbuka ke toko saya,” sambungku tenang.

“Saya mau beli beras lima ratus kilo sama minyak goreng dua puluh dus, Surya,” kata Pak Leksa datar.

“Tumben sekali Pak Leksa memborong barang belanjaan sebanyak ini pagi-pagi,” tanyaku heran.

“Toko grosirmu ini harganya sangat murah dan barangnya selalu dicari orang-orang kota, Surya,” jawabnya.

Pak Leksa melangkah mendekati meja kasir kayu, memandangi kerah kemeja tinggiku dengan mata menyipit.

“Kenapa kamu memakai kemeja leher tinggi dan perban tebal di lehermu hari ini, Surya?” tanya Pak Leksa.

“Leher saya cuma terkena gatal-gatal ulat bulu waktu membersihkan kebun pisang kemarin, Pak,” kelitku berbohong.

Pak Leksa menyerahkan tumpukan uang kertas merah nominal seratus ribuan ke atas meja kasir kayu.

Begitu jemari tangan kiriku menyentuh uang kertas itu, rasa dingin menusuk tulang merambat naik.

Noda hitam batu nisan di bawah kuku ibu jari tangan kananku berdenyut-denyut kencang menembus perban.

“Uang pembayaran dari Pak Leksa ini pas jumlahnya sepuluh juta rupiah,” kataku menghitung.

Pak Leksa memandangi wajahku dengan pandangan mata yang sangat heran dan menaruh rasa curiga tebal.

“Surya... apakah kamu sudah mendengar berita mengerikan dari kebun bambu tadi subuh?” tanya Pak Leksa.

“Ada berita mengerikan apa dari kebun bambu tadi subuh, Pak Leksa?” tanyaku berbohong menahan dada.

“Kasan yang kemarin lusa membusuk itu tadi subuh tubuhnya hancur membatu menjadi tanah!” jerit Pak Leksa.

“Tubuh Kasan hancur membatu menjadi tanah kuburan merah di dalam rumahnya sendiri!” lanjutnya gemetar.

Darahku mendadak terasa berhenti mengalir mendengarkan cerita tragis tentang kehancuran raga Pak Kasan.

Ningsih yang berdiri di balik selambu toko memekik kaget sambil menutup mulutnya rapat-rapat.

“Raga Mbah Kasan hancur menjadi tanah kuburan merah di rumahnya sendiri, Pak Leksa?” tanya Ningsih gemetar.

“Iya, Ningsih! Warga desa yang membongkar pintu rumahnya melihat tumpukan tanah merah di kasurnya!” jawab Pak Leksa.

“Warga desa berbisik kalau Kasan hancur karena dimakan oleh penunggu Makam Keramat Panjang,” tambahnya.

“Sudahlah, Pak Leksa, jangan membicarakan hal-hal seram di depan barang belanjaan toko,” potongku panik.

“Ini nota belanjaan barang grosir Bapak sudah saya tandatangani lunas,” ucapku menyodorkan kertas.

Pak Leksa menyambar nota pembayaran itu, lalu menyuruh anak buahnya mengangkut kardus minyak ke mobil.

Mesin mobil bak terbuka Pak Leksa meraung keras saat kendaraan itu berbalik meninggalkan halaman.

Suasana di depan toko kelontong kami mendadak berubah menjadi sangat hening dan mencekam dingin.

Ningsih berlari mendekatiku, memegang kemeja leher tinggiku dengan telapak tangan yang gemetar hebat.

“Mas... raga Mbah Kasan sudah hancur menjadi tanah kuburan merah!” jerit Ningsih menangis histeris.

“Aku takut sekali kalau ragamu juga akan hancur membatu menjadi tanah seperti Mbah Kasan!” amuknya.

“Tenangkan dirimu, Ningsih, aku tidak akan hancur selama aku rajin mematuhi jadwal ritual,” bujukku.

“Kita bakar semua uang pesugihan ini sekarang juga, Mas! Kita lari dari desa ini!” jerit Ningsih memohon.

“Kita tidak bisa lari ke mana pun dari bayangan penunggu makam itu, Ningsih!” jelasku jujur terisak.

“Kalau kita nekat lari... nyawa Dedek yang ditarik sebagai pengganti ragaku di tanah!” ringisku.

Ningsih meremas rambutnya sendiri, terduduk lemas di atas lantai kayu toko sambil menangis pasrah.

Srik!

Suara derap langkah kaki tenang mendadak terdengar dari arah luar pintu pagar bambu toko.

Seorang lelaki tua bermuka sejuk mengenakan jubah putih dan peci hitam berjalan mendekati teras.

Kyai Ahmad—sang ulama terkemuka desa kami—berdiri di depan meja kasir kayu dengan pandangan teduh.

Aku terperanjat kaget melihat kedatangan sosok Kyai Ahmad yang sangat dihormati oleh seluruh warga.

“Assalamu’alaikum, Surya, Ningsih,” sapa Kyai Ahmad dengan nada suara yang sangat lembut dan sejuk.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah, Pak Kyai,” sahutku dan Ningsih serentak sambil menundukkan kepala sopan.

Kyai Ahmad memandangi kerah kemeja leher tinggiku dan gulungan perban di leher kanan saya.

Aroma bau pandan basah dan kamboja busuk yang menyengat dari toko mendadak meredup tertahan.

“Ada perlu apa Pak Kyai bersedia singgah mendatangi toko kelontong kami pagi ini?” tanyaku deg-degan.

Kyai Ahmad menghela napas panjang, menatap mataku lurus-lurus dengan pandangan penuh rasa kasihan.

“Saya datang karena mencium aroma bau kamboja kuburan yang sangat tebal di toko ini, Surya,” tutur Kyai.

“Aroma kamboja itu keluar dari dalam kerah kemeja leher tinggi yang kamu kenakan,” lanjutnya tenang.

Jantungku melonjak keharuan luar biasa bercampur rasa takut yang sangat menyiksa rongga dada.

“Saya cuma terkena gatal-gatal ulat bulu di leher, Pak Kyai,” kelitku berbohong menundukkan wajah.

Kyai Ahmad menggelengkan kepalanya perlahan dengan senyuman lembut yang menembus kedalaman jiwa.

“Jangan membohongi orang tua yang ingin menolongmu dari jurang kebinasaan, Surya,” bisik Kyai Ahmad.

“Harta melimpah yang kamu dapatkan dari puncak bukit sana tidak akan membawa kedamaian,” jelasnya.

“Mbah Kasan baru saja menjadi korban dari tipu daya mahluk gaib penunggu makam itu,” tegas Kyai.

“Bertobatlah sekarang, Surya, sebelum sisik hitam di lehermu menelan jantung dan jiwamu,” bujuk Kyai.

“Datanglah ke pesantren saya nanti malam, kita berdoa memohon perlindungan Allah SWT,” tawar Kyai Ahmad.

Ningsih menangis terisak mendengarkan tawaran pertolongan suci dari mulut Kyai Ahmad di depan kami.

“Tolong selamatkan suami saya, Pak Kyai... suami saya tersesat karena terdesak utang toko,” jerit Ningsih.

Aku membisu kaku di atas kursi kayu toko, lidahku terasa terpaku tidak sanggup mengucapkan kata.

Di dalam benakku, bayangan ancaman maut penunggu Makam Keramat Panjang membakar seluruh pikiran.

“Terima kasih atas perhatian dan niat baik Pak Kyai buat keluarga kami,” jawabku dengan suara bergetar.

“Biarkan saya memikirkan tawaran pertolongan Pak Kyai ini terlebih dahulu di rumah,” kelitku halus.

Kyai Ahmad menatapku lama dengan pandangan mata yang sangat dalam dan penuh duka spiritual.

“Pintu pesantren saya selalu terbuka lebar buatmu dan keluargamu setiap saat, Surya,” pesan Kyai.

“Ingat baik-baik, pertolongan Allah SWT selalu ada bagi hamba-Nya yang bersedia bertobat,” tegasnya.

Kyai Ahmad berbalik jalan melangkah meninggalkan teras toko kami dengan langkah kaki yang tenang.

Begitu sosok Kyai Ahmad menghilang di balik tikungan jalanan tanah, hawa dingin mendadak menyengat.

Srik!

Ujang melompat turun dari atas sepeda motornya yang diparkir terburu-buru di bawah pohon mangga.

Ujang berlari masuk ke dalam teras toko dengan raut wajah panik dan amarah yang luar biasa.

“Surya! Apakah Kyai Ahmad baru saja datang membujukmu buat bertobat di pesantrennya?” gertak Ujang.

“Iya, Jang, Pak Kyai baru saja singgah menawarkan pertolongan doa buat keluargaku,” jawabku pelan.

Ujang memegang erat kedua bahuku, menatap mataku lurus-lurus dengan tatapan mata yang sangat galak.

“Jangan pernah berani menginjakkan kakimu di pesantren Kyai Ahmad itu, Mas!” ancam Ujang berbisik.

“Kenapa aku tidak boleh menerima pertolongan doa dari Kyai Ahmad, Jang?” tanyaku memberanikan diri.

“Kalau kamu mencoba membatalkan perjanjian gaib lewat doa kyai... penunggu makam murka!” gertak Ujang.

“Mahluk gaib itu akan langsung mencabut nyawa Dedek dan membusukkan ragamu seketika!” amuknya.

“Mbah Kasan hancur menjadi tanah merah tadi subuh karena dia mencoba menemui kyai!” tegas Ujang.

Darahku terasa membeku seketika mendengarkan alasan hancurnya raga Pak Kasan yang disampaikan Ujang.

“Pak Kasan hancur menjadi tanah karena mencoba menemui orang alim?” tanyaku dengan suara gemetar.

“Iya, Mas! Penunggu makam sangat benci pada peminjam yang mencoba ingkar janji!” tegas Ujang.

“Sekarang giliran tugas ritualmu yang wajib dituntaskan tepat waktu hari Jumat Kliwon depan!” tambahnya.

“Sajen apa lagi yang wajib kuserahkan pada malam Jumat Kliwon depan, Jang?” tanyaku pasrah.

Ujang mendekatkan posisi berdirinya ke dekat telingaku, berbisik dengan nada suara yang sangat misterius.

“Malam Jumat Kliwon depan adalah ritual puncak Sumpah Darah Jiwa di atas batu nisan!” bisik Ujang.

“Kamu wajib membawa satu tetes darah segar jari manis tangan kananmu sendiri!” lanjut Ujang.

“Darah jarimu akan dicampur dengan darah ayam jantan hitam mulus di atas batu nisan!” tambahnya.

“Sumpah Darah Jiwa itu akan menyegel raga dan tokomu menjadi penguasa harta terabadi!” tegas Ujang.

Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit dan menyiksa tenggorokan mendengarkan arahan Ujang.

“Apakah setelah Sumpah Darah Jiwa ini sisik hitam di leherku bisa berhenti menjalar, Jang?” tanyaku.

“Iya, Mas! Sumpah Darah Jiwa itu akan mengunci sisik hitam di lehermu tanpa merambat lagi!” janji Ujang.

“Aku pasti akan datang menuntaskan Sumpah Darah Jiwa itu Jumat Kliwon depan, Jang,” janji pasrahku.

“Baguslah kalau kamu paham, jangan pernah dengarkan bualan Kyai Ahmad lagi!” pesan Ujang tegas.

Ujang menepuk bahuku keras, lalu berbalik jalan melangkah menuju kendaraan sepeda motornya.

Deru mesin motornya meraung pelan sebelum akhirnya menghilang ditelan keheningan sore perkampungan.

Siang harinya, Dedek pulang sekolah dengan melompat-lompat gembira membawa piala perlombaan melukis.

“Bapak! Lihat piala perlombaan melukis Dedek dapat juara satu hari ini!” seru Dedek gembira.

“Anak pintar... Bapak bangga sekali sama kamu, sayang,” puji ku merangkulnya dengan tangan kiri.

“Terima kasih ya, Bapak, sudah membelikan Dedek cat air dan kertas gambar bagus!” seru Dedek.

“Sama-sama, sayang, yang penting Dedek rajin belajar dan selalu rendah hati,” sahutku tersenum kaku.

Ningsih memandangi kebahagiaan anak kami dari balik pintu kamar dengan derai air mata keharuan.

Istriku tahu betul bahwa kejayaan piala dan uang melimpah ini dibayar oleh penderitaan raga suaminya.

Malam harinya, angin dingin bertiup kencang menggoyangkan pelepah pohon pisang di samping rumah.

Gumpalan awan hitam pekat menutup rapat pendar sinar rembulan di atas atap rumah panggung kami.

Dedek dan Ningsih telah tertidur lelap di dalam kamar tidur dengan lampu minyak yang dimatikan.

Aku duduk sendirian di atas kursi kayu teras depan, membuka ikatan perban di leher tangan kananku.

Di dalam kegelapan malam, sisik hitam di leher kanan saya memancarkan pendar cahaya kebiruan redup.

Aroma bau tanah kuburan basah dan kamboja busuk menguar pekat dari pori-pori sisik hitam di leherku.

Garis-garis hitam kebiruan berbentuk akar pohon tua merambat naik mendekati sudut rahang bawahku.

Rasa nyeri membekukan menusuk-nusuk persendian leherku, seolah ada jarum-jarum es yang menancap abadi.

Suara bisikan gaib mendesis halus mendadak bergema sangat dekat di samping daun telinga kiriku.

“Jumat Kliwon... teteskan darah jarimu di atas rumahku, Surya...” bisik suara gaib itu.

“Segel jiwamu menjadi abdiku... atau raga anakmu yang hancur membatu menjadi tanah...” ancamnya.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, menggenggam erat telapak tangan kananku hingga terasa sakit.

Perjanjian berdarah di Makam Keramat Panjang kini telah merayap masuk menempel di leher dan jiwaku.

Malam Jumat Kliwon puncak Sumpah Darah Jiwa di bukit sana kini tinggal menghitung hari.

--

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!