NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: JEJAK DI PERSIMPANGAN

Malam Selasa tanggal sepuluh menyelimuti permukiman gang kami dalam keheningan yang dingin dan pekat. Lampu gantung porselen di ruang tengah menyinari Dini dan Ranti yang duduk berimpitan di sofa kayu. Keduanya baru saja menyelesaikan salat Isya di atas sajadah kain yang terbentang di ubin. Ganjal kayu jati tebal tertancap kokoh di bawah pintu samping, menahan embusan hawa malam dari luar.

"Bu... pintu depan dan gerbang pagar teras sudah dikunci dua putaran kan?" bisik Dini cemas.

"Sampun, Din. Selot besi dan rantai pagar depan sudah Ibu gembok kencang," sahutku berbisik pelan.

"Mbak Dini tadi sore sempat dengar suara angin di lorong samping mboten?" tanya Ranti memegangi mukenanya.

"Mboten ada suara angin, Ran. Cuma bau tanah basah yang tercium tipis," jawab Dini menggelengkan kepala.

"Ibu juga mboten dengar suara apa-apa dari balik tembok pekarangan sebelah," kataku menenangkan kedua anakku.

"Tapi sepotong plastik berkerak tanah merah di selokan tadi sore kok bisa ada di situ ya, Bu?" tanya Dini lagi.

"Mungkin itu potongan sampah bekas yang terseret aliran air waktu hujan lalu, Din," balasku berusaha rasional.

"Tapi dua hari ini mboten ada hujan sama sekali di gang kita, Bu," bisik Ranti menatapku takut.

"Mboten usah terlalu dipikirkan, Ran. Yang penting malam ini kita tetap berada di dalam rumah," pesanku tegas.

Pukul delapan malam lewat lima belas menit, suara langkah kaki teratur terdengar mendekati pintu depan teras.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan tangan di daun pintu kayu depan mengejutkan kami bertiga yang sedang duduk hening di sofa. Dini dan Ranti seketika menahan napas, saling menggenggam jemari tangan di atas sofa kayu ruang tengah. Aku berdiri dari sofa, melangkah perlahan menuju pintu depan tanpa menggeser kunci selot besi bagian atas.

"Sinten teng luar?" tanyaku penuh kewaspadaan dari balik daun pintu kayu yang tertutup rapat.

"Kulo, Bu Sari... Pak RT bersama Bripka Haryono," sahut suara Pak RT dengan nada tenang dari luar teras.

Aku menghela napas lega, segera memutar anak kunci kuningan dan menggeser selot besi dua kali.

Kreeek...

Daun pintu kayu terbuka perlahan, memperlihatkan Pak RT dan Bripka Haryono yang berdiri rapi di teras depan. Bripka Haryono mengenakan jaket dinas cokelat gelap, memegang map jepit hitam di tangan kirinya.

"Selamat malam, Bu Sari," sapa Bripka Haryono menganggukkan kepala secara sopan di ambang teras.

"Selamat malam, Pak Bripka, Pak RT. Dherek pinarak teng teras, Pak," sambutku mengarahkan ke kursi rotan.

"Matur nuwun sanget, Bu Sari. Kami cuma mau menyampaikan perkembangan singkat dari Polsek," ujar Bripka Haryono.

Pak RT dan Bripka Haryono duduk di kursi rotan teras, sementara aku berdiri dekat tiang pintu depan. Dini keluar dari ruang tengah sambil membawa dua gelas porselen berisi air teh manis hangat untuk tamu kami. Gelas porselen itu diletakkan Dini secara hati-hati di atas meja kayu teras sebelum ia berdiri menyimak.

"Matur nuwun sanget, Mbak Dini," ucap Pak RT tersenum tipis menerima cangkir porselen tersebut.

"Pripun perkembangan penelusuran dari Polsek, Pak Bripka?" tanyaku menatap raut wajah penyidik kepolisian.

"Siang tadi tim penyidik Polsek sudah memeriksa rekaman kamera pengawas di persimpangan jalan raya," terang Bripka Haryono.

"Kamera pengawas yang terpasang di tiang lampu lalu lintas persimpangan jalan raya selatan nggih, Pak?" tanya Pak RT.

"Inggih, Pak RT. Rekaman hari Sabtu sore tanggal tujuh jam lima sore lewat seperempat sudah kami putar," jawab Bripka Haryono.

"Punapa sepeda motor matik hitam Rian terekam melintas di kamera pengawas itu, Pak?" tanyaku menahan dada.

"Inggih, Bu Sari. Kamera pengawas jelas merekam Rian mengendarai sepeda motor matik hitam sendirian," ungkap Bripka Haryono.

"Rian menggegas motornya ke arah jalur lintas selatan dengan membawa karung goni besar di boncengan," lanjut Bripka Haryono.

"Apakah posisi karung goni di boncengan motor itu terikat kencang, Pak Bripka?" tanya Dini menyimak cermat.

"Karung goni itu diikat kencang pakai tali karet hitam, miring ke sebelah kiri," jawab Bripka Haryono menjelaskan.

"Lalu apakah wajah Rian kelihatan jelas di rekaman kamera pengawas itu, Pak?" tanya Pak RT memastikan.

"Wajahnya tertutup helm teropong hitam, tapi pelat nomor motornya cocok sama dokumen milik Rian," jawab Bripka Haryono.

"Apakah Bu Maya terekam ikut bonceng di belakang Rian atau mboten, Pak Bripka?" bisik Dini cemas.

"Mboten ada, Mbak Dini. Di rekaman itu Rian benar-benar sendirian tanpa penumpang lain," jawab Bripka Haryono tegas.

Keterangan resmi kepolisian ini makin memperjelas arah pergerakan Rian setelah keluar dari lorong gang kami.

"Lalu penelusuran Polsek selanjutnya bakal mengarah ke mana, Pak Bripka?" tanyaku mengejar kepastian penyelidikan.

"Tim penyidik bakal berkoordinasi sama Polsek wilayah selatan untuk melacak keberadaan sepeda motor itu," terang Bripka Haryono.

"Kami juga memasang lembar pencarian saksi di beberapa titik persimpangan jalur lintas luar kota," tambah Bripka Haryono.

"Matur nuwun sanget atas kerja keras tim Polsek dalam mengusut masalah niki, Pak Bripka," balasku mengangguk mantap.

"Sami-sami, Bu Sari. Kami minta warga gang tetap tenang dan mboten terpancing spekulasi tidak berdasar," pesan Bripka Haryono.

"Inggih, Pak Bripka. Pengurus RT terus mengimbau warga warung supaya mboten membuat kabar burung," sahut Pak RT.

"Oh inggih, Pak Bripka... soal sepotong plastik di selokan samping tadi sore pripun?" tanya Dini mengingatkan.

"Sepotong plastik kusam yang ada kerak tanah merah itu sudah kami catat berdasarkan laporan Ibu tadi sore," jawab Bripka Haryono.

"Bercak tanah pada plastik itu bakal dibandingkan sama sampel tanah merah dari karung goni," tambah Bripka Haryono.

"Langkah Polsek memang sangat teliti dan terencana nggih, Pak," timpal Pak RT memuji kesiapan penyidik.

Bripka Haryono menyesap teh manis hangat dari gelas porselen di meja kayu sebelum merapikan map jepitnya.

"Kulo dan Pak RT pamit dulu, Bu Sari. Tolong pintu depan langsung dikunci rapat kembali," pesan Bripka Haryono berdiri.

"Inggih, Pak Bripka, Pak RT. Matur nuwun sanget atas informasi resminya," sahutku mengantar ke pintu teras.

Pak RT dan Bripka Haryono melangkah keluar dari halaman teras, menyusuri jalan gang yang temaram dan lengang. Suara langkah sepatu dinas kepolisian terdengar menjauh, menghilang di balik tikungan lorong gang kami. Aku dan Dini segera masuk ke dalam ruang tengah, memutar anak kunci kuningan dan memasang selot besi.

Pukul sembilan malam lewat tiga puluh menit, hawa dingin lereng gunung makin pekat menembus celah ventilasi. Aku, Dini, dan Ranti bersiap untuk tidur di kamar tidur utama seperti malam-malam sebelumnya. Lampu ruang tengah dan koridor samping tetap dibiarkan menyala terang untuk menjaga penerangan rumah. Ganjal kursi kayu jati dipasang kencang di belakang pintu kamar utama setelah kunci kuningan diputar dua kali.

Di atas tempat tidur, Dini dan Ranti berbaring di bawah selimut tebal sembari mendengarkan keheningan luar.

"Bu... kalau Rian pergi ke arah jalan raya selatan, berarti Bu Maya ditinggal di mana ya?" bisik Ranti.

"Kita mboten usah menerka-nerka hal yang mboten kita ketahui, Ran. Biarkan polisi yang bekerja," jawabku pelan.

"Tapi kenapa bau tanah basah tadi sore bisa tercium lagi di lorong samping kita, Bu?" tanya Dini.

"Mungkin sisa bau tanah merah di pekarangan rumah sebelah yang terbawa hawa dingin malam," sahutku menenangkan.

"Ranti berdoa moga-moga mboten ada suara aneh lagi malam ini di balik tembok, Bu," bisik Ranti gemetar.

"Inggih, Ran. Mari kita baca doa bersama-sama sebelum tidur," balasku memegang jemari kedua anakku.

Kami bertiga membaca doa dalam bisikan pelan, merapatkan diri di atas kasur di tengah kegelapan kamar. Pukul sebelas malam lewat lima belas menit, hembusan angin dingin bertiup kencang menampar dinding luar. Aroma tanah basah yang agak amis kusam merembes tipis melalui celah jendela kayu kamar utama. Keheningan malam mendadak terasa makin kaku saat hawa dingin mengendap di sekitar ubin kamar kami.

Pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit, sebuah suara berdenting tipis terdengar dari arah selokan samping.

Ting... srok...

Suara benturan besi tipis yang disusul gesekan lambat itu terdengar jelas di balik dinding semen kamar. Dini dan Ranti terbangun seketika, duduk tegak di atas kasur dengan mata terbuka lebar dalam kegelapan.

"Bu... Ibu dengar suara dentingan di selokan luar itu mboten?" bisik Dini menahan jalan napasnya.

"Dengar, Din. Tetap diam di tempat tidur dan jangan bergerak sama sekali," bisikku memegang bahunya kencang.

"Suaranya persis dari bawah terali kayu selokan tempat plastik tadi sore ya, Bu?" tanya Ranti ketakutan.

"Iya, Ran. Jangan ada yang bersuara atau mendekati pintu kamar," perintahku berbisik sangat pelan.

Suara gesekan tipis itu terulang dua kali di bawah terali kayu selokan pembuangan di luar koridor.

Srok... srok...

Bunyi gesekan itu terdengar kaku, seperti benda keras bersalut kerak tanah yang terseret perlahan di ubin. Aku menahan napas, pasang telinga memperhatikan setiap getaran suara yang merayap di balik dinding semen. Aroma tanah merah basah yang menyengat mendadak menguat, merayap masuk memenuhi celah ventilasi atas. Hawa dingin yang menusuk tulang membuat bulu kudukku berdiri kaku di balik selimut kain tebal.

Namun, tidak ada suara langkah kaki atau ketukan tangan di daun pintu samping rumah kami. Suara gesekan di selokan itu berhenti perlahan setelah berlangsung selama dua menit di balik tembok. Keheningan malam kembali menyelimuti koridor samping, menyatukan hawa dingin lereng gunung yang pekat. Aku mengembuskan napas perlahan, mengusap punggung Dini dan Ranti yang gemetar di sampingku.

"Suaranya sampun hilang kan, Bu?" bisik Ranti menatap wajahku dalam remang lampu tidur.

"Sampun, Ran. Suaranya sudah mboten ada lagi di luar," jawabku menenangkan jiwa anak bungsu saya.

"Ganjal kursi kayu di pintu kamar masih terpasang kencang kok, Mbak," bisik Dini menguatkan adiknya.

"Inggih, Din. Kunci pintu dan ganjal kursi tetap kokoh menahan pintu kamar kita," balasku mengangguk mantap.

Kami bertiga bertahan di atas tempat tidur kamar utama tanpa berani membuka pintu hingga fajar datang. Cahaya fajar hari Rabu tanggal sebelas membias perlahan menembus celah jendela kayu kamar tidur utama. Burung gereja berkicau nyaring di dahan pohon mangga tua, menandai bergantinya malam menuju fajar hangat.

Pukul enam pagi, aku memutar anak kunci kuningan kamar utama dan melangkah keluar menuju dapur. Dini dan Ranti mengikutiku dari belakang, memeriksa pintu samping yang masih tertutup ganjal kayu jati. Ganjal kayu jati dan selot besi pintu samping masih terpasang kokoh dua putaran penuh dari dalam. Aku mengintip lewat celah bawah pintu samping ke arah ubin semen koridor luar yang mulai terang.

Di dekat dasar dinding semen batas pekarangan sebelah, sepotong plastik kusam kemarin sudah tidak ada. Terali kayu selokan pembuangan bergeser dua jari dari posisi aslinya, meninggalkan goresan dalam di semen. Goresan tajam itu bernoda tanah merah basah yang masih segar, membekas tebal di bawah celah terali kayu. Jejak goresan itu menunjukkan ada benda keras berkerak tanah yang baru saja ditarik masuk ke selokan.

"Bu... terali kayu selokan itu bergeser sendiri dari tempatnya!" bisik Dini dengan wajah pucat pasi.

"Mbak Dini benar, terali kayunya miring ke dalam selokan!" tambah Ranti gemetar menunjuk celah bawah pintu.

Aku mempererat genggaman tanganku pada jemari kedua putriku, menahan keheningan pagi yang mendadak membeku. Ganjal kayu jati di bawah pintu samping kupastikan tertancap makin dalam di ambang semen dari dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!