NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:701
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Anna, Mantan Rekan Diskusi yang Hobi Bikin Jantungan

Siang itu, suasana di Rumah Joglo Setiawan terasa sangat tenang. Martha sedang duduk santai di teras samping, menikmati secangkir teh hangat sambil merapikan bab terakhir novelnya. Di dekat galeri, Adnan sedang membantu Mbok Jum menata beberapa ukiran kayu pesanan baru.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berdetak santun namun tegas terdengar memasuki halaman joglo. Tidak ada suara motor berisik atau teriakan cempreng. Yang datang adalah seorang perempuan muda dengan penampilan modis, kasual, tapi tetap rapi dan berkelas—mengenakan kemeja linen putih bersih, celana bahan warna khaki, dan menenteng tas selempang kulit. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ponytail.

Itulah Anna. Teman masa lalu Adnan—sesama penggiat sastra dan budaya dari kota sebelah yang dulu sempat dekat karena sering sepemikiran dalam berbagai proyek penulisan, sebelum akhirnya jalan hidup mereka terpisah.

Adnan yang melihat kedatangan tamu itu langsung meletakkan kain lap di tangannya. Wajahnya sontak menunjukkan ekspresi antara kaget, grogi, dan bingung harus menyambut bagaimana.

"Lho... Anna?" gumam Adnan spontan, buru-buru melangkah menyambut.

Anna tersenyum ramah, memperlihatkan lesung pipi yang manis. Ia sama sekali tidak menor atau slengean; pembawaannya justru tenang, cerdas, dan punya aura wanita karier yang independen.

"Halo, Adnan. Wah, pangling aku sama kamu. Ternyata benar kabar kalau kamu sekarang jadi 'penjaga benteng terakhir' di joglo peninggalan keluargamu ini," sapa Anna dengan suara lembut dan nada bicara yang santai.

Di teras samping, Martha yang melihat kedatangan tamu perempuan berwajah manis dan tampak sangat akrab dengan Adnan itu langsung menghentikan kegiatannya. Alis matanya terangkat sebelah. Ia melipat kedua tangan di dadanya, memperhatikan interaksi mereka dengan tatapan menyelidik. Hmm... tamu baru, perempuan, dan kelihatan nyambung banget ngobrol sama suamiku, batin Martha dengan radar kecemburuan yang mulai berbunyi pelan.

Anna melirik ke arah teras, lalu tersenyum sopan ke arah Martha. Tanpa canggung, ia melangkah mendekati teras dengan langkah anggun, sementara Adnan mengikuti di belakangnya dengan raut wajah serba salah—takut istrinya salah paham.

"Ah, pasti ini Mbak Martha ya? Penulis novel terkenal itu?" sapa Anna ramah, mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan senyuman tulus. "Kenalan ya, aku Anna. Dulu sempat beberapa kali satu proyek penulisan sama Adnan sebelum dia mutusin buat fokus total di Solo."

Martha menyambut uluran tangan itu, balas tersenyum meskipun tatapannya masih menguji. "Ya, aku Martha. Senang berkenalan denganmu, Anna. Kamu... temannya Adnan dari kota?"

"Iya, betul," jawab Anna sambil tertawa kecil, melirik sekilas ke arah Adnan yang kelihatan tegang berdiri di sampingnya. "Tenang saja, Mbak Martha, aku ke sini bukan mau ngerebut suami orang kok. Aku cuma kebetulan lewat Solo ada urusan penerbitan, dan penasaran pengen mampir lihat langsung Rumah Joglo yang sempat viral kemarin gara-gara berita nyaris disita itu."

Adnan menghela napas lega, tapi matanya masih waspada melihat gelagat Anna yang terkenal hobi melempar candaan pancingan.

"Beneran cuma mampir, Ann? Atau mau ngecek apakah aku udah 'bisa diandalkan' jadi suami?" ledek Adnan setengah bercanda untuk mencairkan suasana yang mulai bikin dia jantungan.

Anna mendengus pelan sambil tersenyum penuh arti. "Yaelah, Nan. Kalau dari cara Mbak Martha natap aku tadi sih, kayaknya aku bakal langsung diusir pakai sapu ijuk kalau berani godain kamu lebih jauh!"

Martha yang mendengar itu langsung tersenyum simpul, rasa was-was di dadanya sedikit mereda melihat pembawaan Anna yang ternyata cerdas, sopan, dan asyik diajak ngobrol, jauh dari bayangan 'pengganggu' yang menyeramkan.

"Kalau kamu niatnya cuma mau silaturahmi dan ngobrol soal sastra, pintu joglo ini selalu terbuka lebar, Anna," balas Martha tenang dan elegan, menunjukkan kelasnya sebagai nyonya rumah. "Tapi kalau kamu berani coba-coba uji kesetiaan suamiku... silakan rasakan sendiri akibatnya."

Anna tergelak renyah mendengarnya, merasa kagum dengan ketenangan dan ketegasan istri Adnan itu. "Wah, pilihanmu gak salah emang, Nan. Istrimu keren banget!"

Sore itu, suasana di pendopo utama dan teras samping Rumah Joglo Setiawan perlahan-lahan mencair. Kehadiran Anna—yang awalnya dikhawatirkan Adnan bakal memicu drama sinetron kolosal—ternyata berubah menjadi perbincangan sastra dan budaya yang hangat, cerdas, dan penuh gelak tawa.

Martha, yang sedari awal memasang kuda-kuda siaga layaknya seorang ratu yang mempertahankan wilayahnya, perlahan-lahan melonggarkan lipatan tangannya. Ia mengamati cara Anna berbicara: terarah, tidak dibuat-buat, dan memiliki wawasan luas mengenai seni rupa tradisional serta perkembangan sastra modern di tanah air.

"Jadi, kamu beneran milih menetap di sini, Nan? Ninggalin hiruk-pikuk kota besar dan kesibukan pameran internasional?" tanya Anna sambil menyesap teh melati hangat yang disuguhkan oleh Mbok Jum. Ia duduk di kursi kayu rotan di samping Martha, sementara Adnan berdiri bersandar di tiang joglo dengan cangkir kopi di tangannya.

Adnan tersenyum tipis, melirik sekilas ke arah Martha sebelum menjawab. "Akar saya ada di sini, Ann. Tempat di mana kakek dan leluhur saya merawat seni ukir ini. Terkadang, kita tidak harus mencari ketenangan sampai ke ujung dunia; cukup kembali ke tempat di mana hati kita pertama kali belajar berakar."

Martha tersenyum simpul mendengar kalimat suaminya itu. Ada ketulusan yang begitu kuat terpancar dari cara Adnan memandang rumah joglo tersebut, sebuah pandangan yang dulunya asing bagi Martha, namun kini telah menjadi bagian dari tarikan napasnya sehari-hari.

Anna mengangguk-angguk kecil, matanya menatap sekeliling pendopo dengan kekaguman yang tulus. "Aku paham sekarang. Tempat ini punya energi yang berbeda. Dan hebatnya lagi..." Anna melirik usil ke arah Martha, "...kamu berhasil menjinakkan pria paling kaku se-Jawa Tengah ini, Mbak Martha. Salut banget aku."

Martha tertawa renyah, rasa cemburu yang tadinya sempat mencubit hatinya kini benar-benar lenyap, bergantikan rasa hormat sesama perempuan mandiri. "Menjinakkan bukan kata yang tepat, Anna. Kami lebih kepada... saling belajar mengalah dan merangkut perbedaan."

"Ah, romantis banget! Bikin aku mending pulang cari jodoh mas-mas lokal juga nih," canda Anna, membuat Adnan menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum geli.

Menjelang senja, ketika cahaya matahari mulai meredup dan menyisakan bias jingga keemasan di balik rimbunnya pohon mangga, Anna pamit undur diri. Ia harus kembali ke kota sebelah karena urusan galeri seninya.

Adnan dan Martha mengantar tamu tak diundang itu sampai ke depan gerbang joglo. Setelah motor matic Anna melaju meninggalkan halaman dan suaranya perlahan hilang ditelan deru angin sore, suasana di sekitar Rumah Joglo kembali senyap dan damai.

Martha menghela napas panjang, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk meregangkan otot-ototnya yang sempat tegang seharian. Ia menoleh ke arah Adnan yang berdiri di sampingnya.

"Temanmu itu... cukup menyenangkan juga ternyata," komentar Martha jujur, melirik suaminya dengan sebelah alis terangkat menggoda. "Kukira tadi dia bakal bawa spidol protes atau ngajak kamu balikan."

Adnan spontan tertawa lebar, merangkul pinggang Martha pelan dan mendekatkan tubuh wanita itu ke sisinya. "Balikan? Yang benar saja, Martha. Jantungku hampir copot tadi waktu melihat kamu natap dia tajam banget kayak mau menelan orang hidup-hidup."

"Hei, wajar dong!" protes Martha pura-pura cemberut, meski kemudian ia tersenyum manis dan menyandarkan kepalanya di bahu bidang Adnan. "Sebagai istri sah yang udah berjuang lintas benua, aku punya hak penuh buat melindungi apa yang jadi milikku."

Adnan mencium puncak kepala Martha penuh kasih sayang. "Iya, Ratu Pembeloku. Kamu memang pemenang mutlak di hati saya, dari London sampai ke tanah Solo ini."

Mereka berdua berdiri berdampingan di bawah gerbang kayu ukiran klasik itu, menikmati angin sore yang berembus sepoi-sepoi. Di hadapan mereka, halaman joglo tampak bersih, galeri seni ukir kembali berdenyut, dan masa depan yayasan perlahan menampakkan warna cerahnya.

Malam mulai turun perlahan, menyelimuti dusun kecil di pinggiran Surakarta dengan jutaan bintang yang bertaburan di langit. Di dalam Rumah Joglo Setiawan, kisah cinta mereka bukan lagi sekadar dongeng tentang dua dunia yang bertolak belakang, melainkan sebuah bukti nyata bahwa dengan kesabaran, pengertian, dan ketulusan hati, cinta sejati akan selalu menemukan jalannya untuk pulang ke rumah yang abadi.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!