NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Berbicara

Ketika Takdir Berbicara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:101.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.

Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.

Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.

Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zheana 23

Pria itu perlahan melepas kacamatanya, meletakkannya di atas meja, lalu mendongak. Manik mata pekatnya menatap lurus pada Zheana yang berdiri kaku dengan pandangan menunduk santun.

Khadafy menyandarkan punggungnya pada kursi kulitnya, mengamati penampilan istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajah polos itu tampak begitu tegang, jemarinya saling bertaut erat di depan tubuhnya.

"Hanya ada kita berdua di ruangan ini, Zheana," tutur Khadafy pelan, suaranya berubah dari nada pimpinan menjadi suara hangat yang memanggilnya tadi pagi di apartemen.

Zheana tersentak, refleks melirik ke arah pintu yang tertutup rapat sebelum kembali menatap Khadafy.

"Tapi ini di kantor, Pak... Maksud saya, Mas Khadafy. Saya cuma mau antar berkas."

Khadafy menghela napas tipis, sudut bibirnya terangkat membentuk garis senyum samar yang nyaris tak terlihat. Ia meraih map yang ditaruh Zheana, membukanya sekilas, lalu mendongak kembali.

"Bagaimana perjalanannya tadi? Pak Mamat mengantarmu dengan aman?" tanya Khadafy, sama sekali tidak membalas topik pekerjaan.

"Aman, Mas..." jawab Zheana lirih, matanya bergerak gelisah.

"Mas Khadafy nggak perlu tanya soal itu di sini. Nanti kalau ada yang dengar..."

"Tidak ada yang bisa mendengar ucapan kita di ruangan bertembok kedap suara ini, Zhea," potong Khadafy tenang.

Pria itu berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah mengitari meja kerja, dan berhenti tepat dua langkah di hadapan Zheana. Postur tegapnya membayangi tubuh mungil Zheana.

Zheana menahan napas, refleks mundur setengah langkah karena terintimidasi oleh jarak mereka yang mendadak terkikis.

"Mas Khadafy... tolong, jangan begini," bisik Zheana, suaranya bergetar antara panik dan desiran aneh di dadanya.

"Zhea bingung..."

Khadafy menghentikan langkahnya, menatap manik mata Zheana yang diliputi kecemasan dan keraguan yang membuncah.

"Apa yang membuatmu bingung?"

Zheana mendongak, memberanikan diri menatap mata suaminya. Rasa penasaran dan beban yang mengendap sejak tadi pagi akhirnya tak tahan lagi untuk diluapkan.

"Semuanya, Mas!" cetus Zheana dengan suara sepelan mungkin namun sarat emosi.

"Zhea bingung sama sikap Mas Khadafy. Di luar, orang-orang kantor sibuk membicarakan Mas yang batal menikah dan kelihatan dingin. Tapi di rumah... Mas begitu perhatian sama Zhea. Mas melarang Zhea beli kasur lipat, Mas menyiapkan mobil buat Zhea, tapi Mas sama sekali nggak mau menjawab pertanyaan Zhea soal Mbak Niken..."

Khadafy memaku pandangannya pada wajah polos di hadapannya. Ia bisa melihat dengan jelas rasa tidak aman dan rasa takut dibuang yang membayang di mata bening istrinya.

"Zhea..." dipanggilnya nama itu dengan amat halus.

"Zhea cuma butuh tahu, Mas," potong Zheana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Apakah semua kebaikan dan perhatian Mas Khadafy ini cuma bentuk rasa kasihan? Atau cuma cara Mas menjalankan tanggung jawab formal sebagai suami? Zhea takut... Zhea takut kalau Zhea mulai terbiasa dengan kebaikan Mas, lalu suatu hari nanti saat Mbak Niken kembali, Zhea cuma harus mengepak barang dan pergi begitu saja."

Ruangan CEO yang luas itu mendadak hening total. Hanya terdengar hembusan halus pendingin udara dan detak jantung Zheana yang berpacu liar.

Khadafy menatap air mata yang menggantung di pelupuk mata Zheana. Pria dingin yang biasa tak tersentuh itu perlahan mengangkat tangan kirinya. Jemari kokohnya mengusap lembut sudut mata Zheana, menghapus bulir air mata yang nyaris jatuh, sebelum akhirnya tangannya berpindah mengelus pipi halus istrinya dengan gerakan yang amat protektif.

Sentuhan hangat itu membuat tubuh Zheana membeku seketika.

"Dengarkan aku baik-baik, Zheana Amanda," bisik Khadafy dengan suara bariton yang dalam, mantap, dan tak menyisakan keraguan sedikit pun.

"Aku tidak pernah membuang waktu atau perhatianku hanya karena rasa kasihan. Jika aku hanya ingin bertanggung jawab secara formal, aku bisa membiarkanmu tinggal di rumah Papamu dan mengirimkan uang setiap bulan. Tapi aku membawamu ke tempat pribadiku. Aku membukakan pintu rumahku untukmu. Dan tak membiarkanmu tinggal di dalam rumah yang saat ini pasti membencimu karena kesalahan orang lain!"

Zheana menahan napas, merasakan ibu jari Khadafy yang masih mengusap lembut pipinya.

"Soal Niken... aku tidak menjawab pertanyaanmu tadi pagi bukan karena aku masih mengharapkannya," lanjut Khadafy dengan sorot mata yang makin tajam dan fokus.

"Tapi karena bagiku, nama itu sudah tidak relevan lagi untuk dibahas dalam rumah tangga kita. Dia membuat pilihannya, dan aku sudah membuat pilihanku. Dan pilihanku adalah berdiri di sini, bersamamu. Dan ini adalah Takdir dan jodoh dari Allah Subhanahu wa taala tunjukkan untukku... Dengan Niken pergi bersama pria lain dan lebih memilih hidupnya. Maka aku juga memilih hidupku..."

Dada Zheana berdesir hebat, seperti ada ribuan kembang api yang meletup di dalam hatinya.

"Lalu... kenapa Mas tidak mau orang-orang kantor tahu kalau kita sudah menikah?" tanya Zheana polos, suaranya nyaris tenggelam oleh degupan jantungnya sendiri.

Khadafy terkekeh halus, sebuah tawa renyah yang amat jarang terdengar di lantai tertinggi gedung ini. Tangannya meluncur turun dari pipi Zheana, menyentuh lembut dagu istrinya.

"Bukan aku yang takut orang kantor tahu, Zhea," bisik Khadafy seraya memiringkan kepalanya, menatap Zheana dengan binar jenaka yang menawan.

"Tadi pagi di apartemen, bukankah kamu yang memohon-mohon sambil panik agar profesionalitas kita dijaga dan tidak ada yang tahu soal pernikahan ini?"

Pipi Zheana seketika membara. Rona merah padam merekah sempurna di kedua sisinya. Ia baru sadar bahwa dirinyalah yang dari awal paling panik dan memohon agar hubungan mereka dirahasiakan di kantor.

"Itu kan karena Zhea takut digosipkan menjadi orang ketiga atau perebut calon suami kakakku sendiri!" sergah Zheana gagap, buru-buru menundukkan kepalanya karena malu setengah mati.

Khadafy menarik kembali tangannya, menyunggingkan senyum tipis yang penuh kepuasan melihat tingkah menggemaskan istrinya. Pria itu kembali mengambil sikap tegapnya sebagai seorang pimpinan.

"Proposal ini saya terima," ucap Khadafy kembali menggunakan nada bicaranya yang formal, meski binar matanya masih memancarkan kehangatan yang amat nyata.

"Kembalilah ke divisimu sebelum manajermu curiga kamu terlalu lama berada di ruangan CEO."

Zheana menelan ludah, berusaha menata kembali detak jantungnya yang berantakan. Ia membungkuk kecil penuh hormat.

"Baik, Pak Khadafy. Saya permisi kembali ke ruangan."

Zheana berbalik dan melangkah cepat menuju pintu keluar. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh gagang pintu, suara Khadafy kembali menghentikan langkahnya.

"Zhea."

Zheana menoleh refleks.

"Ya, Mas... eh, Pak?"

Khadafy berdiri di balik mejanya, menatap Zheana dengan tatapan yang amat teduh.

"Nanti sore pulang kerja, tunggu di basement. Kita pulang bersama. Sekalian belanja bahan makanan di rumah,"

Tanpa menunggu jawaban dari Zheana yang makin salah tingkah, Khadafy kembali mengenakan kacamatanya dan membuka berkas di mejanya, berpura-pura sibuk kembali. Zheana menggigit bibir bawahnya, menahan senyum manis yang mendadak ingin terukir di bibirnya, lalu bergegas keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang jauh berbeda dari saat ia masuk tadi.

1
nely_48
silahkan niken sm adam merencanakan apapun,,, khadafy udh tau semua nya loh
nely_48
sok pak bagus msh nurut az sm s irma
nely_48
pantesan jd gila s niken, alih-alih jadi model d Paris malah hamil d gilir semua laki² ,,, bukan sukses mlah gila yg d dapat, boncos nasib mu niken
nining cahyaningrum
ceritanya enak alurnya jelas
david 123
adakah didunia nyata ibu kadung jahat seperti dg anak kandungx? Semoga tdk ya ....Amin ...miris...bila...ini kisah nyata...ya Thor
Fitria Syafei
syukurin senjata kena sendiri..makan ntuh TEMAN 😏 KK cantik mantaf 😍 kereen 🥰
Sri Angga
buah dr kejahatan mu terhadap zheana,,skg km di bls langsung oleh,,partner mu sndri .
ryuka
naahh kan malah udah hancur dluan kamu niken
Ambu Rinddiany Thea
halaaah sok pura pura niken ke ges benang mah beda cerita lain minta tolong tapi tuluuuy tuluy 🤣🤣🤣
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 kau tidak akan bisa menghancurkan Zheana dan bayinya,Niken.Kamu malah hancur sendiri.Sudah gila hamil kembali.
nely_48: kasian km niken,, jauh² k Paris jd jablay yg ujung-ujungnya hamil,, lah plg k indo malah d jual demi rencana yg blm tentu berhasil,,
emang badan niken lbh cocok jd prlacur jual diri az ath cari uang yg banyak buat gaya hidup glamor
total 1 replies
Oma Gavin
bikin mati mengenaskan saja niken digilir 3 orang terus mati itu hukum setimpal buat psikopat gila seperti niken
sunaryati jarum
Pembicaraan kamu sudah didengar oleh orang orang Angga da Rian Tim keamanan Mumtaz, berkhayal lah akan berhasil Niken,agar delusimu makin parah
nely_48
sok lah adam n niken kalian gali lab Liang kubur untuk diri kalian sendiri
nely_48
org gila s niken lepas,, teh Novi kau dmn ❓ tuh ODGJ niken butuh penenangan
Dokkan Battle
ABI ABI UMI UMI UMI LAUTTTTTT
Ambu Rinddiany Thea
pa bagus jgn lemah lah .anda kan sebagai kepala keluarga jgn sampai d injak2 harga dirimu pa , s irma sm s niken mah udh sma2 terkontaminasi otaknya jd udh susah d kasih paham , mening langsung d bina aja lah pa bagus d biasakan maksudnya 🤭
Oma Gavin
semoga niken kali ini kena batu nya dibikin saja cacat permanen jgn cuma cacat mental pisik nya dibikin lumpuh biar ngga ada lagi yg bisa dibanggakan
sunaryati jarum
Dicerai saja istri yang tidak menghargai dan menghormati anda Pak Bagus.Apalagi terang terangan membenci dan ingin mencelakai Zheana dan anak dalam kandungannya.Jika Niken tertangkap basah suruh dia makan makanan yang telah dicampur zat kimia berbahaya
sunaryati jarum
Segera bawa ke pesykiater sebelum jadi monster,buat salinan riwayat Niken selama di Paris,pada Irma agar matanya terbuka mengenai perilaku Niken selama di Paris.Ambil anak Niken dan supaya dibesarkan Bu Irma.Toh Niken sudah tidak laku jadi model
Muji Lestari
saya benci pak bagus knp masih bela istri dan anak tirinya knp TK cerai saja. .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!