NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 - MISI BERBAHAYA: CIUM KAISAR

Sejak sore gerimis di mana aku melihat luka di punggung Segara El-Bhumi itu, ada satu hal yang tidak pernah dia singgung lagi.

Luka itu. Cerita tentang ayahnya. Dan tentang tanganku yang dia tempelkan sendiri di punggungnya.

Dia bersikap seolah sore itu tidak pernah terjadi. Pagi-pagi dia sudah pergi latihan pedang, sorenya dia membaca laporan di paviliun ku dengan wajah datar seperti biasa. Hanya saja, sekarang dia tidak lagi berkomentar tentang tulisan jelekku. Dia hanya diam dan sesekali menghela napas pelan.

Aku tahu, dia malu. Kaisar Tanpa Hati yang tidak pernah menunjukkan kelemahan pada siapa pun, tiba-tiba menunjukkan luka terdalamnya pada permaisurinya yang baru dinikahinya seminggu lalu.

Aku juga pura-pura lupa, agar dia tidak semakin malu. Aku tetap menyalin buku, tetap membuat parit, tetap memakai lipstik merah delima ku setiap pagi.

Sampai pagi ini.

Pagi ini, saat aku baru bangun dan masih duduk di depan cermin kaca hadiah Sistem sambil mengoles lipstik merah delima ku, layar biru di kepalaku tiba-tiba menyala dengan warna merah jambu yang sangat menyilaukan. Warnanya berbeda dari biasanya yang biru atau merah peringatan. Kali ini warnanya merah jambu, dengan banyak gambar hati kecil beterbangan di sekelilingnya.

[DING! DING! DING! MISI SPESIAL TERBUKA!]

[NAMA MISI: SENTUHAN PERTAMA YANG TULUS]

[DESKRIPSI MISI: CIUM PIPI KAISAR SEGARA EL-BHUMI SELAMA 3 DETIK TANPA ALASAN POLITIK]

[SYARAT: HARUS DILAKUKAN SAAT KAISAR DALAM KEADAAN SADAR DAN TIDAK SEDANG MARAH]

[HADIAH MISI: KUNCI PERPUSTAKAAN TERLARANG + PETUNJUK TENTANG BUKU KOSONG DARI ABAD 21]

[HUKUMAN JIKA GAGAL DALAM 24 JAM: BIBIR MERAH DELIMA HOST AKAN DIHILANGKAN SELAMA 7 HARI!]

Aku yang sedang mengoles lipstik langsung berhenti. Tanganku gemetar.

Cium pipi Kaisar? Selama 3 detik? Tanpa alasan politik?

Dan hukumannya bibir merah delima ku dihilangkan selama 7 hari? Itu sama saja dengan hukuman mati bagi seorang perempuan yang sudah kecanduan lipstik seperti aku!

"Sistem, kau gila ya? Kau suruh aku mencium Kaisar Tanpa Hati itu? Dia bisa langsung memenggal kepalaku!" bisikku panik di dalam hati.

[SISTEM: HOST, KETERTARIKAN KAISAR SUDAH 100%. INI SAAT YANG TEPAT UNTUK MENGUBAH STATUS DARI PERCAYA MENJADI SAYANG. JANGAN TAKUT. PALING BANTER DITOLAK, TIDAK AKAN DIPENGGAL. MUNGKIN.]

Mungkin? Sistem bilang mungkin?

Aku menatap pantulan wajahku di cermin kaca. Bibir merah delima ku terlihat sangat cantik. Aku tidak mau kehilangan lipstik ini selama 7 hari.

Oke, Kahiyang. Kau bisa. Kau dari abad ke-21. Mencium pipi itu hal biasa. Di abad 21, cium pipi kiri kanan itu adalah salam perpisahan yang sopan.

Tapi ini bukan abad ke-21. Ini Kerajaan Langit. Di sini, seorang permaisuri menyentuh pipi kaisar tanpa disuruh itu sama saja dengan lancang dan bisa dihukum cambuk.

Aku menarik napas dalam-dalam. Aku harus mencari waktu yang tepat. Saat dia tidak sedang marah dan dalam keadaan sadar.

Kesempatan itu datang lebih cepat dari yang kukira.

Siang itu, Segara datang ke paviliun ku seperti biasa. Dia membawa laporan dan duduk di kursi rotan dekat jendela. Wajahnya terlihat lelah. Matanya sedikit merah karena kurang tidur.

"Gusti Kaisar tidak tidur semalam?" tanyaku pelan sambil menyeduhkan teh mawar baru yang sudah aku pastikan aman.

Dia mengangguk tanpa menatapku. "Ada pemberontakan kecil di desa perbatasan. Aku harus mengatur strategi."

Dia menyeruput tehnya. Tangannya yang memegang cangkir terlihat sedikit gemetar karena lelah.

Melihatnya seperti itu, rasa kasihan ku muncul lagi. Pria ini memikul beban satu kerajaan di pundaknya sendirian sejak umur 15 tahun. Tidak ada yang pernah peduli apakah dia lelah atau tidak.

Inilah saatnya. Saat dia tidak marah. Saat dia sadar. Saat dia lelah dan butuh sedikit... kehangatan manusiawi.

Aku berdiri dari kursiku. Jantungku berdebar sangat kencang, lebih kencang dari saat aku harus membuka peti di bawah ranjang atau saat aku hampir diracun.

Aku berjalan pelan mendekatinya dari samping.

"Gusti Kaisar..." panggilku pelan.

Dia menoleh. Matanya yang lelah itu menatapku.

Tanpa memberi dia waktu untuk berpikir, tanpa memberi diriku sendiri waktu untuk menyesal, aku menunduk dan...

Cup.

Aku mencium pipi kirinya. Pelan. Lembut. Bibir merah delima ku menempel di pipinya yang sedikit kasar karena belum bercukur pagi ini.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Aku menghitung di dalam hati. Sistem menyuruh 3 detik, maka aku harus 3 detik.

Aroma cendana dan lautnya langsung menyeruak masuk ke hidungku. Hangat.

Setelah 3 detik, aku langsung menarik wajahku kembali. Wajahku merah padam seperti kepiting rebus. Lebih merah dari lipstikku.

Hening.

Satu paviliun hening total. Bahkan suara burung di taman pun seolah berhenti.

Segara El-Bhumi membeku. Matanya membelalak. Tangannya yang memegang cangkir teh berhenti di udara. Wajahnya yang biasanya pucat dan dingin, perlahan-lahan... memerah. Merah dari leher sampai ke ujung telinganya.

Dia menatapku dengan tatapan kaget, bingung, dan tidak percaya.

"Kahiyang... apa yang kau lakukan?" bisiknya. Suaranya serak.

Aku menunduk, tidak berani menatap matanya. Tanganku meremas gaun ku sendiri.

"Saya... saya hanya ingin berterima kasih, Gusti Kaisar. Terima kasih karena kemarin Gusti sudah mau menceritakan tentang luka di punggung Gusti pada saya. Di keluarga Adiningrat, jika seseorang sudah mau berbagi luka dengan kita, kita harus memberikan... memberikan sedikit keberanian padanya agar lukanya tidak terasa sakit lagi," jawabku, mengarang alasan yang paling manusiawi dan paling tulus yang bisa kupikirkan. Suaraku gemetar.

Alasan yang santai, tapi ngena.

Segara masih membeku. Tangannya pelan-pelan menyentuh pipi kirinya yang baru saja aku cium. Di pipinya, ada bekas sedikit warna merah delima dari lipstikku yang menempel.

Dia menyentuh bekas lipstik itu. Dia tidak menghapusnya.

"Kau... memberikan keberanian dengan cara mencium pipiku?" tanyanya lagi, masih dengan suara tidak percaya.

Aku mengangguk pelan, masih menunduk.

Lalu, dia melakukan sesuatu yang membuatku hampir pingsan di tempat.

Dia tertawa. Bukan tawa kecil seperti kemarin. Tapi tawa yang lepas, tawa yang hangat, tawa yang tidak pernah didengar oleh siapa pun di istana ini selama 10 tahun terakhir.

"Ha... Kahiyang Gayatri Ayuningtyas, kau ini... warisan keluarga Adiningrat kalian memang selalu aneh dan tidak masuk akal," katanya sambil tertawa, telinganya masih merah padam.

Dia berdiri dari kursinya. Dia masih menyentuh pipinya yang ada bekas lipstikku.

"Mulai hari ini, jangan pernah mencium pipi pria lain selain aku, mengerti? Bahkan Pangeran Tirta sekalipun. Jika kau melakukannya lagi, aku akan benar-benar menghukummu," bisiknya. Nada suaranya bukan ancaman, tapi... cemburu yang manis.

Aku mengangguk cepat.

Dia lalu berjalan keluar dari paviliun ku, langkahnya sedikit terburu-buru, seperti orang yang malu dan tidak tahu harus berbuat apa. Bekas lipstik merah delima ku masih menempel jelas di pipi kirinya, dan dia tidak menghapusnya sama sekali saat berjalan melewati taman di mana banyak pelayan melihat.

Mbok yang mengintip dari dapur langsung menjerit tertahan, "Gusti! Pipinya Kaisar ada bekas bibir Gusti! Merah!"

Di kepalaku, Sistem berbunyi dengan sangat meriah, dengan banyak kembang api.

[DING! MISI SPESIAL: SENTUHAN PERTAMA YANG TULUS - BERHASIL SEMPURNA!]

[DURASI CIUMAN: 3,2 DETIK - MELEBIHI TARGET!]

[HADIAH TELAH CAIR: KUNCI PERPUSTAKAAN TERLARANG - ADA DI BAWAH BANTAL HOST]

[KETERTARIKAN KAISAR SEGARA EL-BHUMI +20% - TOTAL 120%]

[STATUS BARU TERBUKA: JATUH CINTA - LEVEL 1]

[CATATAN SISTEM: UNTUK PERTAMA KALINYA DALAM 10 TAHUN, KAISAR KELUAR DARI PAVILIUN PERMAISURI DENGAN BEKAS LIPSTIK DI PIPI DAN TIDAK MENGHAPUSNYA]

Aku menyentuh bibirku yang masih berdebar. Bibir merah delima ku selamat. Tidak jadi dihilangkan selama 7 hari.

Aku meraba bawah bantalku. Benar saja, ada sebuah kunci besi tua yang berat dan dingin di sana. Kunci Perpustakaan Terlarang.

Alur hari ini memang santai. Hanya ciuman 3 detik di pipi.

Tapi rasanya ngena sekali. Karena untuk pertama kalinya, aku tidak menciumnya karena misi atau karena politik.

Aku menciumnya karena aku tulus ingin dia tahu, bahwa lukanya yang besar di punggung itu, tidak membuatnya terlihat mengerikan. Itu membuatnya terlihat... manusiawi.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!