NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Napas yang Tertahan di Ambang Pintu Takdir

Pagi itu, langit Jakarta masih diselimuti kabut tipis dan udara dingin yang menusuk tulang, namun di dalam dada Juwita, sebuah bara api tengah menyala terang. Ini adalah hari penentuan. Hari di mana kompetisi sains dan teknologi tingkat nasional itu digelar di sebuah hotel bintang lima di pusat kota. Juwita telah bersiap sejak pukul empat subuh. Ia mengenakan kemeja putih seragamnya yang paling bersih—meski warnanya telah memudar menjadi kekuningan—dan mengikat rambutnya rapi. Di tangannya, selembar kertas berisi barcode pendaftaran yang dicetak dengan sisa uang receh terlipat rapi.

Di sudut ruangan, Dara memaksakan diri untuk bangun dari kasur tipisnya. Wajah wanita itu sepucat kapas, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang menakutkan. Semalam suntuk Dara mencuci setumpuk karpet tebal milik tetangga demi memberikan uang saku tambahan untuk Juwita hari ini.

"Juwita, kemari, Nak," panggil Dara, suaranya terdengar sangat parau dan bergetar.

Juwita mendekat dengan senyum cemas. "Ibu pucat sekali. Ibu istirahat saja hari ini, ya? Jangan ambil cucian dulu. Juwita janji akan pulang bawa piala kemenangan untuk kita."

Dara tersenyum lemah, tangannya yang dingin dan gemetar terulur merapikan kerah kemeja putrinya. "Anak Ibu cantik sekali... Pergilah, hancurkan kesombongan mereka. Ibu selalu..."

Belum sempat kalimat itu selesai, mata Dara mendadak berputar ke atas. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, meluruh dengan cepat seperti boneka tak bertulang, dan menghantam lantai semen yang keras dengan bunyi berdebum yang mengerikan.

"IBU!" jeritan Juwita pecah merobek keheningan subuh.

Gadis itu melempar tas ranselnya, jatuh berlutut dan meraih tubuh ibunya yang kini sedingin es. Napas Dara putus-putus, keringat dingin membanjiri dahi wanita malang itu. Kepanikan yang luar biasa mencekik leher Juwita. Tiba-tiba, segala ambisi, dendam, dan mimpinya untuk menghancurkan keluarga Aditama menguap tak berbekas. Tidak ada kompetisi yang lebih berharga dari nyawa ibunya.

"Ibu, bangun! Tolong! Siapa pun tolong!" raung Juwita histeris, mendekap tubuh lemah itu erat-erat. Air matanya jatuh berderai membasahi wajah pucat ibunya. "Masa bodo dengan lomba! Juwita nggak mau lomba, Ibu tolong buka mata!"

Suara tangisan Juwita yang memilukan mengundang langkah kaki tergesa-gesa dari luar. Pintu triplek itu didorong paksa oleh Mak Ijah, tetangga mereka yang sedang bersiap memulung. Melihat Dara terkapar tak berdaya, wanita tua itu langsung bergegas mengambil minyak kayu putih dan membalurkannya ke hidung dan dada Dara.

"Astaghfirullah, Ibumu kelelahan hebat ini, Nduk! Denyut nadinya lemah sekali," panik Mak Ijah.

"Mak, tolong panggilkan becak. Kita bawa Ibu ke puskesmas sekarang. Aku nggak peduli sama kompetisi itu, Mak!" isak Juwita, tangannya gemetar mencoba mengangkat tubuh ibunya.

Tiba-tiba, sebuah tangan dingin mencengkeram pergelangan tangan Juwita dengan sisa tenaga yang mengejutkan. Dara perlahan membuka matanya yang sayu, menatap putrinya dengan sorot tajam yang menolak untuk menyerah.

"J-jangan..." rintih Dara, suaranya nyaris berbisik namun memancarkan ketegasan yang mutlak. "Jangan buang... darah dan air mata kita... Pergi ke sana, Juwita."

"Nggak, Bu! Juwita nggak akan ninggalin Ibu mati di sini!" jerit Juwita, menggelengkan kepalanya keras-keras.

"Kalo kamu batal pergi... Ibu beneran mati sekarang, Juwita!" napas Dara tersengal, air mata mengalir dari sudut matanya yang lelah. "Pergi... buktikan pada dunia... kamu bukan anak haram. Mak Ijah... tolong jaga saya..."

Mak Ijah menatap Juwita dengan mata berkaca-kaca, menepuk bahu gadis muda itu dengan kuat. "Pergi, Nduk! Biar Mak yang bawa ibumu ke klinik pakai gerobak Mak. Mak janji ibumu bakal selamat. Kamu harus menang! Jangan biarkan orang-orang kaya itu menertawakan penderitaan ibumu hari ini!"

Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Juwita mencium kening ibunya lama, menghirup aroma keringat wanita yang telah mengorbankan seluruh hidupnya itu. Ia bangkit, menyeka air matanya dengan kasar. Tatapan matanya yang semula dipenuhi kepanikan dan tangis seorang anak kecil, kini mengeras menjadi tatapan seorang pembunuh berdarah dingin yang siap berperang. Ia menyambar tas ranselnya, lalu berlari sekencang mungkin keluar dari gang kumuh itu.

Waktu menunjukkan pukul 07:45. Registrasi peserta ditutup tepat pukul 08:00.

Perjalanan yang seharusnya memakan waktu setengah jam berubah menjadi neraka. Angkot yang ditumpangi Juwita terjebak kemacetan parah akibat kecelakaan di jalan protokol. Tanpa berpikir panjang, Juwita melompat turun dari angkot, membelah lautan kendaraan bermotor, dan berlari mengandalkan kedua kakinya. Matahari Jakarta mulai menyengat. Keringat membasahi seragam putihnya, sol sepatu kanvasnya yang sudah tipis terasa membakar telapak kakinya yang mulai melepuh. Napasnya terasa seperti menelan pecahan kaca, paru-parunya menjerit meminta istirahat, namun bayangan wajah pucat ibunya yang terkapar di lantai semen memaksanya terus memompa langkah.

Pukul 08:12.

Juwita tiba di depan pintu kaca lobi hotel mewah itu dengan napas tersengal hebat. Penampilannya sangat kacau; rambutnya berantakan, seragamnya lepek oleh keringat, dan sepatunya kotor oleh debu jalanan. Ia berlari tertatih menuju meja registrasi kompetisi di depan aula utama.

Namun, harapannya hancur saat melihat meja itu telah kosong. Beberapa panitia sedang merapikan tumpukan ID card dan memasukkannya ke dalam kotak.

"T-tunggu! Saya peserta... saya ingin registrasi," ucap Juwita dengan suara serak, menyodorkan kertas barcode-nya yang lecek karena genggaman tangannya yang berkeringat.

Seorang panitia wanita muda berpakaian rapi menatap Juwita dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Maaf, Dek. Waktu registrasi ditutup jam delapan teng. Sekarang sudah lewat lima belas menit. Sesuai peraturan, peserta yang terlambat dianggap gugur dan didiskualifikasi. Pintu aula sudah dikunci."

"Tolong, Kak... saya mohon," Juwita mencengkeram tepi meja, napasnya masih memburu. "Saya harus ikut kompetisi ini. Ibu saya masuk rumah sakit pagi ini, saya harus mengurusnya dulu. Tolong beri saya kelonggaran lima menit saja."

Panitia itu mendengus tak acuh. "Itu urusan pribadimu. Ini kompetisi nasional bergengsi, bukan lomba tingkat RT yang bisa seenaknya minta toleransi. Lagi pula, melihat penampilanmu, sepertinya kamu salah tempat. Silakan keluar, kamu mengganggu ketertiban."

Kata-kata itu menyulut kemarahan Juwita. Ia tidak lagi mengemis. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam langsung ke mata panitia tersebut, membuat wanita itu refleks melangkah mundur.

"Saya adalah Juwita. Satu-satunya peserta dari Jalur Terbuka yang berhasil meretas firewall keamanan server kalian dalam waktu dua jam tadi malam," suara Juwita tidak lagi bergetar, melainkan menggema dengan otoritas dan amarah yang menekan. "Saya menulis ribuan baris kode kecerdasan buatan itu secara manual tanpa komputer, dan saya datang ke sini bukan untuk meminta belas kasihan Anda. Saya datang ke sini untuk menagih hak saya! Kalian menolak saya bukan karena saya telat lima belas menit, tapi karena kalian pikir orang miskin dengan baju kotor ini tidak pantas berada di dalam sana!"

Keributan itu menarik perhatian beberapa orang di lobi, termasuk seorang pria paruh baya berjas abu-abu yang sedari tadi berdiri di dekat pintu aula. Pria itu adalah Profesor Hendra, Ketua Dewan Juri sekaligus pakar teknologi terkemuka di negeri ini. Ia melangkah mendekati meja registrasi.

"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Profesor Hendra dengan suara berat.

"Ini, Prof... ada anak terlambat yang memaksa masuk. Penampilannya kacau, dia sudah didiskualifikasi," lapor panitia itu gugup.

Profesor Hendra menoleh, menatap Juwita. Ia melihat keringat yang membasahi wajah gadis itu, melihat sepatu kanvasnya yang jebol, dan kertas lecek di tangannya. Namun, yang paling menarik perhatian sang Profesor adalah sorot mata Juwita—sebuah tatapan yang menyala oleh kecerdasan, keputusasaan, dan tekad yang tak bisa dipatahkan oleh aturan apa pun.

"Kau yang bernama Juwita? Anak yang semalam membongkar enkripsi server simulasi kami hanya dengan sebuah skrip sederhana dari IP address sebuah warnet?" tanya Profesor Hendra, matanya menyipit penuh minat.

"Ya, Pak. Dan jika Bapak memberi saya satu unit komputer di dalam sana, saya akan buktikan bahwa algoritma milik saya bisa menghancurkan sistem buatan peserta sekolah elite mana pun yang saat ini sedang duduk manis di dalam ruangan ber-AC itu."

Keberanian dan arogansi yang keluar dari mulut seorang gadis miskin berpenampilan kacau itu membuat Profesor Hendra tertegun, lalu bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Ia mengenali gairah itu. Itu adalah gairah seorang pejuang murni.

"Berikan ID Card-nya. Buka pintu aulanya," perintah Profesor Hendra pada panitia yang kini terbelalak kaget. "Aturan dibuat untuk mendisiplinkan mereka yang malas. Tapi bagi seorang jenius yang bertarung melawan nasib, kita harus memberinya panggung."

Dengan tangan gemetar penuh rasa syukur, Juwita menerima ID card itu dan mengalungkannya di lehernya. Ia membungkuk dalam-dalam kepada Profesor Hendra.

Di dalam aula yang megah dan sunyi, seratus peserta dari sekolah-sekolah elite se-Indonesia tengah bersiap di depan komputer masing-masing. Di barisan paling depan, Kevin Aditama duduk bersandar dengan santai, tersenyum arogan sambil mengobrol dengan rekan setimnya. Ia baru saja melihat jam; waktu registrasi telah usai, dan nama Juwita belum dipanggil. Ia merasa menang tanpa harus bertarung. Si Anak Haram itu telah musnah.

Namun, senyum di bibir Kevin seketika membeku.

Suara pintu ganda aula yang berat didorong terbuka menghentikan aktivitas seluruh peserta. Dari balik pintu, melangkah masuk sesosok gadis berseragam kusam dengan rambut lepek dan sepatu usang. Langkahnya begitu pelan, namun menggemakan aura yang membuat bulu kuduk merinding. Ia mengabaikan tatapan aneh, jijik, dan terkejut dari ratusan pasang mata anak-anak konglomerat di ruangan itu.

Juwita menatap lurus ke depan, matanya mengunci pandangan Kevin Aditama yang kini pucat pasi dengan rahang mengeras. Gadis itu tersenyum miring—sebuah senyuman sedingin es yang menjanjikan kehancuran. Ia menarik kursi di meja kosong paling sudut, menyalakan komputernya, dan menempatkan tangannya di atas keyboard. Di balik diamnya, Juwita mengikrarkan sumpah: atas nama keringat, darah, dan air mata ibunya yang kini terbaring di rumah sakit, ia akan membantai mereka semua di atas meja kompetisi ini. Tak akan ada ampun. Tak akan ada belas kasihan. Pertumpahan darah intelektual baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!