NovelToon NovelToon
Tangis Digerbang Pesantren

Tangis Digerbang Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

suasana hangat dirumah

Pagi hari di rumah Aira. Cahaya matahari masuk memenuhi ruang tengah yang tenang. Aira yang baru saja menyelesaikan satu siklus maraton rebahan dari kasur ke sofa depan televisi, kini tengah bersandarkan bantal dengan ponsel di genggaman.

Ibu Aira yang melintas sambil membawa sapu dan kemoceng mendadak menghentikan langkahnya. Matanya menatap tajam ke arah Aira, menggeleng-gelengkan kepala melihat pemandangan yang sama sejak hari pertama liburan.

"Aira..." panggil Ibu dengan nada nada dower khas emak-emak yang mulai gemas.

"Nggih, Ibu?" sahut Aira pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

Ibu meletakkan kemoceng di atas meja dengan bunyi puk yang cukup mantap.

"Kamu ini ya, Aira! Di rumah cuma pindah tempat tidur aja! Buka mata, sholat, makan, tidur lagi, main HP, terus tidur lagi! Itu aja muter-muter kayak komedi putar!" omel Ibu panjang lebar. "Ini rumah, Nak, bukan tempat karantina mandiri!"

Aira tersentak, langsung meletakkan ponselnya ke dada seraya menatap Ibunya dengan raut muka paling teraniaya di dunia.

"Masya Allah, Ibu..." celetuk Aira dengan nada bersungut-sungut yang dramatis. "Aira ini serba salah ya di mata dunia..."

"Kok malah serba salah?" tanya Ibu sambil menaikkan sebelah alisnya.

Aira menghela napas panjang, menatap langit-langit rumah seolah sedang meratapi nasib. "Ya iyalah, Bu. Aira di rumah dimarahin terus gara-gara rebahan, padahal kemarin waktu Aira di pesantren, Ibu nangis-nangis kangen Aira sampai meluk Nazwa! Pas Aira udah di depan mata, malah diomelin dari pagi sampai sore. Aira dirumah dimarahin, Aira dipesantren ditangisi..."

Mendengar bait 'puisi ratapan' dari anak gadisnya itu, pertahanan Ibu hampir saja jebol. Ibu menahan senyum gatal di bibirnya, berusaha tetap terlihat tegas walau matanya sudah menyipit menahan tawa.

"Halah! Malah bersyair kamu ya!" potong Ibu sambil mengibaskan kemoceng pelan ke arah kaki Aira. "Maksud Ibu itu jangan tiduran aja, Aira! Ada kegiatan gitu loh! Sapu halaman, bantu Ibu di dapur, atau potong rumput di depan. Biar badannya gerak, ndak kaku kayak kayu jati!"

"Aira kan lagi mengistirahatkan jiwa dan raga dari padatnya jadwal pondok, Bu..." alasan Aira sambil makin memperdalam posisinya di sofa. "Di pondok kan bangun jam tiga pagi, lari-lari antri kamar mandi, rapat sama Ukhti Nisa, dikejar Ukhti Farida... Di rumah kan waktunya me-recharge energi."

Ibu melangkah mendekat, lalu duduk di tepi sofa dan mencubit pelan pipi Aira yang makin berisi selama di pondok.

"Recharge energi itu beda sama berubah jadi patung sofa, Sayang," tutur Ibu lembut, kali ini dengan nada hangat khas seorang ibu. "Ibu tuh seneng banget Aira di rumah, kangennya Ibu yang kemarin menangis itu beneran tulus. Tapi kalau Aira cuma nempel sama HP dan kasur sepanjang hari, nanti pas balik ke pondok malah makin lemes, badannya kaget."

Aira menyeringai manis, lalu pelan-pelan menarik tangan Ibunya untuk ditaruh di pipinya.

"Bercanda, Ibuuu..." bisik Aira manis dengan mata berbinar-binar. "Aira tahu maksud Ibu baik. Aira cuma kangen digodain dan diomelin Ibu kayak gini. Di pondok mana ada yang ngomelin Aira pakai bawa-bawa komedi putar?"

Ibu akhirnya meledak dalam tawa kecil, menggeleng-geleng heran melihat tingkah manja anak gadisnya yang sudah mulai berani bersilat lidah.

"Dasar kamu ini, pinter banget ngelesnya!" ujar Ibu seraya mengelus puncak kepala Aira penuh kasih sayang. "Ya sudah, sekarang bangun. Bantu Ibu potong sayur di dapur, habis itu kita telepon Nazwa. Mau ndak?"

"Wah, mau banget, Bu!" seru Aira langsung meloncat bangun dari sofa dengan cepat—hilang sudah mode 'patung'-nya dalam sekedip mata. "Aira mau lapor ke Nazwa kalau di rumah Aira dapet hukuman potong wortel!"

Ibu cuma bisa tertawa menggelengkan kepala melihat kelakuan Aira. Rumah yang tadinya sepi dan tenang kini kembali hangat, penuh dengan tawa dan celoteh riang yang telah lama dirindukan.

-----

Dapur rumah yang hangat siang itu dipenuhi aroma harum tumisan bumbu bawang dan daun salam. Aira, yang sudah berganti kostum memakai celemek kain milik Ibunya, duduk di bangku kayu kecil dekat meja makan sambil telaten memotong wortel dan memetaki buncis.

Ibu yang sedang mengaduk kuah sup di atas kompor sesekali menoleh, menatap anak gadisnya dengan binar mata yang penuh rasa syahdu.

"Nah, gitu dong... Kalau gerak begini kan kelihatan makin cantik anak Ibu," puji Ibu lembut, menyunggingkan senyum manisnya.

Aira mendongak, menyeringai jahat tapi manis. "Tapi tetep aja ya Bu, potongan wortel Aira kalah rapi sama potongan bumbu dapur di pondok. Tahu ndak Bu, dulu waktu di pondok, Aira pernah kena giliran piket dapur umum... motong wortelnya gede-gede banget kayak batu bata!"

Ibu tertawa renyah, meletakkan sendok sayur lalu menghampiri Aira. Ibu duduk di samping Aira, meraih pisau dapur dan satu buah wortel yang masih utuh.

"Sini, Ibu ajarin lagi biar potongannya makin miring dan cantik," tutur Ibu pelan. Ibu memegang jemari tangan Aira yang memegang pisau, membimbing gerakan tangannya secara perlahan di atas papan talenan.

Suara trak... trak... trak... dari irisan pisau beradu halus dengan talenan kayu, menciptakan irama yang begitu menentramkan.

"Ibu..." panggil Aira lirih.

"Iya, Nduk?"

Aira menyandarkan kepalanya sebentar ke bahu Ibunya sambil tetap memegang pisau bersama Ibu. "Makasih ya, Bu. Makasih udah selalu sabar ngomelin Aira, udah selalu nungguin Aira pulang... Aira rasanya bahagia banget bisa masak bareng Ibu lagi."

Gerakan tangan Ibu terhenti sejenak. Ibu meletakkan pisau, lalu merengkuh pipi Aira dengan kedua tangannya yang masih beraroma wangi bawang muda. Ibu mendaratkan satu kecupan hangat dan lama di dahi Aira.

"Ibu yang harusnya bilang terima kasih sama Aira," bisik Ibu dengan suara bergetar haru, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih sudah jadi anak yang penurut, mau berjuang menuntut ilmu jauh dari rumah. Rumah ini rasa hangatnya baru utuh lagi setelah Aira ada di sini."

Aira tersenyum sangat manis, merasakan usapan lembut jemari Ibunya di pipi.

"Tapi janji ya Bu," bisik Aira sambil mengedipkan matanya konyol, "habis potong wortel ini, Aira boleh dapat jatah es krim rasa cokelat kan?"

Ibu tertawa lebar, mencubit gemas pipi Aira yang merona merah. "Halah, ujung-ujungnya ada maunya! Iya, nanti Ayah suruh belikan es krim satu liter khusus buat anak Ibu yang paling pinter ngeles ini!"

Momen sederhana di sudut dapur itu pun dipenuhi gelak tawa dan kehangatan yang manis—sebuah ikatan batin antara ibu dan anak yang tak pernah luntur, membalut rasa rindu menjadi kenangan paling indah selama masa liburan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!