NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Badai Isu di Sekolah Kenzie

Matahari siang menyengat pelataran parkir sebuah taman kanak-kanak internasional di kawasan Jakarta Selatan. Deretan mobil mewah berasuransi tinggi berjejer rapi, dikawal oleh para sopir pribadi yang setia menunggu majikan mereka. Di lobi sekolah yang ber-AC, sekumpulan wanita paruh baya dengan pakaian desainer ternama dan perhiasan berkilau tampak berkumpul, membentuk lingkaran kecil yang dipenuhi bisik-bisik intens.

Nayara melangkah masuk ke dalam area lobi dengan pembawaan yang sangat tenang menghanyutkan. Ia mengenakan blus katun minimalis berwarna putih tulang dipadu dengan celana kulot hitam yang simpel. Rambutnya diikat rapi ke belakang, mengekspos leher jenjang dan garis wajahnya yang tegas tanpa riasan berlebih. Sederhana, namun gestur tubuhnya yang tegak lurus memancarkan keanggunan alami yang tidak bisa dipalsukan.

Begitu langkah kakinya mendekati area tunggu, keheningan mendadak menyergap lingkaran ibu-ibu sosialita tersebut. Tatapan mereka seketika berubah sinis, penuh selidik, dan sarat akan penghinaan terselubung.

"Oh, ini dia yang sedang jadi perbincangan hangat di grup WhatsApp kita," suara Tante Sandra tiba-tiba terdengar melengking dari tengah kerumunan, memecah kecanggungan. Ternyata, kerabat kaku Arka itu sengaja hadir di sana, mendampingi salah satu temannya.

Naya menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan kerumunan tersebut. Ia tidak mundur satu tapak pun. Sepasang mata bulatnya yang jernih menatap mereka satu per satu dengan ketenangan yang mutlak, seolah gosip yang beredar sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menggores mentalnya.

"Selamat siang, Tante Sandra. Ibu-ibu," sapa Naya, suaranya mengalun sangat stabil dan teratur, tanpa ada sekerat pun getaran kepanikan.

Seorang wanita dengan tas jinjing kulit buaya berwarna merah—salah satu sekutu Clarissa—melangkah maju sambil mengipas wajahnya dengan jemari yang penuh cincin berlian. "Siang, Jeng Naya. Kami tadi kebetulan sedang membahas kabar yang beredar luas di media sosial dan grup wali murid. Katanya... latar belakangmu itu sangat kontras ya dengan keluarga Dewangga? Ibu yang sakit-sakitan di bangsal kelas tiga, dan utang keluarga yang menumpuk?"

"Iya, Jeng," sahut wanita lain di belakangnya dengan senyum sinis. "Kami di sini agak khawatir. Sekolah ini kan lingkungannya sangat selektif. Kami takut... pengaruh latar belakang yang kurang berpendidikan dan penuh masalah finansial bisa memengaruhi tumbuh kembang anak-anak kami jika bergaul terlalu dekat dengan Kenzie sekarang."

Bisik-bisik setuju langsung berdengung di lobi tersebut. Serangan ini jelas diatur oleh Clarissa untuk mengisolasi Naya, menjatuhkan mentalnya di ruang publik, dan menciptakan opini bahwa dia tidak pantas berada di lingkungan Dewangga. Mereka mengira Naya akan menangis, merasa rendah diri, atau setidaknya pergi melarikan diri dengan wajah memerah.

Namun, mereka salah besar memilih lawan.

Naya justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin menghanyutkan. Ia memperbaiki letak tas tangannya, lalu menatap lurus ke dalam mata wanita yang memegang tas kulit buaya tadi.

"Saya sangat menghargai kekhawatiran Ibu-ibu sekalian terhadap tumbuh kembang anak-anak di sekolah ini," ucap Naya, bicaranya terstruktur sangat rapi dengan intonasi rendah yang justru terdengar mematikan. "Namun, saya rasa ada kekeliruan besar dalam cara Ibu menilai sebuah pengaruh buruk."

Naya menjeda sejenak, membiarkan kalimatnya menggantung di udara lobi yang mendadak mendingin.

"Latar belakang keluarga saya memang sederhana. Mendiang ayah saya mengajarkan bahwa kejujuran dan kerja keras adalah harta tertinggi. Kami pernah kekurangan uang, tapi kami tidak pernah kekurangan moral," lanjut Naya dengan pembawaan yang begitu megah meskipun berpakaian minimalis. "Ibu saya mengajarkan untuk tidak pernah membicarakan keburukan orang lain di belakang, apalagi menyebarkan rumor yang belum tentu kebenarannya demi menjatuhkan sesama wanita."

"Kamu menyindir kami?!" sergah Tante Sandra dengan wajah yang mulai memerah.

Naya menoleh ke arah Tante Sandra dengan tatapan yang sunyi namun mengunci pergerakan. "Saya tidak menyindir, Tante. Saya hanya sedang menjabarkan nilai pendidikan karakter. Jika Ibu-ibu di sini takut anak-anak Anda terpengaruh hal buruk, bukankah seharusnya yang paling ditakuti adalah pengaruh dari orang tua yang hobi bergosip, merendahkan martabat orang lain, dan mengukur nilai kemanusiaan hanya dari isi dompet?"

Kerumunan wanita sosialita itu seketika bungkam seribu bahasa. Beberapa di antaranya langsung memalingkan wajah karena malu, menyadari bahwa argumen tenang Naya telah menelanjangi kedangkalan moral mereka sendiri di tempat umum.

"Anak-anak meniru apa yang mereka lihat di dalam rumah," tambah Naya, kalimat penutupnya terdengar seperti hantaman palu hakim yang mutlak. "Kenzie diajarkan untuk menghormati semua orang tanpa melihat status sosialnya. Saya rasa, karakter seperti itulah yang membuat Kenzie tumbuh menjadi anak yang stabil dan disukai teman-temannya di kelas. Jadi, Ibu-ibu tidak perlu cemas, anak saya tidak akan menularkan kemiskinan harta, karena dia kaya akan adab."

Wanita yang memegang tas kulit buaya itu ternganga, tidak sanggup mengeluarkan satu kata pun untuk mendebat balik. Kekuatan mental Naya yang sekeras baja membuat semua sindiran murah itu mentah berkeping-keping.

Tettt!

Bel tanda jam pulang sekolah berbunyi, menyelamatkan wajah-wajah sosialita itu dari ketegangan yang kian mencekik. Pintu kelas terbuka, dan belasan anak kecil berlarian keluar menuju lobi.

"Mama!"

Kenzie berlari kencang dari arah pintu kelas, membawa sebuah tas ransel kecilnya. Bocah itu langsung memeluk kaki Naya dengan erat, mendongak dengan wajah polosnya yang bersih dan ceria.

Naya seketika melepaskan aura dinginnya. Ia berlutut di atas lantai lobi, menyambut pelukan Kenzie dengan kelembutan murni seorang ibu. Ia merapikan kerah baju Kenzie yang agak miring.

"Jagoan Mama sudah pulang. Gimana sekolahnya hari ini? Seru?" tanya Naya lembut, mengusap pipi Kenzie dengan kasih sayang yang begitu nyata.

"Seru, Mama! Tadi Kenzie dapat bintang tiga dari Ibu Guru karena bisa berbagi mainan sama teman!" seru Kenzie bangga, memamerkan stiker bintang di punggung tangannya.

Naya tersenyum tulus, sebuah senyuman hangat yang membuat lobi sekolah itu terasa jauh lebih hidup. "Anak pintar. Berbagi itu sifat anak yang hebat."

Kenzie kemudian melirik ke arah kerumunan ibu-ibu yang masih berdiri kaku di dekat mereka. Bocah itu menggenggam jemari Naya dengan sangat erat, menatap ibunya dengan binar mata yang penuh rasa kagum. Meskipun ia tidak paham apa yang baru saja terjadi, Kenzie bisa merasakan bagaimana mamanya berdiri begitu kokoh, dihormati, dan tidak terkalahkan oleh siapa pun di ruangan ini.

"Mama Naya hebat banget. Kenzie sayang sama Mama," bisik Kenzie polos, bersandar nyaman di bahu Naya.

Naya berdiri kembali, menuntun tangan kecil Kenzie dengan mantap. Sebelum melangkah pergi, ia memberikan satu anggukan formal yang sangat anggun kepada kerumunan wanita yang kini hanya bisa memandang punggungnya dengan rasa takjub yang campur aduk.

Clarissa dan sekutunya mengira badai isu ini akan menghancurkan ketenangan Naya. Namun siang ini, di bawah terik matahari Jakarta, Nayara membuktikan bahwa dia bukan sekadar wanita kontrak yang bisa digertak oleh rumor murahan. Dia adalah benteng yang terlalu kuat untuk runtuh oleh lidah-lidah yang tajam, dan di sampingnya, Kenzie tumbuh dengan rasa bangga yang tidak akan pernah bisa direbut oleh siapa pun.

Bersambung...

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sugiharti Rusli
sekarang tinggal nanti Arka saja sih yang buat keputusan besar tentang hubungan dirinya dan Naya, apa akan seperti tertera dalam kontrak yang seperti mereka sepakati dulu,,,
Laila Umroh
baru ngerti kalau kaka author punya karya baru...
Sugiharti Rusli
dan bagaimana Naya mendidik dan merawat Kenzie dengan pemahaman" baru tentang hidup dan Kenzie bahagia kala bersama Naya,,,
Sugiharti Rusli
dan Kenzie begitu cepat hatinya terpaut pada Naya tanpa pdkt sebelumnya kan,,,
Sugiharti Rusli
apalagi bisa terlihat dengan kasat mata bagaimana Naya memperlakukan Kenzie selayaknya ibu teehadap anaknya,,,
Sugiharti Rusli
pada waktunya kertas kontrak itu akan kalah oleh tatapan polos Kenzie sih yah,,,
Sugiharti Rusli
entah kalo suatu saat Kenzie tahu kalo sanga mama ga akan bersama mereka lagi karena sebuah kesepakatan yah, kasihan sih dengan mentalnya nanti,,,
Sugiharti Rusli
tapi beriring berjalannya waktu, malah Kenzie mendapat nilai baru dan juga sangat mencintai dan menerima Naya sebagai ibunya,,,
Sugiharti Rusli
kalo yang jadi istri Arka bukanlah seorang Nayara, mungkin kedok pernikahan kontrak mereka sudah terbongkar sejak awal yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Clarissa memiliki dugaan kalo Arka menikahi Naya bukan karena cinta, dan itu betul sih tujuan utamanya hak asuh putranya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia memang melakukan pernikahan kontrak dengan Naya demi hak asuh Kenzie, tapi di perjalanan malah banyak hal tak terduga,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya di sini si Arka yang sangat diuntungkan dengan memperistri Naya yah
dyah EkaPratiwi
Naya 😍
NAYLA DWI
ok
Nandi Ni
dibalik kesulitan terbentang kemudahan,semoga ketulusan hatinya mampu menghantarkan pada kebahagiaan.
Nandi Ni
emang diluar nurul pemikiran Naya ini
Herman Lim
ga sabar lihat kehancuran mereka
Naufal Affiq
buat clarisa gak bisa ngomong lagi ya mommy,buat mereka kalah dalm persidangan,dan naya penenangnya
Mamah Nisa
di depan kenzie kok manggilnya tuan arka....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!