Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Seringai keji dengan kilat mencibir, memancar bengis dalam rona wajah Song Aran. Dalam hati ia tertawa keras, bagaimana bisa pasangan selingkuh itu ingin menggunakan cara murahan untuk menjatuhkannya.
Dengan langkah ringan, kepala tegap memandang lurus kedepan, Song Aran memasuki hutan setelah puas menguping pembicaraan Kang Yance dan Zhao Jiao.
Karena kedua orang itu sudah merencanakan sesuatu guna menjebaknya, Aran tidak akan ragu untuk membalikkan keadaan.
Aran akan membuat Zhao Jiao memakan umpan yang ia pasang sendiri.
Cuma butuh waktu kurang dari dua puluh menit, Song Aran sudah berhasil mendapatkan banyak bambu dan batang kayu untuk pagar.
Mudah bagi wanita itu untuk memanggul kayu dan bambu, setelah diikat kuat, kemudian pulang.
Ketika memasuki desa, Aran melihat beberapa ibu-ibu berkumpul dipekarangan rumah keluarga Kang.
Lengkingan nyonya Kang terdengar keras. Wanita itu menuduh siapa saja yang ia lihat sebagai pelaku pencuri ayam dan telur miliknya.
Dalam hati Aran tergelak bahagia, amarah musuh adalah madu manis baginya.
Tidak mau terlibat dalam kekonyolan yang ia ciptakan, Aran memilih jalan lain untuk pulang kerumahnya.
Tak ada minat menonton, sebab di kediamannya ada hal yang lebih mengasikkan menantinya.
Begitu memasuki halaman, Aran melempar kayu dan bambu ke dalam ruang saji.
"Sepertinya jalang itu belum pulang..?"
Aran acuh, melenggang masuk kedapur guna menunggu bingkisan yang sudah di siapkan oleh Yance dan Jiao.
Tidak lama, pintu halaman terbuka. Senyum sejuta makna sontak Aran torehkan.
Song Aran mengintip, Jiao sedang menuju kedapur.
Saat pintu dibuka, Jiao pura-pura kaget, menyembunyikan bungkusan kebalik punggungnya.
"Apa yang kau sembunyikan..?" tanya Aran bermain peran.
"Bukan apa-apa..!" jawab Jiao.
Aran bangkit, mendekati Jiao yang mencoba menghindar.
Song Aran menyambar tangan Kurus Jiao, mencengkramnya dengan erat.
Zhao Jiao meringis "apa yang kau lakukan..?"
Tangan Jiao ditarik, bungkusan pelepah bambu terbingkai oleh netra Song Aran.
"Dari mana kau mendapatkannya..? apa ibumu mencurinya dari ayahku..?" tuding Aran.
"Jangan bicara sembarangan, gula merah ini diberikan oleh kakak Yance."
"Woah, baik sekali ya kekasihmu itu..? apa nyonya Kang tahu jika putranya memberikan gula yang harganya mahal ini padamu..?"
"Kau ini berisik sekali..!" kesal Jiao "apa kau iri karena kakak Yance begitu perhatian padaku..?"
Song Aran menggeleng "untuk apa iri..? gula merah itu tidak sebanding dengan jepit rambut perak yang diberikan oleh kakak Jian padaku."
Zhao Jiao menggeram marah.
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa Yance memberimu gula merah..?"
"Tubuhku masih belum pulih setelah tenggelam disungai, kakak Yance menyuruhku untuk meminum air gula merah ini agar segera sehat. Apa kau mau..?" tawar Jiao.
Kedua alis Song Aran naik tinggi.
"Kalau kau mau, akan aku buatkan sekalian." kata Jiao lagi.
"Kalau tidak merepotkan kakak tiri, tolong buatkan untukku ya..?" balas Aran centil.
Zhao Jiao memutar bola matanya jengah. Meski enggan, ia harus membuatnya agar rencananya berhasil.
Aran mengamati gerak gerik Jiao yang sedang menuang air kemangkuk, mengiris gula, lalu dilarutkan dalam air.
"Ini...!" Jiao menyodorkan mangkuk ke hadapan adik tirinya.
Aran mencibir dalam hati, bagiannya ini diberi gula merah paling banyak.
Aran menatap dingin Jiao, yang membuat gadis itu gugup lalu menoleh kearah lain guna menghindar.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Aran untuk menukar mangkuk.
"Kau tidak minum..?"
"Hah..!"
Jiao kembali menghadap ke Aran, melihat mangkuk saudari tirinya itu sudah kosong, seringai tipis ia torehkan.
Zhao Jiao menyambar mangkuk bagiannya, lalu meneguk habis.
Tidak lama Aran mulai beracting. Ia memijit pelipisnya, berdiri lalu terhuyung.
Zhao Jiao sigap menangkap tubuhnya.
"Kau kenapa..?"
"Kepalaku tiba-tiba pusing. Bantu aku ke kamar untuk beristirahat sebentar." titah Aran ketus.
Meski pun Zhao Jiao merasa obat itu bereaksi terlalu cepat, ia tidak merasa curiga dan membantu Song Aran.
Begitu mereka memasuki kamar, Zhao Jiao juga merasa amat pening serta mengantuk.
Baru empat langkah melewati pintu, Jiao sudah kehilangan kesadaran.
Song Aran menyeringai, menyeret tubuh Jiao menuju ranjangnya.
"Cara kalian itu amat murahan. Kau tahu, dimasa lalu sudah ratusan kali aku selamat dari jebakan bodoh seperti ini."
Aran menepuk pelan pipi Jiao, menyelimuti tubuh gadis itu, mengatur pencahayaan agar terlihat redup remang-remang.
Setelahnya, Song Aran pergi keluar guna mencari sang kakak dengan alasan agar membantunya memasak.
Tujuan Song Aran sudah jelas, ladang milik keluarga Song.
"Ran'er, kau akan menikah besok, tidak baik bermalas-malasan dengan terus mengabaikan tugasmu." nasehat sok bijak Zhao Jie.
Wanita itu tak suka saat mendengar jika Song Aran tidak mau memasak dan malah menyuruh kakaknya.
"Memang apa salahnya aku membantu adikku..? pekerjaanku diladang juga sudah beres. Lagi pula adikku hanya punya satu hari lagi menghabiskan waktu bersama dengan keluarga. Apa tidak boleh kalau mau bermanja-manja..?" sengit Qing Bao.
Zhao Jie bungkam.
"Urus dirimu sendiri dan juga putrimu itu agar berhenti menatap laki-laki yang bukan suaminya. Itu sungguh memalukan..!" sambung Qing Bao.
"Sudah cukup, apa kalian tidak lelah bertengkar terus..?" sambar Dahuan.
Qing Bao mendengus, menyambar keranjang yang berisi peralatan bertani miliknya.
"Kita pulang bersama..! Ran'er akan menikah besok, kita perlu mempersiapkan semuanya." kata Dahuan lagi.
Namun ketika melihat pemandangan di depan pintu rumah, sakit kepala Song Dahuan kembali kambuh.
Halaman kediaman keluarga Song dikelilingi penduduk desa lagi. Entah apa yang terjadi sekarang.
Urat leher dan kepala Song Dahuan berdenyut, musibah apa lagi yang akan dapat sekarang.
"Putri keluarga Song sungguh tidak tahu malu, menjijikkan..!"
Cercaan langsung di layangkan, begitu keluarga Song mendekat.
"Song Aran akan menikah besok, tapi dia masih sempatnya menggoda pria lain. Untungnya putraku sudah membatalkan pertunangan dengan gadis tak tahu diri itu." lengkingan suara Kang Hua.
Pada saat yang sama, suara aneh yang membuat pipi memerah terdengar dari dalam sebuah ruangan.
"Suara itu----
"Apa itu benar Song Aran..?"
"Mungkin karena Xiao Jian seorang pembawa sial. Makanya Song Aran berani bermain serong..?"
"Kurasa Song Aran bukan tipe orang seperti itu."
"Aku melihat Song Aran pulang tadi, mungkin memang dia."
Song Qing Bao geram. Apa mata mereka buta, badan adiknya yang seperti babi dibelakang punggungnya apa tidak terlihat.
Qing Bao bergegas maju lalu menampar wajah Kang Hua.
Plak
Song Aran sama kejamnya. Gadis itu tak mau kalah, melayangkan tamparan kepipi nyonya Kang.
"Wanita tua, kau bahkan belum melihatnya, kenapa kau begitu yakin kalau itu aku..?" kata Aran mendelik.
Semua mata orang-orang disana membeliak lebar. Song Aran di sini, lalu yang di dalam-----
Song Dahuan juga angkat bicara dengan ekspresi muram.
"Nyonya Kang, Ran'er selalu baik pada keluargamu selama bertahun-tahun. Kalau tidak menyukainya, bukan berarti kau bisa seenaknya saja menuduh kejelekan pada putriku."
Kang Hua mengusap pipinya yang pedas akibat dua tamparan, sebelum menunjuk kaget Song Aran.
"Kau, bagaimana mungkin kau berada di luar..? lalu siapa yang di dalam..?"
"Aku bukan satu-satunya perempuan di keluarga Song, ada juga Zhao Jiao." balas Aran.
"Dari pada asal tuduh, lebih baik kita lihat siapa pelaku zina itu. " tandas Aran.
"Kita dobrak saja, aku ingin melihat siapa jalang yang tidak tahu malu itu.!" teriak seorang pria paruhbaya, bergerak maju lalu menendang pintu hingga terbuka.
Semua orang bergegas masuk, mendobrak pintu kamar Aran dan Jiao.
"Ach..!"
Teriakan Zhao Jiao sembari berusaha menutupi tubuh nakednya.
Nyonya Kang gelap mata, ia segera mengusir penduduk yang ikut dalam penggrebekan
"Keluar, cepat keluar..! bagaimana bisa..? ini----
Tubuh wanita itu lunglai, terhuyung limbung.
Sama halnya dengan Zhao Jie, ia melihat dengan jelas jika si pembuat mesum di siang bolong ini adalah putrinya.
Pandangannya menjadi gelap. Ia juga bereaksi cepat, mengusir orang-orang keluar.
Namun, sekeras apa usaha kedua wanita sebaya itu, tak ada warga yang mau patuh. Terlebih setelah melihat seorang pria menarik selimut untuk membalut tubuh Zhao Jiao.
Itu Kang Yance, tidak salah lagi.
Meski terlambat, semua orang sudah melihat dua raga tanpa sehelai benang saling membelit di atas ranjang.
terima kasih upnya thor hari ini