Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mayat Rio
"Berani sekali kau, siapa kau sebenarnya?" tanya bawahan Hendrik yang kini mengarahkan bidikan peluru pada Marsel.
Pria itu hanya tersenyum menakutkan melihat bawahan Hendrik yang justru mengancam nya.
"Jika belatiku ini tertancap, darah akan keluar mengalir seperti air. Kalian pasti tahu apa yang bisa saja terjadi."
Hendrik yang cemas mendengar perkataan Marsel jadi takut di buat nya dan sedikit merinding membayangkan hal tersebut. Ia tidak tahu kenapa Marsel yang sedang menyamar itu ingin membunuhnya, Hendrik juga belum sadar jika itu adalah Marsel.
"Kalian, jangan berani-berani menembak. Cepat turunkan senjata kalian!" perintah Hendrik tegas tidak ingin ada salah satu peluru yang melesat begitu saja dan membuat nyawanya melayang.
Belati Marsel tetap mengarah di leher Hendrik yang tidak ada niat menyingkirkan nya sedikit pun.
"Berikan mayat yang ada di tangan mu sekarang juga," ucap Marsel dingin seperti di kutub Utara.
Awal nya Hendrik tidak mengerti dengan maksud perkataan Marsel, tetapi beberapa detik kemudian Ia teringat mayat yang dirinya ambil tadi pagi.
"Kau orang suruhan Marsel? Berani sekali dia menyuruh mu seorang diri."
Hendrik tetap tidak sadar kalau orang yang kini bisa membunuhnya kapan saja adalah Marsel sendiri.
"Sepertinya kau tidak mengenaliku," ujar Marsel tidak takut sedikit pun, Ia juga tidak memberikan kesempatan kepada Hendrik untuk coba-coba melawan dan melepaskan diri.
Tidak berselang lama tiba-tiba salah seorang bawahan Hendrik memasuki ruang Aula tersebut dengan kondisi luka-luka termasuk sebelah kakinya yang terlihat pincang. Sepertinya baru saja terkena peluru karena beberapa tetes darah bahkan masih berjatuhan di beberapa langkah nya.
"Apa yang terjadi di luar?"
Hendrik yang terkejut dengan kondisi anak buahnya hampir lupa dan ingin maju mendekat. Tapi gerakannya tersebut malah membuat leher nya tergores karena tancapkan belati Marsel.
"Ssssss."
Rasa perih yang terasa membuat Hendrik meringis.
"Jangan berlagak bodoh hanya karena hal kecil itu," ejek Marsel.
Ia kira Hendrik sangat berani, namun ternyata gertakan kecil ini sudah membuatnya linglung dan berlagak pikun. Setakut itu?
Bukannya saat berbicara di telepon tadi lagaknya bak dewa yang tak terkalahkan?
Marsel kira Hendrik adalah lawan yang bisa mengancam, ternyata sepengecut ini.
"Bos, Markas kita di serang habis-habisan. semua orang kita tidak ada lagi yang tersisa selain di sini. Mereka mencari mayat dan ingin mengambilnya."
bawahan yang tinggal nafas itu datang melaporkan situasi dengan sisa nafas yang ada, sungguh kuat juga rasa hormat nya pada Hendrik.
"kurang ajar, ini pasti ulah ulah Cosa Nostra."
Hendrik sepertinya tidak sayang dengan nyawa yang dirinya punya.
"Masih berani mengutuk!"
Marsel yang geram tidak bisa lagi membiarkan mulut kotor Hendrik terus berbicara tanpa henti dan mengatai Marsel serta kelompoknya.
Crassss....
Akhirnya belati yang awalnya hanya ancaman benar-benar menancap di leher Hendrik.
"Arghhh!"
Hendrik berteriak histeris dengan darah yang mengalir keluar melalui lehernya seperti aliran pipa yang terputus. rupanya Marsel memang tidak bercanda dengan apa yang Ia sebut sebelum nya.
Anak buah Hendrik belum bertindak namun ketua mereka sudah tergeletak dengan wajah kejang dan berakhir kaku karena kehabisan darah.
Seketika panggung yang selalu menjadi singgah sana Hendrik di aliri oleh darahnya sendiri. Banyak bawahan Hendrik membidik Marsel dan ingin membalas kematian Hendrik.
Dor!
Dor!
Dor!
Banyak peluruh yang melesat keluar dari sarangnya dan terjun bebas ketubuh semua para mafia anggota Shadow.
anggota Shadow yang melihat para lawan mereka yang justru tumbang saat membidik Marsel terkejut di buatnya.
Rupanya di belakang, Alex dan Anggota Cosa Nostra yang lain berdatangan dengan tangan membidik mereka semua anggota Shadow yang masih tersisa.
"Mati atau memilih menyerah dan sumpah setia pada Cosa Nostra."
Ucapan penuh ancaman dari Alex membuat mereka semua pasrah dengan situasi.
Akhirnya mereka semua pun di amankan terlebih dahulu sebelum bergabung langsung dengan Cosa Nostra. Tentu saja banyak hal yang harus di uji dari mereka semua untuk menguji kesetiaan yang akan berpindah dan tidak menaruh dendam pada Cosa Nostra karena sudah mengakhiri kepemimpinan Hendrik.
"Bos. Anda memang tidak bisa di tebak, menghadapi mereka semua seorang diri," kata Alex yang sebetulnya memuji namun agak takut untuk berkata langsung.
Mereka datang malah semuanya telah beres dan telah terkendali dengan mudahnya.
"Apa maksud ucapan mu?" tanya Marsel bingung tak mengerti.
Marsel agak berpikir dalam wajah tanyanya.
jika di reka-reka memang agak aneh. jika di perhitungkan. bukankah Alex dan bawahan yang lain datang setelah Marsel berhasil bergabung dengan anggota Shadow tadi? Akan tetapi Marsel tahu, tidak mungkin secepat itu anggota bertindak.
Ya, anggota mereka memang selalu bergerak cepat dan tangkas, tapi jika seperti situasi yang biasa terjadi di lapangan harusnya Alex dan yang lain baru saja sampai belum lama di Markas Shadow.
"Bos, bukan anda yang menciptakan kekacauan di luar?"
Melihat ekspresi Marsel, Alex terkejut.
"Cari mayat Rio!" perintah Marsel cepat tanpa menunggu lama lagi. Mengingat tadi bawahan Hendrik mengatakan ada yang menginginkan mayat yang Bos mereka ambil. Ia cemas jika mayat Rio malah berpindah ke tangan yang lain. bukan masalah mengambilnya, tentu itu adalah sesuatu yang harus Ia dapatkan.
Tapi Rayya pasti akan sedih jika mayat Rio masih belum bisa Ia dapatkan sekarang. Apa yang akan Ia katakan pada Rayya nanti jika Marsel pulang dengan tangan kosong tanpa membawa mayat Rio bersama nya.
Cukup lama anggota Cosa Nostra menggeledah Markas besar milik Shadow, tidak ada mayat Rio di temukan. setiap sudut sudut di periksa tanpa tersisa.
"Tidak ada Bos. Mayat Rio hilang tanpa jejak."
Beberapa Anggota Cosa Nostra datang sambil membawa sebuah peti yang pasti menjadi tempat Rio. benda persegi panjang itu di letakkan tepat di depan Marsel berdiri saat ini.
"Hanya ini yang di temukan, Bos. tapi sayang nya sudah kosong, tidak ada lagi mayat di dalam," jelas Alex.
Marsel marah mendengar ucapan Alex dan dengan kesal menendang peti kosong tersebut dengan kasar.
Brak!
Tendangan kuat nya berhasil membuat peti Rio itu terpental dengan tak beraturan.
"Lalu untuk apa kalian membawakan benda tanpa isi itu padaku?!" marahnya.
Alex hanya menunduk, sepertinya kali ini Marsel memang sangat marah.
Tangan Alex mengepal kuat, bukan karena marah pada Marsel yang memarahi mereka. tetapi amarah pada siapa yang mengganggu aksi mereka. siapa sebenarnya yang mengambil mayat Rio.
"Alex, apa aku terlihat kurang serius dalam hal ini? kenapa hanya diam saja, cepat temukan mayat itu! Harus ada informasi yang akurat saat aku sampai di rumah, jika tidak kalian tidak akan bisa melihat matahari dengan baik...!"
Marsel meluap luap dalam amarahnya, tidak terima ada yang mengganggu kerja mereka. siapa sebenarnya yang berani.
Marsel berjalan tegas meninggalkan Markas Shadow. Ia hanya tidak tahu bagaimana memberitahu Rayya tentang keberadaan mayat Rio. Bagaimana jika Rayya semakin membencinya lagi karena ini. Memikirkan itu membuat kepala Marsel seperti berdenyut.