NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Pergi Kerumah Sakit

Setelah pulang dari kafe, Bu Liana langsung masuk ke kamar pribadinya dan mengurung diri. Ia tidak mau makan, tidak mau menonton televisi, bahkan tidak mau berbicara dengan siapa pun. Leonardo yang sudah menunggu di rumah menyambutnya dengan senyum, tapi segera lenyap melihat wajah istrinya yang pucat dan tatapan kosongnya.

Leonardo: "Liana... ada apa? Ada masalah apa ? kenapa wajah kamu sangat pucat ? apa kamu sakit ?" tanya Leonardo merasa khawatir .

Bu Liana hanya menggeleng pelan, lalu berjalan menuju kamar. Leonardo mengikutinya dari belakang, perasaannya semakin tidak enak.

Leonardo: "Katakan padaku, sayang. Apa yang terjadi? Apakah ada yang membuatmu marah atau sedih?"

Suaranya lemah dan bergetar "Tidak ada apa-apa, Mas. Aku hanya lelah. Biarkan aku istirahat sebentar saja."

Leonardo tahu istrinya sedang menyembunyikan sesuatu. Ia mengenal Liana selama bertahun-tahun, dan ia tahu ketika Liana berusaha menahan sesuatu di hatinya. Tapi ia juga tahu, Liana tidak akan berbicara sebelum ia yakin dengan apa yang ia rasakan.

Leonardo: "Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi ingat, aku selalu ada di sini untukmu. Kalau kamu sudah siap bercerita, aku akan mendengarkan semuanya."

Bu Liana mengangguk, lalu menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Ia duduk di tepi ranjang, memegang dadanya yang terasa sesak. "Aku tidak boleh bicara dulu, Mas. Aku harus memastikan semuanya dulu. Kalau ternyata Dinda bukan anak kita, aku tidak mau membuatmu kecewa. Tapi kalau benar dia anak kita... kita harus tahu semuanya," batinnya dengan tegas.

 Melihat istrinya mengunci pintu dia padam kalau istrinya benar - benar ingin sendiri dulu . Dia lalu melangkah menuju ruang kerjanya yang berada di samping kamarnya . Dilantai tiga terdapat tiga kamar , tapi entah kenapa Liana ingin mengosongkan kamar itu . Dan tidak boleh digunakan .

...****************...

Keesokan harinya...

Hari itu Dinda tidak ada jadwal kuliah. Ia bangun pagi-pagi, berniat membantu membereskan rumah seperti biasa. Tapi ketika ia keluar dari kamar, ia melihat seluruh ruangan sudah bersih rapi. Piring-piring sudah dicuci, lantai sudah disapu dan dipel, bahkan baju-baju yang harus dijemur sudah tergantung rapi di halaman.

Ia melihat ke sekeliling rumah, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Bu Sari dan Pak Agus. Suara mesin motor pun tidak terdengar di halaman.

"Mereka sudah berangkat ke mana ya? Biasanya mereka tidak pergi pagi-pagi sekali," pikir Dinda. Ia berjalan menuju kamar orang tuanya, tapi pintunya sudah terkunci rapat.

Karena tidak ada yang bisa dikerjakan dan rumah terasa sepi, Dinda memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia duduk di atas kasur, memikirkan kembali percakapan semalam. Air matanya hampir jatuh lagi, tapi ia berusaha menahannya.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nomor yang tertera di layar adalah nomor yang belum pernah ia simpan. Dinda mengangkatnya dengan hati-hati.

 "Halo, selamat pagi. Ini dengan siapa ya?"

Suara Bu Liana dari seberang telepon , "Selamat pagi, Nak. Ini Bu Liana. Maaf mengganggumu, ya?"

Matanya berbinar sedikit, perasaannya berubah menjadi campur aduk "Oh... Bu Liana. Tidak apa-apa, Bu. Ada apa ya?"

"Dinda, tadi kan kamu bilang hari ini tidak ada kuliah, kan? Apakah kamu bersedia menemaniku ke rumah sakit hari ini? Kita akan melakukan tes DNA seperti yang kita bicarakan kemarin. Aku sudah mengurus semuanya, kita tinggal datang saja kerumah sakit ."

Dinda terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Inilah saatnya. Saat di mana ia akan mengetahui kebenaran tentang asal-usulnya.

 "Iya, Bu. Dinda bersedia. Di mana kita akan bertemu?"

"Bagaimana kalau kita bertemu di kafe tempat kamu bekerja jam 9 pagi nanti? Dari sana kita akan langsung berangkat ke rumah sakit bersama-sama. Apakah itu tidak mengganggu jadwal kerjamu ?"

"Tidak mengganggu sama sekali, Bu. Dinda akan menunggu di sana."

 "Baiklah, Nak. Sampai jumpa nanti. Hati-hati di jalan, ya."

Telepon pun ditutup. Dinda meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap ke luar jendela. "Semoga semuanya akan terjawab hari ini. Semoga aku bisa menerima apa pun hasilnya nanti," doanya dalam hati.

Ia segera bersiap-siap, memakai baju yang rapi namun sederhana, lalu berangkat menuju kafe tempat ia bekerja. Ia tiba 15 menit sebelum jam 9, lalu duduk di meja yang biasa ia gunakan untuk beristirahat.

Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan kafe. Bu Liana turun dari dalam mobil, tampak lebih tenang dibandingkan hari kemarin, tapi tatapannya tetap menyimpan banyak pertanyaan. Ia masuk ke dalam kafe dan langsung menuju ke meja tempat Dinda duduk.

 "Maaf membuatmu menunggu, Nak. Ayo kita berangkat sekarang." ucapnya dengan suara lembut seperti suara Dinda .

Dinda mengangguk, lalu berjalan bersama Bu Liana menuju mobil. Mereka berdua duduk di dalam mobil, dalam perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada yang berbicara banyak. Tapi di dalam hati mereka masing-masing, harapan dan ketakutan bercampur menjadi satu.

...****************...

 Sementara itu, di kediaman keluarga Dewantara yang luas dan megah...

Nayla bangun agak siang karena hari ini ia tidak ada jadwal kuliah . Ia berjalan menuju ruang makan dengan langkah santai, berharap bisa sarapan bersama orang tuanya seperti biasa. Namun, yang ia temukan hanya Leonardo yang sedang duduk membaca koran, sementara Liana tidak terlihat di mana pun.

Duduk di kursi, mengambil roti di atas meja "Pagi, Pah . Mana Mama? Biasanya Mama sudah ada di sini menyiapkan sarapan buat Nayla."

Leonardo melipat korannya, menatap putrinya dengan senyum tipis yang sedikit terlihat dipaksakan. Sejak kemarin, Liana memang bersikap aneh dan tidak mau bercerita apa pun, membuat Leonardo sendiri juga merasa bingung.

"Pagi, Sayang. Mama sudah berangkat pagi-pagi sekali."

Mengangkat alisnya dengan heran "Berangkat ke mana, Pah? Ada rapat atau urusan di restoranya ? Tapi Mama kan jarang berangkat sepagi ini, apalagi kalau tidak ada acara penting."

 "Hanya ada urusan yang harus diselesaikan, Nay. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Urusan apa sih yang harus diselesaikan sampai-sampai Mama tidak sempat sarapan dan tidak bilang apa-apa ke Nayla? Kemarin saja Mama pulang dengan wajah sedih dan diam saja sepanjang hari. Hari ini malah berangkat pagi-pagi sekali."

Rasa penasaran Nayla semakin besar. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh orang tuanya.

 "Jangan-jangan ada masalah di restorant kita ya, Pah? Atau jangan-jangan Mama sakit? Kenapa Papa cuma bilang 'ada urusan' saja? Nayla kan berhak tahu kalau ada apa-apa."

Mengusap kepala Nayla dengan lembut , "Tidak ada apa-apa, Sayang. restorant kita baik-baik saja, Mama juga tidak sakit. Hanya ada urusan pribadi yang sedang Mama urus, dan Mama belum siap untuk menceritakannya ke kita. Kita tunggu saja sampai Mama siap bercerita, ya?"

"Tapi... Nayla merasa ada yang aneh, Pah. Kemarin Mama bertanya-tanya terus tentang gadis yang Nayla temui di mall itu. Apa jangan-jangan Mama sedang mencari gadis itu? Kenapa Mama tertarik sekali sama dia?"

Leonardo terdiam sejenak. Ia juga sempat mendengar cerita Nayla tentang gadis yang mirip dengan Liana, tapi ia tidak menyangka kalau hal itu akan membuat istrinya bersikap seaneh ini.

"Mungkin Mama hanya penasaran saja, Nay. Sudah jangan dipikirkan terlalu banyak. Sarapan dulu, nanti kalau Mama pulang pasti akan bercerita semuanya ke kita."

Nayla masih merasa tidak puas dengan jawaban ayahnya. Ia terus memikirkan hal itu sepanjang sarapan. "Ada apa sebenarnya? Kenapa semua orang menyembunyikan sesuatu dari Nayla? Apakah gadis itu ada hubungannya dengan Mama? Atau ada hal lain yang lebih besar?"

Rasa penasaran Nayla semakin memuncak. Ia bertekad untuk mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya sedang terjadi.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!